Monthly Archives: June 2014

BUNIAN, Musnahnya Sebuah Peradaban

Standard

BUNIAN, Musnahnya Sebuah Peradaban

Penulis                      : Sutan Malaka

Jumlah Halaman    : 238 halaman

Penerbit                   : Masmedia Buana Pustaka

Tahun Terbit          : 2010

Di masyarakat Sumatra Barat berkembang mitos tentang perkampungan mahluk halus yang berdiam di hutan-hutan. Mahluk halus ini dipercaya sangat mirip dengan manusia, dan sudah banyak legenda yang menceritakan tentang manusia yang menghilang ke kampung Bunian. Konon manusia yang hilang itu telah menjadi bagian dari mereka.

Legenda Bunian terus hidup sampai sekarang. Dan novel ini membahas tentang kehidupan masyarakat bunian. Awalnya saya pikir ini akan bergenre horor, tapi diluar dugaan Bunian yang digambarkan di novel ini jauh berbeda dengan pendapat yang telah berkembang. Mereka (Bunian) bukan mahluk halus, tetapi adalah suku minang yang hidup terisolasi di rimba gunung marapi. Mereka masih mempertahankan adat istiadat minang kuno dengan bahasa minang lama pula.

Plot diawali dengan sekelompok pendaki yang tersesat. Ketika mencari jalan, sepasang kekasih dari kelompok pendaki melakukan perbuatan mesum. Maya, Bara dan Sam yang sebal dengan kedua temannya itu akhirnya memilih memisahkan diri. Maka tim ini pun terpecah menjadi dua bagian.

Kesialan mereka ternyata belum berhenti disitu, karena mereka malah bertemu dengan inyiak (harimau). Maya dan Bara menyaksikan sahabatnya Sam dilahap harimau itu. Maya dan Bara akhirnya selamat, mereka tersesat di perkampungan bunian. Namun, cerita sebenarnya baru saja dimulai. Maya dan Bara dijadikan tawanan. Mereka dituduh komplotan yang melakukan penebangan hutan luar di gunung merapi. Kaum Bunian yang hidup terisolasi itu telah menjadi penjaga hutan selama bertahun-tahun. DAn penebang liar akan mendapat hukuman yang berat. Maya dan Bara hanya memiliki waktu beberapa bulan sebelum eksekusi mereka, selama itu mereka hidup dan membaur disana. Mau tak mau mereka ikut terlibat dalam masalah yang terjadi di perkampunganm itu. Terlebih ada pengkhianat yang telah menjual kampung halamannya sendiri.

***

Sejak awal membaca novel ini kita sudah dibawa pada sebuah thriller yang cukup menakutkan. Penulis menggambarkan dengan realistis suasana gunung merapi yang mencekam. Berada di tengah, kita mulai dibawa pada konflik-konflik yang sedikit bersifat  politis. Saya benci kisah pengkhianatan sebenarnya, saya selalu emosional dengan hal ini. Namun entah mengapa saya mampu menyelesaikan novel ini dan memberi rating tiga bintang, mungkin saya terbius oleh penceritaanya.

Novel ini menciptakan mitos baru tentang mahluk bunian, kita akan menemukan banyak dialeg minangkabau kuno. Kalau ingin mengetahui bagaimana budaya minangkabau kuno, tentu novel ini wajib dibaca.

Sumber tulisan Blog Jurnal Si Bugot, Peresensi Gea Harovansi (Bugot)

 

Advertisements

Novel Bunian

Standard

Gambar

Pas lagi mau tidur siang, e-eh tau-tau pak pos datang mengantarkan sebuah paket yang kunanti. itulah dia novel baru Azwar (yang bernama pena Sutan Malaka).

Covernya ciamik tenaaaaan. dasarnya hitam, rada-rada mejik gitu. Desainnya sederhana, gak ribet dengan warna, pas banget dengan kesan misteri en petualangan yang ingin ditonjolkan novel ini. Yang bikin menarik gambar covernya itu lho…cewek cantik mirip bule yang kemungkinan besar itulah dia si tokoh Maya, salah satu pelaku cerita. Ehm, yang bernama Maya dimana-mana emang ca’em (ehm…ehm…).

