Monthly Archives: October 2014

Jantung Batu

Standard

Senja rebah ke tepian, sudah lebih dua putaran jarum jam. Tapi sisa-sisa gerah udara kota masih saja berbekas di malam itu. Tempat kos sederhana itu terasa semakin panas bagi Sutan. Sudah sejam lebih dia bermenung dan sesekali mondar mandir di depan ruangan yang hanya dibatasi triplek. Triplek tipis yang tidak bisa meredam suara-suara yang terjadi dalam ruangan di dalamnya. Ada erangan dan rintihan perempuan kesakitan, sakitnya terasa di jatung Sutan. Berkali-kali, beratus kali, beribu kali. Sakit.

Dalam pikiran Sutan berterbangan wajah ibu yang melahirkan, menyusui, dan bersusah payah mempertahankan hidupnya. Ibu yang dengan air mata menimang-nimang di larut malam saat tangisannya datang tanpa kenal waktu. Siang, petang, dan malam perempuan itu menderita karenanya. Kini, seorang perempuan juga sedang menghabiskan penderitaan untuk hidup dan dia menumpang hidup dari derita perempuan itu.

“Betapa terkutuknya aku.” Batinnya pedih. Dalam galau yang semakin tidak menentu itu seorang laki-laki paruh baya keluar sambil merapikan celananya. Dia menyeka keringat di wajah, merapikan kemeja, lalu menyambar tas di atas meja tua di pojok ruangan sederhana itu.

“Tugas kuliah untuk besok tidak usah dibuat, aku kasih nilai A untuk mata kuliah Budi Perkerti kalian.”

Sutan tidak menjawab, dia tidak melihat wajah lelaki itu, bukan karena tidak berani, tapi benci karena laki-laki itu memanfaatkan kemiskinannya. “Anjing,” makinya dalam hati.

Sambil tersenyum puas yang nakal, laki-laki itu pergi. Dia pergi meninggalkan luka yang menganga di hati Sutan. Setelah laki-laki itu hilang di telan kelam malam, Sutan menyibakkan tirai pintu. Di atas tilam lusuh seorang perempuan terbaring lelah, menyamping menghadap dinding yang dilapisi kertas koran. Rambutnya tergerai basah karena keringat, tubuhnya mengkilat entah karena keringat atau bekas dijilat. Di samping perempuan itu berserakan lima lembar uang dua puluh ribuan. Sutan mendekati perempuan itu, sunyi waktu itu pecah oleh derit ranjang yang didudukinya. Setelah itu kembali sepi, hanya tangan Sutan bergerak menaikkan kain jawa hingga menutupi tubuh perempuan yang terbaring itu. Waktu itu dia tidak kuasa untuk menahan tangannya agar tidak membelai bahu gadis itu.

“Sutan…aku lelah.”

Sutan menarik tangannya, memang dia tidak bermaksud untuk mengulang menyakiti perempuan itu. Dia berharap dengan belaiannya perempuan itu tahu kalau dia merasakan kepedihan yang sama, duka yang sama.

“Alia…aku belikan makan malam untukmu.”

Tak ada jawaban, hanya sunyi menari-nari. Perempuan itu masih memunggungi Sutan, dia raba-raba di sekitar tempat tidurnya hingga menemukan selembar uang. Lalu di remasnya dan diberikannya pada Sutan. Tangan Sutan bergetar menerimanya, dengan perasaan tidak menentu dia pergi keluar ruangan. Setelah Sutan pergi, perempuan itu mencuri-curi pandang melihat punggung Sutan. Sejujurnya dia tahu kalau laki-laki itu menahan sebak air mata yang berlinangan di matanya.

“Sutan…jangan lupa belikan dua lembar kertas folio.”

Sutan berhenti, tanpa menoleh dia berkata pelan.

“Kata Pak Gun kita tidak usah mengerjakan tugas, nilai akhir sudah ada.”

