Monthly Archives: April 2015

Tim Ahli Cagar Budaya

Standard

Rumah-Bung-Karno

Indonesia adalah salah satu negara yang mendapat kritik dari arkeolog internasional karena memiliki Undang-Undang tentang perlindungan cagar budaya, akan tetapi tidak melaksanakan amanat Undang-Undang tersebut. Kritikan itu salah satunya terkait lambannya pemerintah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya bersertifikat untuk menginventarisasi benda cagar budaya di Indonesia. Salah satu amanat Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah pemerintah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Sayangnya hal tersebut sampai saat ini masih belum dilaksanakan, Tim Ahli Cagar Budaya yang terbentuk baru di tingkat pusat yang anggotanya sebanyak 15 orang, ini jelas mengkhawatirkan.

Kebutuhan Tim Ahli Cagar Budaya ini sangat mendesak, jika masih belum ada maka kerja menginventarisasi dan melindungi benda cagar budaya akan sulit untuk dilaksanakan. Selain itu yang juga menjadi permasalahan adalah orang-orang yang akan menjadi Tim Ahli Cagar Budaya yang terbatas. Salah satu unsur tim ahli terdiri dari arkeolog, di Indonesia saat ini lulusan arkelogi masih minim, karena dari sekian banyak perguruan tinggi, hanya ada empat universitas yang memiliki program studi arkeologi, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Gajah Mada dan Universitas Hasanudin.

Oleh sebab itu harus ada upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membuka program studi Arkeologi. Saat ini Universitas Jambi dan Universitas Andalas, sudah mengajukan pembukaan program studi Arkeologi. Sayangnya Ditjen Perguruan Tinggi Kemdikbud masih belum memberikan izin untuk pembukaan program studi Arkeologi di kedua universitas tersebut.

Ke depan, Indonesia setidaknya membutuhkan 520 arkeolog untuk menjadi Tim Ahli Cagar Budaya. Jika pembukaan program studi Arkeologi di Universitas Jambi ini diresmikan pemerintah, artinya Universitas Jambi akan menjadi perguruan tinggi ke lima di Indonesia dan perguruan tinggi yang pertama di Pulau Sumatera yang memiliki program studi Arkeologi. Universitas Jambi adalah perguruan tinggi yang paling memungkinkan untuk membuka prodi Arkeologi karena Universitas Jambi sudah bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan pemerintah daerah Jambi untuk membuka program studi Arkeologi di Universitas Jambi.

Kemdikbud pun sudah memberikan sedikit kelonggaran untuk mendirikan program studi Arkeologi di Universitas Jambi, dengan mengizinkan menggunakan dosen terbang sebagai tenaga pengajar dan mempermudah calon dosen untuk diterima di perguruan tinggi tersebut, dan UI pun sudah siap menjadi universitas pembina untuk program studi Arkeologi di Universitas Jambi. Upaya mendirikan program studi Arkelogi di Universitas Jambi dan Universitas Andalas adalah upaya jangka panjang untuk menghasilkan arkeolog yang memahami benda-benda cagar budaya yang saat ini jumlahnya sangat banyak di Jambi khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Lebih jauh, upaya mendirikan program studi yang melahirkan sarjana arkeologi itu adalah usaha Pemerintah untuk memajukan kebudayaan yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945, bahwa kebudayaan dan masyarakat pendukungnya perlu dijaga sebagai pengikat bangsa Indonesia yang terdiri dari lebih 500 suku bangsa dengan ciri khas kebudayaan yang berbeda-beda.

Industri Wisata yang Menghilangkan Lokalitas

Standard

Tembok Cina

Oleh: Azwar Sutan Malaka

Sudah lama tak ke Bukittinggi, akhirnya melalui media massa dan sosial media  mendengar kabar kemajuan kampung halaman ini. Janjang Saribu yang dulu hanya tangga sederhana untuk melihat keindahan Ngarai Sianok direnovasi dan diubah namanya menjadi The Great Wall of Koto Gadang, yang bentuknya mengadopsi salah satu Tujuh Keajaiban Dunia “Tembok Besar Cina”. Agar gampang dikenali msyarakat dunia, namanya pun diganti dengan bahasa internasional itu.

Secara administratif sebenarnya Ngarai Sianok terletak di Kabupaten Agam, sehingga program pembentukan destinasi wisata baru ini dipelopori oleh pemerintah Kabupaten Agam. Bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring yang juga putra Agam ini, pemerintah Kabupaten Agam meresmikan pembukaan objek wisata baru melengkapi Janjang Saribu di sekitar Ngarai Sianok itu.

Hadirnya Janjang Saribu model baru yang menyerupai Tembok Besar Cina tentu saja memberi efek positif bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dan juga Kota Bukittinggi. Sebagai daerah tujuan wisata, kedua daerah ini perlu menghadirkan wajah baru tempat wisata mereka melengkapi berbagai tempat wisata yang sudah ada seperti Lubang Japang, Panorama, Jam Gadang, Istana Negara Triarga, Kebun Binatang Kinantan, Benteng Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh.

Baiklah.., kali ini saya tidak akan mengulas keelokan tempat wisata ini lebih jauh, akan tetapi justru mempertanyakan konsep kreatif pembangunan tempat wisata ini. Pertanyaannya adalah mengapa harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Kenapa tidak dibuat dengan arsitektur Minangkabau saja? Apakah kalau memang seperti kabar angin yang menyampaikan bahwa berubahnya Janjang Saribu menjadi The Great Wall of Koto Gadang yang mengadopsi Tembok Besar Cina, bahkan sampai pada arsitekturnya itu karena pesanan penyandang modal, lalu harus menghilangkan nilai-nilai budaya lokal?

