Jejak Luka (Empat)

Standard

Jejak Luka

“Haji Ahmad, panggil ayahmu.”

Aku diam, mungkin Pengulu Datuk mengira aku tidak mendengar perintahnya atau pura-pura tidak mendengar. Tapi sesungguhnya aku masih ragu, mengantarkan mereka pada ayahku. Tidakkah aku akan menjadi anak durhaka dengan memberikan ayah kandung sendiri kepada serigala. Di mana sifat pemberani yang selalu ditanamkan beliau untukku, sehingga dengan begitu mudah aku menyerah. Aku mulai berpikir untuk menjadi benteng terakhir bagi ayahku. Sebagai anak terasa kewajiban menyeru-nyeru hatiku untuk melindungi ayah, walau sampai titik darah penghabisan yang dipompakan jantung dalam rongga dada.

“Haji Ahmad…! Panggil ayahmu…!”

Pengulu Datuk mengulangi perintahnya, kini dalam nada keras ia menghardikku. Mungkin dia sudah merasa seperti orang Belanda, berani-beraninya menghardik pribumi di tanahnya sendiri. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, tidak kulayani pengkhianat itu, hanya kulihat dengan sudut mata yang semakin membuat geram Pengulu Datuk. Melihat aku tak bergeming sedikitpun, Komendur Westenenk pun ikut berkata, masih segarang saat di rumahku.

“Haji Ahmad, lihatlah ayahmu sekarang juga.”

Pikiranku kini mulai berubah, kalaupun akan kupertahankan untuk tidak menuruti mereka ini sudah kepalang tanggung. Aku dan mereka sudah berada di halaman rumah Bunda. Kalaupun aku melawan dan akhirnya mereka mengantarkan aku menemui takdirku untuk mati, tentu segalanya akan sia-sia. Mereka masih bisa menghantam rumah untuk mendapatkan Ayah. Baiklah…akhirnya kuputuskan untuk masuk ke rumah dengan baik-baik. Mungkin Ayah sudah dilindungi Tuhan sehingga Belanda itu takkan mungkin lagi menemukan Ayah.

Aku menaiki tangga rumah, perlahan kuketuk pintu rumah madu ibuku itu. Tanganku berhenti mengetuk pintu, karena ketika kulihat ke bawah ternyata pintu itu sudah pecah bekas hantaman kaki serdadu. Ternyata benar, mereka sudah ke sini sebelum menjemputku ke rumah. Sekarang aku mulai mengerti, aku akan dijadikan tahanan pengganti Ayah, karena mereka tidak juga menemui beliau. Aku disuruh menjemput Ayah hanya akan mereka jadikan alasan untuk bisa membawaku. Dasar Belanda keparat!

Karena ketukanku tadi, Bunda membukakan pintu, kulihat matanya sudah sebak oleh air mata. Aku tahu dia sudah lelah menangis, sebelum kutemui.

“Ayahmu tidak ada di rumah, Ahmad. Ayahmu sudah menghilang dengan takdir Allah.”

Aku merasa lega, ternyata benar Tuhan telah menyembunyikan kekasih- Nya. Aku masuk ke dalam rumah, mengikuti Bunda yang masih menangis, berulang-ulang Bunda mencari, tiap ruangan dia masuki dan aku ikuti. Ke loteng rumah, ke kandang, ke gudang juga kulihat, ternyata ayah benar-benar sudah tidak ada. Seketika itu timbul dalam pikiran rasionalku, mungkin ayah sedang berada ditempat lain.

Setelah pamit dan minta maaf pada Bunda, aku keluar dari rumah menyampaikan pada Komendur Westenenk bahwa ayahku tidak ada di rumah.  Westenenk sepertinya sudah hilang kesabaran, wajah putihnya memerah di bawah redup rembulan. Pada saat waktu yang tidak menentu itu, Pengulu Datuk merasa bahwa saat itu adalah saat yang tepat untuk menunjukkan pada Komendur Westenenk, bahwa dia adalah orang yang sangat berguna. Maka pengkhianat itu mendekati Komendur Westenenk yang kehilangan akal, dia seperti memberi kesejukan kepada Westenenk.

“Tuan…aku tahu Syehk itu berada.”

“Di mana, Pengulu Datuk…?”

Nada suara Komendur Westenenk segera menurun saat bertanya pada Penghulu Datuk. Sama saja mereka berdua entah siapa yang  dimamfaatkan dan entah siapa yang memanfaatkan.

“Kalau dia tidak di rumah bini[1]nya, tentu dia sedang menyusu di rumah ibunya, Tuan.”

Nada suara Penghulu Datuk sangat melecehkan ayahku, aku merasa sangat terhina mendengar ayahku diperolok-olokkan seperti itu. Ingin keremukkan kepala Penghulu Datuk itu, tapi kini waktu yang tidak tepat untuk memperturutkan emosi. Suatu saat akan datang waktu untuk membalas penghinaan itu.

“Bagus…bagus…! Terima kasih, Penghulu. Sekarang kita cari ke rumah ibunya. Di mana tempatnya, Penghulu?”

“Di Kampung Bansa, Tuan, tidak jauh dari sini.”

Dari wajah Komendur Westenenk terlihat kembali semangatnya untuk memakan darah manusia. Saat itu juga dia teriaki anak buahnya.

“Kita cari malam ini juga!”

Teriakannya itu menjadi isyarat bagi para serdadu untuk segera bergerak mengikuti langkahnya. Di belakang Komendur Westenenk, Penghulu Datuk mengiringi bersamaku. Tak lama berjalan, rombongan bertemu dengan Batudung. Batudung lelaki yang selama ini menjadi kaki tangan ayah, seorang parewa[2] yang cinta negeri dan tanah airnya. Lelaki dengan perawakan besar, memiliki tangan kokoh dan tentunya cukup bekal ilmu bela diri yang dipelajari dari Ayah. Melihat lelaki itu, Penghulu Datuk segera bertanya.

“Batudung… dari mana?”

Sebelum Batudung menjawab, tangannya sudah dipelintir ke belakang oleh Penghulu Datuk. Batudung yang tidak tahu menahu persoalan itu, diam tidak banyak melakukan perlawanan, dia sudah fasih sekali berhadapan dengan pembesar-pembesar kompeni atau antek-anteknya. Tanpa bersalah pun mereka bisa menghabisi nyawa rakyat jelata.

“Aku dari lepau[3] , Tuan.”

“Batudung, di mana majikanmu, dimana dia bersembunyi.”

Komendur sepertinya tidak ingin berlama-lama dengan pembicaraan itu, dia segera memberi perintah pada Batudung, seperti memberi perintah pada anak buahnya saja.

“Batudung, sekarang juga kau ikut dengan kami mencari Syehk Abdul Manan.”

Batudung tanpa niat untuk melawan hanya menuruti langkah para serdadu. Dia sebenarnya tahu di mana Syekh sedang menyendiri. Tapi dia seperti tidak mau tahu dengan Syekh Abdul Manan, orang tua yang dianggap masyarakat orang keramat, wali Allah di dunia, penjaga Nagari Kamang ketika itu. Entah apa sebabnya hanya karena dia membela yang benar, menjaga negerinya makanya kompeni membenci dan akan menangkapnya. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s