Monthly Archives: December 2015

2015 in review

Standard

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 12.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 4 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Advertisements

Jejak Luka (Tiga Belas)

Standard

Jejak LukaHari Sabtu, opas masuk ke sel, memberi kabar bahwa aku akan dipindahkan ke penjara di Padang. Tanpa diberi kesempatan untuk berpikir, opas itu membelenggu tanganku, aku diseret ke luar dari ruangan.

Di sebuah ruangan lain ternyata sudah ada yang menunggu. Tiga belas orang tahanan yang akan dibawa ke Padang. Kami semua dirangkai dengan belenggu untuk digiring ke stasiun kereta. Sesampai di stasiun, kereta api belum datang, terpaksalah kami menunggu di stasiun itu. Semua mata terarah kepada kami, mungkin mereka menyangka kami para penjahat yang pantas mendapat hukuman. Dipandangi seperti itu, sedih datang seketika, jatuh ke dalam air mata.

Cukup lama menunggu, kereta datang. Kami yang terangkai oleh belenggu digiring oleh opas ke dalam gerbong. Beberapa saat kemudian lonceng kereta berbunyi, kereta akhirnya meninggalkan stasiun, melintasi Merapi dan Singgalang, membawaku jauh dari kampung halaman. Membawaku kesebuah susunan angan yang takkan terlupakan.

Melewati Merapi dan Singgalang

Kutinggalkan kampung halaman

Hendak kupupus semua kenangan

Tentang tepian tempat mandi

Tentang surau tempat mengaji

Tentang pematang sawah

Yang selalu dilalui ketika sore hari

Dan tentang jalan berkerikil

Yang dipijaki dengan telanjang kaki

Dan…

Senyummu memanggil-manggil ku

Di suatu petang

Benar-benar akan tertutupkah

Jalan pulang

Kenangan itu berterbangan

Bersama burung-burung pipit yang

Diburu di sore hari

Dan aku….

Pasti tidak akan melupakan

Saat berebutan buah arbei

Di belakang surau

Saat menunggu guru mengaji.

 

Sesampai di Padang Panjang kereta berhenti, berhenti pulalah kenanganku akan kampung halaman yang kutinggalkan. Perhatianku beralih kepada orang-orang yang ramai di stasiun hendak menumpang. Di luar kulihat seorang perempuan setengah baya melepas suaminya entah akan pergi ke mana. Mereka berurai air mata karena perpisahan itu. Kubawakan ke diri yang malang ini.

Saat aku memandangi pasangan suami istri muda itu, opas menggiring kami turun dari gerbong. Kami dipindahkan ke gerbong lain yang terdiri dari sekat-sekat sempit, sepertinya tempat binatang dan barang-barang; atau sengaja disediakan untuk tahanan. Ruangan sempit itu hanya termuat tiga orang. Jadi rangkaian belenggu kami dipisah oleh opas. Di ruangan itu kami tidak bisa berdiri, hanya jongkok berdempetan bertiga. Dalam kondisi yang buruk itu, terasa malang nasib ini, dimasukkan ke kandang seperti binatang.

Ketika azan zuhur terdengar menggema dari surau-surau yang dilewati, aku rasakan betapa rindu untuk menemui Ilahi. Ternyata kenikmatan ibadah akan terasa ketika kita tidak bisa beribadah lagi dengan sempurna. Saat hari sudah pukul satu, aku tidak berwudhuk, aku sembahyang dengan posisi yang tidak memungkinkan. Aku yakin Tuhan mengerti keadaanku. Dengan bergetar aku lafazkan takbir yang semakin meneguhkan hatiku. (Bersambung)

Jejak Luka (Dua Belas)

Standard

Jejak LukaHari Jumat pagi, aku dikunjungi oleh sahabat dan keluarga, Maya dan Nisa menangis melihat wajahku yang pucat. Kunjungan mereka menjadi sesuatu yang tak akan kulupakan. Aku tahu mereka berharap banyak padaku. Bukan hanya anak dan istriku, tetapi masyarakat itu juga berharap banyak, setelah kematian ayahku Syekh Abdul Manan.

