Monthly Archives: November 2015

Jejak Bung Karno di Bengkulu

Standard

Rumah-Bung-KarnoKalau anda ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke rumah kediaman Bung Karno pada zaman perjuangan dulu. Rumah yang pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama ketika diasingkan oleh Belanda pada 14 Februari 1938 sampai dengan 9 Juli 1942 itu, telah menjadi salah satu bangunan yang bersejarah di Kota Bengkulu. Rumah itu kini tampak bersahaja dengan halaman luas di depannya. Dulu, ketika Bung Karno menempatinya, tentu tidak seperti itu, karena pada 19 Agustus 1985 sudah dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Menurut beberapa referensi, Bung Karno datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan sebuah bus Auto Dienst Staats Spoor (ADSS) dari Lubuk Linggau. Bung Karno dan keluarganya (Istrinya Inggit dan dua anak angkat mereka Kartika dan Ratna) menempuh perjalanan dari Ende ke Batavia lalu sampai di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Untuk biaya hidup Bung Karno selama di pengasingan itu, ia diberi uang saku sebanyak 90 Gulden perbulan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas politik sang nasionalis bernama lengkap Soekarno itu tentu saja menjadi penyebab dia diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Selama masa pengasingan, Bung Karno diperbolehkan melakukan aktivitas seperti kebanyakan masyarakat. Akan tetapi dia tidak boleh melakukan aktivitas politik. Setiap hari, untuk mengamati aktivitas Bung Karno ini Belanda menempatkan pasukannya pada pos penjaga yang berada di seberang jalan rumah kediamannya. Penjaga ini tidak hanya mengawasi kegiatan Bung Karno, tetapi juga mencatat identitas siapa saja orang yang mengunjunginya.

Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu copyHaji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu (diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1996) menuliskan bahwa sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki kebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yang Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif memimpin olah raga dan kegiatan kesenian siswa. Pada masa pengasingan di Bengkulu itu juga Bung Karno aktif memimpin kelompok sandiwara Monte Carlo. Hasil pertunjukan sandiwara Monte Carlo itu digunakan untuk biaya pemugaran Masjid Jamik Kota Bengkulu.

Rumah bersejarah itu tempat pengasingan Bung Karno itu terletak di Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah ini barangkali menjadi saksi sejarah perjalanan cinta segi tiga Seokarno dengan istrinya sendiri Inggit serta putri Bengkulu, Fatmawati, yang kemudian dikenal sebagai penjahit bendara pusaka merah putih.

Menurut beberapa cerita yang dipungut dari orang-orang disekitar rumah kediaman Bung Karno, rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Tapi versi lain menyebutkan bahwa rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Namun informasi lain menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur inderneming Van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kemudian dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian yang merupakan pengusaha penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

Rumah kediaman Bung Karno ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Jendela juga berbentuk persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas.

IMG_1077Di rumah yang dibangun pada tahun 1918 ini tentunya pengunjung bisa melihat beberapa koleksi buku Bung Karno, foto kegiatan beliau selama di Bengkulu, sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan peralatan rumah lainnya. Kalau Anda sempat berkunjung ke Bumi Raflesia itu, jangan lupa, singgahlah ke rumah dimana Bung Karno pernah bernaung di dalamnya dan memikirkan nasib republik ini selama empat tahun.

Kalau ingin cenderamata atau tanda bukti anda mengunjungi tanah kelahiran Ibu Negara Fatmawati, tidak jauh dari kediaman Bung Karno banyak pedagang menjual cenderamata dan makanan khas Bengkulu. Kalau sekadar untuk berfoto, di depan rumah bersejarah itu biasa digunakan pengunjung untuk berpose. (Azwar Sutan Malaka)

 

 

Mengenal Korea dari Karya Sastra (2)

Standard

kumpulan-cerpen-korea

Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu

Sejauh ini pecinta sastra di Indonesia baru dikenalkan dengan Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu. Kumpulan cerita yang diterjemahkan oleh Koh Young Hun dan Tommy Christomy. Kumpulan Cerita yang ditulis oleh 12 orang penulis Korea itu diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2007. Walau pun sudah beberapa tahun diterbitkan akan tetapi karya sastra Korea itu belum popular di Indonesia.

