Jejak Luka (Tiga Belas)

Standard

Jejak LukaHari Sabtu, opas masuk ke sel, memberi kabar bahwa aku akan dipindahkan ke penjara di Padang. Tanpa diberi kesempatan untuk berpikir, opas itu membelenggu tanganku, aku diseret ke luar dari ruangan.

Di sebuah ruangan lain ternyata sudah ada yang menunggu. Tiga belas orang tahanan yang akan dibawa ke Padang. Kami semua dirangkai dengan belenggu untuk digiring ke stasiun kereta. Sesampai di stasiun, kereta api belum datang, terpaksalah kami menunggu di stasiun itu. Semua mata terarah kepada kami, mungkin mereka menyangka kami para penjahat yang pantas mendapat hukuman. Dipandangi seperti itu, sedih datang seketika, jatuh ke dalam air mata.

Cukup lama menunggu, kereta datang. Kami yang terangkai oleh belenggu digiring oleh opas ke dalam gerbong. Beberapa saat kemudian lonceng kereta berbunyi, kereta akhirnya meninggalkan stasiun, melintasi Merapi dan Singgalang, membawaku jauh dari kampung halaman. Membawaku kesebuah susunan angan yang takkan terlupakan.

Melewati Merapi dan Singgalang

Kutinggalkan kampung halaman

Hendak kupupus semua kenangan

Tentang tepian tempat mandi

Tentang surau tempat mengaji

Tentang pematang sawah

Yang selalu dilalui ketika sore hari

Dan tentang jalan berkerikil

Yang dipijaki dengan telanjang kaki

Dan…

Senyummu memanggil-manggil ku

Di suatu petang

Benar-benar akan tertutupkah

Jalan pulang

Kenangan itu berterbangan

Bersama burung-burung pipit yang

Diburu di sore hari

Dan aku….

Pasti tidak akan melupakan

Saat berebutan buah arbei

Di belakang surau

Saat menunggu guru mengaji.

 

Sesampai di Padang Panjang kereta berhenti, berhenti pulalah kenanganku akan kampung halaman yang kutinggalkan. Perhatianku beralih kepada orang-orang yang ramai di stasiun hendak menumpang. Di luar kulihat seorang perempuan setengah baya melepas suaminya entah akan pergi ke mana. Mereka berurai air mata karena perpisahan itu. Kubawakan ke diri yang malang ini.

Saat aku memandangi pasangan suami istri muda itu, opas menggiring kami turun dari gerbong. Kami dipindahkan ke gerbong lain yang terdiri dari sekat-sekat sempit, sepertinya tempat binatang dan barang-barang; atau sengaja disediakan untuk tahanan. Ruangan sempit itu hanya termuat tiga orang. Jadi rangkaian belenggu kami dipisah oleh opas. Di ruangan itu kami tidak bisa berdiri, hanya jongkok berdempetan bertiga. Dalam kondisi yang buruk itu, terasa malang nasib ini, dimasukkan ke kandang seperti binatang.

Ketika azan zuhur terdengar menggema dari surau-surau yang dilewati, aku rasakan betapa rindu untuk menemui Ilahi. Ternyata kenikmatan ibadah akan terasa ketika kita tidak bisa beribadah lagi dengan sempurna. Saat hari sudah pukul satu, aku tidak berwudhuk, aku sembahyang dengan posisi yang tidak memungkinkan. Aku yakin Tuhan mengerti keadaanku. Dengan bergetar aku lafazkan takbir yang semakin meneguhkan hatiku. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s