Category Archives: Kritik Sastra

TERPIKAT MITOS

Standard
TERPIKAT MITOS

thumb-350-688916

Sumber gambar: https://wall.alphacoders.com

Catatan Atas Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka[1]

Oleh: Muhammad Mihradi[2]

NOVEL CINDAKU, karya Azwar Sutan Malaka, berkisah tentang si tokoh “Salim” dalam menjalani lorong kehidupannya dengan segala “asam” getirnya. Salim, anak Celek, orang sakti dizamannya. Celek  saat itu dinilai “jahat”: tukang pelet dan tukang santet. Sebenarnya, kata jahat itu sendiri harus diletakkan dalam tanda petik. Karena Celek, panggilan dari Sutan Said, berlaku demikian diproduksi oleh lingkungan. Celek produk dendam. Ibunya meninggal terbunuh dan adiknya dinodai oleh pasukan pusat—yang tengah mengatasi pemberontakan pasukan lokal[3] di depan matanya. Read the rest of this entry

Membaca Sastra Membaca Dunia

Standard
Membaca Sastra Membaca Dunia

img_20161102_174449

Buku ini adalah esai-esai terpilih tentang sastra yang saya tulis antara tahun 2001 sampai dengan 2013. Tulisan ini sudah diterbitkan di berbagai media seperti Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa buku-buku tentang kritik sastra sangat langka, apalagi kritik sastra yang ditulis dengan sederhana (kritik sastra populer). Read the rest of this entry

Kelas Kritik Sastra DKJ 2016

Standard
Kelas Kritik Sastra DKJ 2016

Kelas Kritik Sastra DKJ 2016
Bersama AS Laksana dan Martin Suryajaya

Komite Sastra – DKJ menyelenggarakan Kelas Kritik Sastra 2016. Program ini merupakan upaya untuk menjawab minimnya penulis kritik sastra Indonesia yang berkualitas saat ini. Peserta akan diajak untuk mendalami teori, sejarah dan metode kritik sastra, lalu mempraktikkan kritik sastra itu sendiri. Melalui kelas ini diharapkan lahir kritikus-kritikus sastra di masa mendatang.

Read the rest of this entry

Mitos dan Modernitas Korea

Standard
Mitos dan Modernitas Korea

Mitos dan Modernitas Korea

(Analisis terhadap Cerpen “Kisah Singkat Tentang Pekarangan”, Karya Shin Kyong Suk)

 

Oleh: Azwar Sutan Malaka

 Korea4

Sumber foto dari fb Elly Delfia

“…mitos dan modernitas ibarat dua sisi mata uang yang selalu saja tidak bisa dipisahkan. Yang pertama (mitos) selalu mengiringi yang kedua (modernitas) dan yang kedua seolah-olah tidak bisa berdiri tanpa yang pertama…”

Contoh sederhana tentang pernyataan di atas adalah seperti menjadi pentingnya kulit putih bagi perempuan. Atau menjadi perlunya memiliki badan kekar bagi lelaki. Mitos yang dibangun dalam dunia modern adalah bahwa perempuan yang catik haruslah memiliki kulit yang putih atau lelaki yang menarik adalah lelaki yang memiliki badan kekar. Padahal yang sebenarnya adalah cantik tidak harus berkulit putih ataupun pria yang menarik tidak harus berbadan kekar. Mitos seperti di atas perlu dibangun oleh industri-industri yang berkepentingan untuk menjual produk mereka seperti pemutih untuk wanita atau vitamin agar pria berbadan kekar. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pemilik industri bisa mendapatkan materi yang sebesar-besarnya dari kehidupan masyarakat.

Apa yang diuraikan di atas adalah bentuk-bentuk mitos yang sengaja di bangun di zaman modern. Oleh sebab itu jangan menyimpulkan bahwa masyarakat modern itu adalah masyarakat yang selalu berpikir rasional. Jangan pula mengira kalau orang-orang modern tidak bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat di luar nalar manusia. Setidaknya pesan itulah yang disampaikan oleh tulisan di atas. Hal lain yang bisa dilihat bahwa mitos masih melekat di dalam kehidupan masyarakat modern adalah seperti di dalam cerita pendek yang berjudul “Kisah Singkat Tentang Pekarangan” (Selanjunya ditulis KSTP), karya penulis Korea, Shin Kyong Suk.

