Politik dan Media Sosial

Standard

Media sosial tidak bisa diremehkan begitu saja dalam era teknologi modern saat ini. Berdasarkan data dari Social Bakers, pengguna salah satu media sosial terkemuka dunia yaitu Facebook di Indonesia mencapai 51 juta orang pada bulan April 2013. Hal ini setara dengan 80 persen pengguna internet di Indonesia yang mencapai 61 juta orang lebih. Sementara itu media sosial lain yang juga digandrungi masyarakat yaitu Twitter diperkirakan digunakan oleh 30 juta orang Indonesia. Dengan angka sebanyak itu, Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil dan India.

Angka itu tentu akan terus meningkat seiring semakin mudahnya akses internet dan perangkatnya di Indonesia. Diperkirakan tiga tahun mendatang pengguna internet akan meningkat menjadi 175 juta orang dan bila perhitungan yang sama diberlakukan untuk pengguna media sosial diperkirakan ada 150 juta orang di Indonesia yang akan menggunakan media sosial.

Pengguna dengan jumlah yang fantastis itu tentunya sebuah kekuatan yang besar untuk menggalang sebuah kekuatan media untuk membentuk issu dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi atau kebudayaan. Di Indonesia sendiri media sosial sering digunakan untuk berbagai kepentingan termasuk kepentingan politik. Kalau pada tahun 2008-2010 Blog menjadi senjata utama untuk melakukan perlawanan sosial melalui media. Tahun ini kekuatan pengaruh media bergeser kepada Facebook dan Twitter.

Hal ini tentu bukan analisis kosong belaka. Kekuatan Media Sosial seperti Facebook dan Twitter telah dibuktikan oleh Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Di Malaysia, yang baru-baru ini melangsungkan pesta demokrasi Pemilu, media sosial menjadi kekuatan utama bagi Koalisi Pakatan Rakyat pimpinan Anwar Ibrahim untuk melawan issu media mainstream yang hampir seluruhnya memihak Barisan Nasional.

Bagaimana dengan di Indonesia saat ini? Semestinya media sosial diperhitungkan oleh partai politik saat ini menjelang Pemilu 2014. Apalagi partai-partai yang tidak mendapatkan tempat pada media mainstream. Dengan demikian media sosial bisa menjadi media alternatif untuk melakukan perlawanan pemberitaan yang tidak berimbang atau pemberitaan yang cenderung merugikan. Banyak pengamat media berpendapat bahwa media sosial bisa digunakan untuk melakukan perlawanan bagi pemberitaan media mainstream yang tidak berimbang. (Azwar Sutan Malaka)

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s