Saat pertemuan itu, aku tidak diperbolehkan keluar dari sel. Masyarakat pun tidak boleh masuk bersama-sama menemuiku. Hanya wakil mereka yang datang mencoba meneguhkan hatiku untuk tetap sabar dalam cobaan yang teramat berat ini. Maya, Nisa, dan Tuanku Salim yang bisa menemuiku. Dalam perjumpaan itu, mula-mula Maya dan Nisa yang bicara padaku. Sementara itu Tuanku Salim disuruh untuk menunggu agak jauh dari sel.

“Sabarlah, Sayang…jangan menangis, duka di matamu itu hanya semakin membuat luka di hatiku. Percayalah, suatu waktu nanti aku akan kembali bersamamu. Takkan mungkin aku mampu melanjutkan hidup tanpa kalian berdua, aku selalu berdoa pada Tuhan semoga kelak kita dipertemukan dalam kebahagiaan. Sayang…jaga anak kita, ajari dia hidup dalam realita, dia harus kuat melebihi kita, karena penderitaannya pun akan melebihi penderitaan kita.”

Aku tatap wajah Maya, dia tidak mampu bicara banyak, bahkan untuk menjawab kata-kataku. Waktu itu dia hanya menangis sambil menutup mulut dengan tangan kirinya, sementara itu tangan kanannya memegangi Nisa yang juga telah mengucurkan air mata. Terasa pada diriku betapa remuk redam jantung hatinya menghadapi kenyataan harus terpisah oleh keadaan yang menyakitkan. Mungkin seperti teriris sembilu jiwanya, perih, pedih teramat pedih tak terkirakan dengan kata-kata.

“Aku akan menunggu, kalaupun seumur hidupku akan aku pergunakan untuk menunggu Uda, aku akan tetap menunggu. Sampai langit terbelah pun akan kutunaikan kata-kataku ini. Pulanglah Uda bila suatu saat sudah terbuka jalan untuk kita bertemu kembali. Aku masih seperti dulu, perempuan yang telah menyerahkan jiwa ragaku untuk Uda, hidup dan kehidupanku, semuanya telah kudiamkan dalam lindungan Uda.”

Di belakang, opas memberi aba-aba untuk segera mengakhiri pertemuan kami. Aku sempatkan diri untuk mencium Nisa dari balik teruji besi. Setelah opas menyuruh Maya pergi, Tuanku Salim datang mengunjungiku. Aku masih berusaha keras menahan air mata agar tidak menetes ke pipi. Aku tidak ingin peristiwa ini memperlihatkan kelemahanku.

“Tuan Haji…kami berharap banyak padamu, dan kami akan selalu berdoa untuk keselamatan Tuan.”

Tak lama waktu diberikan opas untuk bicara dengan Tuanku Salim, mungkin dia curiga kalau-kalau Tuanku Salim menyampaikan pesan perjuangan kepadaku. Beberapa waktu kemudian para penjenguk meninggalkan tahanan. Aku kembali sepi, tinggal dalam kesendirian. Bersambung

 

Jejak Luka (Sebelas)

Standard

Jejak Luka

Tak terasa percakapanku dengan sersan itu membawa kami pada pukul empat sore. Empat kali pendul jam yang tergantung di dinding gudang berbunyi. Hujan yang turun deras kini mulai berhenti, hanya tinggal rintik-rintik sebelum benar-benar pergi. Aku pamit minta diri pada opas yang menjagaku untuk melaksanakan sembahyang. Tanpa berniat untuk menghalangiku, dia persilakan aku untuk mengerjakan kewajibanku. Selesai sembahyang, serdadu telah berbaris untuk membawaku pergi. Di tengah barisan serdadu itu aku berjalan ke arah yang aku tidak tahu.

Dari gudang kami terus berjalan ke Pakan Selasa. Orang-orang yang sedang ramai berjual beli sesaat terhenti, mereka menatap aku yang berada dalam barisan dan kawalan serdadu. Samar-samar kudengar desis suara mereka menyebut-nyebut namaku.

“Haji Ahmad…”

“Haji Ahmad, anak Syekh Abdul Manan.”

“Yang keramat itu…?”

“Ya…Wali Allah itu.”