Korea3

Sumber foto fb Roni Ronidin

Mitos di dalam cerita ini bukan mitos seperti yang diungkapkan di atas. Akan tetapi mitos yang ada dalam dunia yang diciptakan oleh pengarang. Cerita ini berkisah tentang kehilangan yang akan menjadi indah ketika diceritakan. Itulah kesan pertama ketika membaca cerita pendek Shin Kyong Suk ini. KSTP mengungkapkan luka batin seorang penulis karena kehilangan adiknya. Pengarang cerpen ini, dari awal sudah menyampaikan kisahnya dalam satu kalimat simbolik. ”Si peminum susu itu kini sudah pergi namun pengantar susu masih mengirim susunya.” Cara itu tentu saja menggambarkan kecerdasan seorang penulis membawa pembaca untuk masuk ke dalam dunia yang diciptakannya.

Kalimat singkat itu memberikan gambaran tentang keseluruhan cerita yang berkisah tentang kehilangan tokoh utama dan kenangan-kenangannya terhadap seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. “Si peminum susu” merupakan simbol dari seseorang yang erat hubungannya dengan tokoh utama, dua kata “sudah pergi” menyatakan bahwa seseorang itu sudah mati atau tidak ada dan “pengantar susu masih mengirimi susunya”, sebagai simbol bahwa kenangan tentang seseorang itu masih sering menjumpai tokoh utama.

Latar sosial dalam cerita ini berkisah tentang masyarakat kelas menengah Korea. Hal itu tercermin dalam latar tempat, dimana tokoh utama tinggal di apartemen sederhana yang dia sewa untuk tempat tinggalnya. Latar waktu, walaupun tidak di sebutkan secara jelas, tentu saja tidak mengurangi keindahan kisah ini, karena dia memang tidak berkisah tentang sejarah yang memang harus memiliki latar waktu yang jelas. Selain latar yang mendukung sekaligus membangun cerita, penokohan juga memperkuat kisah tentang kenangan itu sendiri. Tokoh utama yang merupakan seorang penulis, menjadikan perasaannya sangat sensitif. Sehingga dia dengan fasih mengakui bahwa aktivitasnya menulis pun adalah untuk manahan kesedihan karena kehilangan. Cerita itu terasa semakin meyakinkan ketika diceritakan dalam sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca seperti mendengarkan sebuah kesaksian pilu dari tokoh utama. Sementara itu alur cerita yang zig-zag (maju-mundur-maju) membuat kisah ini menjadi tidak monoton sehingga pembaca terbawa kepada tema perasaan pedihnya kehilangan sebagaimana kepedihan yang dirasakan oleh tokoh utama.

Korea5

Sumber foto fb Elly Delfia

Berhubungan dengan mitos di dalam cerita, barangkali penulis tidak ingin mengukuhkan mitos di dalam kehidupan modern. Akan tetapi dia menjadi salah satu pemanis di dalam cerita selain luka-luka yang dikisahkan. Hal ini menunjukkan betapa pengarang -sekalipun hidup di dunia modern- tidak bisa melepaskan dirinya dari mitos-mitos. Hal itu barangkali karena begitu banyaknya mitos yang diciptakan manusia, sejak zaman tradisional hingga zaman modern. Kecurigaan ini semakin beralasan ketika dihubungkan dengan paragraph pertama tulisan ini. Mitos akan selalu diproduksi untuk menjadi bagian bagi kehidupan manusia. Baik untuk tujuan materi ataupun untuk tujuan mengukuhkan sesuatu seeperti di dalam cerita ini, mitos digunakan untuk mengukuhkan betapa pedihnya luka dan betapa indah kisah luka itu ketika diceritakan.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa masyarakat tetap memiliki sisi tradisional yang melekat dalam kehidupan mereka. Salah satu sisi tradisional itu adalah kepercayaan tentang perlunya mitos untuk mengukuhkan sesuatu kepentingan tertentu. Baik itu materi ataupun hal lain yang dirasa perlu oleh manusia.