Kenapa pembangunan objek wisata baru itu justru harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Mengapa tidak dipertahankan saja nama Janjang Saribu seperti yang sudah ada sebelumnya? Ini pertanyaan mendasar berkaitan dengan arah pembangunan wisata daerah, khususnya di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Kritik yang menyatakan bahwa membangun objek wisata dengan meniru pada objek wisata negara lain akan menghilangkan kesan lokalitas, tentu saja perlu diperhatikan. Betapa tidak, contoh nyata saja Janjang Saribu yang sudah bertahun-tahun di tempat itu kemudian tertutupi popularitasnya oleh Tembok Besar yang baru dibangun itu. Secara historis pun tidak ada alasan membuat bangunan yang menyerupai Tembok Besar Cina di Kabupaten Agam, karena sejarah tidak mempertemukan Ranah Minang dengan negeri Tiongkok itu, selain hanya karena Ranah Minang menjadi salah satu tempat perantauan bagi orang-orang Tiongkok.

Dibandingkan Lubang Japang diberi nama seperti itu atau Benteng Fort de Kock tentu saja hal ini berbeda. Lubang Japang diberi nama embel-embel Jepang itu tentu karena latar historis pembangunan terowongan yang sangat panjang di bawah Kota Bukittinggi itu tidak terlepas dari sejarah pendudukan Jepang di Bukittinggi. Selain itu Benteng Fort de Kock diberi nama seperti terkait Jenderal Belanda yang berperan besar membangun benteng di Kota Bukittinggi pada zaman penjajahan dulu.

Nah.., Tembok Besar Cina? Apa alasannya kemudian pemerintah Kabupaten Agam atau Kota Bukittinggi mengadopsi Tembok Besar Cina? Tentu saja tidak ada alasan yang jelas, kecuali kepentingan industri wisata saja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak matangnya rencana pembangunan wisata di daerah setempat dan tidak adanya itikad baik untuk membangun wisata yang berbasis lokalitas. Hal ini tentu saja harus menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar ke depan memikirkan dengan matang pembukaan objek wisata baru di daerah.

Estetika Sastra dalam Kaba Si Reno Gadih

Standard
Estetika Sastra dalam Kaba Si Reno Gadih

Minangkabau

Oleh Azwar Sutan Malaka

Minangkabau merupakan salah satu kebudayaan yang menghasilkan banyak karya sastra. Secara umum karya sastra yang dihasilkan oleh kebudayaan Minangkabau terdiri dari: puisi, prosa, dan drama. Kalau dipaparkan lebih detail lagi puisi terdiri dari mantera, pepatah-petitih, pantun, talibun, dan syair. Sementara itu prosa terdiri dari curito yang terbagi pula pada hikayaik, kaba baik kaba lama maupun kaba baru, dan tambo. Sementara itu drama merupakan drama tradisional yang terdiri dari randai dan simarantang.

Semua karya sastra itu masih hidup dan terpelihara di tengah-tengah masyarakat Minangkabau walau harus berhadapan dengan sastra atau kesenian modern. Di antara karya sastra itu adalah Kaba Si Reno Gadih, karangan Syamsudin Sutan Radjo Endah, yang diterbitkan oleh Pustakan Indah Bukittinggi. Cerita ini merupakan suatu cerita yang diangkat dari kejadian yang terjadi pada tahun 1908.

Cerita ini berawal dari keramaian di Ulakan ketika bersyafar. Ulakan waktu itu bahkan sampai saat sekarang ini merupakan tempat berkaul bagi banyak masyarakat di Sumatera. Saat itu Sutan Mareno dan keluarganya pergi ke Ulakan untuk membayar kaul. Tetapi malangnya di saat keramaian itu anak bungsunya Reno Gadih terpisah dari rombongan. Setelah lelah mencari anak kecil yang belum berumur lima tahun itu, namun tidak juga bertemu, akhirnya Sutan Mareno benar-benar kehilangan anaknya.

Sementara itu Reno diselamatkan oleh seorang kaya dari Padang yang juga datang berkaul ke Ulakan. Sejak saat itu Reno dijadikan anak angkat oleh keluarga Marah Udin dan Kasidah. Tidak lama di Padang keluarga Marah Udin yang berprofesi sebagai ahli ukur, pindah tugas ke Aceh. Reno yang sudah mereka anggab sebagai anak sendiri mereka bawa ke Aceh. Di Aceh, Reno tumbuh dewasa dan disekolahkan oleh Marah Udin. Sementara itu di Pinang Pipik, Luhak Agam, keluarga Sutan Mareno berusaha untuk mengikhlaskan kehilangan anak mereka setelah sekian tahun mencarinya.

Untuk menghilangkan kesedihan dan penyesalan atas kehilangan anak gadis itu, Sutan mareno pergi merantau ke Medan. Setelah cukup mapan dia membawa istrinya dan Adnan cucunya (anak dari Si Saba kakak Reno Gadih). Singkat cerita Sutan Mareno bisa menyekolahkan cucu satu-satunya hingga diterima bekerja sebagai pegawai dan ditugaskan di Aceh.

