Mitos dan Modernitas Korea

Standard
Mitos dan Modernitas Korea

Mitos dan Modernitas Korea

(Analisis terhadap Cerpen “Kisah Singkat Tentang Pekarangan”, Karya Shin Kyong Suk)

 

Oleh: Azwar Sutan Malaka

 Korea4

Sumber foto dari fb Elly Delfia

“…mitos dan modernitas ibarat dua sisi mata uang yang selalu saja tidak bisa dipisahkan. Yang pertama (mitos) selalu mengiringi yang kedua (modernitas) dan yang kedua seolah-olah tidak bisa berdiri tanpa yang pertama…”

Contoh sederhana tentang pernyataan di atas adalah seperti menjadi pentingnya kulit putih bagi perempuan. Atau menjadi perlunya memiliki badan kekar bagi lelaki. Mitos yang dibangun dalam dunia modern adalah bahwa perempuan yang catik haruslah memiliki kulit yang putih atau lelaki yang menarik adalah lelaki yang memiliki badan kekar. Padahal yang sebenarnya adalah cantik tidak harus berkulit putih ataupun pria yang menarik tidak harus berbadan kekar. Mitos seperti di atas perlu dibangun oleh industri-industri yang berkepentingan untuk menjual produk mereka seperti pemutih untuk wanita atau vitamin agar pria berbadan kekar. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pemilik industri bisa mendapatkan materi yang sebesar-besarnya dari kehidupan masyarakat.

Apa yang diuraikan di atas adalah bentuk-bentuk mitos yang sengaja di bangun di zaman modern. Oleh sebab itu jangan menyimpulkan bahwa masyarakat modern itu adalah masyarakat yang selalu berpikir rasional. Jangan pula mengira kalau orang-orang modern tidak bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat di luar nalar manusia. Setidaknya pesan itulah yang disampaikan oleh tulisan di atas. Hal lain yang bisa dilihat bahwa mitos masih melekat di dalam kehidupan masyarakat modern adalah seperti di dalam cerita pendek yang berjudul “Kisah Singkat Tentang Pekarangan” (Selanjunya ditulis KSTP), karya penulis Korea, Shin Kyong Suk.

Korea3

Sumber foto fb Roni Ronidin

Mitos di dalam cerita ini bukan mitos seperti yang diungkapkan di atas. Akan tetapi mitos yang ada dalam dunia yang diciptakan oleh pengarang. Cerita ini berkisah tentang kehilangan yang akan menjadi indah ketika diceritakan. Itulah kesan pertama ketika membaca cerita pendek Shin Kyong Suk ini. KSTP mengungkapkan luka batin seorang penulis karena kehilangan adiknya. Pengarang cerpen ini, dari awal sudah menyampaikan kisahnya dalam satu kalimat simbolik. ”Si peminum susu itu kini sudah pergi namun pengantar susu masih mengirim susunya.” Cara itu tentu saja menggambarkan kecerdasan seorang penulis membawa pembaca untuk masuk ke dalam dunia yang diciptakannya.

Kalimat singkat itu memberikan gambaran tentang keseluruhan cerita yang berkisah tentang kehilangan tokoh utama dan kenangan-kenangannya terhadap seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. “Si peminum susu” merupakan simbol dari seseorang yang erat hubungannya dengan tokoh utama, dua kata “sudah pergi” menyatakan bahwa seseorang itu sudah mati atau tidak ada dan “pengantar susu masih mengirimi susunya”, sebagai simbol bahwa kenangan tentang seseorang itu masih sering menjumpai tokoh utama.

Latar sosial dalam cerita ini berkisah tentang masyarakat kelas menengah Korea. Hal itu tercermin dalam latar tempat, dimana tokoh utama tinggal di apartemen sederhana yang dia sewa untuk tempat tinggalnya. Latar waktu, walaupun tidak di sebutkan secara jelas, tentu saja tidak mengurangi keindahan kisah ini, karena dia memang tidak berkisah tentang sejarah yang memang harus memiliki latar waktu yang jelas. Selain latar yang mendukung sekaligus membangun cerita, penokohan juga memperkuat kisah tentang kenangan itu sendiri. Tokoh utama yang merupakan seorang penulis, menjadikan perasaannya sangat sensitif. Sehingga dia dengan fasih mengakui bahwa aktivitasnya menulis pun adalah untuk manahan kesedihan karena kehilangan. Cerita itu terasa semakin meyakinkan ketika diceritakan dalam sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca seperti mendengarkan sebuah kesaksian pilu dari tokoh utama. Sementara itu alur cerita yang zig-zag (maju-mundur-maju) membuat kisah ini menjadi tidak monoton sehingga pembaca terbawa kepada tema perasaan pedihnya kehilangan sebagaimana kepedihan yang dirasakan oleh tokoh utama.

Korea5

Sumber foto fb Elly Delfia

Berhubungan dengan mitos di dalam cerita, barangkali penulis tidak ingin mengukuhkan mitos di dalam kehidupan modern. Akan tetapi dia menjadi salah satu pemanis di dalam cerita selain luka-luka yang dikisahkan. Hal ini menunjukkan betapa pengarang -sekalipun hidup di dunia modern- tidak bisa melepaskan dirinya dari mitos-mitos. Hal itu barangkali karena begitu banyaknya mitos yang diciptakan manusia, sejak zaman tradisional hingga zaman modern. Kecurigaan ini semakin beralasan ketika dihubungkan dengan paragraph pertama tulisan ini. Mitos akan selalu diproduksi untuk menjadi bagian bagi kehidupan manusia. Baik untuk tujuan materi ataupun untuk tujuan mengukuhkan sesuatu seeperti di dalam cerita ini, mitos digunakan untuk mengukuhkan betapa pedihnya luka dan betapa indah kisah luka itu ketika diceritakan.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa masyarakat tetap memiliki sisi tradisional yang melekat dalam kehidupan mereka. Salah satu sisi tradisional itu adalah kepercayaan tentang perlunya mitos untuk mengukuhkan sesuatu kepentingan tertentu. Baik itu materi ataupun hal lain yang dirasa perlu oleh manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s