Jejak Luka dan Kisah Lainnya

Standard
Jejak Luka dan Kisah Lainnya

Jejak Luka

Judul Buku      : Jejak Luka dan Kisah-kisah lainnya
Penulis             : Azwar Sutan Malaka
Penerbit           : Bandung, Mujahid Press dan Nusantara Institut
Tahun              : 2014, Cetakan Pertama
Halaman          : 141
Azwar Sutan Malaka lahir di bukittingi, 9 Agustus 1982. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Laki-laki berdarh Minang itu pada tahun 2001 memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana tahun 2006. Tahun 2010 melanjutkan studi pada Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan selesai pada tahun 2012.

Jejak Luka dan Kisah-kisah lainnya merupakan cerpen-cerpen tentang luka dipersembahkan kepada orang-orang yang pernah terluka, sedang terluka dan kepada yang akan membuat luka. Tentang cerpen-cerpen di dalam Jejak Luka dan Kisah-Kisah Lainnya ini, inilah suara perlawanan penulis atas kondisi sosial yang terjadi. Terlepas dari perdebatan bahwa karya sastra adalah imajinasi pengarang, yang pasti bagi pengarang, atau setidaknya bagi saya, untuk melahirkan karya sastra membutuhkan inspirasi. Berbagai kondisi yang terjadi ditengah masyarakatlah yang kemudian mendorong penulis untuk menghasilkan karya sastra itu.

Di dalam buku ini, terdapat berbagai macam cerita menarik untuk dibaca, mulai dari cerpen “Anak Cindaku Ditikam Rindu” yang mana penulis kisahkan sebagai perlawanan terhadap praktek sihir dan perdukunan yang menjadi budaya pada sebagaian masyarakat, tentang “Lubang Dalam Diri” yang mana penulis kisahkan sebagai perlawanan atas dominannya hawa nafsu didalam diri manusia, dan adapun tentang “Jejak Luka” yang mana penulis tulis sebagai pembelaan atas hak azazi manusia, perlawanan atas penindasan nama apapun yang dilakukan manusia, tentang “Mahaluka” pun ditulis atas perlawanan terhadap dominasi laki-laki atas perempuan atas nama cinta. Selain itu masih banyak lagi judul cerpen lainnya didalam buku ini seperti, “Jantung Batu”, “Luka Yang Indah”, “Saputangan Merah Berbunga”, “Penantian Nyiak Badat”, “Bulan, Luka, dan Senja”, Hari ke Sembilan Belas Puasa”, “Luka Kayla”, Lelaki Yang Membawa Luka di Dadanya”, dan “Sengketa Tanah”.

Keunggulan buku ini adalah yang pertama, dari segi cover/sampul buku yang terlihat elegan dan berkesan tidak terlalu mewah dan norak, warna cover/sampul buku yang kalem dan tidak terlalu mencolok. Kedua, ceritanya yang sangat menarik sehingga pembaca seakan-akan merasakannya isi dalam cerita tersebut. Namun Kumpulan cerpen ini masih memiliki kekurangan yaitu terdapat kesalahan dalam ketikan/typo sehingga pembaca agak sulit membaca satu kalimat yang rancu tersebut. Selain itu dalam isi ceritanya masih banyak kata-kata yang belum dimengerti sehingga penulis harus sibuk mencari makna dari kata-kata itu sendiri. Tanpa bermaksud mendikte pembaca untuk menangkap pesan-pesan dari penulis, tetapi saya sengaja mengungkapkan hal di atas untuk memberikan perspektif terhadap cerita yang telah menjadi milik pembaca, selanjutnya terserah pembaca, apapun yang hadir dalam pikiran pembaca setelah membaca karya-karya ini itu adalah hak pembaca seutuhnya. Tak ada satupun yang bisa memastikan makna sebuah cerita. Selamat menikmati.

Ditulis Oleh: Arnol Rinaldi, sumber (https://rinaldiarnol.wordpress.com/2015/04/14/contoh-resensi-kumpulan-cerpen-jejak-luka/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s