Sastra yang Mencerahkan

Standard
Sastra yang Mencerahkan

Sastra yang mencerahkan adalah karya sastra yang dihasilkan untuk kepentingan masyarakat, bukan karya yang dihasilkan untuk kepentingan pasar. Dengan demikian dalam menulis karya yang mencerahkan kadang banyak tantangan yang harus dilalui. Bahkan barangkali seseorang harus mengorbankan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Inilah yang telah dilakukan oleh Ferit Orhan Pamuk, pengarang yang lahir di Istanbul pada tanggal 7 Juni tahun 1952. Orhan Pamuk memilih menjadi penulis sebagai upaya mencerahkan manusia dengan mengorbankan kuliah yang telah di jalaninya selama 3 tahun di Istambul Technical University.

Pengorbanan Orhan Pamuk itu tidak sia-sia. Pada tahun 2006, dia memperoleh nobel dalam bidang sastra melalui novelnya My Name is Red atau yang dalam bahasa aslinya berjudul Benim Adim Kirmizi. Setelah melalui proses kreativitas yang panjang Orhan Pamuk akhirnya meraih salah satu penghargaan istimewa di dunia dalam bidang sastra. Novel yang berlatar belakang zaman Sultan Murat III di masa Dinasti Utsmaniyah ini mencampurkan misteri yang penuh tanda tanya dengan romantisme cinta yang filosofis.

Sebelum memperoleh nobel sastra, melalui karyanya itu Orhan Pamuk telah memperoleh penghargaan IMPAC Dublin Award pada tahun 2003 dari Irlandia, Prix du Meilleur Livre Etranger pada tahun 2002 dari Prancis dan Premio Grinzane Cavour pada tahun 2002 dari Italia. Sementara itu untuk karyanya yang lain Orhan Pamuk telah memperoleh penghargaan Million Press Novel Contest pada tahun 1979 atas novel Karanlik ve Isik (Darkness and Light) dan pada tahun 1979 novel ini juga mendapat penghargaan Orhan Kemal Novel Prize. Novel keduanya Sessiz Ev (The Silent House) juga memperoleh penghargaan Prix de la Decouverte Europeenne pada tahun 1991 setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Penghargaan ketiga yang diperoleh Orhan Pamuk adalah Independent Award for Foreign Fiction atas karyanya Beyaz Kale (The White Castle) pada tahun 1991. Penghargaan selanjutnya adalah German Book Trade untuk karya Europe and Islamic Turkey Fin a Place for One Another pada tahun 2005.

Penghargaan-penghargaan itu pantas diperoleh oleh Orhan Pamuk apalagi terhadap novel My Name is Red ini karena novel yang penuh misteri ini dianggap banyak orang sebagai puncak kecemerlangannya. Sungguh pun demikian kegetiran tetap saja mengiringi penghargaan yang dianugerahkan terhadap Orhan Pamuk ini. Walau bagaimanapun Orhan Pamuk tidak mendapatkan tempat yang baik di hati sebagian orang muslim, karena dia dikenal sebagai sastrawan yang pertama kali membela Salman Rushdie ketika Ayat-Ayat Setannya dinilai masyarakat muslim menghina Nabi Muhammad SAW. Orhan Pamuk adalah orang yang menentang fatwa mati bagi Salman Rushdie yang difatwakan oleh Ayatullah Khomaini, sang revormis muslim dari Negeri Iran.

Membedah lebih jauh novel Namaku Merah Kirmizi ini, dalam novel ini diceritakan tentang Merah Kirmizi yang hidup di Istambul saat simbol tonggak kejayaan Islam di daerah itu hampir musnah. Pada akhir abad ke 16 (sekitar tahun 1591) secara diam-diam Sultan menugaskan pembuatan sebuah buku untuk merayakan kejayaannya sebagai seorang Sultan. Seniman yang diberi tugas oleh Sultan itu terbunuh secara misterius. Untuk mengungkapkan kematian Sang Seniman, maka seseorang ditugaskan untuk menelusuri misteri pembunuhan itu. Tugas itu ternyata tidak sesederhana sebuah pembunuhan biasa karena pada akhirnya peristiwa itu menguak jejak benturan peradaban antara dua kebudayaan besar dunia yaitu kebudayaan Timur dan Barat (Turki dan Eropa atau bisa juga disebut sebagai perbenturan antara Islam dan Kristen).

