TERPIKAT MITOS

Standard
TERPIKAT MITOS

thumb-350-688916

Sumber gambar: https://wall.alphacoders.com

Catatan Atas Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka[1]

Oleh: Muhammad Mihradi[2]

NOVEL CINDAKU, karya Azwar Sutan Malaka, berkisah tentang si tokoh “Salim” dalam menjalani lorong kehidupannya dengan segala “asam” getirnya. Salim, anak Celek, orang sakti dizamannya. Celek  saat itu dinilai “jahat”: tukang pelet dan tukang santet. Sebenarnya, kata jahat itu sendiri harus diletakkan dalam tanda petik. Karena Celek, panggilan dari Sutan Said, berlaku demikian diproduksi oleh lingkungan. Celek produk dendam. Ibunya meninggal terbunuh dan adiknya dinodai oleh pasukan pusat—yang tengah mengatasi pemberontakan pasukan lokal[3] di depan matanya.

Tak heran, peristiwa tersebut mengkonstruksi dirinya menjadi pendendam dan ujungnya kriminal. Dalam ilmu victimologi, ia adalah bagian dari lingkaran korban (victim cycle).  Jadi, sang penulis nampaknya tidak tertarik dan tergoda membangun desain tokoh-nya serba hitam putih. Namun penuh siluet abu-abu. Sebuah cerita zaman pahit yang melahirkan korban tragis.

Tokoh Salim sendiri diposisikan penulis juga sebagai korban. Bapaknya Celek tadi, didepan matanya meninggal dibunuh masyarakat kampungnya karena dianggap dukun santet. Selain itu, secara kultural, bapak ibunya bermasalah.Mengingat adat di masyarakat Padang yangmatriakhat sementara ibunya bukan dari asal Padang sehingga garis waris terputus pula (dari segi adat).

Dikondisi kelam demikian, merantau menjadi pilihan. Melupakan luka yang disiram waktu. Yang menarik, di dalam novel tersebut diceritakan, untuk dapat merantau, ternyata tidak mudah. Harus lebih dulu memiliki kecukupan ilmu baik fisik (kuat dan jago silat) maupun batin. Salim ditempa keras oleh gurunya, Pandeka Sutan, agar kelak saat merantau memiliki bekal memadai.

Novel Cindaku setiap bagiannya penuh dinamika. Ada tragedi, satire dan konflik di sana sini. Seperti ketika perjalanan merantau, tokoh Salim dikerjain sahabatnya yang sangat membencinya yaitu Hasan yang berangkat bersamanya untuk merantau dalam satu bus. Sehingga Salim ketinggalan bus yang hendak membawanya ke Jawa, ketika berhenti di Musholla di daerah Tanjung Karang. Celakanya, seluruh perbekalan dan uang ada di dalam bus. Hasan secara licik, sengaja tidak mengingatkan supir bus ada penumpang tertinggal. Akibatnya mudah diduga, Salim terlunta-lunta di Tanjung Karang. Meski kemudian Salim berhasil bangkit, mendapat pekerjaan bekerja di restoran.

Novel Cindaku ditutup dengan ironi. Salim mencintai dan hendak melamar Laila, sahabatnya sedari kecil. Namun lamaran ini ditolak ibu Laila, Amirah. Semula dugaan Salim karena dia dari keluarga miskin. Bapaknya bromoncorah di masa lalunya. Bahkan mitosnya, bapaknya, Celek, setelah kematiannya menjadi Cindaku: makhluk jadi-jadian setengah manusia setengah harimau. Namun nyatanya bukan itu. Penolakan tersebut karena Laila—ternyata—korban bapaknya yaitu Celek yang menodai Amirah di masa lalu. Salim dan Laila satu bapak beda ibu sehingga mustahil menikah.

