Jejak Luka (Satu)

Standard

Jejak Luka
Di dalam penjara aku seperti tidak memiliki keyakinan untuk mampu bertahan hidup. Suasana yang sumpek, kotor, dan beringas membuat hari ke hari yang kulalui terasa hanya untuk memperdalam duka. Sungguh waktu itu adalah waktu-waktu yang melemahkan diri, sehingga iblis leluasa memperdaya untuk memperturutkan resah hati yang luka. Kadang tumbuh pertanyaan yang aku sendiri malu jika mengingatnya, apakah Tuhan sudah lupa atau mungkin juga Dia sudah murka. Bahkan suatu kali muncul tuntutan mengapa kekuasaan selalu diserahkan pada manusia-manusia yang kejam dan ingin selalu menguasai dunia dengan segala isinya. Mungkinkah Tuhan yang menginginkan orang-orang itu berbuat kejam kepada manusia yang kehabisan daya. Tapi syukur, kalimat istigfar mengakhiri prasangka buruk kepada Tuhan itu.

Angin terasa berguncang dalam dada, bergemuruh mengaliri segala lorong tubuh dan kemudian mengaliri urat-urat nadi sehingga berakar dalam diri. Angin itu tidak menyejukkan dan tidak menentramkan jiwa, dan tidak pula seperti tiupan udara senja saat panas terik cahaya matahari, sehingga terasa sejuk saat menerpa muka. Tidak, sama sekali tidak sejuk tetapi angin itu, menghembuskan duka cita, meniupkan lara, sehingga terasa menyesak dan menimbulkan sengsara.

Saat itu hari Senin malam Selasa, pukul tiga dini hari saat bumi terasa hening, saat langit terlihat bening bertabur bintang berhias rembulan. Sayup-sayup terdengar derak tapak kaki serdadu serentak, menghentak-hentak ke bumi. Mereka datang membawa senapan tersandang di bahu dan kelewang menggelantung di pinggang. Di suatu titik, barisan serdadu itu berhenti, mereka bergerak mengatur formasi sesuai instruksi atasan yang memimpin rombongan. Mereka berdiri di halaman rumahku, lengkap dengan peralatan perang seperti hendak menghancurkan sebuah kekuatan besar yang mengancam kekuatan mereka. Padahal di dalam rumah ini hanya aku satu-satunya lelaki. Bersamaku seorang istri dan seorang anak kecil yang tak memiliki daya untuk memberikan perlawanan.Dari celah pintu rumah aku lihat di antara barisan serdadu itu ada Komendur Westenenk, yang sebelumnya sudah pernah aku kenal. Pastilah kontrolir itu yang memimpin rombongan serdadu ini berkunjung ke rumahku. Di sebelah Kemendur Westenenk, aku melihat Pengulu Datuk berdiri dengan pongah, lelaki pengkhianat yang memihak kepada Belanda, kaki tangan Belanda yang mencari kemewahan dan kesenangan hidup semu dari penderitaan rakyat. Dari luar, aku mendengar Pengulu Datuk memanggil-manggil namaku, dia berharap aku terjaga karena panggilannya itu.

Sebenarnya malam itu hatiku sudah cemas, dalam hati bermunculan beragam duga sangka dan rekaan petaka yang akan terjadi beberapa saat nanti. Biasanya kalau ada orang yang dijemput malam oleh kompeni, tidak akan selamat kembali ke rumah, bahkan tidak jarang banyak yang hilang, hingga pulang tinggal nama. Apalagi suasana di Nagari Kamang saat ini memang memanas. Belanda merasa dirugikan dengan pendirian pemuka-pemuka masyarakat Kamang yang tidak mau membayar blasting, bahkan sebagian pemimpin Kamang membentuk kekuatan untuk menjaga rakyat yang tidak mau  membayar blasting kepada kompeni.

