Pak Dulah

Standard
Pak Dulah

Pak Dulah. Sebenarnya nama aslinya adalah Sucipto. Tetapi semenjak bergabung dengan Partai Padi Bulan dia memakai nama hijrah Abdullah dan orang-orang sering memanggilnya Pak Dullah. Tentang pergantian nama itu, Sucipto mengatakan, namanya tidak cocok dengan partai barunya. Makanya kepada salah seorang pengurus pusat partainya dia minta saran nama apa yang bagus untuknya.Setelah menerima masukan dan pertimbangan yang matang akhirnya Sucipto mengganti namanya dengan Abdullah.

the-extinguished-lamp-fantasy-art

sumber gambar: ahdwallpaper.com

Beberapa tahun lalu pasca pemilu, Sucipto tidak seberuntung rekan bisnisnya Dany Permana. Dany pebisnis yang sama-sama membuka usaha advertising dengannya, mendapat untung yang berlipat ganda pasca pemilu. Dalam suatu kesempatan Cipto bertemu dengan Dany. Penasaran dengan resep kesuksesan Dany, Cipto mencoba menimba pengalaman dari temannya itu. Awalnya Dany hanya tertawa, dia tidak mau mengungkapkan rahasia suksesnya kepada Cipto. Tetapi dengan keahliannya, Cipto akhirnya bisa mengungkit keterangan dari Dany.

“Aku menjadi anggota salah satu partai.”

Mendengar jawaban Dany tentu saja Cipto tidak bisa terima. Sepengetahuan Cipto, bergabung dengan partai hanya akan menguras uang mereka sebagai pengusaha. Partai tentu akan mengandalkan mereka sebagai sumber dana.

“Loh kok bisa?”

“Yah…tentu bisa, dengan bergabung dengan partai itu otomatis aku bisa memonopoli pengadaan segala kebutuhan kampanye partai. Mulai dari pengadaan kaos, spanduk, baliho, stiker bahkan pin calon anggota dewan.”

Cipto tampak termenung mendengar penjelasan Dany. Dia masih belum bisa menerima penjelasan yang tidak masuk akal itu.

“Bukankah dengan tidak terikat kepada salah satu partai, kita bisa menggaet banyak partai ke perusahaan kita.”

“Ha…ha….” Dany tertawa keras hingga menarik perhatian orang lain kepada mereka. Sementara itu Cipto masih terpaku dengan ketidak mengertiannya.

“Nah…buktinya, kamu yang tidak bergabung dengan partai apapun apakah mendapat untung yang banyak daripada aku?”

Pertanyaan Dany menohok Cipto. Temannya itu benar, dia nyaris tidak mendapat order yang cukup besar dari partai manapun.

“Dengan bergabung dengan partai, apalagi kita berhasil masuk pada jajaran pengambil keputusan, maka kita bisa memberikan masukan kepada partai bahwa sebaiknya memesan segala amunisi kempanye itu dari perusahaan kita. Dengan iming-iming diskon dan potongan yang cukup besar, tentu mereka mau.”

Dany berhenti menyampaikan ceramahnya kepada Cipto. Dia mengatur posisi duduk sambil mengganti rokoknya yang hampir habis. Sembari menghembuskan asap rokok, Dany melanjutkan ceritanya.

“Aku bisa masuk jajaran orang penting di partai dengan memberi sumbangan yang banyak kepada partai. Anggap saja itu modal awal, karena setelah itu kita bisa mendapat order dari partai. Tidak hanya dalam pemilu, tetapi melalui kebijakan pengurus pusat semua atribut kampanye pemilihan kepala daerah, tentu saja yang diusung partai, aku yang menyediakannya.”

*****

Terinspirasi dari rekan bisnisnya, Sucipto memutuskan untuk bergabung dengan salah satu partai. Setelah beberapa waktu melakukan penjajakan, akhirnya dia memutuskan bergabung dengan Partai Padi Bulan. Sucipto pun mengganti namanya dengan Abdullah. Semenjak bergabung dengan Partai Padi Bulan pula Sucipto mengharuskan istri dan anak perempuannya memakai kerudung karena kebanyakan istri-istri anggota Partai Padi Bulan memakai kerudung.

“Politikus yang sukses di belakangnya didukung oleh keluarga yang baik, istri yang mendukung pekerjaan suami, anaknya yang mau mengikuti perintah orangtua dan tentu saja saudara-saudara yang turut menyokong perjuangannya.”

Begitu suatu kali pidato Sucipto yang telah berganti nama dengan Abdullah dan sering dipanggil orang-orang dengan Pak Dulah di depan anak-anak dan istrinya.

