Buang Bilah dalam “Luka Yang Indah” Karya Azwar Sutan Malaka

Standard
Buang Bilah dalam “Luka Yang Indah” Karya Azwar Sutan Malaka

FreeVector-Free-Butterfly-Vector-Art

I

Luka Yang Indah merupakan judul salah satu cerpen dari lima belas cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen karya Azwar Sutan Malaka. Buku kumpulan cerpen ini diberi judul Jejak Luka yang diterbitkan pada Agustus 2013 oleh AG Litera. Memang dari Jejak Luka hingga Sengketa Tanah menceritakan tentang kelukaan. Luka Yang Indah merupakan cerita keempat.

Tokoh utama dalam cerita pendek ini adalah Man dan Timah. Tokoh pendukungnya ada Mina dan Mak Sutan. Konflik utama dalam cerita ini adalah konflik internal yang terjadi pada Man, suaminya Timah. Konflik tersebut didasari oleh perubahan suasana dalam keluarganya dan hubungan mereka dengan masyarakat di mana mereka tinggal. Penyebab perubahan itu diceritakan dengan alur mundur. Adat alam Minangkabau merupakan seting cerita. Akhir cerita dihadirkan dengan suasana yang ironis, seperti judulnya. Mengakhiri hidup atau membunuh untuk menghilangkan penderitaan.

Man, tokoh utama, pergi ke dukun dan memesan racun yang diminumkan kemudian kepada Istrinya. Man membunuh istrinya. Sudah sepuluh tahun istrinya sakit gila. Istrinya kerap mengganggu ketertiban sosial di lingkungannya. Berlari keluar rumah tanpa pakaian dan memaki-maki orang orang yang dia tuduh telah membakar rumahnya. Tidak hanya itu, Timah sering mengamuk dengan melempari fasilitas umum. Memang kematian anak satu-satunya yang terperangkap di dalam kebakaran rumahnya itu, menjadikan Timah berubah. Hal ini sangat menekan batin Man. Dia mencintai istrinya tapi tidak tahan menjalani cinta seperti ini. Biarlah racun memberi penyelesaian.

3salvador-dali-persistence-of-memory

Salvador Dalli: Persistence of Memory

Ada beberapa fakta yang memicu tindakan Man untuk meracuni istrinya, seperti dalam kutipan berikut.

Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam kengiluan mengobati Timah dengan segala daya dan upaya. Berobat ke dukun, menghantarkan ke rumah sakit jiwa, sebentar, tetapi cukup menguras biaya. Akhirnya Man Pasrah. (hal. 32)

Kelelahan Man yang telah lama mengurus istrinya ditambah kekurangan biaya mengakibatkan Man putus asa. Pada kalimat selanjutnya juga dikatakan bahwa Man ternyata juga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk mengobati istrinya. Kekurangan biaya atau kemiskinan kemudian dianggap sebagai pemicu tindakan Man hingga membunuh istrinya, atau menyelesaikan, atau mengurangi masalahnya. Hal ini menarik jika kita kaitkan dengan keelokan budaya dan adat Minangkabau. Kemanakah saudara-saudara atau dunsanak-dunsanak Man dan Timah? Tidak adakah mereka saudara kandung, saudara seperut, sekaum, sepesukuan atau belahan mereka? Bagaimana dengan nilai anak dipangku kemenakan dibimbaing? Ternyata ada sebuah realitas lain yang mendukung terjadinya fakta membunuh bagi Man adalah sebuah penyelesaian. Realitas itu adalah Buang Bilah. Makalah ini, kemudian, mencoba mengungkap hukum buang bilah yang tergambar dalam cerita Luka Yang Indah karya Azwar Sutan Malaka. Pengungkapan ini menggunakan pendekatan studi budaya yang disarankan oleh Geurin dkk (1999:239-270). Penjelasan akan diberikan secara deskriptif dengan menggunakan narasi yang membandingkan realitas dalam cerita pendek tersebut dengan realitas sosial yang ada sekarang dan sebelumnya.

