Category Archives: Film

Sinopsis Film Danum Baputi Penjaga Mata Air

Standard
Sinopsis Film Danum Baputi Penjaga Mata Air

Danum Baputi

Sekelompok orang-orang di pedalaman Kalimantan yang masih tetap perduli dengan lingkungannya, perduli dengan hutan adat mereka. Mereka yakin atas ramalan nenek moyang mereka 100 tahun yang lalu bahwa akan terjadi kerusakan hutan yang dipicu oleh ulah manusia, akan tetapi diselamatkan oleh seorang yang benar-benar telah ditakdirkan untuk melindungi hutan serta sumber mata air mereka. Danum Baputi, anak perempuan Tuwo Damang, kepala suku, terpilih sebagai Danum Pambelum “penjaga mata air”. Salah satu perusahaan asing melakukan pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Tanah adat Danum Baputi merupakan sasaran paling utama pelebaran perkebunan itu. Tuwo Damang, bapak Danum Baputi juga sebagai kepala suku dibantu Penyang dan Mantikei dan penduduk lain berupaya mencegah hal tersebut. Akan tetapi Kiung, anak buah pihak perkebunan melakukan tipu daya untuk memberi dukungan pelebaran area perkebunan kelapa sawit. Ia juga memanfaatkan Akin yang menaruh hati pada Danum. Dikarenakan tidak berhasil mendapatkan Danum, maka Akin bergabung bersama Kiung serta akhirnya diperalat untuk menghabisi Tuwo Damang yang di anggap sebagai penghalang dalam menguasai tanah adat.

Danum Baputi Adegan

Advertisements

Azwar Sutan Malaka Bekali Mahasiswa UMS dengan Kiat Menulis Skenario

Standard
Azwar Sutan Malaka Bekali Mahasiswa UMS dengan Kiat Menulis Skenario

Skenario adalah cetak biru (blue print) dalam sebuah produksi film. Skenario menjadi panduan bagi semua yang terlibat dalam produksi film mulai dari produser, sutradara, kameramen, penata artistik (art director), pemain bahkan menjadi panduan bagi crew-crew film tingkat operasional lainnya. Hal itu seperti disampaikan Azwar Sutan Malaka pada acara Workshop Penulisan Skenario di Fakultas Komunikasi dan Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2015.

Pada acara yang diadakan di Gedung Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS itu, Azwar yang juga merupakan penulis skenario ini menyampaikan, karena skenario adalah panduan bagi banyak orang yang terlibat dalam produksi film, maka cara penulisan skenario pun bersifat teknis dan mendetail. “Hal ini tentu berbeda dengan penulisan bentuk fiksi lainnya seperti novel dan cerpen karena pada dasarnya skenario film tidak akan dibaca oleh pihak external seperti novel dan cerpen tersebut,” jelas Azwar.

Lebih jauh penulis muda yang menjadi juara pertama Lomba Penulisan Skenario Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014 yang lalu itu juga menyampaikan bahwa, skenario yang baik memberi peluang yang sangat besar untuk menciptakan film bermutu. Sementara itu skenario yang jelek sudah pasti tidak akan bisa menghasilkan film yang bermutu.

“Oleh sebab itu skenario harus dirancang dengan sangat matang, membutuhkan kerja keras dengan tidak hanya duduk menunggu inspirasi di depan layar komputer, akan tetapi sebagai penulis skenario kita juga harus melakukan riset-riset, baik riset lapangan ataupun riset kepustakaan,” jelas Azwar dihadapan ratusan mahasiswa UMS tersebut.

Azwar Workshop Skenario UMS3

Sementara itu Yanti Haryanti, MA, Wakil Dekan Bidang Kerjasama Fakultas Komunikasi dan Informatika, UMS menyampaikan bahwa keterampilan menulis skenario bagi mahasiswa komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting sebagai bekal untuk menempuh dunia kerja di masa mendatang. “Untuk memasuki industri kreatif mahasiswa harus dibekali berbagai keterampilan, salah satunya adalah keterampilan menulis scenario ini,” jelas Yanti.

Yanti juga menyampaikan bahwa ke depan dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam dunia kerja mahasiswa Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama orang Indonesia, tetapi juga akan bersaing dengan lulusan perguruan tinggi di ASEAN.

Bangun Bangsa Lewat Film

Standard
Bangun Bangsa Lewat Film

Azwar SM ACDR

[JAKARTA] Lewat sebuah film, Indonesia bisa membangun bangsa. Hal itu bisa dilakukan karena kontribusinya cukup besar karena masyarakat luas menonton cerita yang disajikan dan menjadi sebuah contoh.  Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Alex Komang mengatakan film memiliki peranan penting dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. Oleh karena itu, film yang baik, tentunya memiliki cerita yang baik juga untuk disajikan. “Tentunya di dalam film, ada skenario yang telah diatur oleh penulis naskah. Skenario inilah yang menjadi nyawa film. Untuk itu, lomba penulisan skenario 2014 ini, menghimpun gagasan dan ide cerita terbaik untuk kebaikan bersama,” katanya saat pengumuman pemenang, penyerahan piala dan pembagian hadiah Kompetisi Penulisan Skenario yang Mengangkat Kearifan Lokal di Gedung Film, Jakarta, Kamis (25/9).

