Monthly Archives: February 2014

KEARIFAN LOKAL ATASI MASALAH PERKOTAAN

Standard

Permasalahan sosial, khususnya di perkotaan, sudah sangat mengkhawatirkan. Sangat mengkhawatirkan karena begitu banyaknya masalah sosial yang muncul di perkotaan sehingga membuat masyarakat tidak aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas mereka. Hal itu terjadi karena semakin menipisnya kearifan lokal di perkotaan, sehingga tidak ada lagi filter yang bisa meredam munculnya masalah sosial itu.

Sebenarnya permasalahan sosial ini tidak hanya terjadi di perkotaan. Tetapi di daerah-daerah pedesaan juga muncul masalah sosial. Namun mengapa masalah sosial di perkotaan justru begitu banyak bahkan sudah sulit untuk diselesaikan, hal ini selain hilangnya kearifan lokal juga karena sudah hilangnya upaya pembangunan sosial di tengah-tengah masyarakat. Hilangnya pembangunan sosial ini mengakibatkan masyarakat tidak lagi memiliki harga diri, kepercayaan diri dan semangat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.

Lihat saja contoh nyata dalam masyarakat kita, dulu orang-orang tua kita pada masa 1970-an atau 1980-an, walau makannya hanya sekali sehari dan hidup apa adanya, bahkan serba kekurangan, tetapi disebut sebagai keluarga miskin mereka tidak mau. Tapi sekarang coba lihat, ada masyarakat yang makan bisa dua kali bahkan tiga kali sehari, tetapi kalau tidak disebut sebagai keluarga miskin mereka marah. Lihat saja saat penyaluran dan Bantuan Lansung Tunai (BLT) ada masyarakat yang mau membakar kantor desa karena tidak didaftarkan sebagai keluarga miskin.

Hal di atas terjadi karena semakin menipisnya kepercayaan diri masyarakat, hilangnya harga diri dan tidak ada kepercayaan diri untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Ini adalah bukti permasalahan sosial itu muncul karena minimnya pembangunan sosial dan mental masyarakat.

Semestinya kota yang sehat adalah kota yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya, sehingga mampu menghasilkan kehidupan yang berkualitas dari berbagai aspek teknis sosial ekonomi dan budayanya, namun pada kenyataannya permasalahan telah mewarnai kawasan perkotaan saat ini. Permasalahan itu antara lain tingginya tingkat urbanisasi, tumbuh kembangnya lingkungan kumuh, lingkungan yang semrawut,  serta terbatasnya lapangan pekerjaan.

Permasalahan tersebut telah mengakibatkan dampak sosial dan berdampak pada kesehatan warga masyarakat kawasan perkotaan. Sedangkan berbagai permasalahan kesehatan warga perkotaan antara lain munculnya penyakit manular, baik yang disebabkan oleh pola hidup masyarakat maupun lingkungan yang tidak sehat seperti gizi buruk, tuberkolosis, tumbuh kembangnya penyakit manular seksual seperti HIV dan lain-lain.

Permasalahan sosial dan penyakit manular di perkotaan seakan tidak berkurang, meskipun telah banyak program strategis dan dana yang besar dikeluarkan untuk mengatasinya. Hal tersebut bila dicermati terjadi karena belum optimalnya koordinasi dan fasilitasi program baik di tingkat pusat maupun di daerah. Semua masalah menjadi sangat penting untuk difasilitasi dalam bentuk regulasi kebijakan oleh pemerintah.

Membangun Wisata Berbasis Lokal

Standard

Gambar

Sebagai daerah yang memiliki geografis berbukit dan berlembah, tak heran jika Bukittinggi memiliki banyak tangga yang dalam bahasa setempat disebut juga dengan janjang. Tentang hal ini tentu saja kita sudah tak asing dengan Janjang Ampek Puluah yang menghubungkan Pasar Bawah dan Pasar Atas Kota Bukittinggi. Selain Janjang Ampek Puluah ada juga Janjang Saribu yang menghubungkan antara Lobang Japang atau Panorama dengan Ngarai Sianok. Namun kepopuleran Janjang Saribu tertutupi oleh Janjang Ampek Puluah di kota itu.