Di perjalanan suara-suara itu hilang ditiup angin. Setelah lama berjalan kami sampai di Nagari Kapau. Saat itu hujan mulai turun kembali. Lebih deras daripada hujan yang turun siang tadi. Rombongan kami terus berjalan di tengah hujan, hingga sampai di Bukittinggi. Memasuki kota Bukittinggi orang-orang ramai memberitakan penyerangan Belanda ke Nagari Kamang, mereka seperti tidak takut dengan serdadu-serdadu yang melintasi mereka. Saat itu hujan mulai reda, kami sampai di penjara.

Di dalam penjara aku dipersilakan duduk. Aku kedinginan karena baju yang masih basah. Kakiku sudah menggigil kedinginan. Dalam kondisi seperti itu jaksa datang memberikan pertanyaan.

“Kamu ke Kamang untuk pergi berperang?”

“Tidak, di Kamang itu kampung halamanku.”

“Tapi sebelum itu kau tidak di situ.”

“Ya… aku pulang hari sabtu dari Parabek tempat aku memberikan pelajaran  mengaji, tidak ada maksudku untuk berperang. Aku pulang untuk menemui anak dan istriku.”

“Kau bohong… kau membantu ayahmu untuk menghasut rakyat agar memberontak kepada Belanda.”

“Kami tidak memberontak, kami di negeri kami sendiri, kami berhak berbuat apa saja.”

“Nah… kau memang menghasut rakyat untuk tidak membayar blasting…betul kan?”

“Membayar? Untuk apa kami membayar pajak di tanah kami sendiri, untuk apa kami membayar untuk barang kami sendiri.”

Seorang Belanda masuk, badannya tinggi dan jangkung, hidungnya tajam seperti orang Eropa kebanyakan. Belanda itu memegang senapan. Dihentakkannya pangkal senapan itu ke arah wajahku, tapi tidak sampai mengenai wajahku, dia hanya menggertak. Lalu ditodongkannya ujung senapan itu ke wajahku.

“Tidak mempan peluru ya…!”

Dari nada suaranya aku tahu kalau Belanda itu mengejekku. Tapi aku diam, tidak terlalu meladeni orang kafir itu. Aku muak melihat tampangnya. Untung jaksa memanggilnya.

“Atos, masukkan Haji Ahmad ke ruangan tertutup.”

Belanda itu ternyata bernama Atos. Aku dimasukkannya ke sebuah ruangan tertutup. Sesampai di dalam aku duduk, pakaianku masih basah, terasa sekali dingin waktu itu. Sebelum orang-orang itu menanyaiku, aku buka baju yang melekat di tubuh, lalu memeras air di pakaian itu. Setelah itu aku pakai lagi kain yang masih lembab itu. Dingin terasa menusuk-nusuk tulang, menggerogoti setiap sendi tubuh hingga bergoyang.

Di ruangan itu ada tiga orang Belanda selain Atos. Sepertinya mereka akan melanjutkan tuduhan-tuduhan yang sudah dimulai jaksa di luar ruangan tadi.

“Ini Haji Ahmad Si Pemberani itu, Tuan.”

Atos memperkenalkan aku pada orang-orang yang tidak kukenal itu. Mungkin mereka pembesar-pembesar Belanda yang berkuasa di negeri kami. Dengan isyarat, salah seorang dari mereka menyuruh Atos keluar dari ruangan. Bagi Atos isyarat itu sudah lebih dari perintah yang harus dijalankan. Saat itu juga Atos raib dari ruangan.

Pintu ruangan itu segera ditutup, badanku kedinginan karena di luar cuaca memang sangatlah dingin. Aku berpikir bahwa akan langsung diajukan pertanyaan padaku. Tapi tidak, salah seorang dari orang itu memberikan nasi padaku. Saat itu aku baru sadar bahwa sejak pagi aku belum makan. Kucicipi nasi itu, ternyata mereka memberikan nasi yang sudah basi.

Dugaanku benar, ternyata orang-orang yang bertiga itu memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku yang mengarah bahwa aku orang yang bertanggung jawab atas perlawanan rakyat Kamang. Apapun jawabanku sepertinya mereka sudah tidak mau mengerti. Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bicara banyak seperti yang aku lakukan pada sersan di gudang tadi siang. Setelah simpanan pertanyaan mereka habis, mereka memanggil Atos kembali dan menyuruh untuk membawaku ke dalam ruangan tertutup.