Buang Bilah dalam “Luka Yang Indah” Karya Azwar Sutan Malaka

Standard
Buang Bilah dalam “Luka Yang Indah” Karya Azwar Sutan Malaka

FreeVector-Free-Butterfly-Vector-Art

I

Luka Yang Indah merupakan judul salah satu cerpen dari lima belas cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen karya Azwar Sutan Malaka. Buku kumpulan cerpen ini diberi judul Jejak Luka yang diterbitkan pada Agustus 2013 oleh AG Litera. Memang dari Jejak Luka hingga Sengketa Tanah menceritakan tentang kelukaan. Luka Yang Indah merupakan cerita keempat.

Tokoh utama dalam cerita pendek ini adalah Man dan Timah. Tokoh pendukungnya ada Mina dan Mak Sutan. Konflik utama dalam cerita ini adalah konflik internal yang terjadi pada Man, suaminya Timah. Konflik tersebut didasari oleh perubahan suasana dalam keluarganya dan hubungan mereka dengan masyarakat di mana mereka tinggal. Penyebab perubahan itu diceritakan dengan alur mundur. Adat alam Minangkabau merupakan seting cerita. Akhir cerita dihadirkan dengan suasana yang ironis, seperti judulnya. Mengakhiri hidup atau membunuh untuk menghilangkan penderitaan.

Man, tokoh utama, pergi ke dukun dan memesan racun yang diminumkan kemudian kepada Istrinya. Man membunuh istrinya. Sudah sepuluh tahun istrinya sakit gila. Istrinya kerap mengganggu ketertiban sosial di lingkungannya. Berlari keluar rumah tanpa pakaian dan memaki-maki orang orang yang dia tuduh telah membakar rumahnya. Tidak hanya itu, Timah sering mengamuk dengan melempari fasilitas umum. Memang kematian anak satu-satunya yang terperangkap di dalam kebakaran rumahnya itu, menjadikan Timah berubah. Hal ini sangat menekan batin Man. Dia mencintai istrinya tapi tidak tahan menjalani cinta seperti ini. Biarlah racun memberi penyelesaian.

3salvador-dali-persistence-of-memory

Salvador Dalli: Persistence of Memory

Ada beberapa fakta yang memicu tindakan Man untuk meracuni istrinya, seperti dalam kutipan berikut.

Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam kengiluan mengobati Timah dengan segala daya dan upaya. Berobat ke dukun, menghantarkan ke rumah sakit jiwa, sebentar, tetapi cukup menguras biaya. Akhirnya Man Pasrah. (hal. 32)

Kelelahan Man yang telah lama mengurus istrinya ditambah kekurangan biaya mengakibatkan Man putus asa. Pada kalimat selanjutnya juga dikatakan bahwa Man ternyata juga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk mengobati istrinya. Kekurangan biaya atau kemiskinan kemudian dianggap sebagai pemicu tindakan Man hingga membunuh istrinya, atau menyelesaikan, atau mengurangi masalahnya. Hal ini menarik jika kita kaitkan dengan keelokan budaya dan adat Minangkabau. Kemanakah saudara-saudara atau dunsanak-dunsanak Man dan Timah? Tidak adakah mereka saudara kandung, saudara seperut, sekaum, sepesukuan atau belahan mereka? Bagaimana dengan nilai anak dipangku kemenakan dibimbaing? Ternyata ada sebuah realitas lain yang mendukung terjadinya fakta membunuh bagi Man adalah sebuah penyelesaian. Realitas itu adalah Buang Bilah. Makalah ini, kemudian, mencoba mengungkap hukum buang bilah yang tergambar dalam cerita Luka Yang Indah karya Azwar Sutan Malaka. Pengungkapan ini menggunakan pendekatan studi budaya yang disarankan oleh Geurin dkk (1999:239-270). Penjelasan akan diberikan secara deskriptif dengan menggunakan narasi yang membandingkan realitas dalam cerita pendek tersebut dengan realitas sosial yang ada sekarang dan sebelumnya.

