Indang Sungai Garinggiang

Standard
Indang Sungai Garinggiang

Imran meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta dengan harapan segala masalah yang menghimpit kepalanya tinggal di bandara itu, sehingga dia bisa tidur tanpa ada yang mengganggu pikirannya di atas pesawat selama satu setengah jam sebelum sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Dia menyenandungkan lagu  I’m Sory I Love You yang menjadi lagu kesukaannya. Sambil memejamkan mata, Imran menghapus segala ingatan tentang kemelut dengan istrinya. Tak didengarnya suara petugas pesawat yang merdu menyampaikan perintah standar penerbangan, tidak diperhatikannya pramugari yang sedang memperagakan cara memasang alat keamanan pesawat. Ia hanya ingin menenangkan diri walau hanya sesaat.

lighthouse-near-snow-painting-270x170

Sumber gambar: ahdwallpaper.com

Walau bagaimanapun Imran harus menyadari ternyata pernikahan tanpa cinta telah mengantarkannya kepada berbagai persoalan. Awalnya lelaki itu mencoba bertahan, setahun dua tahun dia menjalaninya dengan kesadaran bahwa dia harus mengalah demi keutuhan rumah tangganya. Tetapi setelah beberapa tahun dia lalui, dia dan istrinya semakin tidak bisa lagi bersama. Sebelum memutuskan yang terpahit, Imran ingin menenangkan diri dengan pulang ke kampung halamannya. Untunglah Kamis hari libur nasional karena perayaan hari besar, Jumat dia minta izin kepada pimpinan dan Sabtu Minggu memang hari libur seperti biasa.

Melewati ruas-ruas jalan kota kecil itu, Imran mengenang masa lalunya. Kesulitan hidup ketika masih menjadi mahasiswa, dinamika menjadi wartawan di koran daerah, dan romantika masa lalu yang membekas di hatinya. Di seberang Taman Imam Bonjol, Damri berhenti, Imran turun dengan berdebar, kakinya kini kembali ke tanah yang penuh kenangan itu. Sembari berjalan menuju Taman Budaya, Imran melanjutkan mengingat-ingat masa lalu yang kadang membuatnya geli dan tertawa sendiri. Sebelum sampai di Taman Budaya, telpon genggamnya kembali berbunyi.

“Hallo…”

“Bung Imran…, sudah dimana? Perlu saya jemput?”

“Tidak usah, saya sudah di depan Taman Budaya.”

“Iya, kalau begitu langsung saja ke ruangan utama, pembukaannya sudah dimulai.”

“Oke, terima kasih ya.”

Imran mempercepat langkahnya, apalagi waktu itu gerimis sudah turun menambah dingin Pantai Padang yang mendung. Sesampai di gedung utama Imran seperti menjumpai sesuatu yang dekat dengan dirinya, lagu yang didengarnya itu mengingatkan pada sesuatu.

Ikolah indang oi…, sungai garinggiang…

*****

cerpen-isg2_azwar-sm

Imran bertepuk tangan setelah pementasan Tari Indang yang dibawakan gadis-gadis cantik Ranah Minang. Seorang gadis beranjak dewasa menyita perhatiannya. Imran buru-buru ke belakang pentas untuk mewawancarai gadis itu. Sebenarnya tidak perlu, cuma darah mudanya menginginkan untuk bertemu. Sebagai wartawan, tidak terlalu sulit bagi Imran untuk memikat hati perempuan. Wawancara di belakang panggung itu berubah menjadi pembicaraan biasa antara laki-laki dan perempuan, pembicaraan yang isinya adalah janji untuk pertemuan selanjutnya. Juga tukar nomor telpon tentunya. Ternyata memang begitu, Imran berhasil membuat janji, mereka akan bertemu beberapa waktu lagi.

“Ning…,” begitu perempuan cantik itu memperkenalkan namanya.

“Bung…!” suara Asrizal membuat Imran kaget. Ternyata Asrizal sudah berada di depannya dengan seorang perempuan yang menatap tajam kepadanya.

“Maaf Bung…, acaranya sebentar lagi, setelah pembukaan ini.”

“Tidak apa-apa.”

“Oh iya…, Bung Imran kenal gadis ini? Dia sudah mencari-cari sejak kemarin, mengetahui Bung yang akan jadi pembicara diskusi dia menemui saya, katanya ingin bertemu Bung,” kata Asrizal memperkenalkan seorang gadis –mungkin mahasiswa–  kepada Imran. Gadis itu tidak tersenyum, dengan dingin dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Imran.

“Bagaimana Bung Imran…, perlu saya pesankan minuman, sambil menunggu pembukaan ini selesai?”

“Ah…, tidak usah, di sini saja, sambil bicara dengan adik ini,” kata Imran agak gugup. Setelah pamit, Asrizal meninggalkan Imran dengan gadis itu.

“Aku sudah mengenal Bang Imran sejak beberapa tahun lalu,” begitu gadis itu membuka pembicaraan dengan Imran. Imran yang semula acuh dengan kehadiran gadis di sebelahnya kini tertarik untuk mendengarkannya. Bertambah tertarik ketika gadis itu membuka rahasia hatinya.

“Pasti Bang Imran teringat nostalgia Tari Indang yang baru saja ditampilkan itu,” Imran semakin gugup.

