Category Archives: Esay

(Re)konstruksi Kepahlawanan

Standard
(Re)konstruksi Kepahlawanan

PADA periode pra-Kolonial, ketika Nusantara ini masih terkotak dalam otoritas para raja dan jarak sosial antara elite keraton yang menjadi semacam sentral sosio-kultural dengan kawula rakyat yang lebih menyerupai satelit tunduk pada hukum ’kosmik’ bernama kepatuhan, kita membaca kisah heroik para raja sekaligus mitos, legenda, dan hikayat tentang mereka sebagai pemegang Wahyu Cakraningrat.

Read the rest of this entry

Advertisements

Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Standard
Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Hans Berten dalam bukunya Literary Theory: The Basic, disimpulkan secara bebas, menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidaklah murni produk penulis itu sendiri, tetapi lebih jauh karya sastra adalah produk sosial budaya yang mengelilingi dan mempengaruhi si penulis. Hal ini tentunya sesuai dengan ungkapan fiksi adalah cerminan kenyataan dan kenyataan adalah sumber dari fiksi.

Read the rest of this entry

Di Manakah “Sastra Dunia” | Nirwan Dewanto

Standard
Di Manakah “Sastra Dunia” | Nirwan Dewanto

Kurang lebih empat dasawarsa lalu, kritikus sastra H.B Jassin berkata bahwa sastra Indonesia adalah warga sastra dunia. Di zaman “globalisasi” sekarang, tampaknya pernyataan Jassin itu benar dalam satu hal: kita memang berupaya menjadikan sastra dunia sebagai milik kita, menjadikannya bagian dari kehidupan sastra Indonesia mutakhir.

Read the rest of this entry

Siasat Katulistiwa | Nirwan Dewanto

Standard
Siasat Katulistiwa | Nirwan Dewanto

Biennale seni rupa sesungguhnya adalah bagian paling hilir dari seluruh jaringan pelembagaan seni rupa di sebuah kota atau sebuah negeri. Salah satu mata rantai pelembagaan yang mantap itu adalah museum seni rupa dengan koleksi dan kurasi yang terpercaya, yang membuat publik datang kepadanya untuk menghayati khazanah seni rupa nasional.

Read the rest of this entry

Helvy Tiana Rosa dan Sastra Dakwah Aktivis Kampus

Standard
Helvy Tiana Rosa dan Sastra Dakwah Aktivis Kampus

KMGP

Dalam perkembangan zaman, sastra menjadi bagian yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Anggapan ini muncul karena menurut sebagian besar masyarakat, sastra tidak memiliki peran penting dalam kehidupan. Sastra hanya dipandang sebagai pelengkap, sebagai bacaan hiburan untuk mengisi waktu luang. Padahal, jauh lebih besar dari itu, sastra memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pada awal terbentuknya negara Indonesia ini, sastra turut menentukan arah kebudayaan bangsa, seperti yang dipolemikkan Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane (baca Polemik Kebudayaan, editor Akhcdiat K. Miharja).

Berkaitan dengan apa yang diuraikan di atas, dalam waktu lima belas tahun belakangan ini, ada fenomena baru dalam sastra Indonesia, yaitu berkembangnya karya sastra dari generasi muda yang berlatar pendidikan kampus dan sekolah. Mereka menjadikan sastra sebagai alat untuk menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran (baca Segenggam Gumam, karangan Helvy Tiana Rosa), sastra bagi mereka adalah alat untuk berdakwah, menyampaikan pesan-pesan moral pada pembacanya.

Salah satu contoh karya sastra yang mereka sebut sebagai sastra dakwah itu adalah cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi” (selanjutnya ditulis KMGP), karangan Helvy Tiana Rosa (selanjutnya ditulis HTR). Cerpen KMGP dari segi cerita bukanlah tergolong ke dalam karya sastra serius. Cerpen ini bercerita tentang kehidupan remaja, Gagah dan adiknya Gita. Gagah, yang dipanggil adiknya dengan Mas Gagah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jakarta. Gagah yang diwaktu SMU seorang lelaki yang pandai bergaul, suka musik, banyak teman perempuan, tetapi ketika telah kuliah, Gagah berubah seratus delapan puluh derajat. Gagah yang memang gagah, tidak lagi suka hura-hura, musiknya pun diganti dengan musik-musik Islami, poster-poster penyanyi idolanya dulu, sekarang tidak tertempel lagi di dinding kamarnya.