Daya tarik lainnya tentu aja foto si cowok ganteng rada cool yang tampangnya mengingatkan aku pada salah satu pemain film Indonesia yang aku suer-lupa-namanya-meski-udah-berusaha-keras-mengingat. Kukira kesederhanaan desain cover ini menjadi daya tarik yang tidak sederhana untuk novel Azwar. Benarlah kata orang, cover itu ibaratnya halaman. Kalo cantik, orang pada tertarik masuk, tapi kalo jelek, awut-awutan, banyak sampah apalagi lalat hiiyyy…jangankan masuk, ngeliat aja males les les

Daya tarik lainnya apalagi kalo bukan testimoninya pak Haris, sastrawan kita yang sekarang menjabat Ketua Dewan Kesenian Sumbar. Ih, pandai aja penerbit ngejual nama Pak Haris di covernya. He-eh, ya iyalah….

Novel Azwar alias Sutan Malaka ini (ngomong-ngomong, suamiku sampe berpikir untuk bikin nama pena sesuai gelarnya pula setelah membaca nama pena Azwar hehehe…) bercerita tentang sekelompok anak muda yang keranjingan mendaki gunung. Suatu kali mereka memutuskan mendaki Marapi, salah satu gunung penuh misteri yang terletak di Bukittinggi. Di Marapi inilah mereka menemukan sesuatu yang tak terduga. Mereka ketemu orang Bunian! ih. Aku jadi ingat waktu kecil dulu sering ditakut-takuti akan dibawa orang Bunian kalo nakal. Aku juga dilarang main-main pas magrib kalo enggak mau dibawa kabur orang Bunian. Benar-benar cerdas plus jenius orangtuaku dalam mendisiplinkan anak. Terbukti, metode menakut-nakuti itu ampuh mencegahku keluar rumah magrib-magrib sampaiiiiiii sekarang.

Okeh, kembali ke novelnya Azwar. jadi para tokoh kita ketemu orang-orang Bunian.  Oh, ternyata orang Bunian itu sama kayak orang minang lainnya. Mereka punya datuk-datuk  juga. Ternyata mereka punya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Sampai di sini cerita jadi unik. Segala sesuatu di alam mereka anggap harta berharga dan karenanya harus dipelihara. Uh, beda banget kelas mereka sama kita kalo gitu. Bagi manusia, segala sesuatu di alam adalah komoditi, termasuk kotoran sapi. Pengetahuan semacam ini menohok para pemuda yang nyasar ke kampung Bunian itu, dan selanjutnya mengubah cara pandang mereka melihat dunia.

Well, terus terang ide tentang orang-orang Bunian ini menarik. Sependek-pendeknya pengetahuanku, belum ada kutemukan novel yang berkisah tentang makhluk ini (jika ternyata sudah ada, maka terbuktilah pengetahuanku memang pendek). Di tengah maraknya penulis-penulis Indonesia mengambil tokoh-tokoh non lokal untuk novel-novel mereka, kehadiran orang Bunian dalam dunia fiksi kita jadi angin segar. Semoga aja ntar banyak novel-novel yang mengambil tokoh fantasi lokal. Ya, mana tau ntar ada yang bikin Kisah Dunia Kuntilanak untuk menyaingin kisah para penyihirnya J.K Rowling. Kisah Jenglot, Tuyul, dll. Kalo J.K Rowling en Stepehenie Meyer sukses mengangkat  penyihir, goblin, raksasa, unicorn, vampir, werewolf en tokoh-tokoh fantasi barat lainnya dalam novel mereka kenapa kita enggak? Ya, kan?

Terakhir untuk Azwar, maaf atas resensi yang bukan resensi dan-malangnya rada ngawur ini. Semoga dikau memaafkan. Diriku bangga akan keberhasilanmu. Semoga nanti lahir novel-novel lainnya. Good luck….