II

Buang bilah merupakan bentuk hukuman yang diberikan bagi orang-orang yang melanggar hukum di Minangkabau. Pelanggaran yang dilakukan adalah dago-dagi yang terdapat dalam undang-undang nan salapan, bagian dari undang-undang nan duo puluah (undang-undang pidana). Dago artinya melawan pada jalan yang tidak patut dilawan, sedangkan dagi artinya melakukan perlawanan (Ibrahim, 2009: 115-16). Menurut Datuak Tuah (1954, 1985), Dago Dagi yaitu membantahi pemerintahan kepala-kepala yang berhaluan kebenaran, yaitu seperti menghilangkan perjalanan adat dan syarak. Hal ini berakibat merusak balai balerong, mesjid dan lain-lainnya. Kemudian yang dimaksud dengan dago-dagi adalah sudah melakukan perlawanan terhadap jalan yang tidak patut dilawan. Jika seseorang melawan perintah adat maka hukumannya adalah (di)buang selain diberikan denda. Ada beberapa macam bentuk buang dalam undang-undang nan salapan.

  1. Buang Sirih, yaitu yang bersalah tidak dibawa sehilir semudik selama kesalahannya belum ditebusinya.
  2. Buang bilah, yaitu seperti bilah atau kayu yang dibakar. Kayunya habis tetapi abunya dipergunakan untuk keperluan lain, misalnya pupuk.
  3. Buang Tengkarang, aritnya tidak dapat dipakai lagi sebab kesalahannya amat besar, sehingga ia tidak dibawa lagi seadat selimbago.

Menurut Ibrahim, hukum buang dapat dikategorikan menjadi buang siriah, buang biduak, buang tingkarang, dan buang daki. Menurut M. Arif Dt. Bijo Nan Hitam, dalam wilayah nagari Koto Nan Gadang hukum buang dibagi menjadi 6 (enam) yaitu: buang bilah, buang buluah, buang hukum, buang siriah, buang tingkaran, dan buang bidak. Penulis di sini mengambil istilah yang diberikan oleh Datuak Tuah dan Datuak Bijo Nan Hitam, yaitu buang bilah. Buang bilah merupakang buang bagi yang bersalah saja, atau sebilah. Menurut M. Arif Dt Bijo nan Hitam, ada bentuk hukuman yang sama dengan hal ini adalah buang buluah, atau buang serumpun. Misalnya, terjadi kawin satu suku dalam satu nagari, maka satu keluarga akan dibuang. Hal lain yang dapat diperhatikan bahwa kawin sesuku berlain nagari adalah dibolehkan. Secara sederhana dapat dipahami bahwa hukum buang dapat diartikan sebagai bentuk tidak dipedulikan, tidak diikut sertakan, atau dipencilkan dari kehidupan bermasyarakat. Untuk hukuman yang berat, seperti buang putus, atau buang tingkaran, terdakwa benar-benar diusir dari kampung.

ekspresionis

Sumber: http://sekarimage.blogdetik.com

III

Dalam cerita Luka Yang Indah, Man dan Timah telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang mereka lakukan adalah menentang kepala-kepala kebenaran. Kepala kebenaran yang dapat dikatakan menurut cerita adalah melawan orang tua , mamak dan pengulu. Sehingga berakibat menghilangkan perjalanan adat. Perhatikan kutipan berikut:

Dulu, untuk menikah mereka sangatlah susah, orangtua Timah tidak mau bermenantu orang miskin yang hanya pandai memegang cangkul dan tali kerbau saja. Tapi cinta telah mempertemukan mereka. Seperti anak-anak muda seumurnnya, mereka pun bersumpah setia. Di mana tumbuh disiangi, di mana melintang dihadapi. Apapun yang terjadi mereka akan sehidup semati. (hal. 34)

Orang tua Timah tidak setuju, sehingga bundo kanduang dan niniak mamak tidak akan dapat melangsungkan perkawinan mereka, karena masalah perkawinan bukanlah masalah individu melainkan masalah keluarga dan kampung. Dalam menentukan siapa yang pantas dan yang patut untuk dijadikan suami si anak, ada juga nilai-nilai tersembunyi yang mengaturnya, dan hal ini tidak dibicarakan dalam pembahasan ini. Kerasnya hati Timah dan Man mengakibatkan mereka melawan, sehingga menyebabkan adat tidak dapat dilangsungkan. Akhirnya, Timah dibuang keluarganya. Keputusan membuang Timah dikarenakan melawan adat terdapat dalam kutipan berikut:

“Menikah lah kalian, tapi ingat Timah, jangan pernah lagi kau injakkan kaki ke rumah ini lagi, biarlah … kuanggap kau telah mati.” (hal. 34)

Man kemudian menikahi Timah dan membawanya hidup dirumahnya. Mereka tinggal di sebuah rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Tindakan yang dilakukan oleh Man dan Timah dalam istilah adat disebut dengan kawin lari. Kawin lari merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap aturan, sistem atau adat di Minangkabau. Buang adalah bentuk hukuman yang akan diterima. Untuk kasus ini, di Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, menurut M. Arif Dt. Bijo nan Hitam, dijatuhi hukuman buang bilah dan denda yang disepakati jika mereka ingin kembali ke kampung. Untuk Nagari lain di Minangkabau bisa saja dendanya ditetapkan seperti setahil sepaha. Setahil 16 amah dan sepaha itu sebanyak 4 ameh. Hukuman ini berlaku selama 2 sampai tiga tahun. Setelah 2 atau 3 tahun mereka dapat kembali ke kampung, yang artinya menyesali segala kesalahan yang telah dilakukan. Seperti ungkapan berikut

Kaki lah talangkahan

Muluk lah talampauan

Tangan lah tajombo

Namun sesuai dengan cerita, Man dan Timah tidak menyesali perbuatannya dan tidak kembali ke kampung, atau ke dalam sistem adat. Mereka telah dibuang sepanjang adat. Timah dibuang oleh kaumnya, dan tentunya Man juga dibuang oleh kaumnya. Keduanya telah membuat malu kaum masing-masing.

Jika kita membaca mengenai sistem kekerabatan dan sistem sosial dalam masyarakat Minangkabau, tidak mungkin Man dan Timah diperbiarkan menghadapi kesusahan. Kemana saudara, kemana dunsanak, kemana orang kampung. Menurut Mansoer dkk (1970: 6). dilihat dari sistem kekerabatan di Minangkabau maka tidak mungkin dan tidak akan pernah orang Minangkabau hidup sebatang kara dan terlantar. Secara teoritis di manapun ia berada, akan selalu dapat dijumpainya keluarga sekaum, sepesukuan atau belahan, yang moril kewajibannya menampung anggota sekaum, sepesukuan dan belahan itu. Tapi itulah yang terjadi, mereka menjalani hukuman buang bilah, orang tak hendak membantu mereka. Alur tak dapat diturut. Di tengah kampung menjadi cemooh. Malu telah hilang. Selayaknya dalam kehidupan matriliniar Minangkabau, mereka dapat hidup di atas rumah gadang, berdampingan dengan sanak-saudara dan kaum mereka. Pada prinsipnya sistem nilai yang berlaku di Minangkabau adalah pribadi adalah milik keluarga, keluarga adalah milik suku, suku adalah milik kaum dan seterusnya. Implementasinya, masalah pribadi akan menjadi masalah kaum sampai ke masalah nagari. Tidak ada kusut yang tidak akan selesai. Tidak kayu jenjang dikeping. Tidak kayu rotan pun jadi.

Perkawinan sebagai sebuah pranata (institutions) sosial tentunya memiliki pola baku mana yang bersifat resmi dan tidak bersifat resmi. Pranata ini merupakan hasil konvensi dari kelompok yang memakainya yang mana didalamnya diatur mengenai tingkah laku sosial, adat-istiadat dan norma. Semuanya ini diatur untuk memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam masyarakat. Apabila salah seorang individu atau beberapa melakukan sesuatu di luar pola yang ditetapkan, tentunya hal ini akan mengganggu tujuan bersama, dan mungkin menggangu sistem yang telah ada. Buang bilah merupakan sebuah bentuk hukuman bagi yang keluar dari pola-pola yang telah ada.