Sementara itu seiring perjalanan waktu Reno Gadih sudah pula berkeluarga dan mempunyai anak gadis yang beranjak remaja bernama Siti Nurani. Cukup lama Adnan di Aceh, pada suatu waktu dia berkenalan dengan Siti Nurani. Setelah perkenal berubah menjadi cinta, mereka sepakat untuk menikah. Setelah orang tua Siti Nurani menyetujui hubungan mereka, Adnan menjemput kakek dan neneknya ke Medan. Cerita berakhir dengan sangat membahagiakan sekali karena Sutan Mareno berhasil menemukan anaknya Reno Gadih dan kedua cucunya yang akhirnya menikah.

Cerita kaba itu seperti kebanyakan cerita lain di Minangkabau yang menggugah perasaan pendengar atau pembaca. Saat membaca kaba itu rasa pembaca disayat-sayat dengan kepedihan kehilangan. Sakitnya hidup terpisah dari orang tua atau sebaliknya orang tua terpisah dengan anak yang disayangi, menjadikan cerita penuh dengan sentuhan-sentuhan perasaan.

Luka dan air mata menghiasai kebanyakan cerita-cerita rakyat Minangkabau. Termasuk Kaba Si Reno Gadih ini. Tetapi ending cerita yang berakhir bahagia menjadikan cerita seperti mengikuti keinginan pembaca, yang menginginkan tokoh utama tetap memenangkan konflik permasalahan. Dengan berakhir bahagianya cerita ini mengukuhkan bahwa keindahan cerita benar-benar dengan mengolah rasa manusia. Estetika rasa, walaupun sangat subyektif sekali seperti yang di kemukanan oleh Probo Hindarto dalam situs http://www.astudio.id.or.id, dia berpendapat bahwa nilai keindahan (estetika) dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain;

Pertama subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh kita yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan perasaan dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan sebuah obyek karya. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita mengatakan sesuatu itu indah.

Kedua pengaruh dari lingkungan/masyarakat tentang apa yang disebut indah. Antara lain: pendidikan; apa yang ditanamkan dunia pendidikan seseorang tentang keindahan, mungkin merupakan suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh jadi mengakar pada diri kita, serta metode untuk mengapresiasi suatu obyek juga merupakan suatu metode yang ditekankan secara terus-menerus.

Ketiga opini yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan melalui media, estetika diperkenalkan sebagai konsensus dalam skala tertentu, apakah regional, kolonial, dan disebarluaskan dengan berbagai cara. Estetika yang merupakan ideal suatu teritorial berbasis tradisi juga dapat memberi pengaruh teramat besar.

Berkaitan dengan ketiga hal yang mempengaruhi keindahan tersebut maka dalam Kaba Si Reno Gadih, keindahan cerita itu tentulah dipengaruhi oleh diri pembaca sendiri. Karena pada umum masyarakat menyukai hal-hal yang menggugah emosi. Orang-orang akan bersimpati dengan penderitaan, kesedihan, kehilangan, kemalangan, dan kesakitan yang diderita oleh tokoh cerita.

Sementara itu berkaitan dengan pendidikan pembaca yang turut mempengaruhi nilai rasa keindahan, pemihakan terhadap orang-orang yang berduka tentu saja dominan di kalangan masyarakat Minangkabau. Norma adat Minangkabau yang mengajarkan untuk saling bersimpati turut mempengaruhi keberpihakan pembaca atas nasib tokoh dalam cerita.

Opini masyarakat yang waktu itu masih dipengaruhi oleh hal-hal yang tradisional, semakin mengukuhkan perasaan pembaca untuk menyatakan bahwa karya tersebut adalah sesuatu yang indah untuk dinikmati.

Kaba Si Reno Gadih yang disertai ratapan dan kisah duka atas kehilangan memperlihatkan dengan jelas bahwa keindahan karya sastra tidak saja atas sesuatu yang bersifar gelamor, huru-hara, dan penuh kemewahan. Keindahan karya sastra bisa juga tercipta dari eksplorasi atas kesedihan yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Ratapan dan duka yang dapat dilihat dengan jelas dalam cerita pada setiap peristiwa demi peristiwa.

Sama halnya dengan keindahan dalam lukisan, yang indah tidak hanya ketika seorang pelukis melukis seorang perempuan yang cantik menawan atau indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran, tetapi indahnya sebuah lukisan bisa terjadi ketika seorang pelukis melukis seorang petani tua yang memakai baju compang-camping. Indah dalam lukisan bisa juga terjadi ketika pelukis melukiskan kotornya sampah-sampah di jalanan.

Dalam karya sastra khususnya kaba yang ada di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, keindahanpun tidak hanya dengan mencerita hal-hal yang indah, tetapi keindahan karya juga bisa jadi atas cerita kegetiran hidup manusia, keprihatinan, kepiluan yang mendalam bahkan sesuatu kondisi yang sangat buruk dalam realita bisa jadi menjadi indah setelah menjadi sebuah karya sastra. (*)

* Penulis adalah Alumni Fakultas Sastra Unand

 

Rumi dan Syair-Syair Cinta

Standard
Rumi dan Syair-Syair Cinta

Rumi

Sumber foto: http://upload.wikimedia.org

Siapa yang tak kenal dengan Jalaluddin Rumi. Rumi, begitu orang biasa menyebut-nyebut namanya adalah penyair yang menjadi syair itu sendiri. Ia mengalir bersama syair-syair yang dia tuliskan, dia hidup di antara bait demi bait syairnya walau dia sudah meninggal sejak 5 Jumadil Akhir 672 H yang lalu. Rumi adalah sosok sukses yang kuat secara pribadi, orang yang cerdas dan dinamis, orang yang berhasil menyelami filsafat, berenang menyelami seluk lekuk di dalamnya dan ia berhasil keluar dengan selamat.