Penulis: Maya Lestari Gf. adalah Sastrawan Indonesia.

Hidup Bersama Orang Bunian

Standard
Hidup Bersama Orang Bunian

Gambar

Hidup Bersama Orang Bunian

Judul             : Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban

Penulis         : Sutan Malaka

Penerbit      : Masmedia Buana Pustaka

Tebal            : 238 halaman

Sekelompok pendaki itu tersesat. Niat awal mereka untuk menyaksikan fajar pertama tahun itu pupus sudah. Hal ini disebabkan oleh cuaca yang sangat tidak bersahabat. Pendakian malam, ditambah gerimis yang kian lama kian menjelma hujan menyebabkan malam semakin pekat. Jalan setapak kian lanyah. Mereka terpaksa mencari jalan lain yang ternyata berujung entah dimana. Masih dalam gelap, dalam belantara gunung merapi. Dan, itulah awal dari segala yang menakutkan dan tak terduga. Menguji nyali dan menegakkan bulu roma.

Bara, Bayu, Adi, Sam, Maya dan anggie begitulah mereka dipanggil. Diawali dengan hilangnya arah dan tujuan, para pendaki tersebut memutuskan untuk beristirahat. Pembekalan yang kian menipis semakin memberi tekanan pada kelompok pendaki itu. Lalu akhirnya kelompok tersebut harus berpisah lantaran ulah Bayu dan Anggie yang melakukan sesuatu yang terlalu intim, meski pada kenyataannya mereka sedang tersesat dalam rimba lebat. Bara merah. Tim terpisah –sesuatu yang tak seharusnya terjadi dalam sebuah kelompok pendakian. Masing-masing harus mencari jalan pulang sendiri-sendiri.

Untuk mempertahankan hidup, Bara, Sam dan Maya yang tergabung dalam tim yang sama mulai berburu. Sayangnya, sudahlah buruan yang didapat sedikit dan bersusah payah pula, mereka juga harus menyaksikan inyiak (harimau) sedang menyantap teman mereka yang baru saja memisahkan diri. Tragis. Lalu pada saat istirahat, setelah berlari dari kejaran si inyiak, tanpa diduga, dibalik semak, muncul lagi inyiak  yang lain, atau,  inyiak yang baru saja mengejar mereka. Entahlah. Sam bergulat dengan si inyiak dengan perut yang telah terburai. Ia memerintahkan Bara dan Maya untuk lari. Ia melawan inyiak sendirian untuk menyelamatkan rekan-rekannya. Barangkali itulah gunanya teman. Sam tewas. Dan, cerita sebenarnya baru saja dimuali.

Orang-orang bunian memamng ada. Orang yang katanya hidup di dunia lain; dunia gaib. Namun katanya dan nyatanya, mereka memilki kehidupan yang sama dengan manusia kebanyakan. Mereka beranak-beristri, mempunyai kepala suku, mempunyai perkampungan bahkan hidup dengan berladang dan bersawah. Paling tidak, itulah yang dirasakan Bara dan Maya setelah mereka tinggal bersama orang Bunian –kalau tidak karena orang Bunian, mereka tidak akan selamat dari kejaran inyiak. Hidup sebagai orang tawanan memaksa Bara dan Maya berinteraksi dengan penduduk asli Bunian. Hal ini lantaran hukuman yang diberikan bukan berupa kurungan namun berdasarkan pada tatanan kehidupan orang Bunian itu sendiri.

Membaca Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban, seperti menyelami ganasnya alam Merapi yang telah banyak memakan korban para pendaki. Selain itu, novel dengan alur yang mengalir ini, kembali mengingatkan pembaca tentang cerita kanak-kanak mengenai orang Bunian; orang yang jahat, yang sakti, yang suka menculik orang biasa kemudian memberinya makan dengan sarang semut atau kotoran sapi, sedang minumannya adalah air kencing orang Bunian itu sendiri. Barangkali itulah penyebabnya kenapa orang yang telah diculik orang Bunian kehilanagn kewarasan, kurus dan tak tahu apa-apa. Atau cerita kanak-kanak lain yang mengisahkan orang Bunian yang berbelanja di pasar dengan menggunakan uang yang terbuat dari daun, dan itu baru disadari jika orang bunian tersebut emninggalkan pasar dengan barang belanjaannya.