Barangkali karena alasan itu jugalah, Janjang Saribu baru-baru ini diubah menjadi Tembok Besar Koto Gadang, yang mengadopsi salah satu Tujuh Keajaiban Dunia “Tembok Besar Cina” agar gampang dikenali msyarakat dunia, namanya pun diganti dengan bahasa internasional yaitu The Great Wall of Koto Gadang. Hadirnya Janjang Saribu model baru yang menyerupai Tembok Besar Cina tentu saja memberi efek positif bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dan juga Kota Bukittinggi. Sebagai daerah tujuan wisata, kedua daerah ini perlu menghadirkan wajah baru tempat wisata mereka melengkapi berbagai tempat wisata yang sudah ada seperti Lubang Japang, Panorama, Jam Gadang, Istana Negara Triarga, Kebun Binatang Kinantan, Benten Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh.

Melupakan kisah indah di balik Janjang Seribu ini juga hadir berbagai kritik soal arah pembangunan wisata daerah di Bukittinggi. Apakah kalau memang seperti kabar angin yang menyampaikan bahwa berubahnya Janjang Saribu menjadi The Great Wall of Koto Gadang yang mengadopsi Tembok Besar Cina,  bahkan sampai pada arsitekturnya itu karena pesanan penyandang modal, lalu harus menghilangkan nilai-nilai budaya lokal? Kenapa pembangunan objek wisata baru itu justru harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Mengapa tidak dipertahankan saja Janjang Saribu seperti yang sudah ada sebelumnya? Ini pertanyaan mendasar berkaitan dengan arah pembangunan wisata daerah, khususnya di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Kritik yang menyatakan bahwa membangun objek wisata dengan meniru pada objek wisata negara lain akan menghilangkan kesan lokalitas, tentu saja perlu diperhatikan. Betapa tidak, contoh nyata saja Janjang Saribu yang sudah bertahun-tahun di tempat itu kemudian tertutupi popularitasnya oleh Tembok Besar yang baru dibangun itu. Secara historis pun tidak ada alasan membuat bangunan yang menyerupai Tembok Besar Cina itu. Dibandingkan Lubang Japang diberi nama seperti itu atau Benteng Fort de Kock tentu saja hal ini berbeda. Lubang Japang diberi nama embel-embel Jepang itu tentu karena latar historis pembangunan terowongan yang sangat panjang di bawah Kota Bukittinggi itu tidak terlepas dari sejarah pendudukan Jepang di Bukittinggi. Selain itu Benteng Fort de Kock diberi nama seperti terkait Jenderal Belanda yang berperan besar membangun benteng di Kota Bukittinggi pada zaman penjajahan dulu.

Nah.., Tembok Besar Cina? Apa alasannya kemudian pemerintah Kabupaten Agam atau Kota Bukittinggi mengadopsi Tembok Besar Cina? Tentu saja tidak ada alasan yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak matangnya rencana pembangunan wisata di daerah setempat dan tidak adanya itikad baik untuk membangun wisata yang berbasis lokalitas setempat. Hal ini tentu saja harus menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar ke depan memikirkan dengan matang pembukaan objek wisata baru di daerah.

Nasib Rumah Gadang Minangkabau

Standard

Rumah Gadang

Rumah Gadang tidak hanya sebagai tempat bernaung bagi masyarakat Minangkabau. Akan tetapi jauh dari sekadar fungsi sebagai tempat tinggal, Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat yang menyimpan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Minangkabau. Di dalam sebuah Rumah Gadang itu tersimpan nilai estetika, nilai etika, nilai agama dan nilai budaya.