Rumi adalah pengarang sukses yang menulis karya sastra, ia hidup dengan karyanya dan ia memiliki karya sastra itu. Ini tentu saja berbeda dengan kritik Robert Escarpit, seorang kritikus sastra dari Prancis yang mengatakan bahwa sekarang ini masyarakat membuat sastra, pada zaman dahulu masyarakat memiliki sastra itu.

Pernyataan Escarpit itu akhirnya menyadarkan kita bahwa sebenarnya memang seperti itulah yang terjadi di dalam dunia sastra kita akhir-akhir ini. Gejala ini dapat dilihat bagaimana setiap minggu koran-koran di daerah dan nasional memanjakan si pembuat karya sastra (cerpen, puisi, cerbung). Media massa menyediakan ruang satu halaman penuh untuk memuat karya-karya yang ditulis oleh para pembuat karya sastra. Entah itu bercerita tentang cinta, tentang kehidupan, tentang kemanusiaan dan lain sebagainya. Bahkan para pembuat karya sastra juga bercerita tentang kemiskinan dan ketidakadilan, walau kadang mereka juga bagian dari orang-orang yang sebenarnya tidak peduli dengan kemiskinan rakyat dan ketidakadilan yang menimpa mereka.

Begitulah saat ini para pembuat karya sastra membuat karya sastra, tanpa peduli apakah mereka sendiri berhasil memiliki karya itu atau tidak. Mereka terus berkarya tanpa harus memikirkan untuk siapa karya itu, yang penting media memuatnya dan suatu saat kalau perlu penerbit menyulapnya menjadi kepingan buku dengan imbalan yang layak tentunya.

Hal lain yang lebih luas adalah siapapun bisa membuat karya sastra, pelajar, mahasiswa, seniman itu sendiri, politisi bahkan artis, mereka bisa membuat karya sastra. Pokoknya siapa yang ingin menunggangi karya sastra untuk tujuan masing-masing, bisa membuat karya sastra. Seandainya pun anda tidak bisa menulis atau malas menulis sekalipun, anda masih bisa membuat karya sastra, karena saat ini, di dunia yang serba tak jelas ini anda bisa menyewa ghostwriter untuk menjadikan anda si pembuat karya sastra. Tapi ingat, Escarpit menegaskan hanya sebatas membuat karya sastra, tidak memilikinya.

Sementara itu mari dilihat pada masa lampau, lihatlah bagaimana masyarakat hidup dengan karya sastra itu sendiri. Bagaimana tukang kaba di tanah Minang menjadikan karya sastra adalah kisah hidup dari orang-orang di sekitarnya, ia menjadikan karya sastra adalah bagian tak terpisahkan dari rakyatnya. Ia menceritakan bagaimana rakyat hidup dan bagaimana cara menghadapi hidup. Suatu hal yang penting adalah para tukang kaba itu tidak mementingkan apakah mereka tahu atau tidak tahu dengan siapa pembuat cerita-cerita itu. Hal itu tidak menjadi persoalan, karena bagi mereka yang terpenting adalah masyarakat hidup dengan karya sastra itu, tertawa bersama, bahkan menangis bersama saat mendengarkan karya-karya itu.

Pada bagian lain lihat juga bagaimana pepatah-petitih hidup di tengah-tengah masyarakat. Ia menyertai setiap gerak sosial masyarakat. Ia hadir pada berbagai kegiatan masyarakat dan harus hadir dalam berbagai upacara adat. Itulah karya sastra yang dimiliki oleh masyarakat lampau, ia hadir di tengah-tengah masyarakat yang memilikinya. Sekali lagi tanpa harus memusingkan siapa pengarangnya, siapa penciptanya siapa yang memegang hak ciptanya, itu tidak penting yang penting adalah dia hadir di tengah-tengah masyarakat. Selain kaba, pepatah-petitih, jenis sastra lama yang hidup di tengah-tengah masyarakat adalah berbagai jenis mantra, ia hidup pada bibir-bibir pawang dan dipercayai oleh masyarakatnya.

Tapi Rumi, adalah kisah lain dari penciptaan karya sastra. Rumi menciptakan syair-syairnya, ia menghidupi karyanya karena dia memakainya untuk menyatakan berbagai perasaan; cinta, kesedihan dan tentu juga ungkapan rasa gembira. Syair-syair Rumi kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala peruntukannya. Walaupun tidak sehebat sastra lama yang benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakatnya, setidaknya karya Rumi tidak sekadar dibuat, minimal dia dimiliki oleh masyarakatnya.

Lihatlah beberapa petikan syair-syair Rumi berikut ini:

…Ketika dalam dada

Nyala cinta dihidupkan

Apa pun miliknya, kecuali cinta

Lebur lenyap dihanguskan

Semua saja, otak cemerlang

Pengetahuan, buku-buku yang pernah kubaca,

Kepenyairan yang kujelang

Dan segala milik pujangga; lenyap musnah

(Ketika dalam Dadaku; Rumi)

Syair Rumi ini kemudian menjadi tarian, menjadi nyanyian karena dia membuatnya benar-benar karena dia merasakan. Ia menuliskan syair-syair cinta itu melalui pemahaman yang utuh terhadap filsafat cinta. Dia sadar cinta adalah milik Sang Penguasa, oleh karena itu ia akan hidup selama Sang Penguasa masih ada dalam hati manusia.

