Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra

Standard

Dalam sebuah acara pertemuan sastra di Jogjakarta pada tahun 2005, seorang laki-laki kurus agak tinggi hadir dengan pakaian sederhana, kaos oblong dan celana jeans dengan topi hitam yang agak lusuh bertengger di atas kepalanya. Perhatian saya tertuju pada laki-laki sederhana itu, kumis yang seperti tidak terurus tidak mengesankan dia sebagai laki-laki garang tapi seorang yang merakyat yang luar biasa. Diam-diam saya mendengar bisik-bisik beberapa kawan sesama penulis, “Mas Joni dah datang tuh!”, mendengar namanya saya teringat sebuah tulisan di Majalah Annida edisi ekslusif tentang proses kreatif lelaki pengarang itu.

Awalnya dia tidak kuliah diinstitusi sastra, tapi hanya seorang pemuda tamatan SMA yang mencoba mengadu nasib ke kota. Bekerja serabutan dari kuli bangunan sampai menjadi pengamen ke tempat-tempat kos mahasiswa. Perkenalan lelaki itu dengan dunia kepenulisan karena dia berteman dengan seorang penulis yang mendorongnya untuk menjadi penulis. Belajar otodidak dengan ketabahan yang kuat, akhirnya tahun 1993 cerpen pertamanya dimuat di Surabaya Post, setelah empat ratusan lebih karyanya dikirimkan ke beberapa media. Setelah di Surabaya Post, cerpennya juga keluar di Kompas dan terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas, setelah itu terbukalah jalan lempang kepenulisannya.

Semenjak memulai karier sebagai penulis orang-orang mengenalnya dengan nama Joni Ariadinata. Dia dilahirkan di Majapahit, Majalengka pada tahun 1966. Penulis ini telah menerbitkan kumpulan cerpen diantaranya Kali Mati (1999), Kastil Angin Menderu (2000), Air Kaldera (2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004). Pada tahun 1994 ia meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas atas karyanya yang berjudul “Lampor”. Pada tahun 1997 Joni Aridinata meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Nasional BSMI atas karyanya “Keluarga Mudrika”. Pada tahun 2000 dia mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia dan Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia. Pada tahun 2004 ia menjadi redaktur di majalah sastra Horison. Joni menerima Anugerah Pena 2005 dari Forum Lingkar Pena (FLP) atas kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari.

Joni Ariadinata (JA) dalam proses kepengarangannya memang dikenal sebagai penulis yang bereksperimental mencari bentuk kepenulisannya sendiri. Sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak, JA banyak menemukan corak baru dalam karya-karyanya. S Prasetyo Utomo dalam tulisannya yang berjudul “Generasi Cerpenenis Pasca-Seno Gumira Ajidarma” yang dimuat oleh Koran Republika Ahad, 13 Januari 2002, menyebut nama JA sebagai salah satu penulis yang memiliki corak kepengarangan khas. JA melakukan pembaruan dalam dunia cerpen. Dia melakukan dengan mereduksi bahasa, hingga menampakkan citra puisi dalam narasi-narasinya. Terkesan pada cerpen-cerpen Joni Ariadinata terpilih diksinya, pekat, padat, dan bernas. Ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan – realitas yang sangat runyam – ke dalam teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan pemaknaan. Dengan mereduksi bahasa, ia memang berhasil menghilangkan beban sosiologis pada cerpen-cerpennya, menghindar untuk menjadi nyinyir dan bertendens. Tapi hal yang perlu dijaga padanya adalah agar tak terjerat kredo bahasanya sendiri seperti Sutardji Calzoum Bachri yang berpulang kembali ke pengucapan konvensional. (Bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s