Namun apakah saat ini begitu adanya? Ini sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan bersama-sama. Lihatlah bagaimana nasib rumah adat masyarakat Minangkabau itu saat ini. Di pelosok negeri, pada nagari-nagari di Ranah Minang, banyak Rumah Gadang yang tidak terpelihara dengan baik. Bahkan yang lebih menyedihkan banyak Rumah Gadang yang dibiarkan hancur dimakan waktu, hancur bersama nasib yang tidak memihak kepadanya.

Rumah Gadang menjadi semakin langka, selain karena masyarakat lebih memilih membuat rumah dengan arsitektur modern juga karena untuk membangun sebuah Rumah Gadang membutuhkan biaya yang besar. Sementara itu Rumah Gadang yang masih ada tidak terawat dengan baik, karena banyak generasi-generasi penerusnya yang keluar dari Rumah Gadang dan memilih memiliki keluarga inti sendiri. Karena hal yang sedemikian bahkan tak jarang Rumah Gadang yang masih ada hanya menjadi gudang penyimpanan barang-barang tua saja.

Pada beberapa tempat di Ranah Minang memang masih ada beberapa rumah dengan gonjong yang menjulang. Secara bentuk barangkali itulah Rumah Gadang, walau dengan pembaruan desain disana-sini. Akan tetapi secara esensi, dia tidak lagi menyimpan nilai-nilai estetika Minangkabau, dia sudah berganti dengan estetika modern yang datang dengan filosofi baru. Apakah salah sebuah Rumah Gadang memiliki nilai estetika baru bahkan yang diimpor dari luar negeri sekalipun? Tidak ada kata salah, namun yang disayangkan adalah hilangnya filososi estetika Minangkabau yang seharusnya diwariskan kepada generasi-generasi baru Minangkabau itu.

Dari segi nilai etika pun seperti itu. Dengan kemanjuan zaman, masyarakat sudah diperkenalkan dengan tradisi baru, sehingga mereka lupa bahkan tidak tahu lagi etika ketika berada di Rumah Gadang. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetahui etika duduk di Rumah Gadang, sementara mereka tidak pernah lagi duduk di Rumah Gadang karena bangunan itu sendiri sudah tidak ada? Sekarang seorang mamak tidak lagi duduk bersila membelakangi dinding bagian luar rumah ketika mengunjungi rumah kemenankannya karena saat ini sang mamak sudah dijamu di atas kursi sofa yang empuk. Bagaimana lagi seorang mamak  akan meninjau apa yang kurang dan apa yang tidak pantas bagi anak kemenakan mereka, karena kemenakan tidak berada di rumah komunal lagi, mereka sudah berada di rumah yang dibuatkan ayah mereka dengan arsitektur gara Eropa.

Pun demikian dengan nilai agama dan nilai budaya. Karena Rumah Gadang sudah hilang, maka hilang pulalah nilai-nilai agama dan budaya yang melekat bersamanya. Semoga saya dan para pembaca yang budiman tidak akan pernah mengucapkan kata “selamat tinggal Rumah Gadang”. (azwar Sutan Malaka)

 

Politik dan Media Sosial

Standard

Media sosial tidak bisa diremehkan begitu saja dalam era teknologi modern saat ini. Berdasarkan data dari Social Bakers, pengguna salah satu media sosial terkemuka dunia yaitu Facebook di Indonesia mencapai 51 juta orang pada bulan April 2013. Hal ini setara dengan 80 persen pengguna internet di Indonesia yang mencapai 61 juta orang lebih. Sementara itu media sosial lain yang juga digandrungi masyarakat yaitu Twitter diperkirakan digunakan oleh 30 juta orang Indonesia. Dengan angka sebanyak itu, Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil dan India.

Angka itu tentu akan terus meningkat seiring semakin mudahnya akses internet dan perangkatnya di Indonesia. Diperkirakan tiga tahun mendatang pengguna internet akan meningkat menjadi 175 juta orang dan bila perhitungan yang sama diberlakukan untuk pengguna media sosial diperkirakan ada 150 juta orang di Indonesia yang akan menggunakan media sosial.

