SUARA PEREMPUAN KORBAN PERANG DALAM SASTRA

Standard

Prajurit-Perempuan

Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I.
Ilustrasi: Micha Rainer Pali

Michael Rinaldo membuka sebuah tulisannya yang berjudul “Rilke dan Chairil” (Etos Kerja, Terjemah, Silang Tema) dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik, bisakah individu melepaskan diri dari masyarakat sekitarnya? Kemudian Michael sendiri melanjutkan dengan penjelasan bahwa dalam seni pertanyaan itu muncul sebagai diskusi klasik tentang bisa atau tidaknya sebuah karya seni berdiri sendiri sebagai institusi sendiri, dimana secara isi ia menolak dan melepaskan diri dari pembahasan tema sosial politik zamannya (121 Jurnal Kalam 2005 edisi 22).

Sementara itu Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra menyatakan bahwa teori tentang seni senantiasa tidak terlepas dari doktrin-doktrin yang melibatkan hubungan antara alam semesta dengan seniman serta alam dengan hasil karya seni. Misalnya, suatu karya seni yang mengandung keindahan dan bermutu bila karya tersebut mampu mencerminkan ajaran moral, sebagaimana teori Plato (2011: 63).

Saya tidak akan menyinggung lebih jauh tulisan Michael Rinaldo dan Albertine Minderop itu, tetapi pertanyaan Rinaldo itu setidaknya  telah menyeret saya untuk menegaskan bahwa salah satu hal yang tidak bisa dilupakan dari karya sastra adalah dia merupakan cerminan dari masyarakat dimana ia dilahirkan.

Sastra adalah suara-suara dari penulisnya, baik suara yang terkatakan ataupun suara-suara yang tidak terkatakan. Sastra tidak hanya suara penulis, tetapi dia adalah suara masyarakat, suara komunitas dan suara lingkungannya. Sastra juga suara- suara dari orang yang tak bersuara dan suara dari orang yang dilarang bersuara. Dengan demikian menulis karya sastra adalah proses memberikan suara kepada orang-orang yang tak bersuara.

Sementara itu apa yang dinyatakan Minderop bahwa karya sastra adalah cerminan dari perilaku yang baik dari penulisnya menjadi pembenaran bagi saya ketika meyakini bahwa sastra adalah risalah yang ditulis oleh seorang sastrawan untuk menyebarkan kebaikan di atas dunia. Dengan logika seperti di atas, maka benar saja bila seorang penyair, cerpenis dan novelis akan menjadi panutan bagi pembacanya. Karena itu, tidak heran kalau apa yang disampaikan oleh pengarang akan menjadi ikutan bagi pembacanya. Seperti sebuah seruan yang akan diikuti oleh banyak orang.

Seruan-seruan karya sastra tidak jarang menjadi senjata bagi sebagian pejuang untuk menyuarakan perjuangan mereka. Dengan melakukan perjuangan melalui karya-karyanya, sang pengarang berharap pembaca-pembacanya akan mengikuti jejak perjuangannya, tentu dengan berbagai cara sesuai dengan diri masing-masing pembaca itu. Pelajar dan mahasiswa yang membaca karya sastra dia akan berjuang dengan caranya, si petani juga akan berjuang dengan profesinya, guru, nelayan, tentara, politisi, ulama dan lain sebagainya, dengan membaca seruan sastra mereka akan turut berjuang dengan cara mereka sendiri.

Inilah yang kemudian dilakukan Jihad Rajbi, seorang pengarang dari Palestina. Dia adalah salah seorang pejuang yang bersuara melalui karya sastra. Jihad Rajbi adalah seorang penulis perempuan Palestina yang di Indonesia kemudian dikenal berkat salah satu kumpulan cerpennya yang diterjemahkan oleh Anis Matta yang berjudul “Intifadha/Peluru Ini Untuk Siapa”. Melalui beberapa cerpen di dalamnya Jihad Rajbi menyuarakan suara-suara yang tak terkatakan dari masyarakat Palestina.

Dengan menulis karya sastra yang menceritakan tentang perjuangan rakyat Palestina membebaskan diri dari dominasi Israel, Rajbi berharap karyanya itu mampu membakar semangat pembaca-pembacanya untuk terus berjuang melawan dominasi. Lain dari itu bagi pembaca di negara lain, seperti di Indonesia misalnya, pengarang ingin mendeskripsikan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di negerinya. Melalui karya sastra Rajbi mengabarkan kepada dunia tentang kejahatan yang terjadi di negeri itu dan mereka tidak diam, tetapi mereka melawan dengan cara mereka masing-masing.