Lihat pula bait-bait lain dari syair Rumi ini:

Siapa pula aku, apa gerangan cinta dan benciku?

Kaulah yang pertama, dan yang terakhir jugalah kau nanti

Jadilah penghabisanku lebih bermakna dari pertamaku

Apabila kau sembunyi, akulah kafir

Apabila kau mewujud, aku si setia

Aku tak memiliki apapun selain yang telah kau berikan padaku

Apa pula yang kaucari di balik dada dan lengan bajuku

(Hanya Kau; Rumi)

Lalu pertanyaannya adalah mengapa saat ini masyarakat hanya sekadar membuat karya sastra? Sementara pada zaman dahulu masyarakat memiliki karya sastra? Atau pada garis pertemuannya mengapa Jalaluddin Rumi berhasil mencipatakan karya sastra dan kemudian masyarakat memilikinya? Jawabannya barangkali apa yang disampaikan Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku “Sosiologi Sastra” yang ditulis Robert Escarpit bahwa saat ini adanya sederet kegiatan dan lembaga yang berada antara benak orang yang menulis dan pikiran orang yang membaca tulisannya. Sastra bukan lagi sesuatu yang dipikirkan bagaimana harusnya ia, tetapi sastra menjadi benda budaya yang dihasilkan masyarakat sebagai bagian dari kegiatan indistri modern, yang tujuannya tak jauh dari kepentingan ekonomi, seberapa besar karya itu bisa menghasilkan uang bagi penciptanya. Lebih jauh seberapa besar peluang karya itu hadir dalam berbagai media, apakah media massa, buku atau film sekalipun.

Hal itu tentu saja berbeda dengan sastra pada zaman dahulu, dimana masyarakat tidak memikirkan dimana akan diterbitkan karya itu, bagi mereka tidak terpikirkan sejauh mana akan mendistribusikan karya sastra dan bahkan tidak memikirkan siapa yang akan membacanya. Seperti Rumi dia mencipta karya sastra dia miliki sastra itu dengan segenap hatinya, masyarakat turut memilikinya dan itu tanpa memikirkan apakah kita sekian generasi berikutnya akan membacanya atau bahkan pasti tidak dipikirkan Rumi bagaimana dunia industri mengambil manfaat ekonomi dari karya-karyanya.

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Dimuat di Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili Edisi 6 Th.XX 24 Januari 2013

 

Luka Kultural Lelaki Minang

Standard
Luka Kultural Lelaki Minang

Rumah Gadang

Tsuyoshi Kato dalam bukunya Nasab Ibu dan Merantau Tradisi Minangkabau yang Berterusan di Indonesia, mengungkapkan bahwa ada 3 ciri utama masyarakat Minangkabau. Menurut peneliti berkebangsaan Jepang yang melakukan penelitian di Minangkabau tahun 1972 ini, ketiga hal itu adalah: pertama taat kepada agama Islam, kedua berpegang kuat pada sistem kekeluargaan nasab ibu, dan ketiga kecendrungan untuk pergi merantau.

Sebagai salah satu bangsa terbesar yang menganut sistem kekeluargaan nasab ibu, bangsa Minangkabau juga menjadi salah satu bangsa yang menempatkan perempuan lebih istimewa dari pada laki-laki dalam adatnya. Perempuan dalam adat Minangkabau adalah pemegang hak atas tanah leluhurnya. Perempuan dalam adat Minangkabau juga merupakan pemilik dari rumah gadang yang juga akan diwariskan pada anak perempuannya. Bahkan perempuan bisa dikatakan juga memiliki laki-laki Minangkabau. Jadi kalau seperti itu, tuntutan atas persamaan gender oleh para aktivis perempuan di dunia tidak berlaku di Minangkabau, karena pada kenyataannya di Minangkabau itu sendiri pada satu sisi perempuan telah menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada laki-laki.

Di balik itu, kaum laki-laki di Minang merupakan orang-orang yang paling menderita dan paling miskin di antara laki-laki dari suku-suku lain di dunia. Laki-laki tidak memiliki apa-apa, kecuali apa yang ada di badannya. Kaum laki-laki hanya tinggal di rumah gadang keluarganya sebelum dia memasuki usia baligh. Setelah itu, dia akan tinggal di surau sambil menuntut ilmu agama dan adat. Kalau ada laki-laki Minang yang setelah bersunat rasul masih tidur di rumah ibunya, maka dia akan dipermalukan dalam pergaulan sehari-hari oleh kawan sesama besar.

Setelah langkok (lengkap – red) ilmu yang didapatkan di surau, maka si lelaki Minang dipandang sudah pantas untuk lepas dari ketiak ibunya. Dia akan pergi merantau, sebagai mana lelaki-lelaki Minang sebelumnya. Merantau bagi lelaki Minang pada suatu masa adalah suatu keharusan. Seperti jalan lurus terbentang yang bercabang, satu jalan menuju rantau, satu ke jalan lain yang ujungnya di rantau juga. Rantau adalah ladang semaian tempat lelaki Minang menemukan dirinya. Berbagai usaha bisa dijalani: tinggal di masjid sebagai garim, guru mengaji, tukang cuci piring di kedai nasi, berjualan di lapak-lapak kaki lima, jadi pegawai negeri, jadi pejabat, jadi teman pejabat, bahkan jadi orang jahat sekalipun akan dilakoni.
Setelah menemukan hidup yang cukup mapan di rantau yang dijajaki, laki-laki Minang tidak boleh sembarang menikahi perempuan, apalagi perempuan di negeri orang. Dia dituntut untuk menikahi perempuan-perempuan di kampungnya yang telah di siapkan oleh mamak nya. Ah… betapa luka yang mendalam bagi laki-laki Minang, bahkan untuk istripun dia tidak leluasa menentukan. Sebelum menikah dia harus berpikir dulu, kalau ada saudara perempuannya, maka dia harus berbesar hati menunggu saudaranya sampai menikah. Kalau menikah sebelum saudara perempuannya menikah, padahal saudaranya itu sudah pantas untuk menikah, maka dia akan dianggap sebagai laki-laki egois karena hanya mementingkan dirinya.

