Nasib Rumah Gadang Minangkabau

Standard

Rumah Gadang

Rumah Gadang tidak hanya sebagai tempat bernaung bagi masyarakat Minangkabau. Akan tetapi jauh dari sekadar fungsi sebagai tempat tinggal, Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat yang menyimpan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Minangkabau. Di dalam sebuah Rumah Gadang itu tersimpan nilai estetika, nilai etika, nilai agama dan nilai budaya.

Namun apakah saat ini begitu adanya? Ini sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan bersama-sama. Lihatlah bagaimana nasib rumah adat masyarakat Minangkabau itu saat ini. Di pelosok negeri, pada nagari-nagari di Ranah Minang, banyak Rumah Gadang yang tidak terpelihara dengan baik. Bahkan yang lebih menyedihkan banyak Rumah Gadang yang dibiarkan hancur dimakan waktu, hancur bersama nasib yang tidak memihak kepadanya.

Rumah Gadang menjadi semakin langka, selain karena masyarakat lebih memilih membuat rumah dengan arsitektur modern juga karena untuk membangun sebuah Rumah Gadang membutuhkan biaya yang besar. Sementara itu Rumah Gadang yang masih ada tidak terawat dengan baik, karena banyak generasi-generasi penerusnya yang keluar dari Rumah Gadang dan memilih memiliki keluarga inti sendiri. Karena hal yang sedemikian bahkan tak jarang Rumah Gadang yang masih ada hanya menjadi gudang penyimpanan barang-barang tua saja.

Pada beberapa tempat di Ranah Minang memang masih ada beberapa rumah dengan gonjong yang menjulang. Secara bentuk barangkali itulah Rumah Gadang, walau dengan pembaruan desain disana-sini. Akan tetapi secara esensi, dia tidak lagi menyimpan nilai-nilai estetika Minangkabau, dia sudah berganti dengan estetika modern yang datang dengan filosofi baru. Apakah salah sebuah Rumah Gadang memiliki nilai estetika baru bahkan yang diimpor dari luar negeri sekalipun? Tidak ada kata salah, namun yang disayangkan adalah hilangnya filososi estetika Minangkabau yang seharusnya diwariskan kepada generasi-generasi baru Minangkabau itu.

Dari segi nilai etika pun seperti itu. Dengan kemanjuan zaman, masyarakat sudah diperkenalkan dengan tradisi baru, sehingga mereka lupa bahkan tidak tahu lagi etika ketika berada di Rumah Gadang. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetahui etika duduk di Rumah Gadang, sementara mereka tidak pernah lagi duduk di Rumah Gadang karena bangunan itu sendiri sudah tidak ada? Sekarang seorang mamak tidak lagi duduk bersila membelakangi dinding bagian luar rumah ketika mengunjungi rumah kemenankannya karena saat ini sang mamak sudah dijamu di atas kursi sofa yang empuk. Bagaimana lagi seorang mamak  akan meninjau apa yang kurang dan apa yang tidak pantas bagi anak kemenakan mereka, karena kemenakan tidak berada di rumah komunal lagi, mereka sudah berada di rumah yang dibuatkan ayah mereka dengan arsitektur gara Eropa.

Pun demikian dengan nilai agama dan nilai budaya. Karena Rumah Gadang sudah hilang, maka hilang pulalah nilai-nilai agama dan budaya yang melekat bersamanya. Semoga saya dan para pembaca yang budiman tidak akan pernah mengucapkan kata “selamat tinggal Rumah Gadang”. (azwar Sutan Malaka)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s