Monthly Archives: June 2015

Novel Cindaku

Standard
Novel Cindaku

Cindaku+SpootUv+EmbosSalim Alamsyah adalah seorang anak muda yang mewarisi tradisi Minangkabau. Ia dibesarkan oleh seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya yang dibunuh karena dituduh memiliki ilmu hitam. Kemelut batin sebagai anak dari seorang lelaki sakti yang diisukan bereinkarnasi menjadi manusia harimau (Cindaku) membuat Salim tumbuh dengan dihantui masa lalu yang suram.
Hidup yang rumit karena diisukan sebagai anak Cindaku membuat Salim meninggalkan kampung halamannya. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan Salim di kampung itu, Laila, perempuan yang menggantungkan harap padanya. Di kota Salim menanggung rindu yang berat, hingga akhirnya rindu bertahun-tahun yang disimpan itu menemukan jalannya. Ia berniat menikahi Laila, tapi beban mitos sebagai Anak Cindaku yang telah menjadi issu umum di kampung halamannya membuat Salim was-was. Luka sejarah yang pahit itu menjadi petaka dalam kisah cinta Salim dan Laila. Salim ditolak oleh orang tua Laila. Salim memberontak, dengan segenap keberaniannya. Dia menyesali kenapa orang tua Laila masih percaya tahayul, mitos-mitos yang tak pernah ada dalam kenyataan hidup itu.

Bookmark Cindaku
Orang tua Laila menjawab bahwa dia tidak menolak Salim karena gosip Cindaku itu, tetapi ada luka lain yang membuat Ibu Laila menolak Salim sebagai menantunya. Ibu Laila menyampaikan rahasia hidup yang teramat pahit untuk didengar Salim dan Laila. Dengan berat hari Ibu Laila menceritakan bahwa dia tidak akan pernah menikahkan Laila dengan anak dari lelaki yang telah menodainya. Salim dan Laila sama-sama mewarisi darah lelaki yang sama. Laila adalah janin yang tumbuh di rahim perempuan itu dua puluh tahun yang lalu setelah diguna-guna oleh Ayah Salim. Salim tak dapat menjawab atas cerita yang semakin membuat luka di dadanya itu. Tapi Laila masih mempertanyakan cerita yang keluar dari mulut ibunya. Benarkah apa yang disampaikan ibunya? Atau hanya siasat untuk memisahkannya dari Salim yang dicintainya?

Advertisements

Jejak Luka (Lima)

Standard

Jejak Luka
Di balik itu, Syekh Abdul Manan dituduh kompeni memberi azimat pada pemuda-pemuda yang berjuang menenteng Belanda. Azimat yang akan dibawa terus untuk berperang itu, kabarnya membuat pemuda-pemuda Kamang tahan peluru. Aku dan rombongan terus berjalan, sepanjang jalan aku lelah mendengar Komendur Westenenk yang menghujani Betudung dengan segala makian, seperti perempuan-perempuan yang menceracau saat datang bulan.
“Barangkali kau sembunyikan dia di sini.”
Kami sampai di rumah nenek di Kampung Bansa. Aku diam berhenti berjalan, serdadu segera melingkari kiri dan kanan. Saat itu, serasa akan hilang nyawa di badan. Pikiranku waktu itu tidak lain hanyalah mengadu pada Tuhan yang satu, semoga ayah terhindar dari bahaya ini dan semoga orang-orang yang kusayangi dan mencintaiku tidak berlinangan air mata mengenangkan nasibku. Saat itu aku tidak diperintahkan untuk melihat ke dalam rumah, mungkin mereka membaca siasatku seadainya aku yang disuruh ke dalam, seandainya ayah memang berada di dalam tentu aku akan menyuruhnya lari lewat pintu belakang.