Pengguna dengan jumlah yang fantastis itu tentunya sebuah kekuatan yang besar untuk menggalang sebuah kekuatan media untuk membentuk issu dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi atau kebudayaan. Di Indonesia sendiri media sosial sering digunakan untuk berbagai kepentingan termasuk kepentingan politik. Kalau pada tahun 2008-2010 Blog menjadi senjata utama untuk melakukan perlawanan sosial melalui media. Tahun ini kekuatan pengaruh media bergeser kepada Facebook dan Twitter.

Hal ini tentu bukan analisis kosong belaka. Kekuatan Media Sosial seperti Facebook dan Twitter telah dibuktikan oleh Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Di Malaysia, yang baru-baru ini melangsungkan pesta demokrasi Pemilu, media sosial menjadi kekuatan utama bagi Koalisi Pakatan Rakyat pimpinan Anwar Ibrahim untuk melawan issu media mainstream yang hampir seluruhnya memihak Barisan Nasional.

Bagaimana dengan di Indonesia saat ini? Semestinya media sosial diperhitungkan oleh partai politik saat ini menjelang Pemilu 2014. Apalagi partai-partai yang tidak mendapatkan tempat pada media mainstream. Dengan demikian media sosial bisa menjadi media alternatif untuk melakukan perlawanan pemberitaan yang tidak berimbang atau pemberitaan yang cenderung merugikan. Banyak pengamat media berpendapat bahwa media sosial bisa digunakan untuk melakukan perlawanan bagi pemberitaan media mainstream yang tidak berimbang. (Azwar Sutan Malaka)

Jejak Bung Karno di Bengkulu

Standard

Rumah-Bung-Karno

Kalau anda ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke rumah kediaman Bung Karno pada zaman perjuangan dulu. Rumah yang pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama ketika diasingkan oleh Belanda pada 14 Februari 1938 sampai dengan 9 Juli 1942 itu, telah menjadi salah satu bangunan yang bersejarah di Kota Bengkulu. Rumah itu kini tampak bersahaja dengan halaman luas di depannya. Dulu, ketika Bung Karno menempatinya, tentu tidak seperti itu, karena pada 19 Agustus 1985 sudah dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Menurut beberapa referensi, Bung Karno datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan sebuah bus Auto Dienst Staats Spoor (ADSS) dari Lubuk Linggau. Bung Karno dan keluarganya (Istrinya Inggit dan dua anak angkat mereka Kartika dan Ratna) menempuh perjalanan dari Ende ke Batavia lalu sampai di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Untuk biaya hidup Bung Karno selama di pengasingan itu, ia diberi uang saku sebanyak 90 Gulden perbulan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas politik sang nasionalis bernama lengkap Soekarno itu tentu saja menjadi penyebab dia diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Selama masa pengasingan, Bung Karno diperbolehkan melakukan aktivitas seperti kebanyakan masyarakat. Akan tetapi dia tidak boleh melakukan aktivitas politik. Setiap hari, untuk mengamati aktivitas Bung Karno ini Belanda menempatkan pasukannya pada pos penjaga yang berada di seberang jalan rumah kediamannya. Penjaga ini tidak hanya mengawasi kegiatan Bung Karno, tetapi juga mencatat identitas siapa saja orang yang mengunjunginya.

Haji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu (diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1996) menuliskan bahwa sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki kebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yang Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif memimpin olah raga dan kegiatan kesenian siswa. Pada masa pengasingan di Bengkulu itu juga Bung Karno aktif memimpin kelompok sandiwara Monte Carlo. Hasil pertunjukan sandiwara Monte Carlo itu digunakan untuk biaya pemugaran Masjid Jamik Kota Bengkulu.