Mengangkat tema lingkungan; penebangan hutan dan usaha-usaha pencegahan yang dilakukan oleh para karakternya, novel Bunian memberikan tawaran baru tentang sudut pandang yang berbeda dalam banyak hal. Mulai dari sudut pandang tentang arti alam, sudut pandang tentang kehidupan orang Bunian dan sudut pandang lain yang dinyatakan tersirat. Selain itu, Bunian juga memberikan sudut pandang lain tentang tambo minangkabau  yang diolah secara ilmiah yang apad akhirnya menjadi inti dari novel ini. Dengan kepiawaian yang apik, Sutan Malaka menceritakan Bunian dengan cara mengalir begitu saja, menggambarkan dengan mudah dan memaparkan semua kejadian dan fenomena kegaiban orang Bunian secara logis. Apalagi, Bunian ditutup dengan ending yang tak terduga, hingga melibatkan senajata AK-47. Tak lupa, kisah percintaan juga mewarnai cerita ini.

M. Adioska: Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

(Resensi ini pernah dimuat di Harian Singgalang)

Hidup Adalah Sebuah Perjuangan

Standard

Gambar

Resensi

Hidup Adalah Sebuah Perjuangan

Pengarang       : Azwar Sutan Malaka
Penerbit           : Bening Divapres
Tebal               : 372
Editor              : Sri Handini
Resensiator      : M. Adioska

Novel karya putra Minang, Azwar Sutan Malaka ini merupakan sebuah karya fiksi yang berlatar belakang lokalitas Minangkabau. Namun pengarang justru menyembunyikannya dalam selubung fiksi yang indah. Karena cerita ini bukan kisah sejarah, dan bukan kisah nyata, maka menurut saya hal itu sah-sah saja untuk sebuah karya fiksi.

Cerita ini mengangkat seorang tokoh bernama Alif. Ia tinggal di Negeri Purnama. Dinamakan Negeri Purnama karena konon di negeri itu pernah berdiri sebuah kerajaan dengan nama yang sama, Kerajaan Purnama dengan pusat pemerintahannya bernama Istana Purnama. Negeri itu menganut sistem pemerintahan matrilineal dimana perempuan memegang peranan yang sangat penting. Perempuan mempunyai hak untuk mewarisi harta pusaka, baik tanah, sawah, rumah dan harta warisan lainnya. Sementara kaum adam bertindak sebagai penjaga. Tak punya hak waris.

Alif, diberi gelar Raja Muda. Pemberian gelar sudah lumrah di negeri itu. Karena memang demikianlah kebiasaan rakyatnya. Seorang lelaki yang sudah menikah wajib diberi gelar. Namun gelar Raja Muda bukanlah didapat lantaran Alif sudah menikah, karena sebenarnya ia belum menikah. Tetapi ada pengecualian untuk gelar yang diberikan karena adat. Ia dikukuhkan sebagai orang yang memegang gelar Raja Muda sebab di pundaknya juga dibebankan sebuah tanggung jawab sebagai pemangku adat sekaligus penjaga harta pusaka yang salah satunya adalah Istana Purnama. Maka pada suatu hari, datanglah seorang investor, Frans. Bermaksud menjadikan Istana Purnama sebagai tempat wisata. Istana akan dikelola untuk kepentingan umum, rakyatpun akan kian sejahtera lantaran pengunjung akan datang berduyun. Ekonomi akan menggeliat. Paling tidak, demikianlah perhitungan Frans.