Itulah perlawanan karya sastra, dia tidak diartikan semata-mata perlawanan fisik belaka. Ini adalah bentuk lain dari perlawanan itu sendiri yang menggunakan medium berbeda. Dalam salah satu cerpen yang ditulis oleh Jihad Rajbi ia mengisahkan:

“Di Al Quds engkau dipaksa menjadi dewasa. Tahun-tahun berpacu bersamanya. Pada detik-detik penemuan yang pahit” (Jihad Rajbi, Kami Bukan Orang Asing).

Kutipan di atas menjelaskan kepada pembaca betapa anak-anak Palestina menjadi manusia yang berbeda dari anak-anak lain di belahan dunia manapun. Mereka tumbuh menjadi manusia dewasa lebih cepat dari usia mereka sebenarnya. Sebagai anak-anak mereka tidak diberi kesempatan untuk bermain karena tempat mereka bermain menjadi sasaran roket musuh mereka. Akhirnya mereka dipaksa untuk melawan walau dengan batu-batu sekalipun.

Anak-anak Palestina tidak diberi kesempatan yang aman untuk belajar sebagaimana anak-anak lain diusia mereka. Pendidikan mereka adalah menyaksikan tentara-tentara Israel membom rumah-rumah mereka. Dengan demikian mereka belajar bagaimana menyelamatkan diri dari bom-bom itu, sembari berharap menjadi dewasa agar tangan-tangan mereka cukup kuat untuk melontarkan batu melawan tembakan-tembakan tentara. Atau dalam bagian lain dia mengisahkan:

“Di Al Quds engkau dipaksa menjadi dewasa. Tahun-tahun berpacu bersamanya. Pada detik-detik penemuan yang pahit. Saat engkau menyadari betapa tololnya dirimu, mengira bahwa engkau lebih lemah dari musuhmu yang pengecut itu (Jihad Rajbi, Kami Bukan Orang Asing).

Dari kutipan di atas dapat dilihat bagaimana Rajbi ingin membangkitkan semangat pejuang Palestina bahwa sesungguhnya mereka lebih kuat dari pada penjajah-penjajah yang telah memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi. Efek dari rangkaian kata-kata itu adalah bagaimana kemudian sastra menjadi bagian dari perjuangan itu sendiri.

Selanjutnya dapat dilihat dari tulisan-tulisan Rajbi betapa  suara-suara kepedihan rakyat Palestina itu menyampaikan sebuah perlawanan. Begitulah Jihad Rajbi dia menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan itu dengan karya sastra. Dia melengkapi perjuangan rakyat Palestina yang melontarkan batu-batu terhadap tank-tank Israel di jalanan yang membara.

Perlawanan Jihad Rajbi melalui karya sastra bukanlah barang baru dalam dunia sastra. Perlawanan dengan sastra itu telah ditunjukkan oleh Pramoedya Ananta Toer melalui Tetralogi Bumi Manusia, ia melawan kebodohan dan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan Hamka, melalui berbagai karyanya, seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, dia melawan belenggu adat masyarakatnya sendiri. Di luar negeri juga bisa dilihat bagaimana perlawanan Mario Puzo terhadap penindasan pemegang kuasa.

Bila dihubungkan dengan pertanyaan apakah karya seni (di dalamnya karya sastra) merupakan cerminan masyarakatnya? Atau apakah karya sastra hanya rekaan semata? Keduanya barangkali bisa benar, bahwa karya sastra adalah karya fiktif memang begitulah adanya, tetapi jangan pula dipungkiri bahwa karya sastra adalah cerminan dari masyarakatnya.

Dengan alasan itu pulalah mengapa sebenarnya harus dilawan pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan bahwa karya sastra tidak ada perannya dalam pembangunan bangsa. Karena ia pada dasarnya membangun peradaban manusia itu sendiri. Karya sastra adalah cerminan dari beradap atau tidaknya sebuah bangsa. Semakin tinggi peradaban yang digambarkan di dalam karya sastra terhadap sebuah bangsa, maka semakin tinggi pula peradaban bangsa itu sesungguhnya. Pada sisi lain sastra adalah suara rakyatnya.

**Azwar Sutan Malaka adalah pembaca karya sastra, menyelesaikan pendidikan sarjananya dari Universitas Andalas Padang dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana dari Universitas Indonesia dengan Beasiswa Unggulan dari Kemdikbud tahun 2012. Dapat dihubungi pada alamat surat elektronik: azwar_nazir@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s