My Name is RedKisah yang ditulis oleh Orhan Pamuk itu menjadikan My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi) sebagai sebuah cerita misteri pembunuhan yang menegangkan, kisah itu memberikan sebuah perenungan yang mendalam tentang cinta yang diramu dengan intrik seni dan politik. Cerita ini mengingatkan kita bahwa cinta politik tidak terlepas dari hal-hal purba yang dimiliki manusia, seperti cinta dan intrik-intrik untuk saling menjatuhkan. Novel ini terasa semakin renyah dibaca, karena Orhan Pamuk sang penulis juga membumbuinya dengan dongeng-dongeng klasik. Tentu saja saat kita membacanya tidak akan terasa membosankan walau sebenarnya novel ini merupakan novel yang cukup panjang, dan menghabiskan berlembar-lembar kertas, yang bila dipandangi saja akan membuat kepala berkerut.

Walau telah diungkapkan bahwa Orhan Pamuk mendapat reputasi buruk dari sebagian umat Islam terkait pembelaannya terhadap Ayat-Ayat Setan karya Salman Rusdie, sebagai sebuah karya My Name is Red bisa dilihat dengan melepaskan dari siapa yang melahirkannya, yang penting novel Namaku Merah Kirmizi ini merupakan karya yang indah untuk dinikmati oleh pembaca. Dari pada mempermasalahkan tentang Orhan Pamuk yang sering membuat resah umat Islam, lebih baik menikmati karyanya ini sebagai karya sastra. Bukankah kita sudah sangat hafal dengan filosofi: jangan melihat siapa orangnya, tapi lihatlah apa yang disampaikannya. Saya rasa hal itu juga berlaku untuk karya sastra dan Namaku Merah Kirmizi kita batasi hanya sebatas karya sastra yang penuh imaji, bukan teks pidato atau juga bukan salinan khotbah oleh ahli-ahli agama, apalagi sebuah fatwa.

Kalau kita lihat ke tanah air kita ini, sekarang realitasnya justru berbeda. Intrik politik, kepentingan ekonomi dan kepentingan peradaban, karya yang mencerahkan justru jarang muncul dalam karya sastra kita. Sastra kita kebanyakan bercerita tentang narasi diri seorang tokoh yang bermasalah dengan dirinya. Artinya pengarang hanya mengisahkan permasalahan-permasalahan individu seorang tokoh. Hal ini bole dikatakan sebagai upaya sastrawan menjadikan sastra sesuatu yang personal. Sedikit karya sastra kontemporer Indonesia yang berkisah tentang upaya menempatkan Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia. Pernyataan ini tentu tidak berlaku untuk semua sastra yang dihasilkan sastrawan Indonesia. Ingat, hanya sebagian besar saja.

Hal lain yang kita jumpai justru bagaimana intrik politik dan ekonomi justru mengiringi proses produksi karya sastra. Lihatlah bagaimana penulis-penulis (sastrawan) berkarya dengan intimidasi kepentingan ekonomi bahwa karya yang mereka tulis harus laku, bukan harus bermanfaat untuk masyarakat. Dalam hal ini kepentingan penerbit untuk menjual sebanyak-banyaknya lebih penting dari karya sastra itu sendiri. Bagi penerbit karya yang baik adalah karya yang laris di pasaran. Sementara itu saya sangat yakin bahwa karya yang laris itu belum tentu bermanfaat untuk masyarakatnya atau bahkan untuk peradaban.

Dengan mengurai karya Orhan Pamuk yang mengantarkannya meraih nobel sastra ini semoga kita bisa mengambil pelajaran yang baik. Menulislah untuk kepentingan peradaban, jangan menulis untuk kepentingan pasar. Bila yang kedua dilakukan, maka peradaban akan diuntungkan karena hal itu merupakan upaya pencerahan manusia, sementara itu jika menulis untuk kepentingan pasar, hal itu merupakan upaya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dengan demikian yang akan diuntungkan hanyalah para kapitalis yang memandang para penulis sebagai mesin uang mereka.

Dimuat di Kolom Bedah Sastra Majalah Sabili Edisi 21 Thn XIX, 19 Juli 2012

*Azwar Sutan Malaka adalah pembaca karya sastra, menyelesaikan pendidikan sarjananya dari Universitas Andalas Padang dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana dari Universitas Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s