Monthly Archives: August 2015

Novel Cindaku

Standard
Novel Cindaku

Novel Cindaku Cetak

Judul        : Cindaku

Penulis     : Azwar Sutan Malaka

Penerbit   : Kaki Langit Kencana

Cetakan    : Pertama, September 2015

Halaman  : viii + 236 hal

ISBN        : 978-602-8556-60-6

Harga      : Rp. 57.000

Novel ini sudah bisa didapatkan di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, Togamas, Sari Anggrek dan toko buku lainnya. Buku ini juga bisa dipesan melalui penulis lewat akun facebook penulis (Azwar Sutan Malaka). Buku ini berlatar budaya Minangkabau, dengan kisah bertumpu pada tokoh utama Salim Alamsyah. Cerita ini tentang perjuangan anak muda untuk mewujudkan mimpinya menjadikan hidup lebih baik.

Salim Alamsyah adalah seorang anak muda yang mewarisi tradisi Minangkabau. Ia dibesarkan oleh seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya yang dibunuh karena dituduh memiliki ilmu hitam. Kemelut batin sebagai anak dari seorang lelaki sakti yang diisukan bereinkarnasi menjadi manusia harimau (Cindaku) membuat Salim tumbuh dengan dihantui masa lalu yang suram.

Hidup yang rumit karena diisukan sebagai anak Cindaku membuat Salim meninggalkan kampung halamannya. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan Salim di kampung itu, Laila, perempuan yang menggantungkan harap padanya. Di kota Salim menanggung rindu yang berat, hingga akhirnya rindu bertahun-tahun yang disimpan itu menemukan jalannya. Ia berniat menikahi Laila, tapi beban mitos sebagai Anak Cindaku yang telah menjadi issu umum di kampung halamannya membuat Salim was-was. Luka sejarah yang pahit itu menjadi petaka dalam kisah cinta Salim dan Laila. Salim ditolak oleh orang tua Laila. Salim memberontak, dengan segenap keberaniannya. Dia menyesali kenapa orang tua Laila masih percaya tahayul, mitos-mitos yang tak pernah ada dalam kenyataan hidup itu.

Orang tua Laila menjawab bahwa dia tidak menolak Salim karena gosip Cindaku itu, tetapi ada luka lain yang membuat Ibu Laila menolak Salim sebagai menantunya. Ibu Laila menyampaikan rahasia hidup yang teramat pahit untuk didengar Salim dan Laila. Dengan berat hari Ibu Laila menceritakan bahwa dia tidak akan pernah menikahkan Laila dengan anak dari lelaki yang telah menodainya. Salim dan Laila sama-sama mewarisi darah lelaki yang sama. Laila adalah janin yang tumbuh di rahim perempuan itu dua puluh tahun yang lalu setelah diguna-guna oleh Ayah Salim. Salim tak dapat menjawab atas cerita yang semakin membuat luka di dadanya itu. Tapi Laila masih mempertanyakan cerita yang keluar dari mulut ibunya. Benarkah apa yang disampaikan ibunya? Atau hanya siasat untuk memisahkannya dari Salim yang dicintainya?

Advertisements

Menunggu Kelahiran Novel Cindaku

Standard
Menunggu Kelahiran Novel Cindaku

Novel Cindaku Cetak

Hari Jumat tanggal 14 Agustus 2015, tepatnya pukul 17. 22 WIB, redaktur Kaki Langit Kencana mengirim di dinding facebook saya bahwa Novel Cindaku akan segera beredar di toko-toko buku di Indonesia. Novel yang pada awalnya saya beri judul “Anak Cindaku Ditikam Rindu” ini akhirnya bisa dijumpai pembaca. Sebagai penulisnya, tentu saya juga menunggu-nunggu kelahiran Novel Cindaku ini, berbagai rasa bergejolak seperti halnya pada masa kanak-kanak dulu menunggu lebaran datang. Malamnya mata tidak mau dipejamkan untuk tidur, pikiran resah, jiwa tak tenang karena esoknya kita tidak akan bangun sahur lagi, esoknya akan bangun pagi-pagi sekali, memakai baju baru dan tentu juga sepatu baru. Begitulah kira-kira rasanya menunggu kelahiran buku baru.

