Jejak Luka (Lima)

Standard

Jejak Luka
Di balik itu, Syekh Abdul Manan dituduh kompeni memberi azimat pada pemuda-pemuda yang berjuang menenteng Belanda. Azimat yang akan dibawa terus untuk berperang itu, kabarnya membuat pemuda-pemuda Kamang tahan peluru. Aku dan rombongan terus berjalan, sepanjang jalan aku lelah mendengar Komendur Westenenk yang menghujani Betudung dengan segala makian, seperti perempuan-perempuan yang menceracau saat datang bulan.
“Barangkali kau sembunyikan dia di sini.”
Kami sampai di rumah nenek di Kampung Bansa. Aku diam berhenti berjalan, serdadu segera melingkari kiri dan kanan. Saat itu, serasa akan hilang nyawa di badan. Pikiranku waktu itu tidak lain hanyalah mengadu pada Tuhan yang satu, semoga ayah terhindar dari bahaya ini dan semoga orang-orang yang kusayangi dan mencintaiku tidak berlinangan air mata mengenangkan nasibku. Saat itu aku tidak diperintahkan untuk melihat ke dalam rumah, mungkin mereka membaca siasatku seadainya aku yang disuruh ke dalam, seandainya ayah memang berada di dalam tentu aku akan menyuruhnya lari lewat pintu belakang.

Ketika menggeledah rumah, mereka mengacak-acak semua perabotan yang ada, dari suara perabotan yang berantakan aku tahu kalau mereka telah menghancurkan isi rumah. Di dalam hati, diam-diam aku berharap agar Tuhan menyelamatkan Ayah. Cukup lama kompeni mengacak-acak rumah Nenek, namun mereka tidak menemukan yang mereka cari. Seorang serdadu memberi laporan pada Komendur Westenenk.
“Syekh Abdul Manan tidak ada di dalam rumah, Tuan.”
Sebentar kemudian, Komendur Westenenk berkata pada kami berdua: aku dan Batudung.
“Haji Ahmad dan Batudung, sebaiknya jangan melawan kompeni.”
“Bolehkan aku menjawab?” Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaanku itu aku lanjutkan perkataanku.
“Tidaklah mungkin aku melawan tuan-tuan.”
“Lalu di mana penjahat itu kau sembunyikan?”
Komendur Westenenk semakin geram, kemarahan karena tidak berhasil menemukan Ayah membuatnya hilang kecerdasan sehingga akhirnya aku yang mereka tangkap.
“Diam…, jangan banyak bicara, kalian berdua harus ditangkap, agar kalian rasakan hidup di bui.”
Mendengar gertakan Komendur Westenenk, Batudung bukannya takut, malah dia menantang kompeni-kompeni itu.
“Kalau dengan Haji Ahmad, apapun yang akan kalian perbuat kepadaku aku bahagia menerimanya. Jangankan di bui, dalam kubur pun aku bersedia!”
Mendengar kata-kata Batudung, Pengulu Datuk menjadi naik pitam.
“Batudung….! Lancang sekali mulutmu! Cepat jalan!”
Batudung segera berjalan melewati para serdadu. Dia tidak takut sama sekali dengan teriakan Pengulu Datuk, di matanya Pengulu Datuk tidak ada wibawa lagi. Seorang serdadu mendekati Batudung, lalu menggerayangi tubuh Batudung, mereka berpikir jangan-jangan Batudung menyimpan senjata. Serdadu itu terus menggeledah tubuh Batudung, akhirnya mereka menemukan pisau di balik pakaian Batudung.

Aku cemas menyaksikan kejadian itu, aku tidak jadi berjalan, kupandangi Batudung yang kini sudah dipukuli oleh para serdadu.
“Kamu mau melawan, Batudung? Kamu akan bunuh kami dengan pisau ini, hah? Bangsat…!”
“Adakah patut saya melawan tuan-tuan yang berkedudukan tinggi?”
Komendur Westenenk segera memerintahkan para serdadu membawa Batudung. Serdadu segera mengikat tangan Batudung ke belakang, setelah itu kami berjalan. Karena tidak bisa mendapatkan Ayah mereka kesal, serdadu kompeni melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan, aku kehilangan akal, sepertinya peluru itu akan menembus tubuh penduduk yang sedang terlelap.
Tembakan itu terus membabi buta, membuat penduduk ketakutan di dalam rumah mereka. Di antara suara tembakan itu, Batudung berteriak kesakitan. Kakinya tertembus peluru. Senapan itu masih terus berdentam, tidak menghiraukan rintihan Batudung menahan kesakitan. Aku pun harus menghindar dari tembakan para serdadu, aku melompat ke pagar hidup pembatas jalan, saat kakiku menginjak tanah terasa sakit diinjakkan. Aku kira nasibku sama dengan Batudung, peluru serdadu itu menembus kakiku.
Aku tidak berteriak, karena teriakan hanya akan membuat lemah diriku dihadapan kompeni, aku tahan sakit yang mendera, menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun. Aku lihat luka di kaki itu, sepotong patahan bambu masih tertancap. Ah…ternyata aku tidak tertembak. Dengan nama Allah aku cabut patahan bambu itu, aku mendesis, mataku basah menahan sakit yang menghentak sampai ke ubun-ubun. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s