Ketika menggeledah rumah, mereka mengacak-acak semua perabotan yang ada, dari suara perabotan yang berantakan aku tahu kalau mereka telah menghancurkan isi rumah. Di dalam hati, diam-diam aku berharap agar Tuhan menyelamatkan Ayah. Cukup lama kompeni mengacak-acak rumah Nenek, namun mereka tidak menemukan yang mereka cari. Seorang serdadu memberi laporan pada Komendur Westenenk.
“Syekh Abdul Manan tidak ada di dalam rumah, Tuan.”
Sebentar kemudian, Komendur Westenenk berkata pada kami berdua: aku dan Batudung.
“Haji Ahmad dan Batudung, sebaiknya jangan melawan kompeni.”
“Bolehkan aku menjawab?” Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaanku itu aku lanjutkan perkataanku.
“Tidaklah mungkin aku melawan tuan-tuan.”
“Lalu di mana penjahat itu kau sembunyikan?”
Komendur Westenenk semakin geram, kemarahan karena tidak berhasil menemukan Ayah membuatnya hilang kecerdasan sehingga akhirnya aku yang mereka tangkap.
“Diam…, jangan banyak bicara, kalian berdua harus ditangkap, agar kalian rasakan hidup di bui.”
Mendengar gertakan Komendur Westenenk, Batudung bukannya takut, malah dia menantang kompeni-kompeni itu.
“Kalau dengan Haji Ahmad, apapun yang akan kalian perbuat kepadaku aku bahagia menerimanya. Jangankan di bui, dalam kubur pun aku bersedia!”
Mendengar kata-kata Batudung, Pengulu Datuk menjadi naik pitam.
“Batudung….! Lancang sekali mulutmu! Cepat jalan!”
Batudung segera berjalan melewati para serdadu. Dia tidak takut sama sekali dengan teriakan Pengulu Datuk, di matanya Pengulu Datuk tidak ada wibawa lagi. Seorang serdadu mendekati Batudung, lalu menggerayangi tubuh Batudung, mereka berpikir jangan-jangan Batudung menyimpan senjata. Serdadu itu terus menggeledah tubuh Batudung, akhirnya mereka menemukan pisau di balik pakaian Batudung.

Aku cemas menyaksikan kejadian itu, aku tidak jadi berjalan, kupandangi Batudung yang kini sudah dipukuli oleh para serdadu.
“Kamu mau melawan, Batudung? Kamu akan bunuh kami dengan pisau ini, hah? Bangsat…!”
“Adakah patut saya melawan tuan-tuan yang berkedudukan tinggi?”
Komendur Westenenk segera memerintahkan para serdadu membawa Batudung. Serdadu segera mengikat tangan Batudung ke belakang, setelah itu kami berjalan. Karena tidak bisa mendapatkan Ayah mereka kesal, serdadu kompeni melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan, aku kehilangan akal, sepertinya peluru itu akan menembus tubuh penduduk yang sedang terlelap.
Tembakan itu terus membabi buta, membuat penduduk ketakutan di dalam rumah mereka. Di antara suara tembakan itu, Batudung berteriak kesakitan. Kakinya tertembus peluru. Senapan itu masih terus berdentam, tidak menghiraukan rintihan Batudung menahan kesakitan. Aku pun harus menghindar dari tembakan para serdadu, aku melompat ke pagar hidup pembatas jalan, saat kakiku menginjak tanah terasa sakit diinjakkan. Aku kira nasibku sama dengan Batudung, peluru serdadu itu menembus kakiku.
Aku tidak berteriak, karena teriakan hanya akan membuat lemah diriku dihadapan kompeni, aku tahan sakit yang mendera, menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun. Aku lihat luka di kaki itu, sepotong patahan bambu masih tertancap. Ah…ternyata aku tidak tertembak. Dengan nama Allah aku cabut patahan bambu itu, aku mendesis, mataku basah menahan sakit yang menghentak sampai ke ubun-ubun. (Bersambung)

Jejak Luka (Empat)

Standard

Jejak Luka

“Haji Ahmad, panggil ayahmu.”

Aku diam, mungkin Pengulu Datuk mengira aku tidak mendengar perintahnya atau pura-pura tidak mendengar. Tapi sesungguhnya aku masih ragu, mengantarkan mereka pada ayahku. Tidakkah aku akan menjadi anak durhaka dengan memberikan ayah kandung sendiri kepada serigala. Di mana sifat pemberani yang selalu ditanamkan beliau untukku, sehingga dengan begitu mudah aku menyerah. Aku mulai berpikir untuk menjadi benteng terakhir bagi ayahku. Sebagai anak terasa kewajiban menyeru-nyeru hatiku untuk melindungi ayah, walau sampai titik darah penghabisan yang dipompakan jantung dalam rongga dada.