Begitu rasa yang saya rasakan, namun bukan hanya itu, kelahiran novel ini, tentu juga memberikan kesempatan pada saya untuk memfokuskan pikiran pada karya yang lainnya. Alhamdulillah, selama beberapa bulan ini saya sudah merampungkan draf novel terbaru saya. Judulnya? eit…, tunggu dulu, saya sudah mengirimnya ke salah satu penerbit terkenal di Jakarta, berpengalaman pada tiga novel sebelumnya, dimana judul yang saya beri untuk novel saya sering tidak dipakai penerbit, oleh sebab itu, kali ini saya tidak akan menyampaikan judul novel terbaru saya ini. Biarlah nanti setelah ada kesepakatan dengan penerbit tentang judul novel, baru disampaikan kepada pembaca judul “adik” Novel Cindaku ini.

Azwar  Kuliah Jurnalistik

Kembali ke Novel Cindaku ini, persisnya menunggu kelahiran Novel Cindaku ini, tentu sesuatu yang sangat penting bagi saya. Sebelum ia benar-benar lahir, terus terang saja, saya masih tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Perjuangan yang berat ini saya alami selama beberapa bulan disaat menulis adik novel ini. Saya sudah berniat menyimpannya dalam-dalam, tapi membutuhkan kekuatan yang besar untuk benar-benar melupakan Novel Cindaku ini di saat menulis novel baru. Hingga akhirnya sampai pada proses pengiriman novel terbaru ke penerbit, saya kembali kepada draf novel yang akan segera terbit ini.

Mudah-mudahan dengan terbitnya Novel Cindaku ini, saya bisa menyerahkannya pada pembaca. Baik atau buruk penilaian pembaca, tentu itu hak pembaca yang menilainya. Tugas saya sudah sampai pada mengantarkannya hingga ke penerbit. Harapan saya tentunya ke depan saya bisa menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas dibandingkan karya-karya terdahulu.

Pelajaran Jurnalistik Dari Azwar Sutan Malaka

Standard
Pelajaran Jurnalistik Dari Azwar Sutan Malaka

Azwar  Kuliah Jurnalistik

“Wartawan itu fisiknya seperti olahragawan, otaknya seperti ilmuwan, bahasanya seperti sastrawan,” kata Azwar Sutan Malaka, SS, M.Si. Ungkapan itu ia kemukakan ketika menyampaikan materi Ilmu Jurnalistik, Sabtu, 12/4/2015 di IAI Alazis, Indramayu.

Azwar  melanjutkan bahwa seorang wartawan harus memiliki fisik yang prima. Apalagi kalau dia meliput di wilayah konflik ataupun wilayah bencana alam. Pada lokasi yang orang lain enggan datang itu, mereka bisa menyajikan informasi sehingga orang lain tahu bagaimana situasi dan kondisi di wilayah tersebut. “Kalau fisik wartawan tidak kuat mana mungkin informasi dapat tersaji dengan baik,” kata Azwar menerangkan.

Lebih lanjut Azwar juga menerangkan bahwa “otak wartawan seperti ilmuwan” maksudnya seorang wartawan harus berpengetahuan luas agar informasi yang tersaji mempunyai dasar yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan. “Walau bukan ahli, seorang wartawan harus berpengetahuan luas, harus  banyak tahu tentang banyak hal,” kata Azwar. Pengetahuan itu bisa didapat dengan mempelajari dan membaca berbagai literatur. “Sebelum meliput, seorang jurnalis terlebih dahulu harus membaca berbagi referensi tentang objek yang akan diliputnya,” kata Azwar menambahkan.

Di akhir pertemuan ia juga menjelaskan makna “bahasa wartawan seperti sastrawan,” yaitu seorang wartawan harus mampu menuangkan isi kepalanya dalam bentuk kata-kata atau tulisan agar dapat dinikmati dan enak dibaca oleh pembaca. Susunan kata dan tulisan yang indah, renyah, padat dan jelas menjadi sarat keahlian seorang wartawan agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

(Disarikan berdasarkan berita yang ditulis Rasna-SundreamNews)