KMGP1

Perubahan Gagah ini membuat Gita tidak bisa menerima. Pada waktu-waktu berikutnya, Gagah mulai “mengajari” adiknya. Gita tidak boleh masuk kamarnya sebelum mengucapkan salam, Gita harus pakai kerudung, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan aktivitas Gagah di kampus sebagai seorang aktivis dakwah kampus. Gagah sering diundang keluar kota untuk mengisi ceramah-ceramah agama untuk kalangan mahasiswa.

Sewaktu pertama kali cerpen ini dimuat pada majalah Annida (tahun 1997), cerpen KMGP ini mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Ratusan surat datang ke meja redaksi untuk menyampaikan bahwa mereka tergugah saat membaca cerpen KMGP. Mereka meneteskan air mata menangisi kematian Mas Gagah, seorang laki-laki alim yang baik hati, gagah lagi. Ketika Gita, adiknya yang tomboy akhirnya memakai jilbab -karena itulah yang diinginkan kakaknya sebelum meninggal- maka ratusan remaja perempuan yang membaca cerpen itu, juga menjalankan wasiat Mas Gagah. Mereka juga memakai jilbab seperti Gita. Ini bukan hanya sebuah cerita, tapi HTR sendiri mengaku menerima banyak surat dari pembaca yang mengungkapkan bahwa mereka memakai jilbab setelah membaca cerpen KMGP.

HTR, pengarang cerpen ini lahir di Medan, 2 April 1970. Tahun 1990 HTR mempelopori berdirinya Teater Bening dan sampai saat ini bertindak sebagai sutradara serta penulis naskah dalam pementasan teater tersebut di Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta dan keliling Kampus di Jawa dan Sumatera. Tahun 1991-2001, dia menjadi redaktur dan pimpinan redaksi majalah Annida. Sampai tahun 2004, HTR telah menerbitkan 16 buah buku, dan 15 buah buku antologi bersama. Beberapa cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, Prancis, Jepang, dan dikomikkan serta disinetronkan. HTR pernah diundang dalam Writing Program yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara pada tahun 1998. Bukunya Lelaki Kabut dan Boneka (Asy Syamil, 2002) mendapat Lingkar Pena Literary Award sebagai kumpulan cerpen terpuji (2002). Tahun 2000. Majalah Amanah memilih HTR sebagai satu dari 10 muslimah berprestasi tingkat nasional, karena prestasi dan kegiatannya di tahun itu. HTR menamatkan studi pada Program Pascasarjana, Jurusan Kesusastraan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Sekarang, dia menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Negeri Jakarta. Selain itu, HTR juga aktif pada Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Dengan pengalaman kesastraan seperti yang dipaparkan di atas, ternyata pengarang cerpen ini bukanlah seorang yang baru belajar menulis cerita. HTR, sebagai seorang praktisi sekaligus akademisi sastra sangat paham bagaimana karya sastra mempengaruhi remaja. Oleh karena itu kehadiran cerpen KMGP yang fenomenal ini memang diperuntukkan untuk remaja. Untuk mendidik generasi muda melalui karya sastra.

Bila kita bicarakan lebih jauh, apalagi bila cerpen ini dibicarakan oleh ahlinya, seperti akademisi sastra atau kritikus sastra misalnya, maka pembicaraan mamfaat cerpen ini terhadap remaja tentu akan sangat menarik. Seorang akademisi sastra atau kritikus sastra tentu dapat mengungkapkan dan menjelaskan bagaimana pengaruh cerpen KMGP terhadap remaja.

Dengan diungkapnya mamfaat sebuah karya terhadap masyarakat, tentu apa yang dicemaskan di awal tulisan ini, yaitu dipandang sebelah matanya ilmu sastra tentu tidak akan terjadi lagi, minimal akan terkurangi. Masyarakat dapat melihat bagaimana pentingnya sebuah karya dalam membentuk moral generasi-generasi mereka.