“Haji Ahmad…! Panggil ayahmu…!”

Pengulu Datuk mengulangi perintahnya, kini dalam nada keras ia menghardikku. Mungkin dia sudah merasa seperti orang Belanda, berani-beraninya menghardik pribumi di tanahnya sendiri. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, tidak kulayani pengkhianat itu, hanya kulihat dengan sudut mata yang semakin membuat geram Pengulu Datuk. Melihat aku tak bergeming sedikitpun, Komendur Westenenk pun ikut berkata, masih segarang saat di rumahku.

“Haji Ahmad, lihatlah ayahmu sekarang juga.”

Pikiranku kini mulai berubah, kalaupun akan kupertahankan untuk tidak menuruti mereka ini sudah kepalang tanggung. Aku dan mereka sudah berada di halaman rumah Bunda. Kalaupun aku melawan dan akhirnya mereka mengantarkan aku menemui takdirku untuk mati, tentu segalanya akan sia-sia. Mereka masih bisa menghantam rumah untuk mendapatkan Ayah. Baiklah…akhirnya kuputuskan untuk masuk ke rumah dengan baik-baik. Mungkin Ayah sudah dilindungi Tuhan sehingga Belanda itu takkan mungkin lagi menemukan Ayah.

Aku menaiki tangga rumah, perlahan kuketuk pintu rumah madu ibuku itu. Tanganku berhenti mengetuk pintu, karena ketika kulihat ke bawah ternyata pintu itu sudah pecah bekas hantaman kaki serdadu. Ternyata benar, mereka sudah ke sini sebelum menjemputku ke rumah. Sekarang aku mulai mengerti, aku akan dijadikan tahanan pengganti Ayah, karena mereka tidak juga menemui beliau. Aku disuruh menjemput Ayah hanya akan mereka jadikan alasan untuk bisa membawaku. Dasar Belanda keparat!

Karena ketukanku tadi, Bunda membukakan pintu, kulihat matanya sudah sebak oleh air mata. Aku tahu dia sudah lelah menangis, sebelum kutemui.

“Ayahmu tidak ada di rumah, Ahmad. Ayahmu sudah menghilang dengan takdir Allah.”

Aku merasa lega, ternyata benar Tuhan telah menyembunyikan kekasih- Nya. Aku masuk ke dalam rumah, mengikuti Bunda yang masih menangis, berulang-ulang Bunda mencari, tiap ruangan dia masuki dan aku ikuti. Ke loteng rumah, ke kandang, ke gudang juga kulihat, ternyata ayah benar-benar sudah tidak ada. Seketika itu timbul dalam pikiran rasionalku, mungkin ayah sedang berada ditempat lain.

Setelah pamit dan minta maaf pada Bunda, aku keluar dari rumah menyampaikan pada Komendur Westenenk bahwa ayahku tidak ada di rumah.  Westenenk sepertinya sudah hilang kesabaran, wajah putihnya memerah di bawah redup rembulan. Pada saat waktu yang tidak menentu itu, Pengulu Datuk merasa bahwa saat itu adalah saat yang tepat untuk menunjukkan pada Komendur Westenenk, bahwa dia adalah orang yang sangat berguna. Maka pengkhianat itu mendekati Komendur Westenenk yang kehilangan akal, dia seperti memberi kesejukan kepada Westenenk.

“Tuan…aku tahu Syehk itu berada.”

“Di mana, Pengulu Datuk…?”

Nada suara Komendur Westenenk segera menurun saat bertanya pada Penghulu Datuk. Sama saja mereka berdua entah siapa yang  dimamfaatkan dan entah siapa yang memanfaatkan.

“Kalau dia tidak di rumah bini[1]nya, tentu dia sedang menyusu di rumah ibunya, Tuan.”

Nada suara Penghulu Datuk sangat melecehkan ayahku, aku merasa sangat terhina mendengar ayahku diperolok-olokkan seperti itu. Ingin keremukkan kepala Penghulu Datuk itu, tapi kini waktu yang tidak tepat untuk memperturutkan emosi. Suatu saat akan datang waktu untuk membalas penghinaan itu.