Rumah bersejarah itu tempat pengasingan Bung Karno itu terletak di Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah ini barangkali menjadi saksi sejarah perjalanan cinta segi tiga Seokarno dengan istrinya sendiri Inggit serta putri Bengkulu, Fatmawati, yang kemudian dikenal sebagai penjahit bendara pusaka merah putih.

Menurut beberapa cerita yang dipungut dari orang-orang disekitar rumah kediaman Bung Karno, rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Tapi versi lain menyebutkan bahwa rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Namun informasi lain menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur inderneming Van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kemudian dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian yang merupakan pengusaha penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

Rumah kediaman Bung Karno ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Jendela juga berbentuk persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas.

Di rumah yang dibangun pada tahun 1918 ini tentunya pengunjung bisa melihat beberapa koleksi buku Bung Karno, foto kegiatan beliau selama di Bengkulu, sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan peralatan rumah lainnya. Kalau Anda sempat berkunjung ke Bumi Raflesia itu, jangan lupa, singgahlah ke rumah dimana Bung Karno pernah bernaung di dalamnya dan memikirkan nasib republik ini selama empat tahun.

Kalau ingin cenderamata atau tanda bukti anda mengunjungi tanah kelahiran Ibu Negara Fatmawati, tidak jauh dari kediaman Bung Karno banyak pedagang menjual cenderamata dan makanan khas Bengkulu. Kalau sekadar untuk berfoto, di depan rumah bersejarah itu biasa digunakan pengunjung untuk berpose. (Azwar Sutan Malaka)

Pesona Lembah Harau

Standard

Lembah Harau

Minangkabau tidak hanya dikenal sebagai satu-satunya kebudayaan yang menganut sistem matrilineal di nusantara, akan tetapi juga dikenal sebagai daerah yang menyimpan banyak destinasi wisata. Banyak alasan mengapa negeri Bundo Kanduang ini menjadi destinasi wisata yang harus dikunjungi, di antaranya adalah karena kelezatan dan keberagaman kuliner serta keelokan alamnya.

Salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata di daerah ini adalah Lembah Harau, sebuah tempat yang telah dinobatkan menjadi Taman Wisata oleh pemerintah setempat. Lembah Harau terletak di Luhak Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sekitar 15 KM dari kota Payakumbuh atau 47 KM dari kota Bukittinggi.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di daerah sekitar Lembah Harau, lembah seluas 270,5 hektar ini dahulu kala adalah bagian dari lautan. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan bahwa dahulu ada sebuah keluarga kerajaan yang berlayar dari daratan Asia ke daerah Nusantara ini. Ketika sampai di Pulau Perca (Andalas, Sumatera) mereka terdampar di sebuah selat kecil karena perahu mereka tertahan oleh akar-akar pohon yang menjuntai hingga ke selat itu. Agar perahu tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu. Batu itu kemudian dinamakan Batu Tambatan Perahu. Hingga sekarang, kalau anda sempat berkunjung ke Lembah Harau, anda bisa melihat batu bersejarah ini.

Ketika keluarga kerajaan dengan satu orang anak mereka yang bernama Puti Sari Banilai itu kebingungan mencari tempat berlindung, datanglah masyarakat setempat menyelamatkan mereka dan membawa kepada Raja di daerah itu. Karena kebaikan Raja di daerah Lembah Harau itu, Puti Sari Banilai beserta ayah dan ibunya bisa selamat. Karena merasa berhutang budi, orang tua Puti Sari Banilai menikahkan anak mereka dengan anak Raja setempat yang bernama Rambun Paneh.

Namun pernikahan itu menjadi biang bencana, karena sebelum berlayar sebenarnya Puti Sari Banilai sang putri raja sudah mengikat janji dengan kekasihnya yang bernama Bujang Juaro. Sebelum berlayar mereka berjanji untuk sehidup semati. Salah satu yang mengingkari janji mereka akan terkena sumpah. Sumpah mereka adalah kalau Puti Sari Banilai berpaling kepada lelaki lain, Puti Sari Banilai akan berubah menjadi batu. Sementara itu kalau Bujang Juaro yang berpaling kepada perempuan lain ia akan menjadi ular.

