Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 1)

Standard
Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 1)

Menulis1

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Media memiliki peranan penting di dalam masyarakat. Hal itu tidak hanya pada zaman modern sekarang ini seperti yang kita ikuti dalam kasus Prita, dimana media massa berhasil melakukan perubahan terhadap peraturan yang sah. Ketika pengadilan menghukum Prita, karena dianggap mencemarkan nama baik sebuah Rumah Sakit, media berperan menggugurkan anggapan itu dengan membela Prita. Kasus lain seperti Bibit-Chandra ketua KPK yang tidak jadi dihukum karena media massa bersama rakyat tidak menginginkannya.

Di Minangkabau, jauh hari sebelum kasus Prita atau Bibit-Chandra, kasus Daina sempat menghangat pada tahun 1920, karena sebuah surat kabar ketika itu Soeara Koto Gedang menjadikannya berita tetap selama bertahun-tahun kemudian dan dengan surat kabar itu, para perempuan Koto Gadang berhasil membuat perubahan.

Kasus Daina di Minangkabau (1920)

Di dalam buku Koto Gadang Masa Kolonial karangan Azizah dkk (2007) dituliskan sebuah peristiwa pada tahun 1920, di Minangkabau. Saat itu Minangkabau secara khusus, Hindia Belanda pada umumnya dikejutkan oleh kasus Daina, seorang perempuan Koto Gadang yang bekerja sebagai post asisstent di kantor pos Medan. Daina kala itu menjadi buah bibir masyarakat baik di Minangkabau ataupun di daerah lain seperti Medan dan Batavia. Nama Daina muncul pertama kali di surat kabar Soeara Koto Gedang, sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh masyarakat terpelajar Koto Gadang (sekarang menjadi salah satu nagari di Kabupaten Agam, Sumatera Barat), yang kala itu memuat surat terbuka kepada pejabat Belanda Van Ronkel di Bukittinggi.

Surat terbuka redaksi surat kabar Soeara Koto Gedang itu bersimpati kepada Daina, karena perempuan itu dihukum secara adat dengan hukuman buang tikarang, atau dibuang sepanjang hidup dari kampung halamannya, artinya Daina tidak boleh lagi menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sendiri, tidak boleh menemui keluarganya sendiri di kampung itu. Bagi pihak keluarga yang menerima kehadiran Daina, akan dijatuhi hukuman yang sama.

Hal ikhwal mengapa Daina dijatuhkan hukuman seberat itu adalah karena Daina menikah dengan seorang lelaki Jawa bernama Pomo, teman sekantornya di kantor pos Medan. Zaman itu, peraturan adat Nagari Koto Gadang melarang perempuan Koto Gadang menikah dengan lelaki yang bukan berasal dari daerah Ampek Koto (Sianok, Koto Gadang, Guguak, dan Tabek Sarojo, daerah ini sekarang menjadi bagian dari Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam).

Surat terbuka redaksi Soeara Koto Gedang itu menyulut polemik dengan munculnya tulisan-tulisan dari intelektual Minangkabau baik yang pro dengan redaksi Soeara Koto Gedang yang membela Daina ataupun yang kontra (yang membela hukum adat buang tikarang). Di antara suara yang mendukung surat kabar itu adalah datang dari B Salim seorang perantau Minangkabau yang bermukim di Karawang dalam sebuah tulisannya dalam surat kabar Soeara Koto Gedang edisi Agustus 1920 yang berjudul: “Perkawinan Postassistente Daina Dengan Seorang Jawa Teman Sekerja Di Medan”.

Sementara suara-suara yang mendukung untuk melestarikan adat daerahnya berasal dari Amir Sutan Makhudum, yang bersama beberapa orang masyarakat Koto Gadang membawa kasus Daina ke musyawarah para penghulu (pimpinan) Koto Gadang, yang akhirnya bersikukuh dengan hukuman terhadap Daina itu.

Polemik pemberian hukuman terhadap Daina itu tidak berhenti pada tahun 1920 itu. Surat Kabar Soeara Koto Gedang, selalu memberitakan kejadian-kejadian yang berhubungan erat dengan kasus Daina. Beberapa peristiwa penting yang diilhami oleh kasus Daina ini adalah Petisi Hadisah (1924), petisi tujuh orang perempuan Koto Gadang (Hadisah, Rawidah, Sjahroem I, Syahroem II, Roebak, Fatimah, Zabidah dan Roebiah) yang meminta hak perempuan untuk bisa menikah dengan siapa saja lelaki yang diinginkannya, dari daerah mana saja.

Pada tahun 1926 pernikahan Mariatul, adik Haji Agus Salim yang tidak direstui oleh ayahnya sendiri karena juga menikah bukan dengan orang Minangkabau. Haji Agus Salim yang terinspirasi oleh keberanian Daina itu mengambil alih peran sebagai wali untuk menikahkan adiknya. Karena itu ayahnya Sutan Muhammad Salim melaporkan Agus Salim kepada jaksa di Bukittinggi. Setelah ditelusuri laporan ayah kandung Agus Salim itu, akhirnya dipilih jalan damai untuk kasus itu.

Selain itu pada tahun 1934, R. Sutan Sinaro dan istrinya menikahkan anak mereka Nurhawaniah dengan seorang lelaki dari negeri Melayu bernama Ahmad dari Pahang, Malaysia. Pernikahan itu dilakukan di Bukittinggi di tengah gugatan dari masyarakat yang juga menggunakan peraturan yang sama digunakan untuk menghukum Daina, tetapi pernikahan itu sendiri di restui oleh keluarga Nurhawaniah, yang kemudian dengan berani membelanya.

Perjuangan perempuan Koto Gadang yang didukung surat kabar Soeara Koto Gedang itu melalui tahun-tahun penting yang cukup lama. Pada tahun 1936 dikeluarkan keputusan adat yang membolehkan perempuan Koto Gadang menikah dengan lelaki selain dari Ampek Koto (Sianok, Koto Gadang, Guguak, dan Tabek Sarojo), tetapi harus lelaki bersuku Minangkabau.

Puncak perjuangan menuntut kesetaraan itu terjadi pada tahun 1952 ketika keputusan adat memutuskan bahwa lelaki dari daerah selain Minangkabau pun boleh menikahi perempuan Koto Gadang, dengan syarat yang ditentukan yaitu lelaki itu harus diakui sebagai anggota satu suku di Minangkabau dengan proses “tabang basitumpu hinggok mancangkam”, yaitu suatu proses pemberian suku untuk orang yang bukan bersuku Minangkabau. Semacam pengakuan sebagai orang Minangkabau. Hal inilah yang berlaku sampai sekarang. Surat Kabar Soeara Koto Gedang, akhirnya menempatkan Daina sebagai pahlawan dalam perjuangan kesetaraan ini.

Mengikuti polemik Daina seperti yang diuraikan di atas akan menjadi menarik untuk dicermati. Kasus yang menghangat pada tahun 1920 itu adalah sebuah bentuk bagaimana peran media dalam meruntuhkan tradisi lama yang dianggap tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s