Jejak Luka (Sebelas)

Standard

Jejak Luka

Tak terasa percakapanku dengan sersan itu membawa kami pada pukul empat sore. Empat kali pendul jam yang tergantung di dinding gudang berbunyi. Hujan yang turun deras kini mulai berhenti, hanya tinggal rintik-rintik sebelum benar-benar pergi. Aku pamit minta diri pada opas yang menjagaku untuk melaksanakan sembahyang. Tanpa berniat untuk menghalangiku, dia persilakan aku untuk mengerjakan kewajibanku. Selesai sembahyang, serdadu telah berbaris untuk membawaku pergi. Di tengah barisan serdadu itu aku berjalan ke arah yang aku tidak tahu.

Dari gudang kami terus berjalan ke Pakan Selasa. Orang-orang yang sedang ramai berjual beli sesaat terhenti, mereka menatap aku yang berada dalam barisan dan kawalan serdadu. Samar-samar kudengar desis suara mereka menyebut-nyebut namaku.

“Haji Ahmad…”

“Haji Ahmad, anak Syekh Abdul Manan.”

“Yang keramat itu…?”

“Ya…Wali Allah itu.”

Di perjalanan suara-suara itu hilang ditiup angin. Setelah lama berjalan kami sampai di Nagari Kapau. Saat itu hujan mulai turun kembali. Lebih deras daripada hujan yang turun siang tadi. Rombongan kami terus berjalan di tengah hujan, hingga sampai di Bukittinggi. Memasuki kota Bukittinggi orang-orang ramai memberitakan penyerangan Belanda ke Nagari Kamang, mereka seperti tidak takut dengan serdadu-serdadu yang melintasi mereka. Saat itu hujan mulai reda, kami sampai di penjara.

Di dalam penjara aku dipersilakan duduk. Aku kedinginan karena baju yang masih basah. Kakiku sudah menggigil kedinginan. Dalam kondisi seperti itu jaksa datang memberikan pertanyaan.

“Kamu ke Kamang untuk pergi berperang?”

“Tidak, di Kamang itu kampung halamanku.”

“Tapi sebelum itu kau tidak di situ.”

“Ya… aku pulang hari sabtu dari Parabek tempat aku memberikan pelajaran  mengaji, tidak ada maksudku untuk berperang. Aku pulang untuk menemui anak dan istriku.”

“Kau bohong… kau membantu ayahmu untuk menghasut rakyat agar memberontak kepada Belanda.”

“Kami tidak memberontak, kami di negeri kami sendiri, kami berhak berbuat apa saja.”

“Nah… kau memang menghasut rakyat untuk tidak membayar blasting…betul kan?”

“Membayar? Untuk apa kami membayar pajak di tanah kami sendiri, untuk apa kami membayar untuk barang kami sendiri.”

Seorang Belanda masuk, badannya tinggi dan jangkung, hidungnya tajam seperti orang Eropa kebanyakan. Belanda itu memegang senapan. Dihentakkannya pangkal senapan itu ke arah wajahku, tapi tidak sampai mengenai wajahku, dia hanya menggertak. Lalu ditodongkannya ujung senapan itu ke wajahku.

“Tidak mempan peluru ya…!”

Dari nada suaranya aku tahu kalau Belanda itu mengejekku. Tapi aku diam, tidak terlalu meladeni orang kafir itu. Aku muak melihat tampangnya. Untung jaksa memanggilnya.

“Atos, masukkan Haji Ahmad ke ruangan tertutup.”

Belanda itu ternyata bernama Atos. Aku dimasukkannya ke sebuah ruangan tertutup. Sesampai di dalam aku duduk, pakaianku masih basah, terasa sekali dingin waktu itu. Sebelum orang-orang itu menanyaiku, aku buka baju yang melekat di tubuh, lalu memeras air di pakaian itu. Setelah itu aku pakai lagi kain yang masih lembab itu. Dingin terasa menusuk-nusuk tulang, menggerogoti setiap sendi tubuh hingga bergoyang.

Di ruangan itu ada tiga orang Belanda selain Atos. Sepertinya mereka akan melanjutkan tuduhan-tuduhan yang sudah dimulai jaksa di luar ruangan tadi.

“Ini Haji Ahmad Si Pemberani itu, Tuan.”