II

Buang bilah merupakan bentuk hukuman yang diberikan bagi orang-orang yang melanggar hukum di Minangkabau. Pelanggaran yang dilakukan adalah dago-dagi yang terdapat dalam undang-undang nan salapan, bagian dari undang-undang nan duo puluah (undang-undang pidana). Dago artinya melawan pada jalan yang tidak patut dilawan, sedangkan dagi artinya melakukan perlawanan (Ibrahim, 2009: 115-16). Menurut Datuak Tuah (1954, 1985), Dago Dagi yaitu membantahi pemerintahan kepala-kepala yang berhaluan kebenaran, yaitu seperti menghilangkan perjalanan adat dan syarak. Hal ini berakibat merusak balai balerong, mesjid dan lain-lainnya. Kemudian yang dimaksud dengan dago-dagi adalah sudah melakukan perlawanan terhadap jalan yang tidak patut dilawan. Jika seseorang melawan perintah adat maka hukumannya adalah (di)buang selain diberikan denda. Ada beberapa macam bentuk buang dalam undang-undang nan salapan.

  1. Buang Sirih, yaitu yang bersalah tidak dibawa sehilir semudik selama kesalahannya belum ditebusinya.
  2. Buang bilah, yaitu seperti bilah atau kayu yang dibakar. Kayunya habis tetapi abunya dipergunakan untuk keperluan lain, misalnya pupuk.
  3. Buang Tengkarang, aritnya tidak dapat dipakai lagi sebab kesalahannya amat besar, sehingga ia tidak dibawa lagi seadat selimbago.

Menurut Ibrahim, hukum buang dapat dikategorikan menjadi buang siriah, buang biduak, buang tingkarang, dan buang daki. Menurut M. Arif Dt. Bijo Nan Hitam, dalam wilayah nagari Koto Nan Gadang hukum buang dibagi menjadi 6 (enam) yaitu: buang bilah, buang buluah, buang hukum, buang siriah, buang tingkaran, dan buang bidak. Penulis di sini mengambil istilah yang diberikan oleh Datuak Tuah dan Datuak Bijo Nan Hitam, yaitu buang bilah. Buang bilah merupakang buang bagi yang bersalah saja, atau sebilah. Menurut M. Arif Dt Bijo nan Hitam, ada bentuk hukuman yang sama dengan hal ini adalah buang buluah, atau buang serumpun. Misalnya, terjadi kawin satu suku dalam satu nagari, maka satu keluarga akan dibuang. Hal lain yang dapat diperhatikan bahwa kawin sesuku berlain nagari adalah dibolehkan. Secara sederhana dapat dipahami bahwa hukum buang dapat diartikan sebagai bentuk tidak dipedulikan, tidak diikut sertakan, atau dipencilkan dari kehidupan bermasyarakat. Untuk hukuman yang berat, seperti buang putus, atau buang tingkaran, terdakwa benar-benar diusir dari kampung.

ekspresionis

Sumber: http://sekarimage.blogdetik.com

III

Dalam cerita Luka Yang Indah, Man dan Timah telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang mereka lakukan adalah menentang kepala-kepala kebenaran. Kepala kebenaran yang dapat dikatakan menurut cerita adalah melawan orang tua , mamak dan pengulu. Sehingga berakibat menghilangkan perjalanan adat. Perhatikan kutipan berikut:

Dulu, untuk menikah mereka sangatlah susah, orangtua Timah tidak mau bermenantu orang miskin yang hanya pandai memegang cangkul dan tali kerbau saja. Tapi cinta telah mempertemukan mereka. Seperti anak-anak muda seumurnnya, mereka pun bersumpah setia. Di mana tumbuh disiangi, di mana melintang dihadapi. Apapun yang terjadi mereka akan sehidup semati. (hal. 34)

Orang tua Timah tidak setuju, sehingga bundo kanduang dan niniak mamak tidak akan dapat melangsungkan perkawinan mereka, karena masalah perkawinan bukanlah masalah individu melainkan masalah keluarga dan kampung. Dalam menentukan siapa yang pantas dan yang patut untuk dijadikan suami si anak, ada juga nilai-nilai tersembunyi yang mengaturnya, dan hal ini tidak dibicarakan dalam pembahasan ini. Kerasnya hati Timah dan Man mengakibatkan mereka melawan, sehingga menyebabkan adat tidak dapat dilangsungkan. Akhirnya, Timah dibuang keluarganya. Keputusan membuang Timah dikarenakan melawan adat terdapat dalam kutipan berikut:

