Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 2)

Standard
Bagaimana Media Mengubah Masyarakat (Bagian 2)

Azwar SM

Fungisonalisme Media dan Kasus Daina

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Dennis Mc Quail dalam buku Mass Communication Theory (2005) menjelaskan bahwa media berperan dalam pengembangan masyarakat, karena media adalah bagian dari sistem yang ada di masyarakat itu sendiri. Dennis Mc Quail mengacu pada pendapat Lerner (1958) juga berpendapat bahwa media sangat berperan dalam proses transformasi kebudayaan dari tradisionalitas menuju modernitas. Seperti kutipan berikut ini:

“…media dapat membantu mendobrak tradisionalisme yang menghambat modernisasi dengan mempertinggi harapan dan aspirasi, memperluas wawasan, memungkinkan orang-orang untuk membayangkan dan menginginkan alternatif lebih baik bagi diri sendiri dan bagi keluarga mereka.” (Mc Quail, 1987: 96)

Bila dihubungkan dengan kasus Daina di Minangkabau, maka dapat dilihat bahwa Soeara Koto Gedang memberi interprestasi dan komentar terhadap apa yang terjadi di dalam masyarakat. Surat kabar Soeara Koto Gedang memberikan dukungan terhadap norma yang mapan dianggap lebih baik. Soeara Koto Gedang juga digunakan sebagai alat sosialisasi dan koordinator aktivitas yang terpisah antara masyarakat Koto Gadang sendiri, maupun para intelektual yang berada di perantauan, hingga tokoh sekelas Bung Hatta pun ikut menyumbangkan pikiran terhadap kasus tersebut.

Soeara Koto Gedang berperan membangun konsensus dalam kasus Daina ini. Karena peran surat kabar Soeara Koto Gedang, terjadi kesepakatan antara dua pihak pro dan kontra terhadap adat yang menghukum para perempuan yang menikah bukan dengan lelaki dari daerahnya. Konsensus itu disepakatai kedua belah pihak pada tahun 1952 yang menyatakan bahwa perempuan boleh menikah dengan lelaki manapun dengan persyaratan yang dianggap bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Dalam kasus ini juga dapat dilihat bahwa Soeara Koto Gedang sebagai surat kabar yang berpengaruh kala itu berperan menyusun pesan yang diprioritaskan. Saat itu mereka menganggap bahwa gerakan perempuan Koto Gadang yang menuntut hak mereka setara dengan lelaki yang boleh menikah dengan perempuan manapun adalah agenda penting yang harus diprioritaskan. Oleh sebab itu surat kabar Soeara Koto Gedang memprioritaskan berita tentang gerakan mereka itu dan perkembangannya.

Sebagai media untuk mendidik masyarakat, Soeara Koto Gedang telah melakukan pendidikan tentang kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan dalam waktu yang panjang. Kalau lelaki boleh menikah dengan perempuan dari negeri manapun, mereka juga menganggap bahwa perempuan memiliki hak yang sama. Dalam kasus ini yang terpenting adalah bagaimana tanggapan para perempuan Koto Gadang, bahwa bila lelaki Koto Gadang boleh menikah dengan perempuan dari luar daerah tentu saja perempuan-perempuan yang jumlahnya banyak di Koto Gadang tidak akan mendapatkan pasangan. Dengan demikian maka semakin terbuka peluang bahwa perempuan dijadikan istri kedua, istri ketiga, istri keempat atau bahkan dalam jumlah yang lebih banyak.

Di dalam Buku Koto Gadang Masa Kolonial (Azizah dkk: 2007) dikutip data jumlah lelaki Minangkabau yang poligami masa itu.

“Menurut Anna Syarif dalam (surat kabar) Bintang Hindia bahwa kaum laki-laki Minangkabau memang paling tinggi prosentasenya yang berpoligami di seluruh Hindia Belanda. Angka tahun 1920 adalah 7,8 %, sama tingginya dengan Lampung. Berbini 3 dan 4 disana pula yang terbanyak, „Hal itu tak mengherankan karena adat semenda yang diadatkan disana, sedang di Lampung tidak pula berbeda jauh dengan di Minangkabau.” (Azizah dkk, 2007:39)

Kondisi yang tidak adil terhadap perempuan Koto Gadang itu mendorong Soeara Koto Gadang melakukan pendidikan gender untuk membuka mata masyarakat bahwa kondisi itu bukanlah hal yang baik untuk masa depan perempuan Koto Gadang. Surat kabar Soeara Koto Gedang berhasil mempengaruhi masyarakat tentang apa yang mereka suarakan. Masyarakat yang semula tidak berpihak pada Daina, dan bahkan terkesan menerima begitu saja hukuman adat itu, akhirnya bersimpati pada Daina dan menganggap Daina sebagai pahlawan bagi perempuan-perempuan Koto Gadang khususnya, perempuan seluruh dunia pada umumnya.

Melihat kondisi bangsa kita akhir-akhir ini sudah sepantasnya kita mengambil ibroh (contoh) pada kasus Daina dan Soeara Koto Gedang, dari kasus ini dapat dilihat bahwa media memiliki kekuatan yang luar biasa mengubah kehidupan manusia. Banyak masyarakat berharap agar media bisa menjadi pemicu untuk memberikan perubahan-perubahan yang berarti di tengah masyarakat. Tidak hanya pada kasus Prita dan Bibit-Chandra, tetapi semestinya media berperan dalam kasus-kasus besar yang tengah melilit Indonesia. Semoga saja harapan ini tidak sekedar mimpi belaka.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s