Jejak Luka (Tujuh)

Standard

Jejak Luka

Aku cemas menyaksikan kejadian itu, aku tidak jadi berjalan, kupandangi Batudung yang kini sudah dipukuli oleh para serdadu.

“Kamu mau melawan, Batudung? Kamu akan bunuh kami dengan pisau ini, hah? Bangsat…!”

“Adakah patut saya melawan tuan-tuan yang berkedudukan tinggi?”

Komendur Westenenk segera memerintahkan para serdadu membawa Batudung. Serdadu segera mengikat tangan Batudung ke belakang, setelah itu kami berjalan. Karena tidak bisa mendapatkan Ayah mereka kesal, serdadu kompeni melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan, aku kehilangan akal, sepertinya peluru itu akan menembus tubuh penduduk yang sedang terlelap.

Tembakan itu terus membabi buta, membuat penduduk ketakutan di dalam rumah mereka. Di antara suara tembakan itu, Batudung berteriak kesakitan. Kakinya tertembus peluru. Senapan itu masih terus berdentam, tidak menghiraukan rintihan Batudung menahan kesakitan. Aku pun harus menghindar dari tembakan para serdadu, aku melompat ke pagar hidup pembatas jalan, saat kakiku menginjak tanah terasa sakit diinjakkan. Aku kira nasibku sama dengan Batudung, peluru serdadu itu menembus kakiku.

Aku tidak berteriak, karena teriakan hanya akan membuat lemah diriku dihadapan kompeni, aku tahan sakit yang mendera, menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun. Aku lihat luka di kaki itu, sepotong patahan bambu masih tertancap. Ah…ternyata aku tidak tertembak. Dengan nama Allah aku cabut patahan bambu itu, aku mendesis, mataku basah menahan sakit yang menghentak sampai ke ubun-ubun.

Malam semakin merah di langit Bansa yang dingin. Aku masih terduduk di tanah, saat itu kusaksikan penduduk sudah berlarian ke luar rumah. Serdadu Belanda mengamuk, mereka menembaki penduduk seperti berburu kijang di hutan. Anak-anak menangis dalam gendongan orang tuanya. Malam itu Kampung Bansa seakan menjadi neraka. Para gadis menangisi nasib karena direnggut paksa keperawananya oleh para serdadu Belanda. Rumah-rumah dibakar, binatang ternak dihalau ke luar dari kandang, sehingga ikut berlari bersama penduduk yang ketakutan.

Malam penyerangan Belanda ke Kampung Bansa saat itu tidak akan dapat dilupakan dalam ingatan semua orang, apalagi bagi kami yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Malam yang menakutkan, sehingga menjadi ingatan sepanjang hayat masih dikandung badan. Ibarat ukiran yang dipahatkan di batu-batu Ngalau Kamang, semuanya tidak hilang.

Keganasan kompeni itu ternyata hanya dihentikan oleh waktu subuh. Setelah beberapa Rumah Gadang dibakar sehingga hanya menyisakan puing-puing yang bisu. Aku berjalan menyeret kaki yang terluka mencari-cari Ayah di antara tumpukan mayat yang berserakan. Sejauh mata memandang mayat-mayat itu bergelimpangan; tua, muda, laki-laki perempuan, anak-anak yang tidak berdosa pun meregang nyawa. Semakin lama kucari serasa di depan mata mayat ayahku, namun sudah lama kucari-cari sosok yang kucintai itu tidak juga bertemu.

Saat subuh sudah pergi, penduduk yang masih hidup baru keluar dari persembunyian. Mencari-cari sanak saudara dengan linangan air mata. Sebagian yang terluka mencari-cari air pelepas dahaga sambil merintih menahan derita. Aku merasa bersalah kepada mereka, hanya karena kompeni tidak menemukan Ayah mereka menjadi tersiksa.

Saat cahaya matahari mulai terang, waktu itulah kutemukan jasad Ayah. Kupeluk tubuhnya yang telah menyisakan beberapa luka. Sorbannya lepas dari kepala, jubah putihnya kini memerah warna darah. Kulihat senyum di bibirnya yang terasa tenteram, aku kira dia masih hidup, kugoyang-goyangkan kepalanya dengan lambat, berharap dia terjaga. Kupanggil-panggil namanya, tetapi dia tidak menjawab kecuali tersenyum saja.

“Ayah…Ayah…”

Dia tidak mendengar panggilanku. Semakin lama aku menatap senyumnya aku semakin tidak percaya kalau dia sudah berpulang kepangkuan Tuhan tempat kembalinya semua yang bernyawa. Waktu itu aku tidak bisa menahan tangis yang menyesak keluar dari mata. Dalam tangis itu aku ingin dia mendengar kata-kataku untuk terakhir kalinya.

“Duhai, Ayah…apa salah kita hingga nasib seperti ini? Semoga kelak di akhirat kita bertemu, di tempat yang maha indah, di mana Tuhan dapat melihat kita.”

Aku bawa jasad Ayah ke pangkuanku. Walau Ayah sudah tua, ternyata jasadnya cukup berat, apalagi kakiku yang terluka membuat aku sulit untuk berjalan. Saat aku tertatih membawa jasad Ayah, orang-orang mulai berdatangan ke arahku. Mereka masih berurai air mata, tapi melihat orang yang mereka hargai itu telah meninggal dunia, mereka berebutan untuk mengantarnya. Aku maklum, kuserahkan jasad Ayah kepada orang-orang itu untuk mereka bawa. Ayah kami bawa ke atas rumah yang sudah lepas dinding-dindingnya karena senapan Belanda, dan sebagian rumah itu sudah hangus terbakar, sehingga rumah itu seperti panggung yang menganga. Setelah mayat Ayah terbujur di atas rumah, aku pamit pada orang-orang untuk ke Kampung Tapi, melihat anak dan istriku. (Bersambung)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s