“Bagus…bagus…! Terima kasih, Penghulu. Sekarang kita cari ke rumah ibunya. Di mana tempatnya, Penghulu?”

“Di Kampung Bansa, Tuan, tidak jauh dari sini.”

Dari wajah Komendur Westenenk terlihat kembali semangatnya untuk memakan darah manusia. Saat itu juga dia teriaki anak buahnya.

“Kita cari malam ini juga!”

Teriakannya itu menjadi isyarat bagi para serdadu untuk segera bergerak mengikuti langkahnya. Di belakang Komendur Westenenk, Penghulu Datuk mengiringi bersamaku. Tak lama berjalan, rombongan bertemu dengan Batudung. Batudung lelaki yang selama ini menjadi kaki tangan ayah, seorang parewa[2] yang cinta negeri dan tanah airnya. Lelaki dengan perawakan besar, memiliki tangan kokoh dan tentunya cukup bekal ilmu bela diri yang dipelajari dari Ayah. Melihat lelaki itu, Penghulu Datuk segera bertanya.

“Batudung… dari mana?”

Sebelum Batudung menjawab, tangannya sudah dipelintir ke belakang oleh Penghulu Datuk. Batudung yang tidak tahu menahu persoalan itu, diam tidak banyak melakukan perlawanan, dia sudah fasih sekali berhadapan dengan pembesar-pembesar kompeni atau antek-anteknya. Tanpa bersalah pun mereka bisa menghabisi nyawa rakyat jelata.

“Aku dari lepau[3] , Tuan.”

“Batudung, di mana majikanmu, dimana dia bersembunyi.”

Komendur sepertinya tidak ingin berlama-lama dengan pembicaraan itu, dia segera memberi perintah pada Batudung, seperti memberi perintah pada anak buahnya saja.

“Batudung, sekarang juga kau ikut dengan kami mencari Syehk Abdul Manan.”

Batudung tanpa niat untuk melawan hanya menuruti langkah para serdadu. Dia sebenarnya tahu di mana Syekh sedang menyendiri. Tapi dia seperti tidak mau tahu dengan Syekh Abdul Manan, orang tua yang dianggap masyarakat orang keramat, wali Allah di dunia, penjaga Nagari Kamang ketika itu. Entah apa sebabnya hanya karena dia membela yang benar, menjaga negerinya makanya kompeni membenci dan akan menangkapnya. (Bersambung)

Jejak Luka (Tiga)

Standard

Jejak Luka

Aku turun dari rumah, walau berat hati tetapi kujalani juga. Di luar aku melihat Komendur  Westenenk segera menghardik, karena terlalu lama menunggu.

“Cepat..! Keparat…!”

Tapi suara Komendur Westenenk segera menurun saat melihat Nisa memegangi kakiku.

“Jangan pergi, Ayah.”

Westenenk melihat pada anakku.

“Tidak apa-apa, Anak Manis.”

Komendur itu hendak memegang pipi Nisa tapi kutahan tangannya.

“Jangan sentuh anakku dengan tangan kotormu.”

Sebenarnya Komendur Westenenk ingin marah, tapi mungkin seperti itu etika mereka atau mereka memang tidak berdaya dengan tatapan Nisa. Dia tidak mau atau tidak berani marah di depan anakku malam itu.

Saat aku benar-benar pergi, Nisa masih menangis, kini dia menangis dalam pangkuan Maya yang juga telah meneteskan air mata. Aku biarkan mereka menangis, aku sadar betapa cemasnya mereka, melihat aku dijemput malam oleh Belanda. Sebelum ini mereka tahu kalau orang-orang yang dijemput oleh kompeni malam hari, alamat akan berhadapan dengan keburukan. Kalau ada orang yang dijemput malam, bisa jadi nantinya akan pulang nama, tidak tahu entah ke mana rimbanya.

Bagian Tujuh

Sesampai di halaman, Komendur Westenenk berpikir sejenak, sepertinya dia ragu untuk mengikuti langkahnya sendiri. Atau mungkin dia juga berpikir-pikir apakah sudah benar tindakannya itu. Ah…sudahlah, mengapa pula aku pikirkan pikiran orang kafir itu. Saat dia berjalan, aku turutkan langkahnya. Di kiri dan kanan aku dikawal oleh serdadu yang berjalan dalam barisan, sementara  di belakang opas menjadi penutup barisan.

