Category Archives: Resensi

Pengetahuan Dasar Belajar Jurnalistik

Standard

cover-buku-4-pilar-jurnalistik-5aa4aabcdd0fa87cf35bf342Dunia jurnalistik adalah dunia yang cukup digandrungi anak-anak muda saat ini. Apalagi dengan perkembangan media, dimana aktivitas media bisa dilakukan oleh siapa saja. Termasuk oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar ilmu dan keterampilan jurnalistik.

Akhirnya, berbagai media saat ini dipenuhi tulisan/karya yang dianggap karya jurnalistik tapi sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai karya jurnalistik. Oleh sebab itu mempelajari ilmu dan keterampilan jurnalistik menjadi penting jika ingin terjun ke dunia jurnalistik ini.

Read the rest of this entry

Advertisements

Resensi Novel Cinta Seribu Nyawa

Standard

Cinta Seribu Nyawa

Karya sastra kadang tidak sesederhana teori-teori di dalam kelas atau di atas meja saja. Walaupun karya fiksi adalah rekaan atau berakar dari imajinasi pengarangnya, namun ia mampu mengabadikan realitas yang ada.

Inilah yang terjadi pada Novel Cinta Seribu Nyawa yang saya tulis. Bagi saya Gempa yang terjadi di beberapa daerah di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 adalah peristiwa yang sangat berkesan. Selain merenggut jiwa banyak masyarakat waktu itu, gempa di penghujung September itu meluluhlantakkan perekonomian Sumatera Barat. Read the rest of this entry

Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

Standard
Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

Cinta Anak Buangan (Resensi Novel Cindaku oleh Medi Adioska)

(Diterbitkan di Singgalang, Edisi Hari Ini, Minggu, 20 September 2015)

Cindaku+SpootUv+EmbosJudul              : Cindaku

Penulis            : Azwar Sutan Malaka

Penerbit          : Kakilangit Kencana

Terbit             : Cetakan I, September 2015

Tebal              : vii+236 halaman

ISBN               : 978-602-8556-60-6

Peresensi        : M. Adioska

 

Tak seorangpun yang mampu mengubah masa lalu, meskipun masa lalu itu hanyalah sebuah cerita. Jikalah masa lalu itu bisa dipilih, tentu hidup saat ini bukanlah sebuah misteri lagi. Tentu pula tidak ada luka dan rindu dendam hari ini. Tapi apa dikata, masa lalu telah memilih jalannya sendiri, memfosil, menjadi batu dalam pikiran setiap manusia. Hingga, bagi mereka yang mempunyai masa lalu yang pahit akan merasakan dampaknya hari ini, meski yang memulai dulu bukanlah mereka sendiri.

Medi AdioskaDemikianlah Salim, seorang anak muda yang baru memulai jalan hidupnya sendiri, harus terbayangi oleh cerita silam tentang bapaknya. Bukan kisah yang indah, bukan dongeng  pengantar tidur, tapi cerita kelam yang selalu membayangi setiap langkah yang ia lalui. Cerita tentang bapaknya yang seorang cindaku, dan ia adalah keturunannya; anak Cindaku.

Ia telah lama mendengar cerita itu dari orang kampung. Mulai dari masa kecilnya, hingga ia beranjak menjelang dewasa saat ini. Sehingga, tentang Cindaku itu sendiri, ia tak heran. Kata itu bukanlah barang baru baginya. Orang kampung senantiasa menceritakan bahwa Cindaku adalah wujud reinkarnasi dari orang sakti yang telah meninggal dunia. Arwah orang sakti itu, menurut mereka, tidak diterima oleh langit dan bumi. Mereka tergantung di awang-awang. Oleh karena itu mereka akan berubah wujud.  Jika mereka adalah orang yang sangat sakti, maka mereka berubah menjadi seekor harimau, -orang kampung memanggilnya dengan sebutan inyiak-. Ada juga yang berubah menjadi serigala, babi dan tikus. Tergantung kepada tingkat kesaktian masing-masing. Namun dalam hal ini, kesaktian yang dimaksud bukanlah ilmu yang digunakan untuk kebaikan. Kesaktian yang dimaksud disini adalah ilmu hitam, ilmu yang digunakan untuk mencelakai orang lain.

CindakuSalim sendiri tidak percaya akan hal itu. Baginya cerita tentang cindaku itu adalah mitos, kepercayaan peninggalan nenek moyang. Disisi lain, ia adalah anak surau yang selalu mengaji dan belajar banyak ilmu agama dengan Pandeka Sutan. Tentu cerita itu sangat bertentangan dengan yang ia pelajari. Namun sekuat apapun ia membantah, sekeras itu pula keyakinan orang kampung tentang cerita Cindaku itu.

Hingga pada suatu hari, ketika Pandeka Regeh -seorang yang juga terkenal sakti dikampung itu- meninggal dunia, cerita itu muncul lagi. Orang kampung meyakini bahwa Pandeka Regeh berubah menjadi Cindaku. Akibatnya warung-warung kopi yang biasa dipenuhi kaum laki-laki untuk bercerita, kini sepi. Tak seorangpun yang berani keluar rumah setelah azan maghrib. Salim yang tak sedikit pun percaya akan cerita itu, kemudian membuktikannya sendiri. Malam itu, ketika hendak buang hajat di jamban, Salim memperhatikan kuburan Pandeka Regeh yang tak jauh dari sana. Terlihat asap mengepul, seakan keluar dari kuburan Pandeka Regeh tersebut. Namun Salim membuktikan bahwa asap itu berasal dari sisa api unggun tadi sore. Dan malam itu, hingga malam seterusnya, Salim memang tak pernah bertemu langsung dengan Cindaku.

