Jejak Luka (Sepuluh)

Standard

 

Aku tercenung melihat sersan itu. Kuperhatikan wajahnya, sepertinya aku mulai tertarik dengan ceritanya.

“Mengapa kau tinggalkan mereka?”

Dia tidak menjawab, hanya mengangkat dua bahunya lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Aku serang lagi dia dengan pertanyaanku.

“Bagaimana perasaanmu meninggalkan mereka?”

Dia diam, matanya menerawang jauh, seperti menembus gugusan Bukit Barisan. Aku tahu rasa kemanusiaannya sebagai seorang bapak mulai tersentuh. Terlepas dari siapapun dirinya, apakah kompeni atau penjahat paling biadab sekalipun, aku tahu dia sekarang sedang memerangi perasaannya sendiri.

“Jangan tanya aku seperti itu. Kau sendiri sudah merasakan bagaimana meninggalkan anak dan istrimu.”

“Setidaknya kita berbeda, kau bahagia meninggalkan mereka, sementara aku melepas mereka dengan air mata.”

Sersan itu menatap mataku, aku balas tatapannya itu. Dia mencoba mencari-cari kebenaran dari mataku yang menyala-nyala, masih menyimpan kemarahan pada setiap Belanda.

“Aku juga manusia, aku juga sedih meninggalkan mereka, meninggalkan orang-orang yang kucinta. Jangan kau kira aku berbahagia meninggalkan mereka. Walau gajiku besar dan aku bisa memperoleh harta rampasan dari daerah-daerah yang dikuasai, tapi hal itu tidak cukup untuk mendekatkan jarak yang terjadi antara aku dengan anak dan istriku. Seandainya kau tahu, betapa hampir setiap malam aku merindui mereka, seandainya kau juga tahu bagaimana aku membayangkan suatu saat bisa berkumpul kembali dengan keluargaku.”

Aku seperti di atas angin, kata-kataku mampu menggiring sersan itu pada sebuah lubang yang mereka buat atas kesalahan mereka. Aku pikir inilah waktu yang tepat untuk menghantam mereka, tidak dengan senjata, tapi dengan kata-kata. Semoga saja bisa membuat mereka gila oleh rasa bersalah.

“Lalu untuk apa kau datang ke negeri kami, memisahkan antara anak dan orang tua, memisahkan antara istri dan suami? Kalau kau masih punya harapan untuk bertemu dengan anak dan istrimu, orang-orang di sini sudah tidak sempat untuk sekedar berharap, karena orang-orang yang mereka kasihi sudah terlebih dahulu diterjang peluru.”

Sersan itu kembali terdiam, kini api rokoknya hampir mati, tapi dia tidak juga menghirup rokok itu, seperti hilang semangatnya untuk menikmatinya.

“Aku tidak punya pilihan lain.”

Sersan itu menatapku takjub, sepertinya dia masih ingin medengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibirku, tapi tidak kulakukan itu, aku biarkan dia menghayati kata-kata yang sedang meracuni pikirannya.

“Tuan…seandainya Tuan memiliki anak perempuan yang sedang tumbuh menjadi dewasa, lalu di depan mata tuan sendiri ada orang yang memperkosanya, menghancurkan hidupnya apa yang akan Tuan lakukan? Melawan? Sementara tangan Tuan sendiri sedang dibelenggu, kepala Tuan sendiri sedang diancam dengan peluru? Apakah Tuan akan menutup mata? Sementara tangisan penderitaan anak gadis Tuan itu masih menyusup ke telinga, menghancurkan hidup Anda.“

“Tidak semua Belanda jahat, Tuan Haji.”

“Kalau tidak semua, lantas mengapa masih ada anak-anak kecil yang harus kehilangan orang tua sebelum mereka tahu apa artinya menderita, tapi tiba-tiba saja mereka sudah hidup dalam kubangan derita.”

“Tuan…jangan hukum aku seperti itu.”

“Aku tidak bermaksud menghukummu, tapi aku hanya mengeluhkan penderitaanku, penderitaan sanak saudaraku, penderitaan bangsaku.”

Sersan itu masih terdiam, kini dia tidak berani menatap wajahku, dia hanya menatap ujung sepatunya yang diselimuti debu. Setelah itu dia beranjak dari tempatnya, pergi meninggalkanku. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s