Malam itu aku masih kedinginan, tidak diberikan kain pengganti. Badanku pasi menggigil menahan hawa dingin. Malam itu menjadi malam yang membuat resah. Pagi terasa lama malam itu. Setelah cukup lama menderita, akhirnya  subuh datang juga. Aku mencoba bangkit mengusir gigil, lalu beranjak untuk tayamum dan melaksanakan sembahyang subuh.

Hari itu hari Rabu. Aku dipanggil Tuan Jaksa ke kantor sipir penjara. Dia menanyai  nama dan gelarku. Selain itu dia tidak menanyakan apa-apa lagi, kemudian dia menyuruh kembali ke dalam tahanan. Sehari, sepanjang hari Rabu itu aku tidak diperbolehkan keluar. Hanya duduk bermenung di dalam ruangan tertutup. Kenangan-kenangan akan anak dan istri setiap saat singgah di kepala, tak mampu aku menepisnya. Aku bayangkan anakku juga menangis saat itu, memanggil-manggil namaku.

Hari Kamis pagi opas datang membuka kunci tahanan. Tanganku dibelenggu, lalu aku dibawa keluar dari tahanan. Opas membawaku ke pasar dalam keadaan tangan terikat. Aku dibawa ke kantor Tuan Besar. Hanya sebentar. Setelah itu Tuan Besar memerintahkan opas untuk membawaku ke Komendur Westenenk. Sesampai di ruangan Komendur aku hanya tertunduk tak banyak bisa berbuat yang lain, sepertinya kesehatanku mulai terganggu setelah mengikuti cuaca buruk kemarin. Di ruangan itu Westenenk berkata.

“Haji Ahmad, apakah kamu sengaja mengambil senapan dan kelewang untuk digunakan membuat kekacauan?”

Tuduhan apa pula yang dialamatkan kepadaku oleh kompeni ini. Mengambil senapan? Ah…memegangnya pun aku tidak pernah, kecuali kelewang memang aku sering memakainya, itu pun tidak untuk menakut-nakuti Belanda.

“Aku tidak pernah mengambil senapan Tuan, kalau kelewang aku punya…tapi tidak untuk membunuh kompeni.”

Mendengar jawabanku yang sengit, rupanya membuat Komendur Westenenk marah.

“Ow…rupanya kau hendak memecahkan kepalaku dengan kelewangmu itu…Bangsat…!”

Komendur Westenenk menampar wajahku. Panas terasa bekas makan tangan si kafir itu. Aku tidak bisa membalas karena tanganku masih terikat. Aku pandang matanya dengan luapan kemarahan, ternyata dia gagap kutatap seperti itu, dialihkannya pandangan dari tatapanku. Dia berteriak menghilangkan kegugupannya.

“Pergilah engkau ke neraka,…Bangsat…!”

Dia memukulkan tangannya ke atas meja, kertas-kertas di atas meja itu berserakan, bercampur dengan abu rokok yang turut berserakan dari asbak berukiran tubuh perempuan di atas mejanya.

“Opas… segera kurung dia dalam penjara!”

Aku segera berdiri diiringi oleh opas yang menjagaku. Sesampai di dalam penjara, belenggu yang menggelantung di tanganku dibuka oleh opas. Di penjara yang dingin aku mencari-cari tempat untuk beristirahat, melepaskan lelah jiwa dan penat raga. (Bersambung)

Jejak Luka (Sembilan)

Standard

Jejak Luka

Tahun  1908, tujuh hari setelah ayah dimakamkan. Serdadu Kompeni datang kembali menjemputku ke Kampung Tapi. Mau tak mau aku harus pergi, aku khawatir kampung ini juga akan dimusnahkan kalau aku tak turuti kemauan mereka.  Kini, Maya sudah tanpak agak tenang dari pada pertama kali aku dijemput beberapa hari lalu. Sebelum aku pergi dia masih sempat menyuguhkan kopi.

“Jangan buru-buru, Da, minumlah kopi ini, entah kapan lagi aku akan membuatkan kopi untuk Uda[1].”

Nisa kecil pun menimpali kata-kata ibunya.

“Minumlah, Bapak. Nisa sayang Bapak, Nisa akan tunggu Bapak pulang.”