Saat aku melihat ke belakang, Nisa turun dari pangkuan ibunya. Aku berhenti, rombongan pun berhenti, barisan kompeni itu menyibak, memberi jalan pada Nisa untuk menemuiku. Aku merunduk menghapus air matanya.

“Pulanglah, Nak, jaga ibumu.”

“Bapak…kembalilah ke rumah, jangan pergi berperang, seandainya Bapak meninggal, dengan siapa kami ditinggalkan?”

“Nisa, biarlah Bapak pergi. Bapak  pasti kembali.”

Aku berjalan meninggalkan Nisa yang kini meronta-ronta dalam pegangan tangan Maya. Aku berjalan cepat, cepat-cepat meninggalkan kesedihan yang telah menyelimuti segenap jiwa. Diriku seperti tidak dalam tubuh ketika sayup-sayup sampai masih kudengar kesedihan dari tangisan Nisa. Tangisan yang menyisakan luka memanjang, menyilang dalam dada.

Tak terasa waktu-waktu kulalui dalam pilu, sehingga malam yang pongah telah beranjak ke pukul tiga. Sesekali aku memandang ke kiri dan ke kanan memperhatikan serdadu menggerakkan kelewangnya sambil berjalan, serentak dalam setiap barisan. Tidak lama berjalan akhirnya sampai di Kampung Tangah, di rumah Etek[1] Nurasiah yang kupanggil Bunda, istri muda ayahku. Sesampai di sana, aku tidak banyak bicara, aku diam di halaman sementara para serdadu membuat barisan, sebagiannya segera mengepung rumah Bunda. Kini di halaman itu sudah berjejer Komendur Westenenk dan Pengulu Datuk. Pengulu Datuk itu ingin bicara padaku, tapi kuhindari tatapan mukanya, aku benci melihat pengkhianat itu, aku jijik melihat tampangnya. Karena aku menghindar dia mengalah untuk mendekatiku. (Bersambung)

[1] Etek biasanya panggilan untuk adik ibu digunakan juga untuk perempuan yang lebih muda dari ibu

Jejak Luka (Dua)

Standard

Jejak Luka

Tapi ini sebuah pilihan, aku lebih memilih untuk mati berkalang tanah karena itu lebih baik dari pada melihat kehormatan negeri ini dikoyak oleh manusia-manusia berhati singa. Bukankah hidup mulia atau mati sebagai syuhada telah tertanam di lubuk hatiku sejak lama.

“Bapakmu akan kembali anakku.”

Maya  berujar dengan suara berat sembari meraih Nisa dari pangkuanku. Disalaminya tanganku,  lalu diciumnya. Satu titik, dua titik  air matanya  jatuh  di tanganku. Dengan berat hati  aku pergi  meninggalkan  orang-orang yang kucintai. Aku menuju pintu yang telah digedor-gedor kompeni.

Karena lama pintu tak dibuka, akhirnya mereka menghantam paksa pintu berukir kalauak paku itu. Sekali, dua kali terdegar teriakan mengiringi hantam kompeni melabrak pintu. Pintu tua yang hanya dipasak dengan kayu itu tak berdaya menghadapi tendangan mereka, seketika itu pintu hancur sehingga terbuka. Dari luar cahaya redup rembulan menyusup ke dalam rumah yang hanya di terangi lampu togok.

Aku menyaksikan satu persatu kompeni berhamburan ke dalam rumah. Komendur Westenenk memerintahkan anak buahnya untuk menggeladah rumah.

“Segera geledah rumah ini !”

Kata-kata itu sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk memporak porandakan apa yang ada. Memunguti apa yang bisa mereka bawa. Seperti singa menerkam gerombolan kijang yang sudah tidak berdaya. Bahkan nasi dan ikan panggang dalam songkok pun mereka bawa.

“Tak usah digeledah rumahku, ini aku yang kalian cari.”

