Jejak Luka (Tiga)

Standard

Jejak Luka

Aku turun dari rumah, walau berat hati tetapi kujalani juga. Di luar aku melihat Komendur  Westenenk segera menghardik, karena terlalu lama menunggu.

“Cepat..! Keparat…!”

Tapi suara Komendur Westenenk segera menurun saat melihat Nisa memegangi kakiku.

“Jangan pergi, Ayah.”

Westenenk melihat pada anakku.

“Tidak apa-apa, Anak Manis.”

Komendur itu hendak memegang pipi Nisa tapi kutahan tangannya.

“Jangan sentuh anakku dengan tangan kotormu.”

Sebenarnya Komendur Westenenk ingin marah, tapi mungkin seperti itu etika mereka atau mereka memang tidak berdaya dengan tatapan Nisa. Dia tidak mau atau tidak berani marah di depan anakku malam itu.

Saat aku benar-benar pergi, Nisa masih menangis, kini dia menangis dalam pangkuan Maya yang juga telah meneteskan air mata. Aku biarkan mereka menangis, aku sadar betapa cemasnya mereka, melihat aku dijemput malam oleh Belanda. Sebelum ini mereka tahu kalau orang-orang yang dijemput oleh kompeni malam hari, alamat akan berhadapan dengan keburukan. Kalau ada orang yang dijemput malam, bisa jadi nantinya akan pulang nama, tidak tahu entah ke mana rimbanya.

Bagian Tujuh

Sesampai di halaman, Komendur Westenenk berpikir sejenak, sepertinya dia ragu untuk mengikuti langkahnya sendiri. Atau mungkin dia juga berpikir-pikir apakah sudah benar tindakannya itu. Ah…sudahlah, mengapa pula aku pikirkan pikiran orang kafir itu. Saat dia berjalan, aku turutkan langkahnya. Di kiri dan kanan aku dikawal oleh serdadu yang berjalan dalam barisan, sementara  di belakang opas menjadi penutup barisan.

Saat aku melihat ke belakang, Nisa turun dari pangkuan ibunya. Aku berhenti, rombongan pun berhenti, barisan kompeni itu menyibak, memberi jalan pada Nisa untuk menemuiku. Aku merunduk menghapus air matanya.

“Pulanglah, Nak, jaga ibumu.”

“Bapak…kembalilah ke rumah, jangan pergi berperang, seandainya Bapak meninggal, dengan siapa kami ditinggalkan?”

“Nisa, biarlah Bapak pergi. Bapak  pasti kembali.”

Aku berjalan meninggalkan Nisa yang kini meronta-ronta dalam pegangan tangan Maya. Aku berjalan cepat, cepat-cepat meninggalkan kesedihan yang telah menyelimuti segenap jiwa. Diriku seperti tidak dalam tubuh ketika sayup-sayup sampai masih kudengar kesedihan dari tangisan Nisa. Tangisan yang menyisakan luka memanjang, menyilang dalam dada.

Tak terasa waktu-waktu kulalui dalam pilu, sehingga malam yang pongah telah beranjak ke pukul tiga. Sesekali aku memandang ke kiri dan ke kanan memperhatikan serdadu menggerakkan kelewangnya sambil berjalan, serentak dalam setiap barisan. Tidak lama berjalan akhirnya sampai di Kampung Tangah, di rumah Etek[1] Nurasiah yang kupanggil Bunda, istri muda ayahku. Sesampai di sana, aku tidak banyak bicara, aku diam di halaman sementara para serdadu membuat barisan, sebagiannya segera mengepung rumah Bunda. Kini di halaman itu sudah berjejer Komendur Westenenk dan Pengulu Datuk. Pengulu Datuk itu ingin bicara padaku, tapi kuhindari tatapan mukanya, aku benci melihat pengkhianat itu, aku jijik melihat tampangnya. Karena aku menghindar dia mengalah untuk mendekatiku. (Bersambung)

[1] Etek biasanya panggilan untuk adik ibu digunakan juga untuk perempuan yang lebih muda dari ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s