Jejak Luka (Enam)

Standard

Jejak Luka

Di balik itu, Syekh Abdul Manan dituduh kompeni memberi azimat pada pemuda-pemuda yang berjuang menenteng Belanda. Azimat yang akan dibawa terus untuk berperang itu, kabarnya membuat pemuda-pemuda Kamang tahan peluru. Aku dan rombongan terus berjalan, sepanjang jalan aku lelah mendengar Komendur Westenenk yang menghujani Betudung dengan segala makian, seperti perempuan-perempuan yang menceracau saat datang bulan.

“Barangkali kau sembunyikan dia di sini.”

Kami sampai di rumah nenek di Kampung Bansa. Aku diam berhenti berjalan, serdadu segera melingkari kiri dan kanan. Saat itu, serasa akan hilang nyawa di badan. Pikiranku waktu itu tidak lain hanyalah mengadu pada Tuhan yang satu, semoga ayah terhindar dari bahaya ini dan semoga orang-orang yang kusayangi dan mencintaiku tidak berlinangan air mata mengenangkan nasibku. Saat itu aku tidak diperintahkan untuk melihat ke dalam rumah, mungkin mereka membaca siasatku seadainya aku yang disuruh ke dalam, seandainya ayah memang berada di dalam tentu aku akan menyuruhnya lari lewat pintu belakang.

Ketika menggeledah rumah, mereka mengacak-acak semua perabotan yang ada, dari suara perabotan yang berantakan aku tahu kalau mereka telah menghancurkan isi rumah. Di dalam hati, diam-diam aku berharap agar Tuhan menyelamatkan Ayah. Cukup lama kompeni mengacak-acak rumah Nenek, namun mereka tidak menemukan yang mereka cari. Seorang serdadu memberi laporan pada Komendur Westenenk.

“Syekh Abdul Manan tidak ada di dalam rumah, Tuan.” Sebentar kemudian, Komendur Westenenk berkata pada kami berdua: aku dan Batudung.

“Haji Ahmad dan Batudung, sebaiknya jangan melawan kompeni.”

“Bolehkan aku menjawab?” Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaanku itu aku lanjutkan perkataanku.

“Tidaklah mungkin aku melawan tuan-tuan.”

“Lalu di mana penjahat itu kau sembunyikan?”

Komendur Westenenk semakin geram, kemarahan karena tidak berhasil menemukan Ayah membuatnya hilang kecerdasan sehingga akhirnya aku yang mereka tangkap.

“Diam…, jangan banyak bicara, kalian berdua harus ditangkap, agar kalian rasakan hidup di bui.”

Mendengar gertakan Komendur Westenenk, Batudung bukannya takut, malah dia menantang kompeni-kompeni itu.

“Kalau dengan Haji Ahmad, apapun yang akan kalian perbuat kepadaku aku bahagia menerimanya. Jangankan di bui, dalam kubur pun aku bersedia!” Mendengar kata-kata Batudung, Pengulu Datuk menjadi naik pitam.

“Batudung….! Lancang sekali mulutmu! Cepat jalan!”

Batudung segera berjalan melewati para serdadu. Dia tidak takut sama sekali dengan teriakan Pengulu Datuk, di matanya Pengulu Datuk tidak ada wibawa lagi. Seorang serdadu mendekati Batudung, lalu menggerayangi tubuh Batudung, mereka berpikir jangan-jangan Batudung menyimpan senjata. Serdadu itu terus menggeledah tubuh Batudung, akhirnya mereka menemukan pisau di balik pakaian Batudung. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s