Aku menghadapi mereka, sesaat mereka berhenti mengacak-acak rumah. Tapi kata-kataku tidak mempan menghalangi kebejatan mereka. Melihat wajahku, Komendur Westenek mengeluarkan segala kosakata kotor yang pernah dimilikinya.
“Anjing…pribumi laknat…keparat….Haji, Mana Ayahmu Abdul Manan si pengecut itu? sudah berhari-hari kami mencarinya, tapi dia seperti hilang ditelan bumi, kemana kau sembunyikan ayahmu? kalau memang lelaki hadapi senapanku ini…anjing…!”

Aku redam kemarahan yang tersulut oleh kata-kata kotor Komendur Westenenk. Aku tidak mau membalasnya dengan makian, karena aku tahu makian yang akan kulontarkan hanya akan merendahkan derajatku. Setelah kususun kata-kata yang cocok untuk menjawabnya. Akhirnya kata-kata inilah yang keluar dari mulutku.

“Aku tidak menyembunyikannya, dan dia tidak pernah pula hendak bersembunyi dari kalian. Dia ada di Kampung Tangah, di rumah istrinya.”

Komendur Westenenk memberi isyarat pada anak buahnya untuk berhenti menjarah rumahku. Seketika itu juga para serdadu itu berhenti dan berdiri di belakang Komendur Westenenk.

“Kami sudah mencari sampai ke Kampung Tangah, tapi dia tidak ada di rumah, sekarang kau ikut kami, kau tunjukkan dimana persembunyiannya.”

Saat itu aku tidak dapat mengelak, bila aku terus menolak, aku khawatir anak dan istriku akan menjadi sasaran keberingasan mereka. Biarlah aku yang mengalah, harus bagaimana lagi, saat-saat seperti ini memang tidak banyak pilihan yang harus dijalani.
“Sebentar, aku ganti pakaian dulu.”

Tanpa persetujuan mereka, aku tinggalkan kaki tangan iblis itu di ruangan tengah Rumah Gadang. Aku masuk ke dalam kamar dengan alasan untuk menukar baju. Tapi sebenarnya aku berat hati untuk meninggalkan anakku. Aku meminta Maya untuk mengambilkan pakaian dalam lemari.

“Maya, tolong ambilkan baju putih di dalam lemari.”

Maya segera beranjak mengambil baju yang kupinta. Nisa ternyata menangis, dia turun dari tempat tidur lalu memegangi tanganku. Aku tidak tahu apalagi yang harus kuperbuat, kucium kepala Nisa, mungkin ini kali terakhir aku menciumnya, entahlah…entah apa yang akan terjadi sejam, dua jam, sehari, seminggu, atau beberapa waktu ke depan.“Ayah…jangan pergi,” pinta anak itu.

Rengekan Nisa semakin menyayat hatiku, tapi apa boleh buat, aku harus pergi. Setelah memakai pakaian yang diserahkan Maya. Aku tinggalkan orang-orang yang kukasihi itu.  Bersambung.

Jejak Luka (Satu)

Standard

Jejak Luka
Di dalam penjara aku seperti tidak memiliki keyakinan untuk mampu bertahan hidup. Suasana yang sumpek, kotor, dan beringas membuat hari ke hari yang kulalui terasa hanya untuk memperdalam duka. Sungguh waktu itu adalah waktu-waktu yang melemahkan diri, sehingga iblis leluasa memperdaya untuk memperturutkan resah hati yang luka. Kadang tumbuh pertanyaan yang aku sendiri malu jika mengingatnya, apakah Tuhan sudah lupa atau mungkin juga Dia sudah murka. Bahkan suatu kali muncul tuntutan mengapa kekuasaan selalu diserahkan pada manusia-manusia yang kejam dan ingin selalu menguasai dunia dengan segala isinya. Mungkinkah Tuhan yang menginginkan orang-orang itu berbuat kejam kepada manusia yang kehabisan daya. Tapi syukur, kalimat istigfar mengakhiri prasangka buruk kepada Tuhan itu.