Menurut pandangan psikologi, buang bilah merupakan sebuah bentuk sikap sosial yang erat hubungannya dengan norma dan sitem nilai yang terdapat dalam kelompok, tempat individu tertentu mejadi anggota atau berhasrat mengadakan hubungan struktural organisatoris dan atau berhasrat mengadakan hubungan psikologis. Man dan Timah merasa terhukum hanya pada lingkungan sosial kaumnya masing-masing, tapi tidak jika mereka berada di luar dari pada kaumnya. Secara timbal balik, jika seseorang meninggalkan kaumnya, maka artinya mereka memutuskan akses-akses yang mungkin dapat didapatkannya. Kemudian dijelaskan lagi bahwa meninggalkan kaum ini bisa saja secara materil atau secara psikologis.

Secara psikologis, Man tidak akan berani meminta bantuan kepada keluarga dan kaumnya dalam masalahnya dengan Timah. Pantanglah bagi seorang Minang, apabila telah melawan kemudian kembali meminta bantuan dari orang-orang yang dilawan. Malu adalah tantangannya. Malu adalah harga diri orang Minangkabau. Keluarga Timah juga tidak akan datang untuk membantu anak kemenakannya yang sedang sakit gila. Secara materil pun tidak akan terjadi. Begitulah hukum buang. Namun buang bilah hanya berlaku selama dua atau tiga tahun, jika ingin kembali tentu diterima dengan proses proses yang lazim juga. Yang bersalah mendatangi atau dijeput secara adat, mengakui kesalahan dan melaksanakan denda. Denda dibayar kepada kaum dan kepada nagari. Denda ini artinya untuk menebus kesalahan yang telah mempermalukan keluarga, kaum dan nagari. Jika tidak maka berlajut kepada buang putus atau buang biduak. Tidak ada lagi hubungan. Dalam cerita Man dan Timah tidak kembali ke adat setelah lewat batas waktu 3 tahun.

Perubahan anggapan (persepsi) yang didapati oleh Man terhadap keluarga dan kaumnya dalam menjalani hukuman buang bilah, mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai secara individu dan kemudian mempengaruhi sikap sosialnya. Orang yang dikucilkan oleh masyarakat, akhirnya juga tidak simpati terhadap masyarakat dan cendrung memiliki nilai yang bersifat individual dan antipati. Man seolah tercerabut dari sistem sosial yang ada, mungkin dia ada tapi dianggap tidak ada oleh orang banyak.. Contoh yang jelas adalah orang gila yang tidak memiliki malu. Dia tidak akan diukur dengan nilai-nilai yang lazim di masyarakat. Orang hanya akan memaklumi saja. Orang gila itu memiliki nilainya sendiri. Jika dilanjutkan, pembunuhan Man terhadap istrinya, juga tidak akan dituntut oleh keluarganya, karena dia telah dibuang, dan dia juga tidak akan kembali.

Seperti biasa, Man menyuapi istirinya. Memberi minum dan kini memberi campuran tuba. Menjelang pagi, Timah mengejang, mengelepar, lalu pergi untuk selama-lamanya. Man menangis mengiringi kepergian istrinya. Walaupun bagaimanapun, Timah perempuan yang dicintainya. (hal. 38)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal

  1. Buang bilah merupakan bentuk hukuman bagi oknum yang telah membuat malu keluarga, kaum dan nagari.
  2. Hukum buang bilah diberikan batas waktu dan diberikan ruang untuk kembali. Pilihan bisa saja tidak kembali, atau kembali dengan proses adat pula.
  3. Buang bilah adalah penjara malu, malu merupakan hal yang melekat kepada identitas keminangkabauan. Kalau tidak punya malu, bukanlah lagi orang Minangkabau. Jika malu sudah hilang banyak hal yang tidak patut dan tidak benar dapat terlakukan, seperti kawin lari yang berakhir dengan pembunuhan.
  4. Buang bilah adalah ceriminan Adat salingka Nagari.

