Estetika Sastra dalam Kaba Si Reno Gadih

Standard
Estetika Sastra dalam Kaba Si Reno Gadih

Minangkabau

Oleh Azwar Sutan Malaka

Minangkabau merupakan salah satu kebudayaan yang menghasilkan banyak karya sastra. Secara umum karya sastra yang dihasilkan oleh kebudayaan Minangkabau terdiri dari: puisi, prosa, dan drama. Kalau dipaparkan lebih detail lagi puisi terdiri dari mantera, pepatah-petitih, pantun, talibun, dan syair. Sementara itu prosa terdiri dari curito yang terbagi pula pada hikayaik, kaba baik kaba lama maupun kaba baru, dan tambo. Sementara itu drama merupakan drama tradisional yang terdiri dari randai dan simarantang.

Semua karya sastra itu masih hidup dan terpelihara di tengah-tengah masyarakat Minangkabau walau harus berhadapan dengan sastra atau kesenian modern. Di antara karya sastra itu adalah Kaba Si Reno Gadih, karangan Syamsudin Sutan Radjo Endah, yang diterbitkan oleh Pustakan Indah Bukittinggi. Cerita ini merupakan suatu cerita yang diangkat dari kejadian yang terjadi pada tahun 1908.

Cerita ini berawal dari keramaian di Ulakan ketika bersyafar. Ulakan waktu itu bahkan sampai saat sekarang ini merupakan tempat berkaul bagi banyak masyarakat di Sumatera. Saat itu Sutan Mareno dan keluarganya pergi ke Ulakan untuk membayar kaul. Tetapi malangnya di saat keramaian itu anak bungsunya Reno Gadih terpisah dari rombongan. Setelah lelah mencari anak kecil yang belum berumur lima tahun itu, namun tidak juga bertemu, akhirnya Sutan Mareno benar-benar kehilangan anaknya.

Sementara itu Reno diselamatkan oleh seorang kaya dari Padang yang juga datang berkaul ke Ulakan. Sejak saat itu Reno dijadikan anak angkat oleh keluarga Marah Udin dan Kasidah. Tidak lama di Padang keluarga Marah Udin yang berprofesi sebagai ahli ukur, pindah tugas ke Aceh. Reno yang sudah mereka anggab sebagai anak sendiri mereka bawa ke Aceh. Di Aceh, Reno tumbuh dewasa dan disekolahkan oleh Marah Udin. Sementara itu di Pinang Pipik, Luhak Agam, keluarga Sutan Mareno berusaha untuk mengikhlaskan kehilangan anak mereka setelah sekian tahun mencarinya.

Untuk menghilangkan kesedihan dan penyesalan atas kehilangan anak gadis itu, Sutan mareno pergi merantau ke Medan. Setelah cukup mapan dia membawa istrinya dan Adnan cucunya (anak dari Si Saba kakak Reno Gadih). Singkat cerita Sutan Mareno bisa menyekolahkan cucu satu-satunya hingga diterima bekerja sebagai pegawai dan ditugaskan di Aceh.

Sementara itu seiring perjalanan waktu Reno Gadih sudah pula berkeluarga dan mempunyai anak gadis yang beranjak remaja bernama Siti Nurani. Cukup lama Adnan di Aceh, pada suatu waktu dia berkenalan dengan Siti Nurani. Setelah perkenal berubah menjadi cinta, mereka sepakat untuk menikah. Setelah orang tua Siti Nurani menyetujui hubungan mereka, Adnan menjemput kakek dan neneknya ke Medan. Cerita berakhir dengan sangat membahagiakan sekali karena Sutan Mareno berhasil menemukan anaknya Reno Gadih dan kedua cucunya yang akhirnya menikah.

Cerita kaba itu seperti kebanyakan cerita lain di Minangkabau yang menggugah perasaan pendengar atau pembaca. Saat membaca kaba itu rasa pembaca disayat-sayat dengan kepedihan kehilangan. Sakitnya hidup terpisah dari orang tua atau sebaliknya orang tua terpisah dengan anak yang disayangi, menjadikan cerita penuh dengan sentuhan-sentuhan perasaan.

