Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-50

Standard
Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-50

HAI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga pendidikan, para praktisi dan pemerhati pendidikan di seluruh dunia memperingati Hari Aksara Internasional setiap tanggal 8 September dengan dukungan UNESCO. Hal ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan kesadaran tentang pentingnya keaksaraan bagi orang dewasa yang masih buta aksara.

50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan International Literacy Day atau Hari Aksara Internasional (HAI) untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan pendidikan bahwa masih ada masyarakat dewasa di dunia yang buta huruf atau tuna aksara.

Di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun menyelenggarakan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) pada tingkat nasional. Perayaan yang sama juga dilaksanakan di setiap provinsi untuk tingkat provinsi. Penyelenggaraan peringatan Hari Aksara Internasional dimaknai sebagai bukti komitmen berkesinambungan terhadap kemajuan pencapaian keaksaraan setiap individu sebagai kunci pembangunan sosial ekonomi dalam budaya damai dan berkarakter.

kemendikbud

Pada peringatan Hari Aksara Internasional ke-50 tahun 2015 ini Indonesia memilih tema ”Aksara untuk Pendidikan Berkelanjutan”. Tema ini diangkat sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan memberi inspirasi kepada masyarakat Indonesia tentang kesungguhan dan komitmen untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan. Hal itu sebagai fondasi gerakan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar gerakan penuntasan tuna aksara semata.

Tema tersebut selaras dengan tema global yang diangkat oleh UNESCO pada tahun ini, yaitu “Literacy and Sustainable Societiesatau “Keaksaraan untuk Masyarakat Berkelanjutan.” Tema ini menjadi sebuah isu global karena tahun 2015 merupakan akhir dari Dekade UNESCO “Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan” (UNESCO Decade of Education for Sustainable Development). Pesan utama tema tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pendidikan, tetapi merupakan investasi yang sangat penting bagi masa depan yang berkesinambungan.

Penyelenggaraan peringatan Hari Aksara Internasional ke-50 tahun 2015 secara nasional dipusatkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada tanggal 22 sampai dengan 24 Oktober 2015. Pada acara puncak peringatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015, dihadiri oleh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan unsur-unsur UNESCO, Kementerian dan Lembaga terkait, Gubernur/Bupati/Walikota penerima anugerah aksara, para Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten terpilih, Kepala UPT Pusat Ditjen PAUD dan Dikmas, serta lembaga/organisasi mitra penyelenggara program penerima sejumlah penghargaan. Penghargaan yang diberikan adalah kepada juara lomba keberaksaraan, juara karya tulis tutor, PKBM Berprestasi, TBM Kreatif, dan penghargaan bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat lainnya serta warga belajar pasca program pendidikan keaksaraan dasar.

cropped-12177521_957447460967878_1984096192_o.jpg

Urgensi peringatan Hari Aksara Internasional adalah berkaitan dengan keaksaraan yang merupakan hak azasi manusia, alat pemberdayaan personal dan media perkembangan sosial seseorang. Kesempatan pendidikan sangat bergantung erat pada keaksaraan. Namun demikian, banyak orang memprioritaskan pendidikan anak usia dini dan pendidikan formal. Sementara pendidikan orang dewasa terutama pendidikan keaksaraan, dianggap kurang penting. Berkaitan dengan itu perlu diingat bahwa masyarakat beraksara diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak. Peringatan Hari Aksara Internasional diharapkan dapat mengembalikan makna keaksaraan di tengah masyarakat. Keaksaraan memegang peranan penting untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang bermutu.

Tuna aksara merupakan masalah mendasar yang mengabadikan berbagai generasi manusia yang hidup dalam kemiskinan. Pertanyaannya adalah apakah kita percaya bahwa pendidikan anak yang bermutu dapat membuat mereka memiliki masa depan yang gemilang? Apakah kita percaya bahwa setiap anak harus berada di sekolah dan belajar dengan baik? Bagaimana kita dapat mewujudkan semua harapan ini apabila dunia masih memiliki 774 juta penduduk dewasa yang tuna aksara? Padahal orang dewasa merupakan aktor penting yang dapat mewujudkan kondisi pendukung untuk harapan generasi mendatang. Peringatan Hari Aksara Internasional merupakan sebuah pengingat penting bahwa kita harus menempuh jalan panjang untuk mencapai keaksaraan yang hakiki. Peringatan Hari Aksara Internasional di Indonesia juga menjadi sangat penting agar semua pihak, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, LSM dan masyarakat luas tergugah untuk sama-sama menghadapi persoalan tuna aksara ini secara serius.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s