Angin terasa berguncang dalam dada, bergemuruh mengaliri segala lorong tubuh dan kemudian mengaliri urat-urat nadi sehingga berakar dalam diri. Angin itu tidak menyejukkan dan tidak menentramkan jiwa, dan tidak pula seperti tiupan udara senja saat panas terik cahaya matahari, sehingga terasa sejuk saat menerpa muka. Tidak, sama sekali tidak sejuk tetapi angin itu, menghembuskan duka cita, meniupkan lara, sehingga terasa menyesak dan menimbulkan sengsara.

Saat itu hari Senin malam Selasa, pukul tiga dini hari saat bumi terasa hening, saat langit terlihat bening bertabur bintang berhias rembulan. Sayup-sayup terdengar derak tapak kaki serdadu serentak, menghentak-hentak ke bumi. Mereka datang membawa senapan tersandang di bahu dan kelewang menggelantung di pinggang. Di suatu titik, barisan serdadu itu berhenti, mereka bergerak mengatur formasi sesuai instruksi atasan yang memimpin rombongan. Mereka berdiri di halaman rumahku, lengkap dengan peralatan perang seperti hendak menghancurkan sebuah kekuatan besar yang mengancam kekuatan mereka. Padahal di dalam rumah ini hanya aku satu-satunya lelaki. Bersamaku seorang istri dan seorang anak kecil yang tak memiliki daya untuk memberikan perlawanan.Dari celah pintu rumah aku lihat di antara barisan serdadu itu ada Komendur Westenenk, yang sebelumnya sudah pernah aku kenal. Pastilah kontrolir itu yang memimpin rombongan serdadu ini berkunjung ke rumahku. Di sebelah Kemendur Westenenk, aku melihat Pengulu Datuk berdiri dengan pongah, lelaki pengkhianat yang memihak kepada Belanda, kaki tangan Belanda yang mencari kemewahan dan kesenangan hidup semu dari penderitaan rakyat. Dari luar, aku mendengar Pengulu Datuk memanggil-manggil namaku, dia berharap aku terjaga karena panggilannya itu.

Sebenarnya malam itu hatiku sudah cemas, dalam hati bermunculan beragam duga sangka dan rekaan petaka yang akan terjadi beberapa saat nanti. Biasanya kalau ada orang yang dijemput malam oleh kompeni, tidak akan selamat kembali ke rumah, bahkan tidak jarang banyak yang hilang, hingga pulang tinggal nama. Apalagi suasana di Nagari Kamang saat ini memang memanas. Belanda merasa dirugikan dengan pendirian pemuka-pemuka masyarakat Kamang yang tidak mau membayar blasting, bahkan sebagian pemimpin Kamang membentuk kekuatan untuk menjaga rakyat yang tidak mau  membayar blasting kepada kompeni.

Sebelum membukakan pintu, memenuhi keinginan orang-orang di luar, aku kembali ke dalam kamar. Aku temui istri dan anakku. Maya ternyata sudah terjaga, dia cemas melebihi cemas yang kurasa. Mendengar teriakan-teriakan orang dari luar, Nisa, anak semata wayang kami juga terjaga, lalu langsung menyuruk ke dalam pelukan ibunya.

“Jangan cemas, aku akan menemui mereka.”

“Hati-hati.”

“Iya, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Tapi…”

“Berdoalah semoga tidak akan terjadi hal yang buruk bagi kita.”

Maya memegang tanganku, aku tahu bahwa dia telah tahu bahwa aku sebenarnya merasakan kekhawatiran seperti apa yang dirasakannya.

“Jangan keluar dari kamar apapun yang terjadi.”

“Iya…”

“Tidur saja, kalau aku tidak kembali malam ini, mungkin ada persoalan yang harus diselesaikan.”

Aku melepaskan genggaman tangan Maya. Dengan berat hati dia akhirnya melepaskan genggamannya. Sebelum meninggalkan mereka, aku termenung, saat itu Nisa mengajukan pertanyaan yang seperti ujung pisau menusuk hatiku, seperti sembilu mengiris-ngiris kulitku, seperti belati menancap di jantungku.

“Bapak akan pergi berperang?”