KOMPETISI PENULISAN SKENARIO FILM 2

Ia berharap, dengan diadakannya kompetisi penulisan skenario film akan merangsang minat menulis khusus membuat karya cipta cerita film di kalangan masyarakat. Ini untuk persiapan dan perkembangan dunia perfilman Tanah Air agar semakin maju. Naskah film adalah blueprint dan pegangan awal yang sangat penting. Posisi penulis skenario pun menjadi pusat setelah sosok sutradara. Jadi, skenario dalam sebuah film sangatlah penting. Seorang aktor dan aktis cukup tergantung karena harus melihat isi skenario, termasuk juga pengarah gaya. Film pun bisa mengarahkan arah tujuan lewat naskah yang ada. Nantinya lewat program seperti ini banyak pihak produser mencari skenario-skenario terbaik untuk dijadikan filmnya. Alex yang juga menjadi ketua dewan juri berharap tahun kedepan kompetisi ini semakin menunjukkan kualitas yang terbaik dan menjadi bank skenario. ”Film-film kita sangat beragam. Lewat kompetisi ini, kita bisa memberi sumbangsih sekaligus mewarnai perfilman nasional secara umum. 16 finalis sudah pantas diberi ucapan selamat,” kata aktor senior ini. Skenario yang terpilih berdasarkan keunikan ide cerita, teknis penulisan, referensi, potensi visual serta feasibility produksi. Tujuan penyelenggaraan kompetisi ini menghimpun gagasan atau ide sehingga diperoleh beberapa cerita yang baik dari yang terbaik juga diharapkan dapat menawarkan variasi tema film yang digarap. KOMPETISI PENULISAN SKENARIO FILM 3(1)

Kompetisi penulisan skenario film ini diikuti 74 peserta dan diseleksi secara bertahap menjadi 40, 20 hingga 16 orang yang ditangani dewan juri yakni Alex Komang, Titien Watimena dan Edwin Nazie. ”Dari tahap penjurian ini keluarlah 10 skenario yang berhasil dipilih oleh team juri.  Yaitu juara satu sampai dengan tiga, harapan satu hingga tiga serta 10 naskah pilihan. Penjurian ini dilakukan tanpa nama dalam skenario, hanya judulnya saja, hal ini diharapkan agar penjurian bisa fair,” ucap Alex. Berdasarkan rapat pleno ditetapkan juaranya, yaitu “Anak Cindaku Ditikam Rindu”, karya Azwar Sutan Malaka ini terpilih sebagai pemenang pertama. “Shinden Demam Panggung”, karya Muhammad Abiyoso (juara kedua). Lalu “Senandung Saat Hujan”, Karya Reki Jayusman (juara ketiga). Selain itu Rapat Pleno juga telah memilih 3 Juara lain, yaitu Harapan 1, 2 dan 3 dengan judul “Dian Yang Kian Benderang”, karya Iqbal Alfajri. Lalu ada “Dadak Merak”, karya Ambhita Dyaningrum (harapan 2) dan “Sayap dalam Air”, karya Randi Ashari (harapan 3).

Kontribusi Film

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Ahmad Sya, menambahkan dari kompetisi ini diharapkan munculnya cerita yang berkualitas dengan warna dan nuansa budaya Indonesia yang berbasis ekonomi kreatif. ”Ini upaya kontribusi yang baik untuk perkembangan film Tanah Air, sehingga harus kita tingkatkan dan dorong terus. Dengan demikian kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri, khususnya untuk film,” ujarnya. Diakui, saat ini masih ada persoalan terkait jumlah secara kuantitas yang baru mencapai 98 judul yang lulus sensor.

Hal ini tidak berimbang dengan tuntutan penonton yang belum memadai yang mencapai 14 juta lebih. Sementara secara kualitas, belum terjadi korelasi yang positif, relevansi film dengan segala konten. Ahmad berharap, kedepan kompetisi penluisan skenario mampu menggali sumber inspirasi yang tak akan pernah habis, bila perlu pemetaannya berdasarkan riset. Tema kearifan lokal sudah tepat karena bukan berarti ketertingaalan tetapi mengangkat yang selama ini ditinggalkan. [H-15/L-8]

Sumber: http://sp.beritasatu.com/hiburan/bangun-bangsa-lewat-film/65660

Lomba Penulisan Naskah Film Kemenparekraf Sampai Babak Final

Standard

Azwar Juara Menulis Skenario

Kompetisi penulisan naskah film yang digelar Direktorat Pengembangan Industri Perfilman – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mencapai babak final. Sebanyak 16 pemenang termasuk di dalamnya 10 naskah skenario pilihan telah diumumkan.

Pengumuman tersebut baru saja dilakukan di Gedung Film, Jakarta, Kamis (25/9). Adapun keluar sebagai juara pertama adalah Azwar Sutan Malaka dengan judul skenario Anak Cindaku Ditikam Rindu. Ia mengalahkan sebanyak 74 naskah yang masuk.

Atas kemenangannya ia berhak mendapat hadiah Rp 50 juta dan piagam penghargaan. Alex Komang, salah satu dewan juri sekaligus Ketua Badan Perfilman Indonesia mengatakan, “Semoga program ini bisa memberikan sumbangsih ke dunia perfilman”.

Kompetisi itu sendiri mengambil tajuk mengangkat kearifan lokal dan diharapkan mampu mendorong kemunculan cerita mengenai budaya atau norma Tanah Air.

Dalam kesempatan tersebut hadir juga Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya Kemenparekraf RI, Aman Syah. Ia sempat mengatakan bahwa potensi industri perfilman di Indonesia masih besar mengingat dari 250 juta warga Indonesia, sejauh ini yang bisa dibilang penonton film baru ada sekitar 14 juta orang.

(Sumber http://www.traxmagz.com/article/3853-Lomba-Penulisan-Naskah-Film-Kemenparekraf-Sampai-Babak-Final)