“Menikah lah kalian, tapi ingat Timah, jangan pernah lagi kau injakkan kaki ke rumah ini lagi, biarlah … kuanggap kau telah mati.” (hal. 34)

Man kemudian menikahi Timah dan membawanya hidup dirumahnya. Mereka tinggal di sebuah rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Tindakan yang dilakukan oleh Man dan Timah dalam istilah adat disebut dengan kawin lari. Kawin lari merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap aturan, sistem atau adat di Minangkabau. Buang adalah bentuk hukuman yang akan diterima. Untuk kasus ini, di Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, menurut M. Arif Dt. Bijo nan Hitam, dijatuhi hukuman buang bilah dan denda yang disepakati jika mereka ingin kembali ke kampung. Untuk Nagari lain di Minangkabau bisa saja dendanya ditetapkan seperti setahil sepaha. Setahil 16 amah dan sepaha itu sebanyak 4 ameh. Hukuman ini berlaku selama 2 sampai tiga tahun. Setelah 2 atau 3 tahun mereka dapat kembali ke kampung, yang artinya menyesali segala kesalahan yang telah dilakukan. Seperti ungkapan berikut

Kaki lah talangkahan

Muluk lah talampauan

Tangan lah tajombo

Namun sesuai dengan cerita, Man dan Timah tidak menyesali perbuatannya dan tidak kembali ke kampung, atau ke dalam sistem adat. Mereka telah dibuang sepanjang adat. Timah dibuang oleh kaumnya, dan tentunya Man juga dibuang oleh kaumnya. Keduanya telah membuat malu kaum masing-masing.

Jika kita membaca mengenai sistem kekerabatan dan sistem sosial dalam masyarakat Minangkabau, tidak mungkin Man dan Timah diperbiarkan menghadapi kesusahan. Kemana saudara, kemana dunsanak, kemana orang kampung. Menurut Mansoer dkk (1970: 6). dilihat dari sistem kekerabatan di Minangkabau maka tidak mungkin dan tidak akan pernah orang Minangkabau hidup sebatang kara dan terlantar. Secara teoritis di manapun ia berada, akan selalu dapat dijumpainya keluarga sekaum, sepesukuan atau belahan, yang moril kewajibannya menampung anggota sekaum, sepesukuan dan belahan itu. Tapi itulah yang terjadi, mereka menjalani hukuman buang bilah, orang tak hendak membantu mereka. Alur tak dapat diturut. Di tengah kampung menjadi cemooh. Malu telah hilang. Selayaknya dalam kehidupan matriliniar Minangkabau, mereka dapat hidup di atas rumah gadang, berdampingan dengan sanak-saudara dan kaum mereka. Pada prinsipnya sistem nilai yang berlaku di Minangkabau adalah pribadi adalah milik keluarga, keluarga adalah milik suku, suku adalah milik kaum dan seterusnya. Implementasinya, masalah pribadi akan menjadi masalah kaum sampai ke masalah nagari. Tidak ada kusut yang tidak akan selesai. Tidak kayu jenjang dikeping. Tidak kayu rotan pun jadi.

Perkawinan sebagai sebuah pranata (institutions) sosial tentunya memiliki pola baku mana yang bersifat resmi dan tidak bersifat resmi. Pranata ini merupakan hasil konvensi dari kelompok yang memakainya yang mana didalamnya diatur mengenai tingkah laku sosial, adat-istiadat dan norma. Semuanya ini diatur untuk memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam masyarakat. Apabila salah seorang individu atau beberapa melakukan sesuatu di luar pola yang ditetapkan, tentunya hal ini akan mengganggu tujuan bersama, dan mungkin menggangu sistem yang telah ada. Buang bilah merupakan sebuah bentuk hukuman bagi yang keluar dari pola-pola yang telah ada.

Menurut pandangan psikologi, buang bilah merupakan sebuah bentuk sikap sosial yang erat hubungannya dengan norma dan sitem nilai yang terdapat dalam kelompok, tempat individu tertentu mejadi anggota atau berhasrat mengadakan hubungan struktural organisatoris dan atau berhasrat mengadakan hubungan psikologis. Man dan Timah merasa terhukum hanya pada lingkungan sosial kaumnya masing-masing, tapi tidak jika mereka berada di luar dari pada kaumnya. Secara timbal balik, jika seseorang meninggalkan kaumnya, maka artinya mereka memutuskan akses-akses yang mungkin dapat didapatkannya. Kemudian dijelaskan lagi bahwa meninggalkan kaum ini bisa saja secara materil atau secara psikologis.