Sebenarnya Alia tidak percaya dengan janji dosen itu, tapi dia tidak ingin bersuara lagi. Badannya terasa remuk, sementara perih seperti diiris-iris pisau masih membekas di tubuhnya. Dia lelah. Dia sakit. Dia menangis.

Dalam butir-bitir air matanya ada kehidupan lama yang juga sakit dalam kenangan. Panas desa, tanah retak, dan terik matahari. Sementara itu suara martil berdering-dering hinggap di batu. Dari kejauhan sebuah truk merangkak berjuang mendekati onggokan batu yang dikumpulkan Alia. Melihat kedatangan truk itu, dia berhenti memecah batu. Menyeka keringat dengan handuk lusuh yang tergantung di lehernya, lalu menyingkir ke sebuah warung beberapa meter dari tempatnya mengumpulkan batu.

Sopir truk itu menyusul ke warung setelah memarkir truk tepat di sisi tumpukan batu yang dikumpulkan Alia.

“Berapa sekarang ?”

“Seratus lima puluh, harga batu murah, orang lebih suka menggunakan batu sungai untuk membuat pondasi rumah, sementara pabrik dolomit sudah kelebihan batu gunung.”

Alia pasrah mendengar penuturan sopir truk itu. Ia mengambil sebuah botol aqua lalu duduk di balai-balai warung itu. Sopir truk menghampiri Alia, lalu mengeluarkan empat lembar uang lima puluh ribu.

“Untukmu…”

Alia menerima uang penjualan batu, lalu matanya menatap jijik pada sopir truk itu yang mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribu. Saat Ina -pelayan penjaga warung- meletakkan kopi panas untuk sopir truk itu, lak-laki itu menangkap pinggang Ina dari belakang, menyelipkan uang lima puluh ribu ke balik dada Ina, lalu mereka tertawa ke ruang belakang tempat istirahat sopir truk sambil menunggu muatan.

Alia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Memang jarang perempuan yang kuat memecah batu, makanya Ina memilih menjual tubuhnya dari pada harus susah-susah memecah batu. Tidak lama, bak belakang truk sudah penuh diisi dengan batu. Laki-laki buruh angkat yang mengisi truk menutup ombeng belakang, lalu berjalan ke warung untuk mengambil upah angkatnya.

“Sutan…, ini upah angkatmu.”

Alia menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah, lalu berjalan meninggalkan satu-satunya warung di ladang batu itu.

“Woi…Alia…, hutangmu !”

“Besok aku bayar, ndak ada uang kecil.”

Alia berlalu, tidak menghiraukan teriakan Bu Ami pemilik warung. Sutan menyusul, diambilnya perkakas kerja yang ditenteng Alia.

“Biar aku yang bawa.”

Alia menyerahkan perkakas kerjanya pada Sutan, mereka beriringan berjalan pulang.

“Nanti aku pinjam bukumu.”

“Nanti malam aku antar ke rumahmu.”

“Terimakasih.”

“Sutan…jadi kau kuliah.”

“Entahlah, aku lihat dulu.”

“Apa kamu betah seumur hidup menjadi tukang batu ?”

Senja turun di jalanan berbatu yang penuh debu. Alia dan Sutan beriringan pulang ke rumah tidak jauh dari ladang penggalian batu. Dua remaja SMU itu berpisah di simpang jalan yang memisahkan rumah mereka.

Kenangan itu adalah apa yang terjadi tiga tahun lalu, saat mereka masih di kampung ketika masih sekolah di SMU. Di desa, sekolah tidak serumit di kota, makanya Sutan dan Alia bisa menjual satu truk batu yang dikumpulkan di ladang batu milik kaumnya selama seminggu. Sementara Sutan yang tidak punya ladang batu, memilih untuk menjadi buruh tukang angkat. Dengan kerja seperti itulah mereka bisa mengumpulkan uang untuk bekal mendaftar di perguruan tinggi.