Penulis-penulis cerpen Korea yang karyanya dibukukan dalam Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu itu adalah Ha Geun Chan, Kim Seung Ok, Hwang Sok Yong, Lee Moon Goo, Bang Hyun Suk, Kim Yeong Hyeon, Kimjk Nam Il, Shin Kyong Suk, Eun Hee Kyung, Kim In Suk, Park Min Gyun dan Jeon Sung Tae. Sementara itu Prof. Dr. Koh Young Hun sebagai penerjemah adalah staf pengajar di Deparftemen of Malay-Indonesian Studies di Hankuk University, Seoul, Korea Selatan. Sedangkan Tommy Christomy adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Maman S Mahayana, kritikus sastra dan juga Dosen di Universitas Indonesia dalam kata pengantar kumpulan cerpen itu menyampaikan bahwa setidaknya ada beberapa hal yang dapat ditangkap dari Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu itu, pertama secara tematis cerpen-cerpen Korea erat kaitannya dengan kondisi sosial zamannya. Cerpen-cerpen Korea (setidaknya yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu) seperti merepresentasikan dinamika perubahan sosial masyarakat Korea. Sementara itu dari sisi gaya penulisannya maka perkembangannya tidak terlepas dari kemajuan yang dicapai Korea selama ini.

Kedua secara konseptual, cerpen-cerpen Korea menurut Maman S Mahayana agaknya makin menegaskan kepada pembaca Indonesia untuk mempertimbangkan kembali sejumlah konsep baku yang selama ini telah menjadi semacam paradigm dalam sistem pengajaran sastra di lembaga pendidikan terutama tentang pengertian cerpen dan hakikatnya. Kumpulan Cerpen Korea dengan judul Laut dan Kupu-Kupu ini mengajak pecinta sastra Indonesia untuk meninjau pengertian cerpen yang dilihat dari panjang-pendek sebuah cerita. Karena dalam kumpulan cerpen ini menghadirkan cerita-cerita yang cukup panjang dibandingkan cerpen yang dikenal di Indonesia selama ini.

Ketiga menurut Maman S Mahayana yang perlu dicermati dari sastra Korea adalah menyangkut tokoh dan penokohan. Tokoh sebagai pelaku cerita hadir dan mengembangkan ceritanya jika terjadi konflik dengan tokoh lain. Pokohan dilandasi oleh sejumlah sekuen dan motif yang mengelinding membangun tema cerita. Tetapi walau bagaimanapun juga jika cerita itu sekadar rangkaian peristiwa tanpa harus menciptakan konflik antar tokohnya. Dalam hal ini kehadiran tokoh dalam cerita-cerita Korea kerap tidak harus dilandasi motif tertentu. Di cerpen Korea tokoh bisa datang dan pergi begitu saja.

Korea3

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa sastra Korea memiliki cirri khas tertentu, disbanding sastra Indonesia. Hal ini bisa menjembatani karya sastra kedua Negara untuk saling bertukar gagasan tentang karya sastra. Hal ini sangat memungkinkan karena saat ini banyaknya mahasiswa Korea yang belajar bahasa Indonesia dan banyaknya dosen-dosen Indonesia yang mengikuti program pertukaran dosen ke Korea. Hal ini merupakan peluang bagi Korea untuk memasyarakatkan sastra Korea. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah upaya penerjemahan sastra Korea, tidak hanya kumpulan cerpen tetapi juga novel ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dalam rangka menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Korea tidak hanya memiliki drama dan music pop saja, tetapi Korea juga memiliki karya sastra yang bisa diperhitungkan di pentas sastra dunia.

Sastrawan Korrie Layun Rampan Meninggal Dunia

Standard

Ratapan

Sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu penulis terbaiknya. Sastrawan dari tanah Borneo Korrie Layun Rampan meninggal dunia hari Kamis tanggal 19 November 2015. Sastrawan yang sudah menulis lebih dari 300 buku ini ini disemayamkan di rumah duka Yayasan RS Cikini Jakarta.

Korrie Layun Rampan, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur pada 17 Agustus 1953. Ia merupakan pencetus penyusun buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang memuat lebih dari seratus sastrawan, terdiri dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra.

Selain dikenal sebagai sastrawan ia pernah menjadi seorang wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Ia juga pernah menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta. Korrie juga menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001, Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Sastrawan besar ini juga merupakan pengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tahun 2004 ia sempat menjadi anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalonan anggota DPRD. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009.