Selain hal di atas, ke depan, ranah sastra diharapkan dapat menjadi “alat” untuk perbaikan moral remaja, melalui muatan-muatan moral di dalamnya, karya sastra dapat mengampanyekan betapa merusaknya narkoba dan pergaulan bebas, betapa pentingnya ilmu pengetahuan, betapa pentingnya membaca dan segala macamnya. Dengan bahasa yang estetis dan dengan kesan yang tidak menggurui, pesan-pesan itu tentu akan semakin mudah diterima remaja. Hal ini bukanlah sesuatu yang utopis, bukankah telah dibuktikan HTR, melalui cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi”-nya?

Jakarta, 2013

Tulisan ini dimuat di Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili.

Kongres Minangkabau, Musyawarah Seniman dan Pilkada

Standard
Kongres Minangkabau, Musyawarah Seniman dan Pilkada

Masjid_Raya_Padang_3

Bertahun-tahun merantau meninggalkan Minangkabau, membuat kami yang jauh ini hanya bisa melihat-lihat saja dinamika politik, agama dan budaya di Ranah Minang. Ada beberapa hal di tahun 2015 ini yang saya tunggu dari Ranah Minang; Kongres Minangkabau (katanya 17 Juni 2015), Musyawarah Seniman Sumatera Barat (Forum Silaturahmi Seniman Sumatera Barat (FSS-SB) mengultimatum Tim 9 agar menggelar musyawarah seniman Sumatera Barat dalam rentang waktu 15 hari ke depan – sekarang bulan Juni), dan Pilkaka Serentak pemilihan Gubernur, Walikota/Bupati pada Desember 2015 mendatang.

Kongres Minangkabau saya tunggu-tunggu karena acara itu konon kabarnya akan mendorong untuk mengubah Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Dorongan untuk menjadi Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) menarik karena katanya DIM adalah obat bagi Minangkabau yang sakit, selain itu sepertinya akan menjadikan Minangkabau seperti provinsi syariah seperti Provinsi Aceh Darussalam. Saya menunggu apakah kongres ini akan mendorong Minangkabau akan kembali pada zaman Paderi nantinya. Apakah kongres ini tidak menyiramkan minyak ke pada sekam yang di dalamnya menyimpan api? untuk mendapatkan jawaban itu makanya saya tunggu kongres ini.

Musyawarah Seniman Sumatera Barat saya tunggu-tunggu, karena musyawarah ini akan menentukan bagaimana kesenian Sumatera Barat secara struktural beberapa tahun ke depan. Secara struktural karena dalam acara ini akan dibentuk kepengurusan Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) yang baru, setelah bertahun-tahun tidak terdengar kabarnya. Pada satu sisi dewan kesenian ini perlu untuk untuk menjembatani antara pemerintah daerah dengan seniman. Selain itu dewan kesenian ini perlu untuk memaksa pemerintah agar berpartisipasi mengembangkan kesenian. Tapi pada sisi lain saya rasa dewan kesenian ini tidak perlu juga kalau hanya akan ikut-ikutan menjadikan kegiatan kesenian seperti kegiatan yang erat hubungannya dengan birokrasi, seperti mengajak-ajak seniman “main proyek” atau menenderkan proyek-proyek kesenian di Sumatera Barat atau dalam rangka mendukung salah satu calon Pimpinan Daerah.

Pilakada serentak saya tunggu-tunggu karena nanti akan dilihat siapa lagi kah yang akan memimpin Ranah Minang lima tahun ke depan. Apakah pemimpin-pemimpin yang baik, yang bekerja untuk kesejahteraan rakyat Sumatera Barat, mengangkat marwah Minangkabau atau hanya pemimpin yang bernafsu jadi pimpinan dalam rangka merampok kekayaan Sumatera Barat. Atau pemimpin-pemimpin yang sedang dalam misi tertentu untuk menjadikan Sumatera Barat apa atau bagaimana.

Ketiga hal itu walau jelas sekali merupakan kegiatan-kegiatan terpisah, tetapi saya boleh menduga jangan-jangan semua itu tidak terpisah. Mungkinkah Kongres Minangkabau hanya acara kumpul-kumpul untuk menggiring suara masyarakat Minangkabau untuk memilih salah satu calon kepala daerah, misalnya. Mungkinkah Musyawarah Seniman Sumatera Barat juga merupakan agenda politis untuk mengangkat salah satu pimpinan daerah, misalnya. Ini hanya dugaan, mudah-mudahan yang sebenarnya tidak seperti dugaan saya, yang melihat dari jauh saja.