“Anakku…sudah tak sanggup Bapak untuk meminumnya, semakin lama Bapak di sini semakin marah mereka kepada kita, Bapak tidak mau kampung ini seperti Kampung Bansa.”

Walau bagaimanapun juga, aku minum kopi buatan istriku. Aku tinggalkan Maya dan Nisa, tapi mereka mengiringi dari belakang disertai uraian air mata yang membuat hatiku luka. Sesampai di simpang jalan, aku tidak kuasa melihat anakku menangis sambil memeluk ibunya. Saat aku melihatnya, dia kejar pelukanku seperti untuk terakhir kalinya dia akan bertemu denganku.

“Bapak…aku ikut dengan Bapak.”

“Pulanglah, Nak, temani ibumu, jaga dia baik-baik. Kalau Nisa pergi, dengan siapa ibu kan ditinggalkan?”

“Tidak, Bapak, kami akan pergi dengan Bapak apapun yang akan terjadi pada Bapak.”

“Pulanglah, Sayang.”

“Tidak guna lagi kami hidup tanpa Uda.”

Tanpa kuduga ternyata Maya sudah berada di samping kami, aku berdiri menatap matanya yang luka.

“Jangan bicara seperti itu, pulanglah ke rumah, berdoa kepada Tuhan.”

Anak dan istriku akhirnya pulang, setelah aku dibawa kompeni. Terasa sakit berpisah kasih sayang. Setelah lama berjalan diiringi serdadu, kami sampai ke sebuah gudang. Saat itu matahari sangatlah panas, aku disuruh masuk ke dalam gudang itu. Aku kira Komendur Westenenk  yang berada di dalam gudang itu, ternyata dia tidak ada, hanya ada beberapa orang serdadu. Aku tidak tahu entah apa salahku hingga dibawa ke sini.

Cukup lama di dalam gudang, seorang sipir penjara  datang dan bertanya kepadaku.

“Haji Ahmad?”

“Iya!” jawabku tegas.

“Mengapa kakimu?”

Aku tidak menjawab pertanyaan yang tidak berbobot itu, dia sudah tahu kalau kakiku ini sedang terluka. Ternyata aku benar, itu hanya basa-basi tak laku sebagai pembuka kata-katanya. Setelah itu dia langsung ke maksud tujuannya.

“Haji Ahmad, kamu dinilai sebagai orang yang akan membahayakan Belanda, jadi untuk sementara kamu ditahan.”

“Membahayakan…? Apa yang aku lakukan sehingga aku dinilai membahayakan untuk Belanda…?”

“Kamu sering ceramah dan menghasut masyarakat.”

“Ah…kalian sudah dihantui rasa takut yang kalian ciptakan sendiri, sehingga melihat aku mengajar mengaji kalian anggap sebagai hal yang berbahaya. Kalau kalian tidak melakukan kesalahan-kesalahan tentu hal ini tidak akan terjadi.”

“Tidak usah banyak bicara, Haji Ahmad, yang penting kamu ditahan, apapun alasannya.”

Aku tercenung oleh kata-kata sipir penjara itu. Tapi walau bagaimanapun aku sudah bertekad untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Termasuk kejadian terburuk sekalipun. Menyaksikan aku sudah diam, sipir senjara memerintahkan kepada opas untuk segera memasang belenggu di tanganku dan memerintahkan untuk membawaku ke Bukittinggi. Untuk perintah yang kedua itu aku segera membantah.

“Tak usah aku dibelenggu, perintahkan saja akan kalian bawa ke mana aku.”

Sipir penjara itu seolah-olah tidak mendengar kata-kataku. Dia tidak menarik ucapannya sehingga seorang opas mendekatiku dengan sebuah belenggu.

“Untuk apa aku akan dibelenggu, tidak usah, aku tidak akan lari.”

Setelah berkata seperti itu aku mengambil sebuah kursi lalu duduk di atasnya. Saat aku duduk, sipir merasa aku akan mencoba-coba kemarahannya.

“Wow…mau coba-coba denganku ya…”

Sipir itu berjalan mondar-mandir sambil memutar kumisnya yang lebat. Saat dia berputar-putar, datang seorang serdadu. Serdadu itu diperintahkan oleh sipir untuk menjagaku.