Sebelum membukakan pintu, memenuhi keinginan orang-orang di luar, aku kembali ke dalam kamar. Aku temui istri dan anakku. Maya ternyata sudah terjaga, dia cemas melebihi cemas yang kurasa. Mendengar teriakan-teriakan orang dari luar, Nisa, anak semata wayang kami juga terjaga, lalu langsung menyuruk ke dalam pelukan ibunya.

“Jangan cemas, aku akan menemui mereka.”

“Hati-hati.”

“Iya, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Tapi…”

“Berdoalah semoga tidak akan terjadi hal yang buruk bagi kita.”

Maya memegang tanganku, aku tahu bahwa dia telah tahu bahwa aku sebenarnya merasakan kekhawatiran seperti apa yang dirasakannya.

“Jangan keluar dari kamar apapun yang terjadi.”

“Iya…”

“Tidur saja, kalau aku tidak kembali malam ini, mungkin ada persoalan yang harus diselesaikan.”

Aku melepaskan genggaman tangan Maya. Dengan berat hati dia akhirnya melepaskan genggamannya. Sebelum meninggalkan mereka, aku termenung, saat itu Nisa mengajukan pertanyaan yang seperti ujung pisau menusuk hatiku, seperti sembilu mengiris-ngiris kulitku, seperti belati menancap di jantungku.

“Bapak akan pergi berperang?”

Sebelum menjawab pertanyaan Nisa yang baru berusia lima tahun, pikiranku jauh melanglang buana entah kemana, mengapa  bocah sekecil itu bisa bertanya sedemikian rupa. Terasa yang bertanya itu bukan lagi anakku, tapi mewakili ribuan anak-anak yang akan kehilangan bapak ditembus peluru. Mulut Nisa hanyalah sebagai jalan lalu bagi rasa tak rela tanah yang tak ingin dinodai oleh darah peperangan.
“Bapak…, bapak…”

Nisa kecil mengguncang-guncang lenganku. Mata beningnya menatapku penuh harap. Saat melihat mata itu terasa sangat memilukan hati. Sesaat kemudian aku lihat bibir mungilnya bergetar menyimpan ratapan.
“Bapak…, kalau Bapak pergi dengan siapa Nisa belajar mengaji ?”

Aku membisu. Membisu seperti batu. Persis seperti batu karena deretan kata-katanya yang meluncur kemudian tidak dapat lagi kumaknai. Entah bilur-bilur nada penderitaan atau rintihan kepedihan. Aku tidak dapat berkomentar tentang perang yang disalahkan bidadari kecilku. Mungkin juga aku sedang mengutuki perang yang memisahkan  kasih antara manusia. Memisahkan kasih orang tua terhadap anaknya. Perang yang mencerai beraikan suami dan istrinya. Perang yang memporak porandakan peradaban, perang yang hanya menyisakan luka di sudut hati rakyat jelata.

“Bapak…kalau bapak mati siapa lagi  yang akan menyayangi Nisa, kalau Bapak mati Nisa tak punya Bapak lagi.”

Aku masih diam terpaku. Mataku  menatap lekat  wajah cantik  Nisa. Pandanganku nanar, ketika butir-butir air mata turun mengukir wajahnya. Lalu entah sadar atau tidak aku berujar dengan suara basah, seolah untuk diriku sendiri.

“Siapapun lelaki yang mencintai negeri ini akan menjadi  Bapakmu,  ketika Bapak syahid  dalam perang nanti. Siapapun perempuan yang tak rela negeri ini terjajah  akan menjadi Ibu bagimu ketika nyawa Ibumu lepas dalam perang ini.”

Nisa diam. Entah karena telah mengerti   atau tidak mengerti sama sekali dengan kata-kata penuh makna itu. Yang pasti beberapa saat kemudian aku dan Nisa berpelukan  lama sekali, seolah pelukan terakhir untuk bocah itu di negeri yang sedang  membara oleh perang ini. Aku merintih, menahan perih. Hatiku tercabik sakit, melihat kenyataan  perpisahan  dengan manusia yang aku cintai. Buah hatiku “anak kanduang sibiran tulang, ubek jariah palarai damam”  harus ditinggalkan  karena gurita penjajahan. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s