Di kota ternyata tidak seperti yang mereka duga. Suatu malam, Alia minta ditemani oleh Sutan untuk pergi ke rumah dosen mengurus nilainya. Dengan berjalan kaki sejauh 5 km mereka pergi ke rumah Pak Gun.

“Mengapa tidak diselesaikan di kampus saja ?”

Alia menghentikan langkahnya, ditatapnya mata Sutan, dalam.

“Bukankah sudah aku katakan, kalau Pak Gun itu tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikannya di kampus.”

Alia mulai tidak bisa mengontrol emosinya, lelah berjalan mungkin menguras kesabarannya.

“Kalau kau keberatan menemaniku, biarlah aku sendiri yang pergi.”

Setelah berkata seperti itu, Alia kembali berjalan. Kata-kata itu bagi Sutan bukannya membebaskan, tetapi menyeret langkahnya mengikuti Alia.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu, bagaimana kalau…”

Sutan tidak melanjutkan kata-katanya, Alia tidak menjawab kata-kata Sutan. Dalam hati dia sudah bertekad untuk menghadapi segala apa yang terjadi. Tak lama membisu di jalanan, akhirnya mereka sampai ke alamat rumah yang diberikan Pak Gun. Dari luar rumah kelihatan sepi, ragu-ragu Alia mengetuk pintu.

“Siapa ?”

Dari dalam terdengar suara berat Pak Gun.

“Saya Pak, Alia.”

Setelah itu, terdengar langkah terburu-buru membukakan pintu, dari balik pintu Pak Gun tersenyum lebar menyambut tamunya. Saat Alia dan Sutan melangkah memasuki rumah itu, kesan sepi yang terasa ternyata benar-benar sepi, di rumah itu tidak ada siapa-siapa kecuali dua ekor kucing dan seekor burung hantu yang bertengger pada gantungan di pojok ruangan. Pak Gun mempersilahkan tamu-tamunya duduk di kursi tamu. Setelah berbasa-basi Alia mengutarakan maksud kedatangannya.

“Pak…saya mengurus nilai BL Pengantar Etika.”

Dosen itu tersenyum, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, meletakkan di bibir hitamnya, sambil menyulut dengan api.

“Nilaimu sudah tidak bisa tertolong, kalaupun akan diberi nilai, paling D atau E.”

Alia menatap wajah Pak Gun dengan pandangan memelas, Sutan yang duduk di sampingnya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mempermainkan kukunya.

“Pak saya datang ke sini minta pertolongan Bapak.”

Alia masih memelas, lalu Sutan menambahkan.

“Apa tidak bisa diselamatkan nilainya Pak ?”

Dosen itu seperti di atas angin, dia hembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Bisa saja.”

Pak Gun berdiri, kemudian memberi isyarat pada Alia untuk mengikutinya. Sementara Sutan disuruhnya untuk tetap menunggu di ruang tamu. Walau ragu, Alia mengiringi langkah Pak Gun. Dalam pikirannya mungkin Pak Gun akan memperlihatkan nilai-nilai ujiannya. Sutan pun berpikir seperti itu, makanya dia biarkan Alia ke ruang kerja Pak Gun. Prasangka buruk mulai berlintasan dalam pikiran Sutan setelah cukup lama Alia berada dalam ruang kerja Pak Gun. Semakin lama, semakin menjadi dugaan yang tidak dapat di bayangkan Sutan.

Beberapa waktu kemudian ternyata benar, Alia keluar sambil menangis tertahan. Dia berlari, meninggalkan rumah Pak Gun. Saat Gun keluar sambil merapikan pakaiannya Sutan memandang jijik pada dosennya itu. Tapi hanya sebatas pandangan, setelah itu dia menyusul Alia. Malam itu temannya telah menyerahkan sesuatu yang berharga pada dirinya untuk menebus nilai kuliahnya.