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-50

Standard
Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-50

HAI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga pendidikan, para praktisi dan pemerhati pendidikan di seluruh dunia memperingati Hari Aksara Internasional setiap tanggal 8 September dengan dukungan UNESCO. Hal ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan kesadaran tentang pentingnya keaksaraan bagi orang dewasa yang masih buta aksara.

50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan International Literacy Day atau Hari Aksara Internasional (HAI) untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan pendidikan bahwa masih ada masyarakat dewasa di dunia yang buta huruf atau tuna aksara.

Di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun menyelenggarakan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) pada tingkat nasional. Perayaan yang sama juga dilaksanakan di setiap provinsi untuk tingkat provinsi. Penyelenggaraan peringatan Hari Aksara Internasional dimaknai sebagai bukti komitmen berkesinambungan terhadap kemajuan pencapaian keaksaraan setiap individu sebagai kunci pembangunan sosial ekonomi dalam budaya damai dan berkarakter.

kemendikbud

Pada peringatan Hari Aksara Internasional ke-50 tahun 2015 ini Indonesia memilih tema ”Aksara untuk Pendidikan Berkelanjutan”. Tema ini diangkat sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan memberi inspirasi kepada masyarakat Indonesia tentang kesungguhan dan komitmen untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan. Hal itu sebagai fondasi gerakan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar gerakan penuntasan tuna aksara semata.

Tema tersebut selaras dengan tema global yang diangkat oleh UNESCO pada tahun ini, yaitu “Literacy and Sustainable Societiesatau “Keaksaraan untuk Masyarakat Berkelanjutan.” Tema ini menjadi sebuah isu global karena tahun 2015 merupakan akhir dari Dekade UNESCO “Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan” (UNESCO Decade of Education for Sustainable Development). Pesan utama tema tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pendidikan, tetapi merupakan investasi yang sangat penting bagi masa depan yang berkesinambungan.

Penyelenggaraan peringatan Hari Aksara Internasional ke-50 tahun 2015 secara nasional dipusatkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada tanggal 22 sampai dengan 24 Oktober 2015. Pada acara puncak peringatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015, dihadiri oleh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan unsur-unsur UNESCO, Kementerian dan Lembaga terkait, Gubernur/Bupati/Walikota penerima anugerah aksara, para Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten terpilih, Kepala UPT Pusat Ditjen PAUD dan Dikmas, serta lembaga/organisasi mitra penyelenggara program penerima sejumlah penghargaan. Penghargaan yang diberikan adalah kepada juara lomba keberaksaraan, juara karya tulis tutor, PKBM Berprestasi, TBM Kreatif, dan penghargaan bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat lainnya serta warga belajar pasca program pendidikan keaksaraan dasar.

cropped-12177521_957447460967878_1984096192_o.jpg

Urgensi peringatan Hari Aksara Internasional adalah berkaitan dengan keaksaraan yang merupakan hak azasi manusia, alat pemberdayaan personal dan media perkembangan sosial seseorang. Kesempatan pendidikan sangat bergantung erat pada keaksaraan. Namun demikian, banyak orang memprioritaskan pendidikan anak usia dini dan pendidikan formal. Sementara pendidikan orang dewasa terutama pendidikan keaksaraan, dianggap kurang penting. Berkaitan dengan itu perlu diingat bahwa masyarakat beraksara diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak. Peringatan Hari Aksara Internasional diharapkan dapat mengembalikan makna keaksaraan di tengah masyarakat. Keaksaraan memegang peranan penting untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang bermutu.

Tuna aksara merupakan masalah mendasar yang mengabadikan berbagai generasi manusia yang hidup dalam kemiskinan. Pertanyaannya adalah apakah kita percaya bahwa pendidikan anak yang bermutu dapat membuat mereka memiliki masa depan yang gemilang? Apakah kita percaya bahwa setiap anak harus berada di sekolah dan belajar dengan baik? Bagaimana kita dapat mewujudkan semua harapan ini apabila dunia masih memiliki 774 juta penduduk dewasa yang tuna aksara? Padahal orang dewasa merupakan aktor penting yang dapat mewujudkan kondisi pendukung untuk harapan generasi mendatang. Peringatan Hari Aksara Internasional merupakan sebuah pengingat penting bahwa kita harus menempuh jalan panjang untuk mencapai keaksaraan yang hakiki. Peringatan Hari Aksara Internasional di Indonesia juga menjadi sangat penting agar semua pihak, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, LSM dan masyarakat luas tergugah untuk sama-sama menghadapi persoalan tuna aksara ini secara serius.