***

ADA banyak hal menarik dan dapat dipetik dari Novel Cindaku, karya Azwar Sutan Malaka, terbitan Kakilangit Kencana tahun 2015. Pertama,Novel Cindaku berhasil menyihir pembaca untuk mengingat kembali karya karya novel klasik seperti “Sengsara Membawa Nikmat”, dari Tulis Sutan Sati atau “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk” dari HAMKA, misalnya. Namun, yang menarik,  penulis menuliskan novel Cindaku dengan gaya otentik berakar tradisi namun diselaraskan dengan semangat zaman. Bagi saya, ini langka. Pandai memanfaatkan budaya lokal untuk menggarap pergulatan orang perantauan.  Kedua, entah disadari atau tidak, Azwar Sutan Malaka melalui Cindaku, hendak merayakan gegap gempitanya aliran post-modernisme (dengan tokoh salah satunya Derrida)[4] yang tengah menjadi life style dalam tradisi pemikiran filsafat.

Ciri-ciri post-modernisme yang menolak narasi agung (grand narrative). Memberikan tempat leluasa pada isu-isu lokal dan kemajemukan. Menggugat ideologi “modern” yang terlalu mendewakan libido tentang universalitas. Bagi saya, penulis berhasil dengan teknik memikat di dalam novel Cindaku merepresentasikan jalur post-modernisme. Termasuk kembali memberikan tempat pada “mitos”. Menurut Van Peursen[5], mitos itu memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia dapat turut serta mengambil bagian dari kejadian-kejadian sekitarnya, dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam. Turut ambil bagian atau partisipasi. Istilah kekinian—merayakan kearifan lokal—sebagai bahan pertimbangan di dalam menentukan kebijakan hidup.

Ketiga,  sekali lagi, disadari atau tidak, Azwar Sutan Malaka, melalui Novel Cindaku telah berkontribusi strategis dalam pembentukan karakter yang kini menjadi jargon di mana-mana sebagai tawaran memperbaiki bangsa. Novel ini demikian fasih berselancar pada pergulatan manusia dengan akar tradisinya. Memberikan sinyal, adat istiadat tidak bisa disingkirkan begitu saja. Adat istiadat menjadi bagian perawat “kebhinekaan” dan inspirasi serta pedoman agar masyarakat dapat menjalani kehidupan secara lebih bermutu. Tentu dengan catatan sepanjang adat istiadat dimaksud tidak bertentangan dengan nilai-nilai peradaban dan kemanusiaan.[6]

***

SAYA ketika membaca novel Cindaku, teringat tulisan lama seorang pakar filsafat F. Budi Hardiman tentang pertarungan logos dan mitos. Sayangnya, tulisan itu sudah hilang dari arsip saya, meski masih ingat publikasinya di Majalah Ulumul Quran tahun 1993. Dalam tulisan tersebut, F Budi Hardiman memaparkan bagaimana kehidupan manusia awalnya serba mitos.

Ketika—misalnya—terdapat kilatan guntur, maka dipahami secara mudah sebagai cambuk dewa yang marah. Seiring pengetahuan berkembang, mitos terbunuh oleh logos. Semua peristiwa alam bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Tanpa sadar, ilmu pengetahuan digadang-gadang, dijadikan sesembahan berhala baru oleh masyarakat modern. Seolah-olah, jawaban satu-satunya terhadap semua masalah adalah ilmu pengetahuan alias logos. Mendapat perlakuan demikian, maka logos menjadi mitos. Ia diyakini begitu saja membantu manusia secara totalitas. Padahal, ilmu pengetahuan perlu “sparring partner”.

Perlu kerendahan hati untuk menerima sesuatu yang diluar konsep dirinya. Itulah yang terjadi bagaimana misalnya fenomena gadget(sebagai simbol pencapaian ilmu pengetahuan) yang semula hendak mendekatkan yang jauh (ingat jargon Nokia—connecting by people).Malah kini terjadi paradoks. Menjauhkan yang sudah dekat. Masing-masing “autis” dengan gadget-nya, lupa di sebelah dirinya ada istri-nya, pacar-nya. Atau malah mungkin selingkuhannya.  Semua tenggelam dalam kekhusuan memencet tuts pada gadget.

***

Sebagai pembaca yang tidak berlatar belakang sastra, saya dengan “nekad” mencoba melakukan kritik atas novel Cindaku.  Tentu kritik dimaksud adalah kritik konstruktif: vitamin bagi kedahsyatan karya masa depan. Pertama, novel ini perlu disisipkan glosari untuk membantu masyarakat non padang memahami istilah-istilah bahasa padang sehingga dapat meletakkan teks pada konteks yang tepat.