“Oleh karena itu, karena Papa sudah menjadi pengurus salah satu partai, maka Papa minta agar mulai saat ini Mama dan Selly memakai kerudung setiap keluar rumah.”

Pak Dulah berhenti sejenak, Andi dan Rino kedua anak lelakinya tertawa tertahan sambil melirik kepada adik bungsu mereka yang harus memakai kerudung. Selly bersungut-sungut, sementara istrinya hanya diam tanpa ekspresi.

“Selly nggak mau Pa, pakai kerudung.”

“Lho..kenapa nak…, kamu akan tetap cantik dengan memakai kerudung,” kata Pak Dulah membujuk anak gadis satu-satunya itu.

Pak Dulah melirik Andi dan Rino yang masih tersenyum-senyum menertawakan adik mereka. “Kalian berdua…, mulai saat ini kalian tidak boleh lagi main ke diskotik atau ugal-ugalan di jalanan. Mulai saat ini kita akan menjadi keluarga baik-baik.”

Sejak saat itu istri Pak Dulah memang memakai kerudung kalau keluar rumah. Tetapi Selly anak bungsunya tetap tidak mau mematuhi peraturan Papanya. Pak Dulah, karena sudah sibuk mengurus usahanya dan sekarang juga mengurus partai barunya, dia tidak sempat lagi mengontrol keluarganya. Jadi kalau Selly keluar rumah dengan gayanya yang biasa, Pak Dulah tidak akan tahu. Begitu pula ketika Andi dan Rino masih asik dengan kawan-kawannya bermain apa saja sesuka hatinya, Pak Dulah tidak pernah tahu.

Semakin hari, Pak Dulah semakin sibuk mengurus partai, apalagi pemilu sudah semakin dekat. Selain mengurus usahanya Pak Dulah ternyata juga mengurus kampanye terselubungnya karena Pak Dulah juga diusung untuk menjadi calon anggota dewan oleh partai.

Usaha Pak Dulah memang sudah hampir memetik hasil. Dalam beberapa pembicaraan dengan pengurus pusat, telah ada kesepakatan tidak tertulis bahwa segala atribut kampanye akan dipesan melalui perusahaan Pak Dulah. Banyak pengurus menyatakan, kualitas produk di perusahaan Pak Dulah sangat baik dan layanan pun memuaskan. Hal itu terbukti pada beberapa pemilihan kepala daerah yang telah memesan atribut kampanye kepada Pak Dulah.

“Betul kawan-kawan, dari pada diserahkan kepada perusahaan lain, belum tentu akan memberi manfaat untuk partai kita. Kalau saya, jangan diragukan lagi, toh sebagian besar keuntungan usaha saya untuk perjuangan kita juga.” ungkap Pak Dulah untuk meyakinkan pengurus partai yang lain.

Sungguhpun Pak Dulah telah berjuang mati-matian agar semua pengurus partai membuat atribut kampanye di perusahaannya, tetapi ada juga pengurus daerah yang ingin memesan atribut kampenye di daerah mereka saja. Pak Dulah mencoba meyakinkan mereka, harga yang dia berikan jauh lebih murah dari pada perusahaan di daerah. Bahkan Pak Dulah bersedia memberi uang tip kepada pengambil kebijakan pada tataran pengurus daerah itu agar mau memberikan order untuk membuat atribut kampanye kepada perusahaannya.

“Alhamdulillah…” Ucap Pak Dulah lega, karena akhirnya dia bisa meyakinkan rekan-rekan pengurus daerah, walau harus mengeluarkan biaya ekstra. Tetapi setelah dia hitung-hitung biaya untuk uang tip meloloskan kebijakan itu tidak seberapa dibanding keuntungan yang akan diperolehnya. Dia semakin bersyukur karena para pengurus partai sangat percaya kepadanya. Hanya saja beberapa kader tingkat bawah ada yang protes atas monopoli usaha oleh Pak Dulah.

“Pak Dulah itu hanya mencari keuntungan dari partai.”
Menjawab tudingan-tudingan itu Pak Dulah hanya tersenyum, kadang dia menanggapi dengan tenang dan penuh wibawa.

“Hanya Tuhanlah yang tahu. Saya tidak bermaksud mencari kekayaan dari partai ini, bukankah sebelum bergabung dengan partai saya adalah pengusaha? Bergabung dengan partai adalah jalan bagi saya untuk mendermakan sebagian harta saya.”

Dengan kata-kata seperti itu justru Pak Dulan mendapat simpati dari orang yang mendengarnya, oleh karena itu dia semakin yakin bahwa tudingan-tudingan itu akan membuat kader partai bersimpati padanya.

