Jejak Bung Karno di Bengkulu

Standard

Rumah-Bung-KarnoKalau anda ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke rumah kediaman Bung Karno pada zaman perjuangan dulu. Rumah yang pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama ketika diasingkan oleh Belanda pada 14 Februari 1938 sampai dengan 9 Juli 1942 itu, telah menjadi salah satu bangunan yang bersejarah di Kota Bengkulu. Rumah itu kini tampak bersahaja dengan halaman luas di depannya. Dulu, ketika Bung Karno menempatinya, tentu tidak seperti itu, karena pada 19 Agustus 1985 sudah dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Menurut beberapa referensi, Bung Karno datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan sebuah bus Auto Dienst Staats Spoor (ADSS) dari Lubuk Linggau. Bung Karno dan keluarganya (Istrinya Inggit dan dua anak angkat mereka Kartika dan Ratna) menempuh perjalanan dari Ende ke Batavia lalu sampai di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Untuk biaya hidup Bung Karno selama di pengasingan itu, ia diberi uang saku sebanyak 90 Gulden perbulan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas politik sang nasionalis bernama lengkap Soekarno itu tentu saja menjadi penyebab dia diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Selama masa pengasingan, Bung Karno diperbolehkan melakukan aktivitas seperti kebanyakan masyarakat. Akan tetapi dia tidak boleh melakukan aktivitas politik. Setiap hari, untuk mengamati aktivitas Bung Karno ini Belanda menempatkan pasukannya pada pos penjaga yang berada di seberang jalan rumah kediamannya. Penjaga ini tidak hanya mengawasi kegiatan Bung Karno, tetapi juga mencatat identitas siapa saja orang yang mengunjunginya.

Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu copyHaji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu (diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1996) menuliskan bahwa sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki kebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yang Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif memimpin olah raga dan kegiatan kesenian siswa. Pada masa pengasingan di Bengkulu itu juga Bung Karno aktif memimpin kelompok sandiwara Monte Carlo. Hasil pertunjukan sandiwara Monte Carlo itu digunakan untuk biaya pemugaran Masjid Jamik Kota Bengkulu.

Rumah bersejarah itu tempat pengasingan Bung Karno itu terletak di Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah ini barangkali menjadi saksi sejarah perjalanan cinta segi tiga Seokarno dengan istrinya sendiri Inggit serta putri Bengkulu, Fatmawati, yang kemudian dikenal sebagai penjahit bendara pusaka merah putih.

Menurut beberapa cerita yang dipungut dari orang-orang disekitar rumah kediaman Bung Karno, rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Tapi versi lain menyebutkan bahwa rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Namun informasi lain menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur inderneming Van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kemudian dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian yang merupakan pengusaha penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

Rumah kediaman Bung Karno ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Jendela juga berbentuk persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas.

IMG_1077Di rumah yang dibangun pada tahun 1918 ini tentunya pengunjung bisa melihat beberapa koleksi buku Bung Karno, foto kegiatan beliau selama di Bengkulu, sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan peralatan rumah lainnya. Kalau Anda sempat berkunjung ke Bumi Raflesia itu, jangan lupa, singgahlah ke rumah dimana Bung Karno pernah bernaung di dalamnya dan memikirkan nasib republik ini selama empat tahun.

Kalau ingin cenderamata atau tanda bukti anda mengunjungi tanah kelahiran Ibu Negara Fatmawati, tidak jauh dari kediaman Bung Karno banyak pedagang menjual cenderamata dan makanan khas Bengkulu. Kalau sekadar untuk berfoto, di depan rumah bersejarah itu biasa digunakan pengunjung untuk berpose. (Azwar Sutan Malaka)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s