Novel Bunian

Standard

Gambar

Pas lagi mau tidur siang, e-eh tau-tau pak pos datang mengantarkan sebuah paket yang kunanti. itulah dia novel baru Azwar (yang bernama pena Sutan Malaka).

Covernya ciamik tenaaaaan. dasarnya hitam, rada-rada mejik gitu. Desainnya sederhana, gak ribet dengan warna, pas banget dengan kesan misteri en petualangan yang ingin ditonjolkan novel ini. Yang bikin menarik gambar covernya itu lho…cewek cantik mirip bule yang kemungkinan besar itulah dia si tokoh Maya, salah satu pelaku cerita. Ehm, yang bernama Maya dimana-mana emang ca’em (ehm…ehm…).

Daya tarik lainnya tentu aja foto si cowok ganteng rada cool yang tampangnya mengingatkan aku pada salah satu pemain film Indonesia yang aku suer-lupa-namanya-meski-udah-berusaha-keras-mengingat. Kukira kesederhanaan desain cover ini menjadi daya tarik yang tidak sederhana untuk novel Azwar. Benarlah kata orang, cover itu ibaratnya halaman. Kalo cantik, orang pada tertarik masuk, tapi kalo jelek, awut-awutan, banyak sampah apalagi lalat hiiyyy…jangankan masuk, ngeliat aja males les les

Daya tarik lainnya apalagi kalo bukan testimoninya pak Haris, sastrawan kita yang sekarang menjabat Ketua Dewan Kesenian Sumbar. Ih, pandai aja penerbit ngejual nama Pak Haris di covernya. He-eh, ya iyalah….

Novel Azwar alias Sutan Malaka ini (ngomong-ngomong, suamiku sampe berpikir untuk bikin nama pena sesuai gelarnya pula setelah membaca nama pena Azwar hehehe…) bercerita tentang sekelompok anak muda yang keranjingan mendaki gunung. Suatu kali mereka memutuskan mendaki Marapi, salah satu gunung penuh misteri yang terletak di Bukittinggi. Di Marapi inilah mereka menemukan sesuatu yang tak terduga. Mereka ketemu orang Bunian! ih. Aku jadi ingat waktu kecil dulu sering ditakut-takuti akan dibawa orang Bunian kalo nakal. Aku juga dilarang main-main pas magrib kalo enggak mau dibawa kabur orang Bunian. Benar-benar cerdas plus jenius orangtuaku dalam mendisiplinkan anak. Terbukti, metode menakut-nakuti itu ampuh mencegahku keluar rumah magrib-magrib sampaiiiiiii sekarang.

Okeh, kembali ke novelnya Azwar. jadi para tokoh kita ketemu orang-orang Bunian.  Oh, ternyata orang Bunian itu sama kayak orang minang lainnya. Mereka punya datuk-datuk  juga. Ternyata mereka punya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Sampai di sini cerita jadi unik. Segala sesuatu di alam mereka anggap harta berharga dan karenanya harus dipelihara. Uh, beda banget kelas mereka sama kita kalo gitu. Bagi manusia, segala sesuatu di alam adalah komoditi, termasuk kotoran sapi. Pengetahuan semacam ini menohok para pemuda yang nyasar ke kampung Bunian itu, dan selanjutnya mengubah cara pandang mereka melihat dunia.

Well, terus terang ide tentang orang-orang Bunian ini menarik. Sependek-pendeknya pengetahuanku, belum ada kutemukan novel yang berkisah tentang makhluk ini (jika ternyata sudah ada, maka terbuktilah pengetahuanku memang pendek). Di tengah maraknya penulis-penulis Indonesia mengambil tokoh-tokoh non lokal untuk novel-novel mereka, kehadiran orang Bunian dalam dunia fiksi kita jadi angin segar. Semoga aja ntar banyak novel-novel yang mengambil tokoh fantasi lokal. Ya, mana tau ntar ada yang bikin Kisah Dunia Kuntilanak untuk menyaingin kisah para penyihirnya J.K Rowling. Kisah Jenglot, Tuyul, dll. Kalo J.K Rowling en Stepehenie Meyer sukses mengangkat  penyihir, goblin, raksasa, unicorn, vampir, werewolf en tokoh-tokoh fantasi barat lainnya dalam novel mereka kenapa kita enggak? Ya, kan?

Terakhir untuk Azwar, maaf atas resensi yang bukan resensi dan-malangnya rada ngawur ini. Semoga dikau memaafkan. Diriku bangga akan keberhasilanmu. Semoga nanti lahir novel-novel lainnya. Good luck….

Penulis: Maya Lestari Gf. adalah Sastrawan Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s