Monthly Archives: September 2015

Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

Standard
Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

(Diterbitkan di Singgalang, Edisi Hari Ini, Minggu, 20 September 2015)

Cindaku+SpootUv+EmbosJudul              : Cindaku

Penulis            : Azwar Sutan Malaka

Penerbit          : Kakilangit Kencana

Terbit             : Cetakan I, September 2015

Tebal              : vii+236 halaman

ISBN               : 978-602-8556-60-6

Peresensi        : M. Adioska

 

Tak seorangpun yang mampu mengubah masa lalu, meskipun masa lalu itu hanyalah sebuah cerita. Jikalah masa lalu itu bisa dipilih, tentu hidup saat ini bukanlah sebuah misteri lagi. Tentu pula tidak ada luka dan rindu dendam hari ini. Tapi apa dikata, masa lalu telah memilih jalannya sendiri, memfosil, menjadi batu dalam pikiran setiap manusia. Hingga, bagi mereka yang mempunyai masa lalu yang pahit akan merasakan dampaknya hari ini, meski yang memulai dulu bukanlah mereka sendiri.

Medi AdioskaDemikianlah Salim, seorang anak muda yang baru memulai jalan hidupnya sendiri, harus terbayangi oleh cerita silam tentang bapaknya. Bukan kisah yang indah, bukan dongeng  pengantar tidur, tapi cerita kelam yang selalu membayangi setiap langkah yang ia lalui. Cerita tentang bapaknya yang seorang cindaku, dan ia adalah keturunannya; anak Cindaku.

Ia telah lama mendengar cerita itu dari orang kampung. Mulai dari masa kecilnya, hingga ia beranjak menjelang dewasa saat ini. Sehingga, tentang Cindaku itu sendiri, ia tak heran. Kata itu bukanlah barang baru baginya. Orang kampung senantiasa menceritakan bahwa Cindaku adalah wujud reinkarnasi dari orang sakti yang telah meninggal dunia. Arwah orang sakti itu, menurut mereka, tidak diterima oleh langit dan bumi. Mereka tergantung di awang-awang. Oleh karena itu mereka akan berubah wujud.  Jika mereka adalah orang yang sangat sakti, maka mereka berubah menjadi seekor harimau, -orang kampung memanggilnya dengan sebutan inyiak-. Ada juga yang berubah menjadi serigala, babi dan tikus. Tergantung kepada tingkat kesaktian masing-masing. Namun dalam hal ini, kesaktian yang dimaksud bukanlah ilmu yang digunakan untuk kebaikan. Kesaktian yang dimaksud disini adalah ilmu hitam, ilmu yang digunakan untuk mencelakai orang lain.

CindakuSalim sendiri tidak percaya akan hal itu. Baginya cerita tentang cindaku itu adalah mitos, kepercayaan peninggalan nenek moyang. Disisi lain, ia adalah anak surau yang selalu mengaji dan belajar banyak ilmu agama dengan Pandeka Sutan. Tentu cerita itu sangat bertentangan dengan yang ia pelajari. Namun sekuat apapun ia membantah, sekeras itu pula keyakinan orang kampung tentang cerita Cindaku itu.

Hingga pada suatu hari, ketika Pandeka Regeh -seorang yang juga terkenal sakti dikampung itu- meninggal dunia, cerita itu muncul lagi. Orang kampung meyakini bahwa Pandeka Regeh berubah menjadi Cindaku. Akibatnya warung-warung kopi yang biasa dipenuhi kaum laki-laki untuk bercerita, kini sepi. Tak seorangpun yang berani keluar rumah setelah azan maghrib. Salim yang tak sedikit pun percaya akan cerita itu, kemudian membuktikannya sendiri. Malam itu, ketika hendak buang hajat di jamban, Salim memperhatikan kuburan Pandeka Regeh yang tak jauh dari sana. Terlihat asap mengepul, seakan keluar dari kuburan Pandeka Regeh tersebut. Namun Salim membuktikan bahwa asap itu berasal dari sisa api unggun tadi sore. Dan malam itu, hingga malam seterusnya, Salim memang tak pernah bertemu langsung dengan Cindaku.

