Bangun Bangsa Lewat Film

Standard
Bangun Bangsa Lewat Film

Azwar SM ACDR

[JAKARTA] Lewat sebuah film, Indonesia bisa membangun bangsa. Hal itu bisa dilakukan karena kontribusinya cukup besar karena masyarakat luas menonton cerita yang disajikan dan menjadi sebuah contoh.  Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Alex Komang mengatakan film memiliki peranan penting dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. Oleh karena itu, film yang baik, tentunya memiliki cerita yang baik juga untuk disajikan. “Tentunya di dalam film, ada skenario yang telah diatur oleh penulis naskah. Skenario inilah yang menjadi nyawa film. Untuk itu, lomba penulisan skenario 2014 ini, menghimpun gagasan dan ide cerita terbaik untuk kebaikan bersama,” katanya saat pengumuman pemenang, penyerahan piala dan pembagian hadiah Kompetisi Penulisan Skenario yang Mengangkat Kearifan Lokal di Gedung Film, Jakarta, Kamis (25/9).

KOMPETISI PENULISAN SKENARIO FILM 2

Ia berharap, dengan diadakannya kompetisi penulisan skenario film akan merangsang minat menulis khusus membuat karya cipta cerita film di kalangan masyarakat. Ini untuk persiapan dan perkembangan dunia perfilman Tanah Air agar semakin maju. Naskah film adalah blueprint dan pegangan awal yang sangat penting. Posisi penulis skenario pun menjadi pusat setelah sosok sutradara. Jadi, skenario dalam sebuah film sangatlah penting. Seorang aktor dan aktis cukup tergantung karena harus melihat isi skenario, termasuk juga pengarah gaya. Film pun bisa mengarahkan arah tujuan lewat naskah yang ada. Nantinya lewat program seperti ini banyak pihak produser mencari skenario-skenario terbaik untuk dijadikan filmnya. Alex yang juga menjadi ketua dewan juri berharap tahun kedepan kompetisi ini semakin menunjukkan kualitas yang terbaik dan menjadi bank skenario. ”Film-film kita sangat beragam. Lewat kompetisi ini, kita bisa memberi sumbangsih sekaligus mewarnai perfilman nasional secara umum. 16 finalis sudah pantas diberi ucapan selamat,” kata aktor senior ini. Skenario yang terpilih berdasarkan keunikan ide cerita, teknis penulisan, referensi, potensi visual serta feasibility produksi. Tujuan penyelenggaraan kompetisi ini menghimpun gagasan atau ide sehingga diperoleh beberapa cerita yang baik dari yang terbaik juga diharapkan dapat menawarkan variasi tema film yang digarap. KOMPETISI PENULISAN SKENARIO FILM 3(1)

Kompetisi penulisan skenario film ini diikuti 74 peserta dan diseleksi secara bertahap menjadi 40, 20 hingga 16 orang yang ditangani dewan juri yakni Alex Komang, Titien Watimena dan Edwin Nazie. ”Dari tahap penjurian ini keluarlah 10 skenario yang berhasil dipilih oleh team juri.  Yaitu juara satu sampai dengan tiga, harapan satu hingga tiga serta 10 naskah pilihan. Penjurian ini dilakukan tanpa nama dalam skenario, hanya judulnya saja, hal ini diharapkan agar penjurian bisa fair,” ucap Alex. Berdasarkan rapat pleno ditetapkan juaranya, yaitu “Anak Cindaku Ditikam Rindu”, karya Azwar Sutan Malaka ini terpilih sebagai pemenang pertama. “Shinden Demam Panggung”, karya Muhammad Abiyoso (juara kedua). Lalu “Senandung Saat Hujan”, Karya Reki Jayusman (juara ketiga). Selain itu Rapat Pleno juga telah memilih 3 Juara lain, yaitu Harapan 1, 2 dan 3 dengan judul “Dian Yang Kian Benderang”, karya Iqbal Alfajri. Lalu ada “Dadak Merak”, karya Ambhita Dyaningrum (harapan 2) dan “Sayap dalam Air”, karya Randi Ashari (harapan 3).

Kontribusi Film

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Ahmad Sya, menambahkan dari kompetisi ini diharapkan munculnya cerita yang berkualitas dengan warna dan nuansa budaya Indonesia yang berbasis ekonomi kreatif. ”Ini upaya kontribusi yang baik untuk perkembangan film Tanah Air, sehingga harus kita tingkatkan dan dorong terus. Dengan demikian kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri, khususnya untuk film,” ujarnya. Diakui, saat ini masih ada persoalan terkait jumlah secara kuantitas yang baru mencapai 98 judul yang lulus sensor.

Hal ini tidak berimbang dengan tuntutan penonton yang belum memadai yang mencapai 14 juta lebih. Sementara secara kualitas, belum terjadi korelasi yang positif, relevansi film dengan segala konten. Ahmad berharap, kedepan kompetisi penluisan skenario mampu menggali sumber inspirasi yang tak akan pernah habis, bila perlu pemetaannya berdasarkan riset. Tema kearifan lokal sudah tepat karena bukan berarti ketertingaalan tetapi mengangkat yang selama ini ditinggalkan. [H-15/L-8]

Sumber: http://sp.beritasatu.com/hiburan/bangun-bangsa-lewat-film/65660

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s