Setelah menikah, laki-laki Minang akan ke rantau tempat mata pencarian hidupnya. Kalau sudah mampu, boleh membawa istrinya. Di rantau jangan harap akan mendapatkan bantuan dana dan segala macamnya untuk usaha dari kampung. Karena harta pusaka tidak ada ketentuan untuk dijual sebagai modal usaha bagi anak laki-laki. Harta pusaka itu hanya untuk hal-hal penting dan kebanyakan juga untuk perempuan. Rumah gadang katirisan, mayik tabujuak di tangah rumah, gadih gadang alun balaki, dan untuak pambangkik batang (gelar adat) tarandam. Tidak ada cerita kalau minta modal dengan cara menggadaikan harta pusaka.

Seandainya nasib baik di kota, bisa membuatkan rumah untuk anak dan membantu membiayai sekolah kemenakannya. Yang akan menjadi milik laki-laki Minang yang sukses di rantau itu adalah sebatas nama. Di kampung namanya akan diagungkan karena telah berhasil, bermamfaat untuk anak dan kemenakan. Sementara nanti, setelah dia tua, setelah tulang tujuah karek tidak mampu lagi dipakai untuk berusaha, nasib laki-laki Minang akan semakin menjadi dilema.

Pulang ke rumah gadang asal, rasanya tidak akan mungkin lagi karena si laki-laki Minang ini akan segan tinggal serumah dengan sumando (suami adik atau kakaknya). Sumando walau hanya akan pulang di malam hari setelah seharian bekerja pun tetap dia akan malu bila berhadapan dengan lelaki tuan rumahnya. Sedangkan bagi si lelaki Minang, hidup menumpang terasa sebagai beban bagi saudara atau kemenakan, ini pantang tanpaknya.

Pilihan lain, kalau tidak pulang ke rumah asal, dia akan tetap tinggal di rumah anaknya. Bisa saja, tapi mungkin selama istrinya masih ada. Malang bagi laki-laki tua seandainya istrinya lebih dulu meninggal dunia. Dia akan malu tinggal di rumah anaknya karena secara adat rumah itu bukan untuknya di masa tua, tapi rumah itu dibuatkan untuk sang anak perempuannya.

Jalan lain adalah menikah dengan wanita yang lebih muda, kawin batambauah kata orang. Pilihan ini dengan harapan istri muda bisa merawat hingga tutup usia. Untung kalau duda Minang ini cukup berhasil semasa muda, tapi kalau tidak cukup dana untuk menikah lagi? Ah… tentu tidak bisa. Lain dari itu, kalaupun bisa, kata-kata orang lain pasti akan menyakitkannya. ”Lah batambuah pulo gaek agogo”.
Pilihan lain adalah kembali ke surau sebagaimana dia muda dulu. Tapi… surau-surau di ranah ini tidak berfungsi lagi sebagaimana dulu. Surau-surau sudah dikunci karena tidak aman lagi dari maling-maling yang tega menggerayangi surau. Surau-surau kini sudah menjadi tempat yang mewah karena surau telah dilengkapi pendingin ruangan, hiasan yang bagus, dan segala macamnya.

Pilihan yang lebih aman adalah membuat pondok kecil di ujung sawah milik kaumnya atau di sudut rumah gadang. Di pondok itu lelaki Minang yang sudah renta akan bermenung-menung menghabiskan usia. Kalau tiba hati sedih tangisilah nasib yang sepi itu.

Luka laki-laki Minang sebagaimana yang dituliskan di atas adalah luka lama yang jarang dijumpai pada zaman ini. Kehidupan semacam itu sudah terkikis seiring pertukaran zaman. Kalau diamati saat ini, hampir tidak ada lagi laki-laki Minang yang menuntut ilmu di surau, karena mereka lebih memilih jalur pendidikan modern. Mempersiapkan diri dengan bekal adat dan agama, kalaupun perlu, cukup seadanya.

Laki-laki Minang sudah mendapat tempat di rumahnya. Laki-laki Minang sudah punya kamar tersendiri sebagaimana anak perempuan di rumah gadang. Merantau tidak lagi keharusan karena pepatah hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri kita sudah berubah menjadi hujan batu dimana-mana dan hujan emas pun dimana-mana. Artinya untuk hidup hampir sama saja di rantau dengan di negeri kita.

Menikah, sekarang sudah boleh sekehendak hatinya. Dengan orang awak jadi, dengan orang seberangpun jadi. Rumah, kini laki-laki sudah boleh bicara bahwa rumah itu miliknya. Dan seandainya dia sudah tua nanti, jangan berfikir akan membuat pondok untuk menghabiskan hidup. Karena bila hidup semasa muda baik, laki-laki Minang yang tua ini pasti akan mendapat tempat di rumah anaknya.

