Mahaluka Perjuangan

Standard
Novel Hidup Adalah Perjuangan Karya Azwar Sutan Malaka

Novel Hidup Adalah Perjuangan Karya Azwar Sutan Malaka

Pengarang  : Azwar Sutan Malaka
Penerbit      : Bening Divapres
Tebal           : 372 hal
Editor           : Sri Handini
Resensiator : M. Adioska

Novel karya putra Minang, Azwar Sutan Malaka ini merupakan sebuah karya fiksi yang berlatar belakang lokalitas Minangkabau. Namun pengarang justru menyembunyikannya dalam selubung fiksi yang indah. Karena cerita ini bukan kisah sejarah, dan bukan kisah nyata, maka menurut saya hal itu sah-sah saja untuk sebuah karya fiksi.

Cerita ini mengangkat seorang tokoh bernama Alif. Ia tinggal di Negeri Purnama. Dinamakan Negeri Purnama karena konon di negeri itu pernah berdiri sebuah kerajaan dengan nama yang sama, Kerajaan Purnama dengan pusat pemerintahannya bernama Istana Purnama. Negeri itu menganut sistem pemerintahan matrilineal dimana perempuan memegang peranan yang sangat penting. Perempuan mempunyai hak untuk mewarisi harta pusaka, baik tanah, sawah, rumah dan harta warisan lainnya. Sementara kaum adam bertindak sebagai penjaga. Tak punya hak waris.

Alif, diberi gelar Raja Muda. Pemberian gelar sudah lumrah di negeri itu. Karena memang demikianlah kebiasaan rakyatnya. Seorang lelaki yang sudah menikah wajib diberi gelar. Namun gelar Raja Muda bukanlah didapat lantaran Alif sudah menikah, karena sebenarnya ia belum menikah. Tetapi ada pengecualian untuk gelar yang diberikan karena adat. Ia dikukuhkan sebagai orang yang memegang gelar Raja Muda sebab di pundaknya juga dibebankan sebuah tanggung jawab sebagai pemangku adat sekaligus penjaga harta pusaka yang salah satunya adalah Istana Purnama.

Maka pada suatu hari, datanglah seorang investor, Frans. Bermaksud menjadikan Istana Purnama sebagai tempat wisata. Istana akan dikelola untuk kepentingan umum, rakyatpun akan kian sejahtera lantaran pengunjung akan datang berduyun. Ekonomi akan menggeliat. Paling tidak, demikianlah perhitungan Frans.

Tapi Alif dengan tegas menolak, karena bagaimanapun kewajibannya adalah menjaga istana. Frans meradang. Tak bisa dengan kata manis, ia ganti dengan cara sadis.

Alif tetap pada pendiriannya. Tidak ada kata kompromi. Istana adalah harga mati. Hingga pada suatu hari, ia dijebak oleh Frans. Frans mengundang bicara empat mata, nyatanya ia diberondong senjata. Pengawalnya dibunuh, ia terluka. Ia mampu menyelamatkan diri. Berlari melalui lorong, lalu ke jalanan. Bukan sekedar pelarian biasa,  tapi pelarian panjang, awal sebuah perjuangan mempertahankan istana.

Mengambil latar Negeri Purnama, sebuah negeri di antah barantah, Azwar Sutan Malaka membangun sebuah cerita dengan apik. Rangkaian cerita terasa padu dengan alur yang terkadang cepat, terkadang juga bisa melambat. Dilain sisi, pemilihan nama latar tempat memberikan kesan lain. Para pembaca seakan dibawa mengarungi negeri dongeng atau mungkin bisa juga disebut dongeng modern-. Bagaimana tidak, pemilihan nama daerah atau tempat terkesan hanya berada di wilayah rekaan. Sebut saja Negeri Purnama dengan pusat Istana Purnama, Negeri Jalan Bumi dengan pusat Istana Jalan Bumi, Kota Pintu Angin dengan Menara Waktu-nya dan nama lain yang tetap terkesan mendongeng.

Namun yang lebih menarik dari semuanya adalah adanya unsur budaya yang padat dalam cerita tersebut. Dan budaya yang dipaparkan tersebut persis sama dengan budaya Minangkabau. Sebagai contoh, pemerintahan yang memakai sistem matrilineal, pemberian gelar yang diberlakukan bagi laki-laki yang sudah menikah atau yang belum menikah tetapi dikukuhkan secara adat.  Dalam budaya Minangkabau hal ini dikenal dengan istilah ketek banamo gadang bagala (waktu kecil dipanggil nama, setelah besar diberi gelar)

Selain budaya, istilah yang digunakan dalam novel ini juga banyak memakai istilah dari Minangkabau, seperti Silek Kumango (Salah satu aliran silat tradisional Minang), Randai, Saluang dan istilah lainnya. Dan sebagai catatan, semua budaya dan istilah yang dipakai dalam novel ini adalah benar menurut budaya dan istilah Minangkabau.

Di lain sisi, membaca Hidup Adalah Perjuangan, seperti mencerminkan diri sendiri terhadap fenomena yang sudah, sedang dan –mungkin- akan tetap berlaku dimasa yang akan datang. Sebuah gejala dimana hal yang berbau budaya dan kebudayaan senantiasa di perjual belikan atas nama hidup yang lebih modern. Tak jarang ditemukan saat ini sepetak sawah dijual untuk dijadikan perumahan, bangunan lama di renovasi jadi pusat keramaian, atau pandam diubah menjadi taman bermain. Sebuah modernisasi yang melalaikan unsur kebiasaan atau budaya masyarakat lama.

Mengambil sebuah Istana sebagai pangkal sebuah cerita, Azwar Sutan Malaka tampak dengan sengaja menggelitik kesadaran akan budaya para pembacanya. Melalui tokoh utamanya, novel ini mengisahkan keteguhan hati seorang anak negeri Purnama untuk melindungi Istana yang telah di warisinya turun temurun. Harta tak menyilaukan matanya. Senjata tak menyiutkannya nyalinya.

Tak hanya berbicara tentang keteguhan hati seorang anak di Negeri Purnama tersebut, novel ini pun diwarnai dengan drama percintaan pelaku utamanya. Bukan cinta yang berjalan manis hingga ke ujung, tetapi cinta dengan segala hal yang melekat padanya; bahagia, kecewa, dan kehilangan.

Bagi pembaca yang menyukai petualangan di negeri antah barantah, barangkali novel ini mampu memuaskan dahaganya.
Resensiator: M. Adioska adalah anggota FLP Sumatera Barat, kini menjadi Guru di Bukittinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s