“Maaf…, apakah kita pernah berkenalan sebelum ini?” Imran mencoba menutupi kegugupanya.

“Persisnya belum, tapi aku mengenal Bang Imran seperti mengenal luka dalam diriku sendiri,” perempuan itu semakin serius dengan kata-katanya.

“Aneh…, bukankah kita belum saling kenal?” tanya Imran menutupi rasa gugupnya.

“Iya…, tapi sudah kukatakan bahwa aku mengenal Bang Imran seperti mengenal luka dalam diriku sendiri. Bertahun-tahun aku harus melihat bagaimana kakak kandungku sendiri meratap tak kenal siang dan malam, hanya menunggu kabar dari seorang lelaki yang sudah menjerat hatinya bahkan memikat seluruh hidupnya,” Deg…, jantung Imran berdebar kencang, walau belum pernah mengenal gadis itu Imran merasakan ada sesuatu yang kembali dalam ingatannya. Imran semakin terpana. Gadis misterius yang mencarinya itu semakin mengusik hatinya.

“Mungkin Abang masih mengingat Puti, penari Indang yang Abang jumpai bertahun-tahun lalu, sebuah nama yang telah Abang lupakan begitu saja, sebuah nama bagi seorang perempuan yang kini telah hilang ingatan karena menunggu seseorang yang tak pernah datang dalam kehidupannya,”

“Puti…?” tanya Imran seolah meyakinkan dirinya sendiri.

“Kata orang dia gila, diguna-gunai dukun kampung karena menolak pinangan anak lelaki dukun itu. Sebenarnya bukan penolakan pertama karena sudah ada belasan orang lelaki yang ditolaknya. Aku mengerti mengapa dia menolak semua pinangan itu, karena Bang Imran lah yang telah mencuri hatinya,” perempuan yang kini di depan Imran itu menatap tajam persis ke arahnya.

“Tak mungkin?” kata Imran membela dirinya.

“Tetapi aku sangat yakin bahwa kakakku tidak gila karena menolak pinangan lelaki di kampung kami, aku tahu persis kakakku hilang ingatan karena semua ingatannya telah Abang bawa pergi dan tidak pernah Abang kembalikan sampai kini, aku menemui Bang Imran hanya untuk mengungkapkan sakit hatiku, sejak dulu aku ingin menyampaikan bahwa Bang Imran adalah orang yang tidak punya hati, lelaki yang telah menculik cinta seorang perempuan lalu membiarkannya merana dalam penantian, dia gila setelah melihat pernikahan Bang Imran di televisi,” kata-kata gadis itu sebagai panah yang menghujam di jantung Imran. Setelah berkata seperti itu, perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan Imran.

Imran masih terdiam, mengingat cerita adik Puti, ia memutuskan untuk tidak menemui Ning. Ia biarkan perempuan itu menelponnya berkali-kali. Ia masih mencoba mengingat-ingat, sudah berapa banyak wanita yang dia janjikan untuk bertemu. Di belakang pentas, di lobby hotel, di lobby bioskop, di café kampus, di perpustakaan dan entah dimana lagi. Semua perempuan itu rata-rata terpikat oleh rayuannya.

“Bung,… ada yang nyari,” suara Asrizal membuyarkan lamunan Imran. Tiba-tiba di hadapannya sudah berdiri seorang perempuan muda, Imran hampir saja lupa kalau perempuan itu adalah Ning, karena kini ia tidak lagi terbalut pakaian penari Indang seperti tadi siang.

“Eh…, Ning?” kata Imran.

“Katanya mau ketemuan,” kata Ning masih berdiri di dekat Asrizal. Asrizal sudah sangat mengenal Imran, dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata pada Imran.

“Aku ke depan dulu ya, masih mengurus acara untuk besok,” kata Asrizal dengan bijak mengundurkan diri. Ia seolah membiarkan Imran untuk berdua dengan Ning.

“Gimana Bang? Jadi kita jalan-jalan?” tanya Ning mengingatkan Imran.

“Eh…, maaf Ning, wawancara tadi siang sudah cukup sepertinya untuk bahan tulisan Abang,” kata Imran sambil tersenyum.

“Wah…, berarti nanti profil saya bisa dimuat di koran ibu kota?” tanya Ning sambil mendekatkan diri ke sisi Imran. Imran menggeser duduknya. Memberi jarak antara dia dan gadis penari Indang itu. Suatu hal yang jarang dilakukannya.

“Iya, nanti kalau sudah dimuat Abang kabari,” kata Imran sambil tersenyum getir. Benar kata orang, kedamaian bukan tinggal di salah satu kota, tetapi ada di hati orang yang menginginkannya. Dia baru sadar bahwa selama ini sikapnyalah yang menyulut pertengkaran dengan istrinya. Ning sudah pamit pergi dengan tersenyum riang gembira, karena profilnya akan dimuat di koran ibu kota. Sementara Imran merasa lega baru saja melepaskan buruannya. Malam itu dia ingin segera ke Jakarta, minta maaf pada istrinya.

 Jakarta, April 2016

 Azwar Sutan Malaka : Penulis kelahiran Bukittinggi, 9 Agustus ini sudah menerbitkan karya diantaranya Bunian (2009), Hidup Adalah Perjuangan (2012) dan Cindaku (2015).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s