Sastrawan Berdedikasi

Standard
Sastrawan Berdedikasi
Setelah mendengar ultimatum Forum Silaturrahmi Seniman Sumatera Barat (FSS SB) kepada tim sembilan untuk melaksanakan musyawarah seniman Sumatera Barat, saya rajin mendengar-dengar berita bagaimana kelanjutan musyawarah seniman itu. Tidak hanya rajin membaca-baca cerita tentang Musyawarah Seniman Sumatera Barat, tetapi saya juga ikut-ikutan menerka siapa yang akan menjadi Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB). Sesekali melintas dalam pikiran saya nama tokoh sastra Sumatera Barat yang bisa dicalonkan memimpin lembaga kesenian di Ranah Minang itu. Saya rasa Da Gus pantas untuk menjadi Ketua DKSB. Tapi saya justru ingat tulisan singkat saya di media sosial beberapa tahun lalu.

Tulisan itu awalnya saya tulis 29 Juni 2010 yang lalu, sudah 5 tahun tulisan ada di media sosial pribadi saya. Tapi inti tulisan ini masih sangat relevan untuk kita, atau setidaknya untuk saya. Makanya saya revisi tulisan ini untuk bisa disajikan kepada pembaca. “Sastrawan Berdedikasi” sebagaimana judul tulisan ini saya alamatkan untuk penulis senior Gus Tf Sakai atau Gus Tf (nama untuk puisi-puisi yang beliau tulis). Tulisan ini saya tulis untuk mengingatkan saya pribadi atau penulis-penulis muda lainnya tentang arti dedikasi kepada profesi. Tidak banyak penulis di Indonesia yang bisa kaya dari kegiatan tulis menulis, tetapi di dunia yang sudah serba “hebat” ini ada saja orang-orang yang mendedikasikan diri untuk dunia sastra ini. Itulah Gus Tf Sakai diantara sedikit orang yang mendedikasikan diri untuk sastra.

Gus Tf Sakai
Sumber foto: thejakartapos
Da Gus (begitu beliau biasa dipanggil) bukan saya yang menyematkan gelar Sastrawan Berdedikasi untuk beliau. Tetapi gelar ini diberikan oleh Kompas pada tanggal 28 Juni 2010 bertepatan dengan peringatan ulang tahun Kompas yang ke 45 tahun. Pada waktu itu diumumkan beberapa penghargaan di antaranya Cerpen Terbaik 2009, Ilustrasi Cerpen Terbaik 2009, Cendekiawan Berdedikasi dan Sastrawan Berdedikasi.

Pada Kategori terakhir itu muncul nama Gus Tf Sakai, cerpenis Sumatera Barat, Payakumbuh. Dengan terpilihnya Gus Tf Sakai sebagai sastrawan berdedikasi tentu saja hal itu tidak mengherankan bagi khalayak sastra Sumatera Barat ataupun Indonesia, karena Gus Tf Sakai memang pantas menerima penghargaan itu jauh-jauh hari sebelum Kompas memberikan penghargaan itu. Gus Tf Sakai adalah salah satu contoh dari anak-anak muda penulis, yang berkarya karena “isi” bukan karena popularitas. Tentang yang terakhir ini tentu saja banyak orang yang setuju, Da Gus tentu tidak latah popularitas seperti kita anak muda sekarang yang baru saja akan berkarya sudah posting di facebokk atau di twitter. Khalayak facebookiyah tentu baru beberapa waktu ini bisa menyapa Da Gus di media sosial itu.

Pada suatu kesempatan, ketika Mas Koko Sudarmoko baru saja pulang dari Belanda, (mungkin dana sisa-sisa beasiswa beliau) Mas Koko Sudarmoko dkk menghadirkan Gus Tf Sakai pada sebuah acara di Fakultas Sastra. dalam acara itu Da Gus, begitu Sastrawan Berdedikasi itu sering kita panggil pernah menuturkan pandangan beliau tentang keterlibatan beliau yang total di sastra. Menurut Da Gus bersastra itu tidak perlu ideologi ini itu, sastra tidak perlu ditunggangi ideologi lain yang justru akan memberatkan karya sastra sendiri.

Pada lain kesempatan, tentang konsistensi beliau di dunia sastra (bahkan beliau tidak mau “nyambi” jadi kritikus sastra), saya meminta kesediaan beliau untuk memberi kata pengantar untuk novel saya, namun Da Gus menjawab bahwa hal itu tidak bisa beliau lakukan karena beliau tidak akan mencampurkan antara penulis sastra dan kritikus sastra. Kata beliau, hal itu tidak hanya untuk novel saya, tetapi banyak teman-teman sastrawan lain yang meminta kata pengantar kepada beliau juga tidak Da Gus perkenankan.

Sekarang, dalam situasi kesenian Ranah Minang yang ingin mencari pimpinan Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) saya tergelitik untuk mencalonkan Da Gus Tf Sakai sebagai bakal calon ketua. Sepanjang pemikiran saya, orang-orang seperti Da Gus inilah yang dibutuhkan untuk memimpin  DKSB. Tapi tulisan yang saya tulis ini mungkin menjadi jawaban atas lintasan pikiran saya itu. Mungkin beliau tidak akan bersedia dicalonkan untuk mengurusi organisasi seniman itu. Benar apa yang telah disematkan Kompas pada Da Gus sebagai sastrawan berdedikasi. Beliau telah membuktikan dedikasinya ke dunia sastra, dengan demikian saya urungkan saja niat untuk mencalonkan Da Gus menjadi ketua DKSB itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s