IV

Pesan moral yang dapat dilihat dari cerita pendek ini adalah begitu pentingnya menjaga malu, raso dibaok turun, pareso dibaok nayiak, sebagai identitas keminangkabauan. Jika tidak pandai menjaga malu diri, keluarga, dan kaum, bisa berakibat terbuang dari wilayah adat. Orang yang tidak memperdulikan rasa malu itu, dan menganggap itu tidak penting untuk dipertimbangkan, maka artinya dia sendiri yang telah membuang dirinya dari alam Minangkabau.

Ditulis Oleh: Novel Noviadri

Sumber: (http://nofello.blogspot.com/2014/01/buang-bilah-dalam-luka-yang-indah-karya.html)

 

Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 2)

Standard
Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 2)

gibran-kahlil-gibran

Bila kita lihat karya-karya Kahlil Gibran memang akan memunculkan kesan ambigu terhadap keyakinan Gibran. Dalam sebuah tulisannya Gibran pernah mengungkapkan bahwa dia menempatkan Yesus di sebelah hatinya, dan Muhammad pada belahan yang lainnya. Apa yang diungkapkan Gibran itu merupakan efek dari proses kreatifnya. Gibran membaca banyak buku karya Nietzsche, Derrida, Sartre, Plato dan tokoh pemikir dunia lainnya, bahkan dia mempelajari Bibel, Kitab suci Al-Quran dan hadist-hadist Nabi Muhammad. Dari pembacaannya inilah kemudian muncul kekagumannya pada dua tokoh agama besar saat ini, Nasrani dan Islam. Maka tak heran kalau kemudian dia menyandingkan Yesus dan Muhammad di hatinya. Hal ini bukan karena dia mencampur adukkan agama, tapi karena keintelektualannya mengambil manfaat dari apa yang dipelajarinya.

Kaitan apa yang disampaikan di atas dengan corak religiusitas lintas agama dalam karya Kahlil Gibran cukup jelas. Gibran menempatkan Tuhan semua manusia sebagai poros aktifitasnya. Kesan religiusitas lintas agama ini terlihat jelas dalam karya-karya Gibran. Ketika kita baca karyanya, maka tak heran bila Kahlil Gibran mengajarkan pada manusia untuk melihat keindahan di dalam ajaran Tuhan. Seperti dalam karyanya yang berjudul Trilogi Hikmah Abadi; Sang Nabi-Taman Sang Nabi-Suara Sang Guru.

“Jadikanlah keindahan sebagai agamamu dan hormatilah ia seperti memuja Tuhanmu, sebab keindahan adalah karya agung Tuhan. Percayalah kepada keindahan ilahiyah sebab itulah pujian awal terhadap kehidupan dan sumber dahaga kebahagiaan. (Gibran, 1999: 57)”

Dalam karyanya ini Kahlil Gibran mengakui sejujurnya bahwa keindahan adalah karya Tuhan. Gibran, sebagaimana yang kita tulis dari awal menempatkan Tuhan sebagai poros kehidupan. Termasuk dalam pemikirannya ini, bahwa semua yang ada di alam bertumpu pada Tuhan. Semua ada karena Tuhan menginginkannya ada.

Selain itu Kahlil Gibran berpikiran bahwa untuk menemukan Tuhan manusia juga harus melihat ciptaan-ciptaan Tuhan. Dalam ciptaan Tuhan itu akan ditemukan kemaha kuasaan Tuhan. Dalam perenungan terhadap alam maka akan bermuara pada kebesaran Tuhan.

“Jika kalian ingin menyaksikan Tuhan maka jangan pernah mengatakan atau menilai sesuatu, sebelum kalian melihat ke sekitarmu karena di situ kalian akan menyaksikan Tuhan sedang bermain bersama anak-anak kalian. Dan kalian lihatlah juga ke angkasa raya, karena Ia bersemayam di antara mega-mega, mengulurkan tangan-Nya dalam kilat yang membahana, lalu turun bersama hujan yang membasuh wajah dunia. Kalian akan melihat-Nya dalam setiap senyuman bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan-Nya menyalamimu dari puncak pohon cemara. (Gibran, 1999:87)”

Selain terhadap alam, Gibran juga menyihir manusia dengan cinta untuk melihat keagungan Tuhan. Dengan cinta kehidupan akan damai, terbebas dari keangkaran murkaan. Maka manusia yang bebas dari angkara murkalah yang bisa menemukan Tuhan. Karena cinta manusia akan meninggalkan apa saja, karena cinta manusia akan manghadapi segala tantangan yang menghalangi menuju yang dicintainya.