Secara psikologis, Man tidak akan berani meminta bantuan kepada keluarga dan kaumnya dalam masalahnya dengan Timah. Pantanglah bagi seorang Minang, apabila telah melawan kemudian kembali meminta bantuan dari orang-orang yang dilawan. Malu adalah tantangannya. Malu adalah harga diri orang Minangkabau. Keluarga Timah juga tidak akan datang untuk membantu anak kemenakannya yang sedang sakit gila. Secara materil pun tidak akan terjadi. Begitulah hukum buang. Namun buang bilah hanya berlaku selama dua atau tiga tahun, jika ingin kembali tentu diterima dengan proses proses yang lazim juga. Yang bersalah mendatangi atau dijeput secara adat, mengakui kesalahan dan melaksanakan denda. Denda dibayar kepada kaum dan kepada nagari. Denda ini artinya untuk menebus kesalahan yang telah mempermalukan keluarga, kaum dan nagari. Jika tidak maka berlajut kepada buang putus atau buang biduak. Tidak ada lagi hubungan. Dalam cerita Man dan Timah tidak kembali ke adat setelah lewat batas waktu 3 tahun.

Perubahan anggapan (persepsi) yang didapati oleh Man terhadap keluarga dan kaumnya dalam menjalani hukuman buang bilah, mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai secara individu dan kemudian mempengaruhi sikap sosialnya. Orang yang dikucilkan oleh masyarakat, akhirnya juga tidak simpati terhadap masyarakat dan cendrung memiliki nilai yang bersifat individual dan antipati. Man seolah tercerabut dari sistem sosial yang ada, mungkin dia ada tapi dianggap tidak ada oleh orang banyak.. Contoh yang jelas adalah orang gila yang tidak memiliki malu. Dia tidak akan diukur dengan nilai-nilai yang lazim di masyarakat. Orang hanya akan memaklumi saja. Orang gila itu memiliki nilainya sendiri. Jika dilanjutkan, pembunuhan Man terhadap istrinya, juga tidak akan dituntut oleh keluarganya, karena dia telah dibuang, dan dia juga tidak akan kembali.

Seperti biasa, Man menyuapi istirinya. Memberi minum dan kini memberi campuran tuba. Menjelang pagi, Timah mengejang, mengelepar, lalu pergi untuk selama-lamanya. Man menangis mengiringi kepergian istrinya. Walaupun bagaimanapun, Timah perempuan yang dicintainya. (hal. 38)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal

  1. Buang bilah merupakan bentuk hukuman bagi oknum yang telah membuat malu keluarga, kaum dan nagari.
  2. Hukum buang bilah diberikan batas waktu dan diberikan ruang untuk kembali. Pilihan bisa saja tidak kembali, atau kembali dengan proses adat pula.
  3. Buang bilah adalah penjara malu, malu merupakan hal yang melekat kepada identitas keminangkabauan. Kalau tidak punya malu, bukanlah lagi orang Minangkabau. Jika malu sudah hilang banyak hal yang tidak patut dan tidak benar dapat terlakukan, seperti kawin lari yang berakhir dengan pembunuhan.
  4. Buang bilah adalah ceriminan Adat salingka Nagari.

IV

Pesan moral yang dapat dilihat dari cerita pendek ini adalah begitu pentingnya menjaga malu, raso dibaok turun, pareso dibaok nayiak, sebagai identitas keminangkabauan. Jika tidak pandai menjaga malu diri, keluarga, dan kaum, bisa berakibat terbuang dari wilayah adat. Orang yang tidak memperdulikan rasa malu itu, dan menganggap itu tidak penting untuk dipertimbangkan, maka artinya dia sendiri yang telah membuang dirinya dari alam Minangkabau.

Ditulis Oleh: Novel Noviadri

Sumber: (http://nofello.blogspot.com/2014/01/buang-bilah-dalam-luka-yang-indah-karya.html)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s