Tapi Alif dengan tegas menolak, karena bagaimanapun kewajibannya adalah menjaga istana. Frans meradang. Tak bisa dengan kata manis, ia ganti dengan cara sadis. Alif tetap pada pendiriannya. Tidak ada kata kompromi. Istana adalah harga mati. Hingga pada suatu hari, ia dijebak oleh Frans. Frans mengundang bicara empat mata, nyatanya ia diberondong senjata. Pengawalnya dibunuh, ia terluka. Ia mampu menyelamatkan diri. Berlari melalui lorong, lalu ke jalanan. Bukan sekedar pelarian biasa,  tapi pelarian panjang, awal sebuah perjuangan mempertahankan istana.

Mengambil latar Negeri Purnama, sebuah negeri di antah barantah, Azwar Sutan Malaka membangun sebuah cerita dengan apik. Rangkaian cerita terasa padu dengan alur yang terkadang cepat, terkadang juga bisa melambat. Dilain sisi, pemilihan nama latar tempat memberikan kesan lain. Para pembaca seakan dibawa mengarungi negeri dongeng atau mungkin bisa juga disebut dongeng modern-. Bagaimana tidak, pemilihan nama daerah atau tempat terkesan hanya berada di wilayah rekaan. Sebut saja Negeri Purnama dengan pusat Istana Purnama, Negeri Jalan Bumi dengan pusat Istana Jalan Bumi, Kota Pintu Angin dengan Menara Waktu-nya dan nama lain yang tetap terkesan mendongeng.

Namun yang lebih menarik dari semuanya adalah adanya unsur budaya yang padat dalam cerita tersebut. Dan budaya yang dipaparkan tersebut persis sama dengan budaya Minangkabau. Sebagai contoh, pemerintahan yang memakai sistem matrilineal, pemberian gelar yang diberlakukan bagi laki-laki yang sudah menikah atau yang belum menikah tetapi dikukuhkan secara adat.  Dalam budaya Minangkabau hal ini dikenal dengan istilah ketek banamo gadang bagala (waktu kecil dipanggil nama, setelah besar diberi gelar). Selain budaya, istilah yang digunakan dalam novel ini juga banyak memakai istilah dari Minangkabau, seperti Silek Kumango (Salah satu aliran silat tradisional Minang), Randai, Saluang dan istilah lainnya. Sebagai catatan, semua budaya dan istilah yang dipakai dalam novel ini adalah benar menurut budaya dan istilah Minangkabau.

Di lain sisi, membaca Hidup Adalah Perjuangan, seperti mencerminkan diri sendiri terhadap fenomena yang sudah, sedang dan –mungkin- akan tetap berlaku dimasa yang akan datang. Sebuah gejala dimana hal yang berbau budaya dan kebudayaan senantiasa di perjual belikan atas nama hidup yang lebih modern. Tak jarang ditemukan saat ini sepetak sawah dijual untuk dijadikan perumahan, bangunan lama di renovasi jadi pusat keramaian, atau pandam diubah menjadi taman bermain. Sebuah modernisasi yang melalaikan unsur kebiasaan atau budaya masyarakat lama.

Mengambil sebuah Istana sebagai pangkal sebuah cerita, Azwar Sutan Malaka tampak dengan sengaja menggelitik kesadaran akan budaya para pembacanya. Melalui tokoh utamanya, novel ini mengisahkan keteguhan hati seorang anak negeri Purnama untuk melindungi Istana yang telah di warisinya turun temurun. Harta tak menyilaukan matanya. Senjata tak menyiutkannya nyalinya. Tak hanya berbicara tentang keteguhan hati seorang anak di Negeri Purnama tersebut, novel ini pun diwarnai dengan drama percintaan pelaku utamanya. Bukan cinta yang berjalan manis hingga ke ujung, tetapi cinta dengan segala hal yang melekat padanya; bahagia, kecewa, dan kehilangan. Bagi pembaca yang menyukai petualangan di negeri antah barantah, barangkali novel ini mampu memuaskan dahaganya.

Peresensi: M. Adioska adalah anggota FLP Sumatera Barat, kini menjadi Guru di Bukittinggi.

(Sumber: Suara Kampus)