Sebelum menjawab pertanyaan Nisa yang baru berusia lima tahun, pikiranku jauh melanglang buana entah kemana, mengapa  bocah sekecil itu bisa bertanya sedemikian rupa. Terasa yang bertanya itu bukan lagi anakku, tapi mewakili ribuan anak-anak yang akan kehilangan bapak ditembus peluru. Mulut Nisa hanyalah sebagai jalan lalu bagi rasa tak rela tanah yang tak ingin dinodai oleh darah peperangan.
“Bapak…, bapak…”

Nisa kecil mengguncang-guncang lenganku. Mata beningnya menatapku penuh harap. Saat melihat mata itu terasa sangat memilukan hati. Sesaat kemudian aku lihat bibir mungilnya bergetar menyimpan ratapan.
“Bapak…, kalau Bapak pergi dengan siapa Nisa belajar mengaji ?”

Aku membisu. Membisu seperti batu. Persis seperti batu karena deretan kata-katanya yang meluncur kemudian tidak dapat lagi kumaknai. Entah bilur-bilur nada penderitaan atau rintihan kepedihan. Aku tidak dapat berkomentar tentang perang yang disalahkan bidadari kecilku. Mungkin juga aku sedang mengutuki perang yang memisahkan  kasih antara manusia. Memisahkan kasih orang tua terhadap anaknya. Perang yang mencerai beraikan suami dan istrinya. Perang yang memporak porandakan peradaban, perang yang hanya menyisakan luka di sudut hati rakyat jelata.

“Bapak…kalau bapak mati siapa lagi  yang akan menyayangi Nisa, kalau Bapak mati Nisa tak punya Bapak lagi.”

Aku masih diam terpaku. Mataku  menatap lekat  wajah cantik  Nisa. Pandanganku nanar, ketika butir-butir air mata turun mengukir wajahnya. Lalu entah sadar atau tidak aku berujar dengan suara basah, seolah untuk diriku sendiri.

“Siapapun lelaki yang mencintai negeri ini akan menjadi  Bapakmu,  ketika Bapak syahid  dalam perang nanti. Siapapun perempuan yang tak rela negeri ini terjajah  akan menjadi Ibu bagimu ketika nyawa Ibumu lepas dalam perang ini.”

Nisa diam. Entah karena telah mengerti   atau tidak mengerti sama sekali dengan kata-kata penuh makna itu. Yang pasti beberapa saat kemudian aku dan Nisa berpelukan  lama sekali, seolah pelukan terakhir untuk bocah itu di negeri yang sedang  membara oleh perang ini. Aku merintih, menahan perih. Hatiku tercabik sakit, melihat kenyataan  perpisahan  dengan manusia yang aku cintai. Buah hatiku “anak kanduang sibiran tulang, ubek jariah palarai damam”  harus ditinggalkan  karena gurita penjajahan. (Bersambung)

Jejak Luka (Sinopsis)

Standard

Jejak Luka
1 Maret 1908 hitungan tahun di Hindia Belanda, atau 7 Maret dalam hitungan tahun di Nedherland, Komendur Oud Agam L.C. Westenenk melaksanakan ”blasting” (pemungutan pajak) di wilayah Agam, di antaranya untuk pemotongan hewan dua persen, untuk kopi, untuk kulit manis,  dan lain-lain. Laras Kamang G. Dt. Palindih dan pemuka agama Haji Abdul Manan terang-terangan  menolak keinginan Kompeni itu. Bahkan Haji Abdul Manan dan pemuka masyarakat lain berani menerima tantangan Kompeni untuk menyelesaikan dengan perang. Kompeni menurunkan tentara  ke Nagari Kamang untuk memaksa rakyat mematuhi keinginan mereka. Rakyat Kamang pun tak gentar menghadapi  perang yang dikobarkan  Kompeni, walau harus  berpisah  nyawa dari badan. Walau harus berpisah  dari orang-orang yang  mereka kasihi.

Cerita ini merupakan sepotong episode sejarah perang yang melukai hati rakyat Kamang. Cerita dikisahkan oleh oleh tokoh utama Haji Ahmad yang menjadi korban kekejaman Kompeni. Ketika Belanda tidak menemukan Haji Abdul Manan, Belanda menangkap anaknya Haji Ahmad. Selama dalam tahanan Belanda Haji Ahmad menceritakan penderitaannya. Bahkan ketika dipindahkan dari penjara yang satu ke penjara yang lain, hingga dia diasingkan ke Makassar.