Atos memperkenalkan aku pada orang-orang yang tidak kukenal itu. Mungkin mereka pembesar-pembesar Belanda yang berkuasa di negeri kami. Dengan isyarat, salah seorang dari mereka menyuruh Atos keluar dari ruangan. Bagi Atos isyarat itu sudah lebih dari perintah yang harus dijalankan. Saat itu juga Atos raib dari ruangan.

Pintu ruangan itu segera ditutup, badanku kedinginan karena di luar cuaca memang sangatlah dingin. Aku berpikir bahwa akan langsung diajukan pertanyaan padaku. Tapi tidak, salah seorang dari orang itu memberikan nasi padaku. Saat itu aku baru sadar bahwa sejak pagi aku belum makan. Kucicipi nasi itu, ternyata mereka memberikan nasi yang sudah basi.

Dugaanku benar, ternyata orang-orang yang bertiga itu memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku yang mengarah bahwa aku orang yang bertanggung jawab atas perlawanan rakyat Kamang. Apapun jawabanku sepertinya mereka sudah tidak mau mengerti. Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bicara banyak seperti yang aku lakukan pada sersan di gudang tadi siang. Setelah simpanan pertanyaan mereka habis, mereka memanggil Atos kembali dan menyuruh untuk membawaku ke dalam ruangan tertutup.

Malam itu aku masih kedinginan, tidak diberikan kain pengganti. Badanku pasi menggigil menahan hawa dingin. Malam itu menjadi malam yang membuat resah. Pagi terasa lama malam itu. Setelah cukup lama menderita, akhirnya  subuh datang juga. Aku mencoba bangkit mengusir gigil, lalu beranjak untuk tayamum dan melaksanakan sembahyang subuh.

Hari itu hari Rabu. Aku dipanggil Tuan Jaksa ke kantor sipir penjara. Dia menanyai  nama dan gelarku. Selain itu dia tidak menanyakan apa-apa lagi, kemudian dia menyuruh kembali ke dalam tahanan. Sehari, sepanjang hari Rabu itu aku tidak diperbolehkan keluar. Hanya duduk bermenung di dalam ruangan tertutup. Kenangan-kenangan akan anak dan istri setiap saat singgah di kepala, tak mampu aku menepisnya. Aku bayangkan anakku juga menangis saat itu, memanggil-manggil namaku.

Hari Kamis pagi opas datang membuka kunci tahanan. Tanganku dibelenggu, lalu aku dibawa keluar dari tahanan. Opas membawaku ke pasar dalam keadaan tangan terikat. Aku dibawa ke kantor Tuan Besar. Hanya sebentar. Setelah itu Tuan Besar memerintahkan opas untuk membawaku ke Komendur Westenenk. Sesampai di ruangan Komendur aku hanya tertunduk tak banyak bisa berbuat yang lain, sepertinya kesehatanku mulai terganggu setelah mengikuti cuaca buruk kemarin. Di ruangan itu Westenenk berkata.

“Haji Ahmad, apakah kamu sengaja mengambil senapan dan kelewang untuk digunakan membuat kekacauan?”

Tuduhan apa pula yang dialamatkan kepadaku oleh kompeni ini. Mengambil senapan? Ah…memegangnya pun aku tidak pernah, kecuali kelewang memang aku sering memakainya, itu pun tidak untuk menakut-nakuti Belanda.

“Aku tidak pernah mengambil senapan Tuan, kalau kelewang aku punya…tapi tidak untuk membunuh kompeni.”

Mendengar jawabanku yang sengit, rupanya membuat Komendur Westenenk marah.

“Ow…rupanya kau hendak memecahkan kepalaku dengan kelewangmu itu…Bangsat…!”

Komendur Westenenk menampar wajahku. Panas terasa bekas makan tangan si kafir itu. Aku tidak bisa membalas karena tanganku masih terikat. Aku pandang matanya dengan luapan kemarahan, ternyata dia gagap kutatap seperti itu, dialihkannya pandangan dari tatapanku. Dia berteriak menghilangkan kegugupannya.

“Pergilah engkau ke neraka,…Bangsat…!”

Dia memukulkan tangannya ke atas meja, kertas-kertas di atas meja itu berserakan, bercampur dengan abu rokok yang turut berserakan dari asbak berukiran tubuh perempuan di atas mejanya.

“Opas… segera kurung dia dalam penjara!”

Aku segera berdiri diiringi oleh opas yang menjagaku. Sesampai di dalam penjara, belenggu yang menggelantung di tanganku dibuka oleh opas. Di penjara yang dingin aku mencari-cari tempat untuk beristirahat, melepaskan lelah jiwa dan penat raga. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s