Kaba Karya Fiksi Minangkabau (1)

Standard

Minangkabau

           Kaba adalah kesusastraan Minangkabau sejenis fiksi. Fiksi menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah cerita rekaan (roman, novel dll) yang tidak berdasarkan kenyataan atau rekaan belaka alias khayalan dari pengarangnya. Dari pernyataan di atas sepertinya membawa kembali ingatan kita ketika membuka lembaran awal cerita-cerita kaba yang telah dituliskan menjadi buku. Biasanya pada lembaran awal kaba itu dibubuhkan pernyataan penulis bahwa kaba itu adalah cerita yang sebenarnya yang pernah terjadi dalam masyarakat Minangkabau pada suatu waktu. Contoh kaba yang telah dicetak dan penulisnya membubuhkan pernyataan bahwa kaba itu adalah cerita sebenarnya adalah Kaba Siti Syamsiah karangan Sjamsudin Sutan Radjo Endah, Kubang Putih, terbitan Pustaka Indah Jln. Soekarno Hatta No. 7 Bukittinggi. Kaba ini selesai ditulis oleh Sjamsuddin Sutan Radjo Endah tanggal 15 Juli 1919.

Selain pada Kaba Siti Syamsiah, Samsuddin Sutan Radjo Endah juga membubuhkan tanda bahwa cerita itu adalah fakta pada karya-karyanya yang lain seperti Kaba Si Gadih Ranti dan Si Budjang Saman serta Kaba Si Reno Gadih. Sewaktu kecil saya sering mendengar cerita-cerita orang tua saya bahwa kaba itu adalah cerita yang terjadi di suatu daerah di Minangkabau. Seperti Lareh Simawang adalah cerita tentang Laras Simawang atau cerita lainnya. Orang tua saya mengatakan bahwa kaba tidak sama dengan cerita-cerita seperti Layar Terkembang atau Sengsara Membawa Nikmat. Tetapi karena orang tua saya itu tidak ahli sastra tentu pendapatnya itu tidak bisa dijadikan rujukan. Kemudian kaba sebagaimana arti lainnya yang bisa diartikan sebagai kabar berita (dari Bahasa Arab). Maka kaba itu juga merupakan sebuah berita tentang suatu kejadian dalam masyarakat Minangkabau yang disampaikan dengan cara berdendang, baik tanpa alat maupun dengan alat-alat sederhana seperti korek api yang dijentik-jentikkan dengan jari atau dengan cara memukulkan kotak korek api ke atas meja.

Saat membayangkan orang bakaba dugaan saya semakin kuat bahwa kaba bukanlah seperti fiksi dalam artian Bahasa Indonesia. Karena menurut cerita yang di dengar dari orang-orang tua juga, orang bakaba itu tidak selalu seperti yang ditampilkan orang di gedung pertunjukan. Bakaba bisa dilakukan di lepau-lepau sambil minum kopi atau di sawah saat bersama-sama menuai padi. Kaba waktu itu lebih kepada berita tentang suatu kejadian di daerah lain yang diceritakan oleh seseorang kepada orang-orang disekitarnya. Cuma saja agar cerita itu lebih menarik diceritakan dengan cara yang menarik seperti dengan musik atau bahkan dengan ekpresi yang sesuai dengan kondisi berita yang disampaikan. Kalau ceritanya sedih orang yang berkhabar akan berekspresi sedih dan kalau kabar itu adalah suatu yang kocak tukang kaba akan berlaku kocak. (Bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s