Luka dan air mata menghiasai kebanyakan cerita-cerita rakyat Minangkabau. Termasuk Kaba Si Reno Gadih ini. Tetapi ending cerita yang berakhir bahagia menjadikan cerita seperti mengikuti keinginan pembaca, yang menginginkan tokoh utama tetap memenangkan konflik permasalahan. Dengan berakhir bahagianya cerita ini mengukuhkan bahwa keindahan cerita benar-benar dengan mengolah rasa manusia. Estetika rasa, walaupun sangat subyektif sekali seperti yang di kemukanan oleh Probo Hindarto dalam situs http://www.astudio.id.or.id, dia berpendapat bahwa nilai keindahan (estetika) dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain;

Pertama subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh kita yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan perasaan dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan sebuah obyek karya. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita mengatakan sesuatu itu indah.

Kedua pengaruh dari lingkungan/masyarakat tentang apa yang disebut indah. Antara lain: pendidikan; apa yang ditanamkan dunia pendidikan seseorang tentang keindahan, mungkin merupakan suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh jadi mengakar pada diri kita, serta metode untuk mengapresiasi suatu obyek juga merupakan suatu metode yang ditekankan secara terus-menerus.

Ketiga opini yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan melalui media, estetika diperkenalkan sebagai konsensus dalam skala tertentu, apakah regional, kolonial, dan disebarluaskan dengan berbagai cara. Estetika yang merupakan ideal suatu teritorial berbasis tradisi juga dapat memberi pengaruh teramat besar.

Berkaitan dengan ketiga hal yang mempengaruhi keindahan tersebut maka dalam Kaba Si Reno Gadih, keindahan cerita itu tentulah dipengaruhi oleh diri pembaca sendiri. Karena pada umum masyarakat menyukai hal-hal yang menggugah emosi. Orang-orang akan bersimpati dengan penderitaan, kesedihan, kehilangan, kemalangan, dan kesakitan yang diderita oleh tokoh cerita.

Sementara itu berkaitan dengan pendidikan pembaca yang turut mempengaruhi nilai rasa keindahan, pemihakan terhadap orang-orang yang berduka tentu saja dominan di kalangan masyarakat Minangkabau. Norma adat Minangkabau yang mengajarkan untuk saling bersimpati turut mempengaruhi keberpihakan pembaca atas nasib tokoh dalam cerita.

Opini masyarakat yang waktu itu masih dipengaruhi oleh hal-hal yang tradisional, semakin mengukuhkan perasaan pembaca untuk menyatakan bahwa karya tersebut adalah sesuatu yang indah untuk dinikmati.

Kaba Si Reno Gadih yang disertai ratapan dan kisah duka atas kehilangan memperlihatkan dengan jelas bahwa keindahan karya sastra tidak saja atas sesuatu yang bersifar gelamor, huru-hara, dan penuh kemewahan. Keindahan karya sastra bisa juga tercipta dari eksplorasi atas kesedihan yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Ratapan dan duka yang dapat dilihat dengan jelas dalam cerita pada setiap peristiwa demi peristiwa.

Sama halnya dengan keindahan dalam lukisan, yang indah tidak hanya ketika seorang pelukis melukis seorang perempuan yang cantik menawan atau indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran, tetapi indahnya sebuah lukisan bisa terjadi ketika seorang pelukis melukis seorang petani tua yang memakai baju compang-camping. Indah dalam lukisan bisa juga terjadi ketika pelukis melukiskan kotornya sampah-sampah di jalanan.

Dalam karya sastra khususnya kaba yang ada di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, keindahanpun tidak hanya dengan mencerita hal-hal yang indah, tetapi keindahan karya juga bisa jadi atas cerita kegetiran hidup manusia, keprihatinan, kepiluan yang mendalam bahkan sesuatu kondisi yang sangat buruk dalam realita bisa jadi menjadi indah setelah menjadi sebuah karya sastra. (*)

* Penulis adalah Alumni Fakultas Sastra Unand

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s