Kongres Minangkabau, Musyawarah Seniman dan Pilkada

Standard
Kongres Minangkabau, Musyawarah Seniman dan Pilkada

Masjid_Raya_Padang_3

Bertahun-tahun merantau meninggalkan Minangkabau, membuat kami yang jauh ini hanya bisa melihat-lihat saja dinamika politik, agama dan budaya di Ranah Minang. Ada beberapa hal di tahun 2015 ini yang saya tunggu dari Ranah Minang; Kongres Minangkabau (katanya 17 Juni 2015), Musyawarah Seniman Sumatera Barat (Forum Silaturahmi Seniman Sumatera Barat (FSS-SB) mengultimatum Tim 9 agar menggelar musyawarah seniman Sumatera Barat dalam rentang waktu 15 hari ke depan – sekarang bulan Juni), dan Pilkaka Serentak pemilihan Gubernur, Walikota/Bupati pada Desember 2015 mendatang.

Kongres Minangkabau saya tunggu-tunggu karena acara itu konon kabarnya akan mendorong untuk mengubah Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Dorongan untuk menjadi Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) menarik karena katanya DIM adalah obat bagi Minangkabau yang sakit, selain itu sepertinya akan menjadikan Minangkabau seperti provinsi syariah seperti Provinsi Aceh Darussalam. Saya menunggu apakah kongres ini akan mendorong Minangkabau akan kembali pada zaman Paderi nantinya. Apakah kongres ini tidak menyiramkan minyak ke pada sekam yang di dalamnya menyimpan api? untuk mendapatkan jawaban itu makanya saya tunggu kongres ini.

Musyawarah Seniman Sumatera Barat saya tunggu-tunggu, karena musyawarah ini akan menentukan bagaimana kesenian Sumatera Barat secara struktural beberapa tahun ke depan. Secara struktural karena dalam acara ini akan dibentuk kepengurusan Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) yang baru, setelah bertahun-tahun tidak terdengar kabarnya. Pada satu sisi dewan kesenian ini perlu untuk untuk menjembatani antara pemerintah daerah dengan seniman. Selain itu dewan kesenian ini perlu untuk memaksa pemerintah agar berpartisipasi mengembangkan kesenian. Tapi pada sisi lain saya rasa dewan kesenian ini tidak perlu juga kalau hanya akan ikut-ikutan menjadikan kegiatan kesenian seperti kegiatan yang erat hubungannya dengan birokrasi, seperti mengajak-ajak seniman “main proyek” atau menenderkan proyek-proyek kesenian di Sumatera Barat atau dalam rangka mendukung salah satu calon Pimpinan Daerah.

Pilakada serentak saya tunggu-tunggu karena nanti akan dilihat siapa lagi kah yang akan memimpin Ranah Minang lima tahun ke depan. Apakah pemimpin-pemimpin yang baik, yang bekerja untuk kesejahteraan rakyat Sumatera Barat, mengangkat marwah Minangkabau atau hanya pemimpin yang bernafsu jadi pimpinan dalam rangka merampok kekayaan Sumatera Barat. Atau pemimpin-pemimpin yang sedang dalam misi tertentu untuk menjadikan Sumatera Barat apa atau bagaimana.

Ketiga hal itu walau jelas sekali merupakan kegiatan-kegiatan terpisah, tetapi saya boleh menduga jangan-jangan semua itu tidak terpisah. Mungkinkah Kongres Minangkabau hanya acara kumpul-kumpul untuk menggiring suara masyarakat Minangkabau untuk memilih salah satu calon kepala daerah, misalnya. Mungkinkah Musyawarah Seniman Sumatera Barat juga merupakan agenda politis untuk mengangkat salah satu pimpinan daerah, misalnya. Ini hanya dugaan, mudah-mudahan yang sebenarnya tidak seperti dugaan saya, yang melihat dari jauh saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s