Membangun Wisata Berbasis Lokal

Standard

Gambar

Sebagai daerah yang memiliki geografis berbukit dan berlembah, tak heran jika Bukittinggi memiliki banyak tangga yang dalam bahasa setempat disebut juga dengan janjang. Tentang hal ini tentu saja kita sudah tak asing dengan Janjang Ampek Puluah yang menghubungkan Pasar Bawah dan Pasar Atas Kota Bukittinggi. Selain Janjang Ampek Puluah ada juga Janjang Saribu yang menghubungkan antara Lobang Japang atau Panorama dengan Ngarai Sianok. Namun kepopuleran Janjang Saribu tertutupi oleh Janjang Ampek Puluah di kota itu.

Barangkali karena alasan itu jugalah, Janjang Saribu baru-baru ini diubah menjadi Tembok Besar Koto Gadang, yang mengadopsi salah satu Tujuh Keajaiban Dunia “Tembok Besar Cina” agar gampang dikenali msyarakat dunia, namanya pun diganti dengan bahasa internasional yaitu The Great Wall of Koto Gadang. Hadirnya Janjang Saribu model baru yang menyerupai Tembok Besar Cina tentu saja memberi efek positif bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dan juga Kota Bukittinggi. Sebagai daerah tujuan wisata, kedua daerah ini perlu menghadirkan wajah baru tempat wisata mereka melengkapi berbagai tempat wisata yang sudah ada seperti Lubang Japang, Panorama, Jam Gadang, Istana Negara Triarga, Kebun Binatang Kinantan, Benten Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh.

Melupakan kisah indah di balik Janjang Seribu ini juga hadir berbagai kritik soal arah pembangunan wisata daerah di Bukittinggi. Apakah kalau memang seperti kabar angin yang menyampaikan bahwa berubahnya Janjang Saribu menjadi The Great Wall of Koto Gadang yang mengadopsi Tembok Besar Cina,  bahkan sampai pada arsitekturnya itu karena pesanan penyandang modal, lalu harus menghilangkan nilai-nilai budaya lokal? Kenapa pembangunan objek wisata baru itu justru harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Mengapa tidak dipertahankan saja Janjang Saribu seperti yang sudah ada sebelumnya? Ini pertanyaan mendasar berkaitan dengan arah pembangunan wisata daerah, khususnya di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Kritik yang menyatakan bahwa membangun objek wisata dengan meniru pada objek wisata negara lain akan menghilangkan kesan lokalitas, tentu saja perlu diperhatikan. Betapa tidak, contoh nyata saja Janjang Saribu yang sudah bertahun-tahun di tempat itu kemudian tertutupi popularitasnya oleh Tembok Besar yang baru dibangun itu. Secara historis pun tidak ada alasan membuat bangunan yang menyerupai Tembok Besar Cina itu. Dibandingkan Lubang Japang diberi nama seperti itu atau Benteng Fort de Kock tentu saja hal ini berbeda. Lubang Japang diberi nama embel-embel Jepang itu tentu karena latar historis pembangunan terowongan yang sangat panjang di bawah Kota Bukittinggi itu tidak terlepas dari sejarah pendudukan Jepang di Bukittinggi. Selain itu Benteng Fort de Kock diberi nama seperti terkait Jenderal Belanda yang berperan besar membangun benteng di Kota Bukittinggi pada zaman penjajahan dulu.

Nah.., Tembok Besar Cina? Apa alasannya kemudian pemerintah Kabupaten Agam atau Kota Bukittinggi mengadopsi Tembok Besar Cina? Tentu saja tidak ada alasan yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak matangnya rencana pembangunan wisata di daerah setempat dan tidak adanya itikad baik untuk membangun wisata yang berbasis lokalitas setempat. Hal ini tentu saja harus menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar ke depan memikirkan dengan matang pembukaan objek wisata baru di daerah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s