Kedua, kesan saya, penulis memiliki ambisi berlimpah dan serbuk taburan gagasan besar yang hendak ditumpahkan secara penuh dalam novel Cindaku. Bagi saya, ada baiknya dipilih gagasan paling kuat yang diadopsi. Sedangkan yang lain sedikit disisihkan atau mungkin dibuat serial bagi novel selanjutnya. Ketiga, bagi saya, tokoh Celek perlu digarap lebih kuat agar tidak terlalu gelap karakternya. Termasuk pula sedikit uraian singkat mengenai suasana gerakan pemberontakan permesta meski mungkin disimpan di catatan kaki. Hal ini untuk membantu pembaca memahami konteks.

Namun terlepas dari hal di atas, bagi saya, novel Cindaku wajib dikoleksi oleh peminat sastra. Pertama, agar kita tidak tersesat dalam menjalani hidup yang kompleks. Kedua, memperkaya wawasan dan tercerahkan.Ketiga, baik untuk kesehatan rohani. Karena suplemen tidak hanya untuk fisik. Sisi ruh manusia perlu diberikan dopping yang cukup. Novel Cindaku bagian dari pilihan dopping tersebut.

[1]Makalah Untuk Diskusi Bulanan Bincang Buku di Forum Ngopi Buku Novel Cindaku, Cafe HITZ Bogor, 26 Februari 2017.

[2]Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan dan peminat sastra serta filsafat. Pernah menjadi kolumnis budaya di Harian Radar Bogor dan mendirikan Lingkar Studi Budaya dan Komunitas Budaya Radar.

[3]Kekejian pasukan pusat terhadap pasukan lokal merupakan peristiwa yang penting dikaji lebih dalam pada kasus pemberontakan PRRI Permesta di Sumatera.

[4]Jacques Derrida sering digadang-gadang sebagai bapak Post-Modernisme dengan teori populernya dekonstruksi. Di dalam teori dimaksud, dekonstruksi dimakanai positif karena membongkar dan menjungkirbalikan makna teks agar dapat terbangun teks atau wacana baru dengan makna baru yang berbeda dengan teks yang didekonstruksi. Bagi Derrida, makna diciptakan melalui permainan penanda. Dengan demikian bahasa tidak lagi memiliki hubungan representasional yang pasti dan stabil atas kenyataan. Bahasa bersifat licin dan ambigu, lihat selanjutnya Akhyar Yusuf Lubis, Postmodernisme, Rajawali Pers, 2014, hlm.32-61.

[5] CA van Peursen, Strategi Kebudayaan, Kanisius, 1988, hlm.37.

[6]Meski begitu, sikap kita terhadap adat istiadat itu sendiri tentu harus kritis. Pertama, tidak dipungkiri, adat istiadat, termasuk hukum adat, memiliki dimensi positif tapi tidak sedikit pula harus dimodifikasi. Seperti adat carok di Madura, tentu sudah tidak selaras dengan peradaban kemanusiaan. Kedua, dari sisi politik hukum, sebenarnya sistem hukum nasional bertumpu pada sistem hukum yang eksis (living law) di Indonesia yaitu sistem hukum adat, Islam dan barat (Belanda). Sayangnya, di masa kolonial, ketiga sistem hukum tersebut diperhadapkan sehingga terjadi konflik antar sistem, hanya untuk memenuhi hasrat kepentingan penjajah kolonial Belanda. Kini, artefak konflik masih membayangi, sehingga di dalam membangun sistem hukum nasional, seringkali sistem hukum adat terpinggirkan. Bukan ditempatkan secara proporsional. Ketiga, selalu ada kesitegangan abadi antara semangat memelihara sistem hukum yang ada (living law) dengan perubahan hukum dalam konteks hukum sebagai sarana rekayasa sosial (social engineering). Kesitegangan seperti itu nampaknya sulit diatasi secara tuntas. Sebagai bahan kajian dapat dilihat, Imam Syaukani dan A Ahsin Thohari, Dasar- Dasar Politik Hukum, Jakarta: Rajagrafindo, 2004 dan Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial: Suatu Tinjauan Teoritis dan Pengalaman-Pengalaman di Indonesia, Bandung: Alumni, 1983.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s