“Dia tidak mempan peluru, Tuan.”

Mendengar pengakuan serdadu itu aku jadi kaget, mengapa dia sampai bicara seperti itu? Ternyata mereka benar-benar dihantui ketakutan sendiri, sehingga memandang berbahaya semua orang, bahkan aku dianggap keramat tak mempan peluru, entah dari mana dia menyimpulkan  hal itu. Apakah dia pernah datang ke Kampung Bansa dan ikut serta membunuhi orang-orang kampung dan ayahku? Atau mereka hanya sekedar mendengar ketakutan-ketakutan temannya saja. Seketika bergetar imanku mendengar kesaksian serdadu itu.

Ketika pendul jam berdentang satu kali menandakan hari pukul satu, hujan mulai turun. Aku tidak jadi dibawa ke Bukittinggi. Serdadu dan sipir penjara meninggalkanku. Aku tinggal dalam gudang seorang diri. Seperginya dua orang Belanda itu, datang seorang serdadu lain menemaniku. Hujan semakin lebat. Aku berdiri ke beranda gudang. Serdadu yang menemaniku itu membawa kursi untukku yang memandang hujan mengguyur Negeri Kamang.

“Terima kasih.”

Serdadu itu mengangguk sambil tersenyum, mencoba mengakrabiku. Aku duduk di kursi yang disediakan serdadu itu. Hatiku yang tidak menentu mulai terasa sunyi melihat hujan yang semakin deras.

Saat aku bermenung menatap hujan, seorang sersan Belanda memberikan rokok daun nipah padaku. Mungkin dia kasihan padaku yang terasa sepi. Sesaat dia meraba-raba saku celana dan saku bajunya. Mungkin dia sedang mencari korek api. Menyadari benda itu tidak ada padanya segera dia meminta pada serdadu yang manjagaku.

“Tidak usah, terima kasih. Aku tidak merokok.”

Sersan itu tak jadi memberikan rokok padaku, dia masukkan rokok yang telah dilenting itu ke dalam mulutnya, lalu menyulut dengan api yang telah diberikan temannya.

“Punya anak?”

Sersan itu bicara dalam bahasa Melayu yang sangat buruk, mencoba merintang hatiku yang sedang gamang. Aku jawab dengan pendek.

“Punya.”

“Berapa orang?”

“Satu orang?”

“Satu orang? Biasanya orang terhormat punya anak yang banyak dari istri yang juga banyak?”

“Tidak semua,“

“Aku juga sudah punya anak, tiga orang, sekarang mereka aku tinggalkan di Belanda bersama istriku.

(Bersambung)

Jejak Luka (Tujuh)

Standard

Jejak Luka

Aku cemas menyaksikan kejadian itu, aku tidak jadi berjalan, kupandangi Batudung yang kini sudah dipukuli oleh para serdadu.

“Kamu mau melawan, Batudung? Kamu akan bunuh kami dengan pisau ini, hah? Bangsat…!”

“Adakah patut saya melawan tuan-tuan yang berkedudukan tinggi?”

Komendur Westenenk segera memerintahkan para serdadu membawa Batudung. Serdadu segera mengikat tangan Batudung ke belakang, setelah itu kami berjalan. Karena tidak bisa mendapatkan Ayah mereka kesal, serdadu kompeni melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan, aku kehilangan akal, sepertinya peluru itu akan menembus tubuh penduduk yang sedang terlelap.

Tembakan itu terus membabi buta, membuat penduduk ketakutan di dalam rumah mereka. Di antara suara tembakan itu, Batudung berteriak kesakitan. Kakinya tertembus peluru. Senapan itu masih terus berdentam, tidak menghiraukan rintihan Batudung menahan kesakitan. Aku pun harus menghindar dari tembakan para serdadu, aku melompat ke pagar hidup pembatas jalan, saat kakiku menginjak tanah terasa sakit diinjakkan. Aku kira nasibku sama dengan Batudung, peluru serdadu itu menembus kakiku.

Aku tidak berteriak, karena teriakan hanya akan membuat lemah diriku dihadapan kompeni, aku tahan sakit yang mendera, menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun. Aku lihat luka di kaki itu, sepotong patahan bambu masih tertancap. Ah…ternyata aku tidak tertembak. Dengan nama Allah aku cabut patahan bambu itu, aku mendesis, mataku basah menahan sakit yang menghentak sampai ke ubun-ubun.