Cerita tentang Cindaku dan tetek bengek yang berhubungan dengan itu, bukanlah hal utama yang dikisahkan dalam novel ini. Cerita tentang mitos Cindaku itu hanyalah latar belakang dari keseluruhan kisah ini. Yang menjadi sorotan utama dalam cerita ini adalah kisah hidup yang sangat manusiawi, yang dijalani oleh Salim. Atas cerita tentang dirinya yang dinyatakan sebagai anak Cindaku, Salim harus rela menerima banyak cobaan, banyak ejekan, sindiran, bahkan juga konfrontasi fisik dengan kerabat sendiri.

Selain itu kisah kasih antara Salim dengan gadis pujaannya, Laila, juga sangat menarik untuk disimak. Salim -yang semenjak kecil sudah berteman dengan Laila- ternyata menyimpan perasaan lain dihatinya. Laila pun demikian. Rasa kagum yang bermula dari setangkai bunga kertas dimasa kecil dulu, ternyata meneguhkan Laila untuk memilih Salim. Tapi bukankah Salim adalah anak Cindaku?

Jika membaca judul dan latar belakang novel ini, tentulah sangkaan pertama yang muncul dalam pikiran pembaca adalah bahwa novel ini menceritakan kisah yang menakutkan, menegangkan bahkan mistis. Namun alih-alih menakutkan, novel ini justru bercerita tentang perjuangan hidup yang harus di jalani Salim –tokoh utama-. Dengan apik, Azwar Sutan Malaka mengkolaborasikan antara mitos, kemasakinian dan romantisme masa muda yang menggelitik untuk dibaca. Kombinasi alur maju dan flashback memberikan kejutan-kejutan cerita dalam kisah ini.

Disamping itu, novel ini juga menceritakan unsur sejarah dan budaya Minangkabau yang kental sehingga sangat menarik untuk disimak. Sebagai contoh, dalam novel ini juga disinggung tentang sejarah PRRI. Selain itu, juga diceritakan bahwa Salim memutuskan untuk merantau karena merasa menjadi anak buangan, tak bersuku dan mewarisi darah Cindaku. Sebuah kebiasaan yang sudah membudaya bagi anak muda di Ranah Minang. Lalu bagaimanakah dengan Laila?-gadis pujaan yang telah membawakan amak Salim kalio ayam, sebagaimana perlakuan menantu kepada mertua-

Advertisements

Datangnya Novel Cindaku

Standard

Terimakasih Rina, sudah membaca novel ini…!

Ranah Kata Ranah Cinta

Novel Cindaku Novel Cindaku dan Kumpulan Cerpen jejak Luka – Azwar Sutan Malaka

Dulu semasa kecil, Cindaku sering  diceritakan sebagai sejenis hantu. Yang saya ingat makhluk itu diceritakan berasal dari orang yang sudah mati, yang arwahnya tidak diterima oleh lagit dan ditolak oleh bumi lalu menjadi Harimau. Cindaku berjalan dengan kaki yang tidak menapak ke tanah. Kaki cindaku terbalik, dengan tumit ke depan dan jari-jari di bagian belakang. Cindaku tidak mempunyai banda (cekungan kecil di wajah yang berada di antara bibir atas dan hidung)

Begitulah yang melekat dalam ingatan saya tentang Cindaku. Entah dari siapa pastinya cerita itu, biasanya dari teman samo gadang dan orang-orang tua yang senang bercerita. Orangtuaku sendiri tidak suka jika aku menanyakan perihal cerita hantu, cindaku, cimolok, palasik atau cerita lain yang berhubungan dengan yang mistis. Sayangnya orang-orang tua yang suka bercerita itu kadang kurang suka kalau anak-anak bertanya lebih detail. Kenapa begitu dan kenapa begini, jawaban biasanya…

View original post 343 more words

Jualan Novel Cindaku

Standard
Jualan Novel Cindaku

Beberapa hari ini kesimbukan saya bertambah, yaitu menjual Novel Cindaku, karya saya sendiri. Menjual novel karya sendiri ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Selain karena banyak teman-teman mulai berkunjung melihat-lihat rumah media sosial saya, tentunya terjalin silaturrahim dengan teman baru. Semoga kebaikan selalu menyertai orang-orang yang selalu berkreatifitas.

Buku Jual

Kiriman untuk pesanan online Novel Cindaku

NOVEL CINDAKU
Penulis : Azwar Sutan Malaka
Penerbit : Kaki Langit Kencana
Harga : Rp. 57.000
Ukuran : 13 x 19 CM
Halaman : viii + 236 halaman