Singkat cerita, Puti Sari Banilai menikah dengan Rambun Paneh. Pernikahan itu dikarunia seorang anak lelaki yang tampan. Suatu hari anak Puti Sari Banilai itu sedang bermain, lalu mainan anak itu terjatuh ke dalam laut. Si Ibu, Puti Sari Banilai melompat ke laut itu untuk mengambil mainan anaknya. Saat itu serta merta ombak menghempaskan Puti Sari Banilai ke celah batu. Dalam keadaan seperti itu dia teringat akan janjinya dengan Bujang Juaro, dia sedih dan minta ampun kepada Tuhan karena telah melanggar sumpahnya dengan Bujang Juaro. Saat itu dia meminta kepada Tuhan agar lautan itu kering hingga kelak orang-orang bisa mengenangnya. Tuhan mengabulkan permintaan Puti Sari Banilai, Laut seketika menjadi surut sehingga terhamparlah sebuah lembah yang luas. Sementara itu Perlahan tubuh Puti Sari Banilai berubah menjadi batu. Begitulah cerita orang-orang tentang asal usul Lembah Harau itu. Saat ini batu yang konon kabarnyan adalah tubuh Puti Sari Banilai bisa dijumpai di kawasan Lembah Harau, yang telah resmi menjadi Taman Wisata pada tahun 1979.

Walaupun baru ditetapkan menjadi Taman Wisata pada tahun 1979, akan tetapi Lembah Harau sudah menjadi tujuan wisatawan, baik dari dalam atau luar negeri sejak sebelum kemerdekaan. Hal itu dibuktikan oleh sebuah monumen peninggalan yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta. Monumen bertahun 1926 itu merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah sering dikunjungi orang sejak zaman dulu.  Pada monumen itu tertera tandatangan Asisten Residen Belanda di Lima Puluh Kota saat itu, F. Rinner dan dua pejabat Minangkabau, Tuanku Laras Datuk Kuning dan Datuk Kodoh Nan Hitam.

Di cagar alam dan suaka margasatwa Lembah Harau itu terdapat berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi yang dilindungi. Selain itu juga terdapat sejumlah binatang langka asli Sumatera seperti Monyet ekor panjang (Macaca fascirulatis). Monyet ekor panjang itu merupakan hewan yang acap terlihat di kawasan ini. Hewan ini jinak dan suka bermain dalam kerumunan pengunjung.

Binatang lainnya yang hidup di suaka margasatwa ini adalah Siamang (Hylobatessyndactylus), Simpai (Presbytis melalopos), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Beruang (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing Hutan (Capriconis sumatrensis) dan Landak (Proechidna bruijnii). Selain itu juga terdapat berbagai jenis burung seperti burung Kuau (Argusianus argus) dan Enggang (Anthrococeros sp).

Lembah Harau tidak sekadar menyimpan keindahan alam saja, tetapi juga memeliki empat air terjun yang memesona yaitu Sarasah Aia Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan Sarasah Aie Angek. Pada Sarasah Aie Luluih, terdapat pemandangan alam nan indah, dimana pada air terjun ini, air mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri. Pada Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi diterpa sinar matahari siang. Karena hal itu pulalah dinamakan Sarasah Bunta. Sedangkan pada Sarasah Murai, pada siang hari di air terjun ini sering kali dijumpai burung murai mandi sambil memadu kasih. Karena hal itu masyarakat menamakan Sarasah Murai . Sementara itu pada Sarasah Aie Angek yang artinya air terjun air panas, dinamakan sedemikian karena daerah itu memiliki sumber mata air panas. (Azwar Sutan Malaka)