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang, Padang, Juli 2007

 

Bahasa dan Sumpah Pemuda

Standard
Bahasa dan Sumpah Pemuda

Bahasa2

“…kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Sepotong kalimat pembuka tulisan ini adalah salah satu dari tiga point rumusan Sumpah Pemuda yang dirumuskan dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pernyataan itu bukan tidak memiliki konsekuensi bagi seluruh rakyat Indonesia. Akibat yang nyata dari sumpah yang menyatakan bahwa putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia adalah bagaimana putra-putri Indonesia harus rela berbahasa Indonesia di saat bahasa Belanda menjadi bahasa yang menunjukkan tingginya derajat pemakainya. Namun karena kesadaran bahwa bahasa Indonesia harus dijunjung tinggi maka saat itu bahasa Indonesia dipakai pada semua aspek kehidupan, urusan surat menyurat, pada surat kabar, karya sastra bahkan sebagai bahasa pergaulan.

Dalam tataran ideal, sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia semestinya tidak hanya menjadi simbol belaka. Sejatinya bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar pada lembaga pendidikan. Semestinya bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dalam pemerintahan. Hal itu tidak hanya menjadi peraturan atau berada pada tataran normatif belaka. Dengan demikian kalau hal-hal ideal ini terlaksana maka bahasa Indonesia akan menjadi kebanggaan semua masyarakat Indonesia.

Dalam realitasnya apa yang terjadi? Bahasa Indonesia justru terpinggirkan pada lembaga pendidikan. Dia tidak lagi menjadi bahasa utama karena pendidikan Indonesia saat ini merasa semakin baik ketika berbahasa asing –apakah bahasa Mandarin, bahasa Ingris atau bahasa Arab- kalau ada yang beralibi bahwa memakai bahasa asing di lembaga pendidikan agar anak Indonesia menguasai banyak bahasa, saya rasa masih ada jalan lain untuk belajar bahasa asing tanpa melupakan bahasa Indonesia. Di dalam lembaga pemerintahan pun sedemikian. Lihatlah betapa keahlian berbahasa Ingris menjadi lebih penting dari pada keahlian berbahasa Indonesia yang baik dan benar bagi pegawai negeri.

Itulah kondisi yang terjadi setelah lebih dari 67 tahun Indonesia merdeka, setelah bangsa Indonesia berdaulat seutuhnya. Bahasa Indonesia semakin terpinggirkan oleh bangsanya sendiri. Dimana-mana toko-toko besar memakai nama bahasa asing seperti Cilandak Town Square, Minang Plaza, Pamulang Square, dan Mall of Indonesia. Lihat pula penggunaan bahasa asing dalam pidato-pidato resmi presiden. Di sana-sini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selalu menyelipkan bahasa asing, bukankah ini sebuah bentuk mecemari bahasa Indonesia? Hal yang lebih menyedihkan walau beliau bicara dihadapan rakyat Indonesia yang mengerti bahasa Indonesia, tetap saja presiden menyelipkan bahasa asing entah dengan maksud apa. Begitu pun dalam percakapan dengan bawahannya seperti menteri dan gubernur bahasa Ingris selalu menjadi pilihan mereka. Karena pemimpinnya seperti tidak lagi bangga berbahasa Indonsia, wajar dalam pergaulan anak muda bahasa asing pun menjadi pilihan mereka.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa mewabahnya penggunaan bahasa asing di tengah-tengah rakyat Indonesia merupakan bentuk pengkerdilan bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini menunjukkan tidak adanya itikad baik untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dampak negatifnya adalah bahasa Indonesia akan semakin tidak mendapatkan tempat di tengah-tengah rakyatnya. Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi tuan di negerinya sendiri. Ia seolah-olah sesuatu yang asing bagi masyarakatnya sendiri.

Dari sudut pandang apa pun, penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebenarnya akan menguntungkan masyarakat Indonesia. Secara politik, penggunaan bahasa Indonesia akan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki harga diri di mata dunia. Secara ekonomi penggunaan bahasa Indonesia akan membuat orang-orang asing harus menguasai bahasa Indonesia untuk datang ke Indonesia sehingga rakyat tidak susah berkomunikasi dengan banyaknya bahasa asing yang datang ke Indonesia. Secara budaya penggunaan bahasa Indonesia akan menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dengan bahasa yang mereka punya.

Sebagai bangsa yang telah mengaku bertumpah darah satu, tanah anah air Indonesia, sebagai bangsa yang mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia dan sebagai bangsa yang telah mengaku akan menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, maka rakyat Indonesia siapapun dia baik pemmpin atau yang dipimpin harus berkomitmen membesarkan bahasa Indonesia.

Dalam pandangan mistis, sumpah adalah sesuatu yang tidak bisa dipermainkan. Ada konsekuensi tersendiri dari sumpah tersebut bila dilanggar. Masyarakat Minangkabau mengibaratkan kehidupan orang yang melanggar sumpah seperti sebuah pohon yang mati meranggas. Ke atas tidak memiliki pucuk, di bawah tidak memiliki akar, di tengah-tengah, batangnya berlubang karena dimakan kumbang.

Jangan-jangan semakin carut marutnya negara ini salah satu penyebabnya adalah karena melanggar sumpah. Maksudnya karena bangsa Indonesia melanggar sumpah dengan tidak lagi menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, maka banyak permasalahan bangsa yang muncul dalam kehidupan bernegara ini. Indonesia ibarat sebatang pohon yang hidup segan, mati pun tak mau.

