Jejak Luka (Dua)

Standard

Jejak Luka

Tapi ini sebuah pilihan, aku lebih memilih untuk mati berkalang tanah karena itu lebih baik dari pada melihat kehormatan negeri ini dikoyak oleh manusia-manusia berhati singa. Bukankah hidup mulia atau mati sebagai syuhada telah tertanam di lubuk hatiku sejak lama.

“Bapakmu akan kembali anakku.”

Maya  berujar dengan suara berat sembari meraih Nisa dari pangkuanku. Disalaminya tanganku,  lalu diciumnya. Satu titik, dua titik  air matanya  jatuh  di tanganku. Dengan berat hati  aku pergi  meninggalkan  orang-orang yang kucintai. Aku menuju pintu yang telah digedor-gedor kompeni.

Karena lama pintu tak dibuka, akhirnya mereka menghantam paksa pintu berukir kalauak paku itu. Sekali, dua kali terdegar teriakan mengiringi hantam kompeni melabrak pintu. Pintu tua yang hanya dipasak dengan kayu itu tak berdaya menghadapi tendangan mereka, seketika itu pintu hancur sehingga terbuka. Dari luar cahaya redup rembulan menyusup ke dalam rumah yang hanya di terangi lampu togok.

Aku menyaksikan satu persatu kompeni berhamburan ke dalam rumah. Komendur Westenenk memerintahkan anak buahnya untuk menggeladah rumah.

“Segera geledah rumah ini !”

Kata-kata itu sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk memporak porandakan apa yang ada. Memunguti apa yang bisa mereka bawa. Seperti singa menerkam gerombolan kijang yang sudah tidak berdaya. Bahkan nasi dan ikan panggang dalam songkok pun mereka bawa.

“Tak usah digeledah rumahku, ini aku yang kalian cari.”

Aku menghadapi mereka, sesaat mereka berhenti mengacak-acak rumah. Tapi kata-kataku tidak mempan menghalangi kebejatan mereka. Melihat wajahku, Komendur Westenek mengeluarkan segala kosakata kotor yang pernah dimilikinya.
“Anjing…pribumi laknat…keparat….Haji, Mana Ayahmu Abdul Manan si pengecut itu? sudah berhari-hari kami mencarinya, tapi dia seperti hilang ditelan bumi, kemana kau sembunyikan ayahmu? kalau memang lelaki hadapi senapanku ini…anjing…!”

Aku redam kemarahan yang tersulut oleh kata-kata kotor Komendur Westenenk. Aku tidak mau membalasnya dengan makian, karena aku tahu makian yang akan kulontarkan hanya akan merendahkan derajatku. Setelah kususun kata-kata yang cocok untuk menjawabnya. Akhirnya kata-kata inilah yang keluar dari mulutku.

“Aku tidak menyembunyikannya, dan dia tidak pernah pula hendak bersembunyi dari kalian. Dia ada di Kampung Tangah, di rumah istrinya.”

Komendur Westenenk memberi isyarat pada anak buahnya untuk berhenti menjarah rumahku. Seketika itu juga para serdadu itu berhenti dan berdiri di belakang Komendur Westenenk.

“Kami sudah mencari sampai ke Kampung Tangah, tapi dia tidak ada di rumah, sekarang kau ikut kami, kau tunjukkan dimana persembunyiannya.”

Saat itu aku tidak dapat mengelak, bila aku terus menolak, aku khawatir anak dan istriku akan menjadi sasaran keberingasan mereka. Biarlah aku yang mengalah, harus bagaimana lagi, saat-saat seperti ini memang tidak banyak pilihan yang harus dijalani.
“Sebentar, aku ganti pakaian dulu.”

Tanpa persetujuan mereka, aku tinggalkan kaki tangan iblis itu di ruangan tengah Rumah Gadang. Aku masuk ke dalam kamar dengan alasan untuk menukar baju. Tapi sebenarnya aku berat hati untuk meninggalkan anakku. Aku meminta Maya untuk mengambilkan pakaian dalam lemari.

“Maya, tolong ambilkan baju putih di dalam lemari.”

Maya segera beranjak mengambil baju yang kupinta. Nisa ternyata menangis, dia turun dari tempat tidur lalu memegangi tanganku. Aku tidak tahu apalagi yang harus kuperbuat, kucium kepala Nisa, mungkin ini kali terakhir aku menciumnya, entahlah…entah apa yang akan terjadi sejam, dua jam, sehari, seminggu, atau beberapa waktu ke depan.“Ayah…jangan pergi,” pinta anak itu.

Rengekan Nisa semakin menyayat hatiku, tapi apa boleh buat, aku harus pergi. Setelah memakai pakaian yang diserahkan Maya. Aku tinggalkan orang-orang yang kukasihi itu.  Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s