Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Standard
Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Hans Berten dalam bukunya Literary Theory: The Basic, disimpulkan secara bebas, menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidaklah murni produk penulis itu sendiri, tetapi lebih jauh karya sastra adalah produk sosial budaya yang mengelilingi dan mempengaruhi si penulis. Hal ini tentunya sesuai dengan ungkapan fiksi adalah cerminan kenyataan dan kenyataan adalah sumber dari fiksi.

edge_of_world-1920x1200

sumber gambar: tremendouswallpapers.com

Melangkah dari uraian diatas, barangkali itulah salah satu faktor yang melahirkan Bunian –novel ynag ditulis oleh Sutan Malaka yang menceritakan tentang kehidupan orang Bunian-. Bagaimana tidak, lahir dan dibesarkan di sebuah kampung bernama Kamang, sejak kecil tentunya penulis disuguhi cerita-cerita ala kampung, termasuk diantaranya cerita gaib, cerita orang Bunian dan cerita sejenis lainnya. Namun dengan kejelian dan imajinasi yang boleh dikatakan liar, penulis membongkar-pasang cerita orang Bunian dan menceritakannya lagi dalam versi baru.

Penceritaan dalam versi baru tersebut tentunya akan menghasilkan sudut pandang baru pula. Dan jika dirunut lebih jauh akan menimbulkan konflik pemikiran bagi pembaca. Apalagi dalam penceritaannya, orang Bunian tersebut dikisahkan berdasarkan pada logika. Dengan tawaran sudut pandang baru tersebut, secara alami, novel Bunian memberikan bantahan terhadap keyakinan atau pemikiran masyarkat tentang orang Bunian itu sendiri, pun bantahan terhadap aspek cerita lainnya.

Bantahan sederhana dan yang pertama yang dapat ditemukan dalam Bunian adalah bahwa orang kaya tidak selamanya bahagia. Telah menjadi stereotip dalam masyarakat bahwa orang kaya identik dengan kebahagiaan, sebab apa-apa yang mereka inginkan dapat dicapai dengan mudah. Barang mewah, harta melimpah dan bayangan yang wah lainnya. Namun stereotip ini dibantah secara mentah dalam Bunian melalui karakter Maya.
Diceritakan bahwa Maya adalah anak orang kaya yang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Pada saat berkumpul dengan keluarga, bukannya kedamaian dan kehangatan yang ia dapatkan, tetapi pertengkaran kedua orang tuanya yang ia saksikan. Makanya, ia kemudian memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pendakian gunung merapi. Ini pulalah kiranya yang menyebabkan Maya memutuskan untuk tetap tinggal bersama kesederhanaan orang Bunian pada akhir cerita.

Tinggal bersama orang Bunian ternyata tidaklah seburuk cerita yang berkembang dalam masyarakat. Dalam cerita masyarakat dikisahkan bahwa orang Bunian adalah makhluk halus yang jahat. Mereka suka mencuri orang biasa kemudian membawanya entah kemana. Ketika bersama orang Bunian tersebut, korban yang diculik itu diberi makanan enak dan mewah dalam pandangan mereka, meski sebenarnya, kata orang kampung, makanan tersebut adalah sarang semut atau kotoran sapi. Faktor inilah yang dianggap sebagai penyebab orang yang diculik makhluk Bunian kehilangan kewarasan dan lemah seperti orang yang kekurangan gizi.

Sementara, cerita lain juga mengungkapkan kejahatan orang Bunian. Dikisahkan bahwa orang Bunian sewaktu-waktu akan akan menyaru menjadi manusia biasa dan berbelanja di pasar. Ketika selesai berbelanja dan meninggalkan pasar, barulah diketahui bahwa uang yang mereka gunakan untuk berbelanja tersebut hanyalah daun. Hal ini ditengarai sebagai kejahatan sekaligus kesaktian orang Bunian.

Namun, alih-alih membenarkan, cerita ini justru dibantah dalam novelnya. Dalam alurnya, diceritakan bahwa orang Bunian persis sama dengan manusia kebanyakan; mempunyai keluarga, bermasyarakat, hidup dengan bersawah dan berladang. Bahkan, mereka adalah masyarakat yang teratur, lebih beradab dan beradat serta tatanan masyarakat yang positif lainnya. Tidak ada kesan jahat bahkan cenderung ramah.
Orang Bunian yang dianggap sakti ternyata bukanlah demikian. Kemunculannya yang hanya beberapa kali dalam masyarakat modern ternyata hanya dipicu oleh faktor bentangan alam. Diceritakan bahwa orang Bunian tinggal di kampungnya, dalam hutan rimba yang berjarak 45 bukit dari perkampungan manusia biasa. Barangkali itulah penyebab kenapa orang Bunian hanya sesekali menampakkan diri.