****
Semakin dekat waktu pemilu, Pak Dulah semakin sibuk mengurus perusahaan dan juga mengurus kampanye untuk dirinya sendiri. Kini bagi Pak Dulah pulang larut malam atau bahkan tidak pulang ke rumah sekalipun adalah hal yang biasa. Oleh karena itu istrinya sering kesepian dan jenuh mengurusi rumah dan anak-anak mereka yang semakin tidak terkendalikan.

Suatu waktu di malam minggu istri Pak Dulah berniat menghilangkan kejenuhan sekaligus mengusir kesepian karena sudah lama tidak disentuh oleh Pak Dulah. Dengan menyetir mobil sendiri, istri Pak Dulah berkeliling kota mencari tempat yang cocok untuk mengusir kesepiannya. Ke bioskop, dia tidak terlalu suka menonton film. Ke taman, malam-malam seperti ini tentu tidak ada yang bisa dilihat di taman. Setelah cukup lama berkeliling kota, istri Pak Dulah memutuskan untuk mampir di sebuah diskotik yang tampak begitu menggodanya. Dia tidak menghiraukan umurnya yang sudah berkepala empat. Toh wajahnya masih cantik seperti anak-anak muda.

Ketika akan membelokkan mobil ke tempat parkir, dia kaget melihat mobil yang dipakai anak bungsunya juga sedang parkir di areal parkir diskotik itu. Dengan susah payah dia lihat nomor polisi mobil itu, dia yakin itu adalah mobil Selly anak bungsunya. Istri Pak Dulah semakin yakin ketika dari mobil itu keluar anaknya dengan digandeng seorang pemuda. Perempuan itu urung diri untuk masuk ke diskotik. Malam minggu itu dia hanya berkeliling kota dengan mobil mewahnya.

Setelah kejadian malam itu, istri Pak Dulah sebenarnya ingin memperingatkan anak gadisnya. Tetapi dia berfikir bagaimana nanti kalau anaknya balik bertanya, dari mana ia tahu kalau anak gadisnya ke diskotik. Oleh sebab itu dia menyimpan saja rahasia itu. Begitulah keluarga Pak Dulah sejak dia sibuk mengurus partai. Dia tidak tahu bahwa anak dan istrinya sudah semakin tidak terurus.

“Pencoblosan tinggal beberapa hari lagi, Papa ingin agar semua mendukung Papa, Mama kerahkan teman-teman arisan Mama untuk memilih Papa, Andi kerahkan teman-teman di kampusmu untuk memilih Papa, Rino kamu juga kalau bisa kamu bawa teman-teman gengmu ke TPS untuk mencoblos Papa, Selly kamu juga ya…, teman-teman sekolahmu yang sudah memilih suruh memilih Papa.”

Seperti itu kata-kata Pak Dulah kepada anak dan istrinya ketika pada suatu hari kebetulan dia bisa berkumpul bersama mereka. Anak dan istri Pak Dulah setuju dengan perintah Pak Dulah, karena mereka telah membayangkan hadiah yang akan diberikan Pak Dulah kalau menang nanti.
****

Setelah pencoblosan selesai, Pak Dulah gembira karena berdasarkan saksi dan tim suksesnya di lapangan, Pak Dulah memperoleh suara yang cukup untuk menjadi anggota dewan.

“Alhamdulillah…, tahun depan aku bisa mengajukan perusahaanku untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah.”

Pak Dulah telah membayangkan apa yang akan dikerjakannya ketika menjabat menjadi anggota dewan. Hatinya berbunga-bunga, dia ingat temannya Dany, ternyata nasihatnya tidak sia-sia. Larut malam setelah selesai pemilihan Pak Dulah pulang ke rumah. Tentu saja dia ingin berbagi kebahagiaan bersama anak-anak dan istrinya.

Sesampai di rumah Pak Dulah kaget, karena larut malam seperti ini Selly dan istrinya belum tidur, mereka duduk membisu di ruang tamu.
“Kok belum tidur?”
“Menunggu Papa.” Jawab istrinya ketus.

Pak Dulah kaget mendengar nada suara istrinya yang tidak biasa itu, ketika dia lihat Selly anak bungsunya, dia semakin tidak mengerti, Selly menangis.

“Ada apa ini, Selly… ada apa sayang?”

Selly tidak berani mengangkat kepala di depan Papanya. Istri Pak Dulah tidak tahan menahan air matanya, dia menangis sambil memegang alat tes kehamilan di tangannya.

“Selly hamil Pa.”

Pak Dulah merebut alat tes kehamilan di tangan istrinya itu. Ada tanda merah garis dua. Positif. Pak Dulah terhenyak lemas di hari kemenangannya. *

Cerpen: Azwar Sutan Malaka/Surabaya Post, Minggu, 23 Mei 2010 | 09:52 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s