Jejak Luka (Delapan)

Standard

Jejak Luka

Sepanjang jalan di Kampung Bansa aku melihat penderitaan yang tiada tara, ibu yang masih hidup menangis seperti orang gila meratapi tubuh bayinya yang tinggal separo. Seorang suami menangis beriba hati melihat perut istrinya yang terburai, padahal dalam perut istrinya itu ada anak pertama mereka yang baru berumur enam bulan. Di jembatan yang membentang di sungai kecil yang melewati Ngalau, dua orang adik kakak mengangkat tubuh bapaknya, yang mati berlumur darah. Sembari membopong mayat bapaknya mereka terus menangis sambil bersumpah bahwa suatu saat mereka akan membalas kepedihan itu dan tidak akan pernah melupakan hari yang menjadikan kampung mereka basah oleh darah sehingga tanah-tanahnya berubah seperti mawar.

Sesampai di rumah, pintu masih terkunci, suara letusan senapan dari Kampung Bansa membuat orang-orang ketakutan hingga mengunci pintu.

“Nisa…bukalah pintu, Nak, Ayah pulang.”

Maya membuka pintu, dalam gendongannya anakku masih ketakutan dan menangis. Aku ambil Nisa dari pangkuan Maya. Dia masih menangis ketika sudah berada di dalam pangkuanku.

“Sudahlah, Nak, jangan menangis. Sudah takdir Tuhan apa yang terjadi.”

Setelah menyampaikan kabar bahwa Ayah meninggal dunia kepada Maya, aku minta diri untuk pergi dan berjanji akan kembali setelah pemakaman Ayah. Sebenarnya Maya ingin pergi ke Kampung Bansa melihat mertuanya untuk terakhir kali, tapi kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk membawanya.

“Tidak usah pergi, doakanlah beliau. Insya Allah Tuhan akan mendengar doa kita.”

Maya masih berat hati untuk tinggal di rumah, apalagi melihat luka di kakiku dia bertambah cemas. Tapi kalau dia pergi, tentu Nisa harus ikut. Aku tidak ingin Nisa melihat Kampung Bansa yang hancur karena perang yang tidak imbang, aku tidak ingin Nisa menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Aku tidak ingin di hatinya bergejolak dendam, terlalu muda baginya untuk merasakan kepedihan itu.

“Maya…ingat Nisa, kasihan dia kalau dibawa ke Kampung Bansa.”

Jam tua di dinding rumah sudah menunjukkan pukul enam. Sekali lagi aku minta izin kepada Maya untuk pergi ke Kampung Bansa. Di sepanjang jalan Kampung Bansa aku masih melihat orang-orang sibuk mengumpulkan orang-orang yang mati karena peluru, karena kelewang kompeni, dan ada juga perempuan-perempuan yang mati dengan aurat terbuka, digilir sampai mati. Bahkan ada juga seorang perempuan yang hancur dadanya dipotong kompeni. Tentunya setelah mereka permainkan sebelumnya. Sungguh kejahatan orang-orang biadab yang tidak kenal adab.

Setelah dikumpulkan mayat-mayat itu, semuanya kira-kira berjumlah seratus orang lebih, di antaranya ada mayat serdadu. Ternyata penduduk tidak diam saat di tembaki, walau dengan tombak dan parang mereka coba melawan senjata-senjata kompeni. Di antara mayat-mayat itu kutemukan juga mayat kemenakan ayahku Ramlah, yang beberapa hari lalu berencana untuk berguru ke Perguruan Tawalib Parabek. Ah…malangnya nasib gadis remaja itu, dia harus mati sebelum cita-citanya sampai untuk menuntut ilmu.

Di sebelah mayat Ramlah, aku lihat ibunya meratap beriba hati. Aku mendekatinya tetapi tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk mengobati duka yang menyelimuti dirinya. Aku diam, sembari didalam hati berdoa kepada Tuhan agar memberikan ketabahan di hati Etek[1] dan dibhati seluruh orang-orang yang berduka ketika di hari yang memilukan itu.

“Adikmu sudah berpulang, Ahmad…padahal dia sudah menyiapkan perbekalannya untuk pergi berguru ke Tawalib.”

Masih berat terasa lidahku diajak bicara, tetapi demi menenangkan hati Etek aku coba untuk berkata.

“Semua kita sedang berduka, Etek. Sabarkan hati semoga Ramlah dibawa Tuhan ke sorga.”

Setelah beberapa saat menemani Etek dalam dukanya, aku turut serta dengan penduduk mengumpulkan mayat-mayat para syuhada. Kami cari pedati untuk membawa mereka kepemakaman massal yang telah disiapkan di Kampung Budi, di belakang surau Ayah. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s