Sejak saat itu Alia telah memilih jalan terburuk dari hidupnya. Dia telan kepahitan, dia relakan untuk menjual tubuhnya, sementara Sutan sendiri yang menjadi germonya.

Saat Sutan kembali membeli nasi, tiba-tiba dibekangnya menyusul Pak Un. Pegawai TU di kampusnya. Sutan sudah tahu maksud kedatangan Pak Un, bukankah sekarang bulan baru, tentu tadi siang dia sudah gajian.

“Sutan…bisa ?”

“Dia lelah, barusan ada tamu.”

“Alah… kau kira aku tidak akan bayar lagi ? Ini kau ambil.”

Pegawai TU itu memasukan tiga lembar uang lima puluh ribu ke kantong baju Sutan, lalu tanpa dapat dicegah, dia menerobos masuk ke dalam ruangan tempat Alia sedang terbaring lelah. Sutan tidak jadi makan, dia letakkan dua bungkus nasi itu di atas meja di sudut ruangan. Dia mondar-mandir di ruangan sempit yang terasa semakin sempit itu. Hatinya semakin tidak menentu, menjalani hidup yang tidak dipilihnya itu.

Setengah jam berlalu, pegawai TU itu keluar dari kamar. Laki-laki itu menyeringai puas seperti binatang. Sutan tidak berani masuk ke dalam kamar. Dia masih menata hatinya saat itu. Cukup lama Sutan duduk di luar sambil menyesali nasib. Saat dia lihat dua bungkus nasi di atas meja, baru dia sadar bahwa Alia pasti sudah kelaparan, makanya dia buru-buru masuk ke dalam kamar membawa nasi. Sementara di dalam kamar Alia hanya mengenakan handuk selesai mandi, dia sangat lelah dan saat itu keinginannya hanya tidur. Sutan meletakkan dua bungkus nasi begitu saja di lantai. Dia tidak jadi makan, dia juga tidak merasakan bagaimana kepedihan yang diderita Alia, bahkan ketika dia menindih perempuan itu beberapa waktu kemudian, dia juga tidak tahu kalau jantung wanita itu sudah mengeras seperti batu.***

Padang, Februari 2007

Dimuat pada Koran Suara Pembaruan, Minggu, 26 Agustus 2007

Lomba Penulisan Naskah Film Kemenparekraf Sampai Babak Final

Standard

Azwar Juara Menulis Skenario

Kompetisi penulisan naskah film yang digelar Direktorat Pengembangan Industri Perfilman – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mencapai babak final. Sebanyak 16 pemenang termasuk di dalamnya 10 naskah skenario pilihan telah diumumkan.

Pengumuman tersebut baru saja dilakukan di Gedung Film, Jakarta, Kamis (25/9). Adapun keluar sebagai juara pertama adalah Azwar Sutan Malaka dengan judul skenario Anak Cindaku Ditikam Rindu. Ia mengalahkan sebanyak 74 naskah yang masuk.

Atas kemenangannya ia berhak mendapat hadiah Rp 50 juta dan piagam penghargaan. Alex Komang, salah satu dewan juri sekaligus Ketua Badan Perfilman Indonesia mengatakan, “Semoga program ini bisa memberikan sumbangsih ke dunia perfilman”.

Kompetisi itu sendiri mengambil tajuk mengangkat kearifan lokal dan diharapkan mampu mendorong kemunculan cerita mengenai budaya atau norma Tanah Air.

Dalam kesempatan tersebut hadir juga Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya Kemenparekraf RI, Aman Syah. Ia sempat mengatakan bahwa potensi industri perfilman di Indonesia masih besar mengingat dari 250 juta warga Indonesia, sejauh ini yang bisa dibilang penonton film baru ada sekitar 14 juta orang.

(Sumber http://www.traxmagz.com/article/3853-Lomba-Penulisan-Naskah-Film-Kemenparekraf-Sampai-Babak-Final)