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 2)

Standard
Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 2)

Azwar SM

Fungisonalisme Media dan Kasus Daina

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Dennis Mc Quail dalam buku Mass Communication Theory (2005) menjelaskan bahwa media berperan dalam pengembangan masyarakat, karena media adalah bagian dari sistem yang ada di masyarakat itu sendiri. Dennis Mc Quail mengacu pada pendapat Lerner (1958) juga berpendapat bahwa media sangat berperan dalam proses transformasi kebudayaan dari tradisionalitas menuju modernitas. Seperti kutipan berikut ini:

“…media dapat membantu mendobrak tradisionalisme yang menghambat modernisasi dengan mempertinggi harapan dan aspirasi, memperluas wawasan, memungkinkan orang-orang untuk membayangkan dan menginginkan alternatif lebih baik bagi diri sendiri dan bagi keluarga mereka.” (Mc Quail, 1987: 96)

Bila dihubungkan dengan kasus Daina di Minangkabau, maka dapat dilihat bahwa Soeara Koto Gedang memberi interprestasi dan komentar terhadap apa yang terjadi di dalam masyarakat. Surat kabar Soeara Koto Gedang memberikan dukungan terhadap norma yang mapan dianggap lebih baik. Soeara Koto Gedang juga digunakan sebagai alat sosialisasi dan koordinator aktivitas yang terpisah antara masyarakat Koto Gadang sendiri, maupun para intelektual yang berada di perantauan, hingga tokoh sekelas Bung Hatta pun ikut menyumbangkan pikiran terhadap kasus tersebut.

Soeara Koto Gedang berperan membangun konsensus dalam kasus Daina ini. Karena peran surat kabar Soeara Koto Gedang, terjadi kesepakatan antara dua pihak pro dan kontra terhadap adat yang menghukum para perempuan yang menikah bukan dengan lelaki dari daerahnya. Konsensus itu disepakatai kedua belah pihak pada tahun 1952 yang menyatakan bahwa perempuan boleh menikah dengan lelaki manapun dengan persyaratan yang dianggap bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Dalam kasus ini juga dapat dilihat bahwa Soeara Koto Gedang sebagai surat kabar yang berpengaruh kala itu berperan menyusun pesan yang diprioritaskan. Saat itu mereka menganggap bahwa gerakan perempuan Koto Gadang yang menuntut hak mereka setara dengan lelaki yang boleh menikah dengan perempuan manapun adalah agenda penting yang harus diprioritaskan. Oleh sebab itu surat kabar Soeara Koto Gedang memprioritaskan berita tentang gerakan mereka itu dan perkembangannya.

Sebagai media untuk mendidik masyarakat, Soeara Koto Gedang telah melakukan pendidikan tentang kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan dalam waktu yang panjang. Kalau lelaki boleh menikah dengan perempuan dari negeri manapun, mereka juga menganggap bahwa perempuan memiliki hak yang sama. Dalam kasus ini yang terpenting adalah bagaimana tanggapan para perempuan Koto Gadang, bahwa bila lelaki Koto Gadang boleh menikah dengan perempuan dari luar daerah tentu saja perempuan-perempuan yang jumlahnya banyak di Koto Gadang tidak akan mendapatkan pasangan. Dengan demikian maka semakin terbuka peluang bahwa perempuan dijadikan istri kedua, istri ketiga, istri keempat atau bahkan dalam jumlah yang lebih banyak.

Di dalam Buku Koto Gadang Masa Kolonial (Azizah dkk: 2007) dikutip data jumlah lelaki Minangkabau yang poligami masa itu.

“Menurut Anna Syarif dalam (surat kabar) Bintang Hindia bahwa kaum laki-laki Minangkabau memang paling tinggi prosentasenya yang berpoligami di seluruh Hindia Belanda. Angka tahun 1920 adalah 7,8 %, sama tingginya dengan Lampung. Berbini 3 dan 4 disana pula yang terbanyak, „Hal itu tak mengherankan karena adat semenda yang diadatkan disana, sedang di Lampung tidak pula berbeda jauh dengan di Minangkabau.” (Azizah dkk, 2007:39)

Kondisi yang tidak adil terhadap perempuan Koto Gadang itu mendorong Soeara Koto Gadang melakukan pendidikan gender untuk membuka mata masyarakat bahwa kondisi itu bukanlah hal yang baik untuk masa depan perempuan Koto Gadang. Surat kabar Soeara Koto Gedang berhasil mempengaruhi masyarakat tentang apa yang mereka suarakan. Masyarakat yang semula tidak berpihak pada Daina, dan bahkan terkesan menerima begitu saja hukuman adat itu, akhirnya bersimpati pada Daina dan menganggap Daina sebagai pahlawan bagi perempuan-perempuan Koto Gadang khususnya, perempuan seluruh dunia pada umumnya.

Melihat kondisi bangsa kita akhir-akhir ini sudah sepantasnya kita mengambil ibroh (contoh) pada kasus Daina dan Soeara Koto Gedang, dari kasus ini dapat dilihat bahwa media memiliki kekuatan yang luar biasa mengubah kehidupan manusia. Banyak masyarakat berharap agar media bisa menjadi pemicu untuk memberikan perubahan-perubahan yang berarti di tengah masyarakat. Tidak hanya pada kasus Prita dan Bibit-Chandra, tetapi semestinya media berperan dalam kasus-kasus besar yang tengah melilit Indonesia. Semoga saja harapan ini tidak sekedar mimpi belaka.