Di lain sisi, cerita masyarakat yang menyatakan bahwa korban yang diculik orang Bunian kehilangan kewarasan karena kesaktian orang Bunian, juga patah. Dikisahkan bahwa hilangnya kewarasan orang yang diculik itu hanyalah akibat ramuan buatan orang Bunian. Ramuan tersebut dibuat agar korban yang diculik kehilangan ingatan tentang kampung Bunian. Tujuannya agar para korban tersebut lupa tentang segala hal yang menyangkut kampung Bunian, sehingga pihak luar tidak bisa masuk dan mengeksplorasi kampung Bunian termasuk menebang dan menjarah alam yang notabenenya adalah sumber hidup dan tempat tinggal orang Bunian itu sendiri. Dan, musnahnya kampung Bunian pada akhir cerita adalah bukti nyata bahwa orang Bunian tidak sesakti yng diceritakan masyarakat.
Simbolisasi

fantasy-tree-house-wallpaper

sumber gambar: tremendouswallpapers.com

Selain menceritakan kehidupan orang Bunian dengan sudut pandang yang berbeda, novel Bunian juga menyisakan topik lain yang menarik untuk dibahas, salah satunya adalah pelibatan simbol-simbol dalam kisah tersebut. Simbol yang jelas terlihat adalah penamaan dari tokoh-tokoh Bunian tersebut. Diantaranya adalah Datuak Maharajo Dilangik, Datuak Paduko Rajo, Datuak Paduko Adia dan Datuak Palito Suaro.
Datuak Maharajo Dilangik, tanpa melibatkan cerita yang terkandung dalam novel tersebut, barangkali dapat ditebak bahwa ia adalah pemimpin tertinggi disebuah perkampungan. Kata “pemimpin” dihasilkan dari konotasi “datuak” yang dalam budaya Minangkabau adalah panggilan untuk pemimpin; didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang. Sementara term “tertinggi” dapat diambil nama selanjutnya, maharajo dilangik (Maharja Dilangit –diartikan secara bebas-).

Langit dapat diartikan sebagai simbol tempat tertinggi. Tidak ada tempat yang dapat melebihi tingginya langit. Dan benarlah kiranya, dalam novel tersebut diceritakan bahwa Datuak Maharjo Dilangik memegang tampuk pimpinan tertinggi. Ditanggan nya lah hitam-putih suatu perkara. Datuak Paduko Rajo; rajo (raja) dapat diartikan sebagai pemegang kuasa pemerintahan. Dia berkecimpung dan mendengarkan keluh kesah masyarakat untuk kemudian disampaikan pada raja tertinggi. Memang demikianlah diceritakan.

Sementara, Datuak Paduko Adia (Datuk Paduka yang Adil, masih, diartikan secara bebas) dapat diartikan sebagai orang yang adil, banyak pertimbangan dan bijak dalam berbuat. Tanpa membaca penjelasan yang lain pun,dari nama “Datuak Paduko Adia” sendiri dapat diartikan bahwa ia adalah orang yang mempunyai kapasitas untuk mengadili. Dalam novel Bunian sendiri, Datuak Paduko Adia adalah orang yang memimpin sidang terhadap Bara dan Maya.

Lain lagi dengan Datuak Palito Suaro, tiba-tiba saja muncul dalam persidangan kedua Bara dan Maya tanpa penjelasan terlebih dahulu tentang tugas dan wewenangnya. Namun dari namanya dapat diartikan bahwa Datuak Palito Suaro merupakan seorang juru bicara. Meski tak ada penjelasan khusus, namun peran Datuak Palito Suaro dapat ditebak dari namanya.

Simbol lain yang sangat menarik adalah adanya karakter Pandeka Hitam, Pandeka Kuniang dan Pandeka Sirah. Diceritakan bahwa ketiga nama pandeka diatas bukanlah nama perorangan, tetapi merupakan nama dari sekumpulan orang yang terbagi dalam tiga kelompok pandeka tersebut. Jika diartikan secara bebas, ketiga kelompok tersebut adalah nama dari tiga pasukan pandeka yang mempunyai tugas dan peran masing-masing. Pertanyaannya, kenapa harus hitam, kuniang (kuning) dan sirah (merah)? Kenapa tidak memakai warna lain; putih, biru, jingga atau warna lainnya?

Roland Barthes dalam teorinya order of signification menyatakan tiga urutan untuk menerjemahkan simbol; denotative meaning (makna denotasi), connotative meaning (makna konotasi) dan pada akhirnya berujung pada myth (mitos) yang berupa kepercayaan atau keyakinan yang ditimbulkan oleh simbol tersebut.

Pada tingkat denotatif, warna-warna yang menjadi simbol pandeka tersebut adalah makna sebenarnya. Kuning, ya kuning. Merah, ya merah, warna darah dan hitam, ya hitam, warna gelap. Namun pada tingkat konotasi, dan berdasarkan pada konteks yang mengelililnginya, warna-warna tersebut mengandung arti lain. Warna kuning dapat dikonotasikan sebagai warna Luak Nan Tuo, Luak Tanah Data. Warna merah adalah pertanda dari Luak Agam, dan Hitam dikonotasikan sebagai pertanda Luak Nan Bungsu, Luak Limopuluah. Terakhir, pada tingkat mitos, dapat diartikan bahwa warna-warna tersebut menyiratkan sebuah keyakinan bahwa orang-orang Bunian adalah orang asli Minangkabau yang berasal dan mencakupi seluruh daerah darek. Cerita tentang merekapun diyakini oleh seluruh masyarakat Minangkabau.
Dan, bagaimanapun, Bunian memang identik dengan Minangkabau.

Penulis:  M. Adioska
(diterbitkan di Harian Singgalang edisi , Minggu 30 Mei 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s