“Cinta membimbingku mendekati- Mu, namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cintaku, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengar Mu, kekasihku, aku mendnegar panggilanMu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayapMu.(Gibran, 1999:72)”

Dari pembicaraan singkat ini, tentu belum akan memuaskan keingin tahuan kita terhadap warna religius dalam karya Kahlil Gibran. Memang membicarakan Kahlil Gibran tidak cukup waktu satu jam atau dua jam, tidak akan cukup empat lembar atau lima lembar kertas kwarto, tapi membicarakan Kahlil Gibran dan karyanya mungkin akan menghabiskan berlipat-lipat waktu dari umurnya dan berlipat-lipat lebih banyak kertas dari karya-karyanya.

Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

Standard
Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

khalil_gibran_tertop10-blogspot-com

Kahlil Gibran merupakan lambang kesuksesan kaum imigran timur di dunia barat. Keharuman nama Kahlil Gibran hampir semua bangsa menciumnya. Termasuk di Indonesia, Gibran merupakan nama seniman yang melekat di hati anak-anak muda, diketahui oleh orang-orang tua, diakui keindahan karyanya oleh kritikus-kritikus sastra. Karya-karya Gibran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memenuhi rak buku sastra pada toko-toko buku terkenal di negeri kita.

Ghougassian (dalam Munir, 2005:48) menjelaskan tentang riwayat hidup Kahlil Gibran. Dia memiliki nama lengkap Gibran Kahlil Gibran. Nama ini berasal dari nama arabnya Jubran Kahlil Jubran. Karena orang Amerika sulit mengucapkannya maka nama itu menjadi Kahlil Gibran. Kahlil Gibran lahir di kota Beshari, kota yang terletak di punggung gunung Lebanon pada tanggal 6 Januari 1883. Secara geografis berada dibagian utara Lebanon, tidak jauh dari hutan cemara pada zaman Alkitab, diketinggian lebih dari 5000 kaki, menghadap laut Mediterranian. Kota ini sarat dengan kebun anggur dan apel yang indah, buah-buahan yang besar, air terjun Kadisah dengan jurang yang dalam. Bila kita membaca karya-karya Gibran maka keindahan alam ini seringkali menjadi latar ceritanya.

Gibran berasal dari keluarga yang sederhana. Anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir dari ibu Kamila Rahme putri seorang pendeta Kristen sekte Maronite. Ayahnya Khalil bin Gibran seorang penggembala yang tidak ingin merubah nasibnya menjadi petani. Menurut keterangan Bushrui dan Joe Jenkins seperti yang ditulis Miftahul Munir dalam bukunya Filsafat Kahlil Gibran, Humanisme Teistik Kahlil Gibran sewaktu kecil mempunyai kesenanagan yang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Gibran kecil lebih suka menyendiri, merenung dan tidak banyak tertawa. Ia lebih sering mencari kesenangan dengan menikmati keindahan alam, keindahan alam ini dihayatinya dengan penuh arti dalam kekaguman.

Tahun 1895, tepatnya tanggal 25 Juni, keluarga Gibran pindah ke Amerika dan menetap di Boston dengan hidup yang berat. Di rantau yang jauh dari negerinya inilah Gibran memulai kariernya sebagai seniman yang sukses hingga dikenang bertahun-tahun, sampai saat ini.

Bila kita kembali pada pokok pembicaraan kita tentang nuansa religiusitas dalam karya Kahlil Gibran banyak orang yang masih meragukan apa sebenarnya agama yang dianut Kahlil Gibran. Pada suatu waktu, di sebuah Fakultas Sastra seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kahlil Gibran ini agamanya apa?”. Mendengar pertanyaan itu entah bagaimana saya menjawabnya. Saya tahu kawan itu banyak membaca karya-karya Kahlil Gibran, dan karena banyak membaca karya Kahlil Gibran itulah muncul pertanyaan seperti itu.