Malam semakin merah di langit Bansa yang dingin. Aku masih terduduk di tanah, saat itu kusaksikan penduduk sudah berlarian ke luar rumah. Serdadu Belanda mengamuk, mereka menembaki penduduk seperti berburu kijang di hutan. Anak-anak menangis dalam gendongan orang tuanya. Malam itu Kampung Bansa seakan menjadi neraka. Para gadis menangisi nasib karena direnggut paksa keperawananya oleh para serdadu Belanda. Rumah-rumah dibakar, binatang ternak dihalau ke luar dari kandang, sehingga ikut berlari bersama penduduk yang ketakutan.

Malam penyerangan Belanda ke Kampung Bansa saat itu tidak akan dapat dilupakan dalam ingatan semua orang, apalagi bagi kami yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Malam yang menakutkan, sehingga menjadi ingatan sepanjang hayat masih dikandung badan. Ibarat ukiran yang dipahatkan di batu-batu Ngalau Kamang, semuanya tidak hilang.

Keganasan kompeni itu ternyata hanya dihentikan oleh waktu subuh. Setelah beberapa Rumah Gadang dibakar sehingga hanya menyisakan puing-puing yang bisu. Aku berjalan menyeret kaki yang terluka mencari-cari Ayah di antara tumpukan mayat yang berserakan. Sejauh mata memandang mayat-mayat itu bergelimpangan; tua, muda, laki-laki perempuan, anak-anak yang tidak berdosa pun meregang nyawa. Semakin lama kucari serasa di depan mata mayat ayahku, namun sudah lama kucari-cari sosok yang kucintai itu tidak juga bertemu.

Saat subuh sudah pergi, penduduk yang masih hidup baru keluar dari persembunyian. Mencari-cari sanak saudara dengan linangan air mata. Sebagian yang terluka mencari-cari air pelepas dahaga sambil merintih menahan derita. Aku merasa bersalah kepada mereka, hanya karena kompeni tidak menemukan Ayah mereka menjadi tersiksa.

Saat cahaya matahari mulai terang, waktu itulah kutemukan jasad Ayah. Kupeluk tubuhnya yang telah menyisakan beberapa luka. Sorbannya lepas dari kepala, jubah putihnya kini memerah warna darah. Kulihat senyum di bibirnya yang terasa tenteram, aku kira dia masih hidup, kugoyang-goyangkan kepalanya dengan lambat, berharap dia terjaga. Kupanggil-panggil namanya, tetapi dia tidak menjawab kecuali tersenyum saja.

“Ayah…Ayah…”

Dia tidak mendengar panggilanku. Semakin lama aku menatap senyumnya aku semakin tidak percaya kalau dia sudah berpulang kepangkuan Tuhan tempat kembalinya semua yang bernyawa. Waktu itu aku tidak bisa menahan tangis yang menyesak keluar dari mata. Dalam tangis itu aku ingin dia mendengar kata-kataku untuk terakhir kalinya.

“Duhai, Ayah…apa salah kita hingga nasib seperti ini? Semoga kelak di akhirat kita bertemu, di tempat yang maha indah, di mana Tuhan dapat melihat kita.”

Aku bawa jasad Ayah ke pangkuanku. Walau Ayah sudah tua, ternyata jasadnya cukup berat, apalagi kakiku yang terluka membuat aku sulit untuk berjalan. Saat aku tertatih membawa jasad Ayah, orang-orang mulai berdatangan ke arahku. Mereka masih berurai air mata, tapi melihat orang yang mereka hargai itu telah meninggal dunia, mereka berebutan untuk mengantarnya. Aku maklum, kuserahkan jasad Ayah kepada orang-orang itu untuk mereka bawa. Ayah kami bawa ke atas rumah yang sudah lepas dinding-dindingnya karena senapan Belanda, dan sebagian rumah itu sudah hangus terbakar, sehingga rumah itu seperti panggung yang menganga. Setelah mayat Ayah terbujur di atas rumah, aku pamit pada orang-orang untuk ke Kampung Tapi, melihat anak dan istriku. (Bersambung)