Forum Lingkar Pena Berkarya

Standard

logo-flp

FLP Berkarya Sepenuh Hati

Berkarya sepenuh hati, kadang memang mudah diucapkan, ringan, seolah tidak ada beban akan tetapi dalam realitasnya sulit untuk dilaksanakan. Itulah salah satu hal yang banyak melanda para penulis, baik penulis muda pemula ataupun penulis yang sudah lama menggeluti dunia tulis menulis ini. Totalitas kadang memang terasa berat bila harus dijalankan.

Hubungannya dengan Forum Lingkar Pena (FLP), totalitas sudah menjadi senjata bagi banyak penulis FLP dalam berkarya. Dengan totalitas banyak karya yang akhirnya sudah mewarnai dunia sastra Indonesia. FLP yang lahir dengan idealisme tersendiri memang mendapat tantangan berat pada awal-awal kelahirannya. Betapa tidak, FLP (setidaknya bagi saya dan beberapa culturalis) lahir dengan pemberontakan budaya yang kental. Bila dunia saat ini menginginkan orang-orang yang rakus, agar bisa menghabiskan produk-produk yang mereka hasilkan, FLP menyerukan kepada para pembaca agar menjadi manusia-manusia yang zuhud, bila orang-orang menginginkan agar masyarakat berprilaku konsumtif, tetapi FLP menyerukan agar masyarakat menjadi orang-orang cermat, hemat dan efektif. Oleh sebab itu wajarlah FLP mendapat tantang ketika pertama kali hadir mewarnai dunia sastra Indonesia dan dunia industry budaya di Indonesia. Akan tetapi dengan totalitas, karya-karya FLP akhirnya bisa diterima di Indonesia, bahkan di dunia.

Berangkat dari dugaan ideologis itulah, saya menduga, banyak anggota FLP mengalami hal yang sama. Mereka para penulis yang tergabung di dalam komunitas itu dengan semangat ingin memberi warna lain dalam dunia sastra Indonesia, memilih tema yang unik dan menurut saya tema yang baik. Menarik banyak orang untuk membaca karya mereka.

Fungsi Komunitas

FLP sebagai sebuah komunitas penulisan karya sastra di Indonesia, sampai saat ini masih berkontribusi dalam memproduksi fiksi di Indonesia, baik berupa cerita pendek, cerita anak atau novel. Karena peran mereka dalam memproduksi fiksi itu, sudah sepantasnyalah masyarakat berharap agar FLP menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat. Namun besarnya harapan masyarakat itu juga seperti pisau bermata dua. Pada satu sisi menjadi pemicu agar anggota FLP menghasilkan karya yang baik, namun pada sisi lain tuntutan besar itu membuat sekecil apapun kelemahan FLP akan terdekteksi oleh masyarakat.

Inilah sebenarnya fungsi komunitas. FLP menjadi wadah untuk belajar menghasilkan karya yang lebih baik bagi anggota. Saya sendiri selama beberapa tahun mengikuti kegiatan FLP merasakan inilah salah satu kelebihan bergabung dengan komunitas ini. Setelah karya kita selesai apapun itu, cerpen, puisi, bahkan novel sekalipun bisa dibaca oleh teman-teman sebelum dikirimkan kepada penerbit. Walaupun sebenarnya ada editor di penerbit, tetapi sebaiknya naskah yang kita berikan adalah naskah yang sudah sangat minim sekali kesalahan. Komunitas berfungsi untuk mewadahi anggota untuk berkarya,”memaksa” anggota untuk berkarya sepenuh hati dan cinta mereka, selain itu komunitas tentunya berfungsi untuk memperbaiki kemampuan anggota mereka dalam berkarya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s