Cerita tentang Cindaku dan tetek bengek yang berhubungan dengan itu, bukanlah hal utama yang dikisahkan dalam novel ini. Cerita tentang mitos Cindaku itu hanyalah latar belakang dari keseluruhan kisah ini. Yang menjadi sorotan utama dalam cerita ini adalah kisah hidup yang sangat manusiawi, yang dijalani oleh Salim. Atas cerita tentang dirinya yang dinyatakan sebagai anak Cindaku, Salim harus rela menerima banyak cobaan, banyak ejekan, sindiran, bahkan juga konfrontasi fisik dengan kerabat sendiri.

Selain itu kisah kasih antara Salim dengan gadis pujaannya, Laila, juga sangat menarik untuk disimak. Salim -yang semenjak kecil sudah berteman dengan Laila- ternyata menyimpan perasaan lain dihatinya. Laila pun demikian. Rasa kagum yang bermula dari setangkai bunga kertas dimasa kecil dulu, ternyata meneguhkan Laila untuk memilih Salim. Tapi bukankah Salim adalah anak Cindaku?

Jika membaca judul dan latar belakang novel ini, tentulah sangkaan pertama yang muncul dalam pikiran pembaca adalah bahwa novel ini menceritakan kisah yang menakutkan, menegangkan bahkan mistis. Namun alih-alih menakutkan, novel ini justru bercerita tentang perjuangan hidup yang harus di jalani Salim –tokoh utama-. Dengan apik, Azwar Sutan Malaka mengkolaborasikan antara mitos, kemasakinian dan romantisme masa muda yang menggelitik untuk dibaca. Kombinasi alur maju dan flashback memberikan kejutan-kejutan cerita dalam kisah ini.

Disamping itu, novel ini juga menceritakan unsur sejarah dan budaya Minangkabau yang kental sehingga sangat menarik untuk disimak. Sebagai contoh, dalam novel ini juga disinggung tentang sejarah PRRI. Selain itu, juga diceritakan bahwa Salim memutuskan untuk merantau karena merasa menjadi anak buangan, tak bersuku dan mewarisi darah Cindaku. Sebuah kebiasaan yang sudah membudaya bagi anak muda di Ranah Minang. Lalu bagaimanakah dengan Laila?-gadis pujaan yang telah membawakan amak Salim kalio ayam, sebagaimana perlakuan menantu kepada mertua-

Resensi: Hidup Bersama Orang Bunian

Standard
Resensi: Hidup Bersama Orang Bunian
Novel Bunian Karya Azwar Sutan Malaka

Novel Bunian Karya Azwar Sutan Malaka

Hidup Bersama Orang Bunian

 

Judul             : Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban

Penulis         : Sutan Malaka

Penerbit      : Masmedia Buana Pustaka

Tebal            : 238 halaman

Peresensi    : M. Adioska

 

 

Sekelompok pendaki itu tersesat. Niat awal mereka untuk menyaksikan fajar pertama tahun itu pupus sudah. Hal ini disebabkan oleh cuaca yang sangat tidak bersahabat. Pendakian malam, ditambah gerimis yang kian lama kian menjelma hujan menyebabkan malam semakin pekat. Jalan setapak kian lanyah. Mereka terpaksa mencari jalan lain yang ternyata berujung entah dimana. Masih dalam gelap, dalam belantara gunung merapi. Dan, itulah awal dari segala yang menakutkan dan tak terduga. Menguji nyali dan menegakkan bulu roma.

Bara, Bayu, Adi, Sam, Maya dan anggie begitulah mereka dipanggil. Diawali dengan hilangnya arah dan tujuan, para pendaki tersebut memutuskan untuk beristirahat. Pembekalan yang kian menipis semakin memberi tekanan pada kelompok pendaki itu. Lalu akhirnya kelompok tersebut harus berpisah lantaran ulah Bayu dan Anggie yang melakukan sesuatu yang terlalu intim, meski pada kenyataannya mereka sedang tersesat dalam rimba lebat. Bara merah. Tim terpisah –sesuatu yang tak seharusnya terjadi dalam sebuah kelompok pendakian. Masing-masing harus mencari jalan pulang sendiri-sendiri.

Untuk mempertahankan hidup, Bara, Sam dan Maya yang tergabung dalam tim yang sama mulai berburu. Sayangnya, sudahlah buruan yang didapat sedikit dan bersusah payah pula, mereka juga harus menyaksikan inyiak (harimau) sedang menyantap teman mereka yang baru saja memisahkan diri. Tragis.

Lalu pada saat istirahat, setelah berlari dari kejaran si inyiak, tanpa diduga, dibalik semak, muncul lagi inyiak  yang lain, atau,  inyiak yang baru saja mengejar mereka. Entahlah.

Sam bergulat dengan si inyiak dengan perut yang telah terburai. Ia memerintahkan Bara dan Maya untuk lari. Ia melawan inyiak sendirian untuk menyelamatkan rekan-rekannya. Barangkali itulah gunanya teman. Sam tewas. Dan, cerita sebenarnya baru saja dimuali.

Orang-orang bunian memamng ada. Orang yang katanya hidup di dunia lain; dunia gaib. Namun katanya dan nyatanya, mereka memilki kehidupan yang sama dengan manusia kebanyakan. Mereka beranak-beristri, mempunyai kepala suku, mempunyai perkampungan bahkan hidup dengan berladang dan bersawah. Paling tidak, itulah yang dirasakan Bara dan Maya setelah mereka tinggal bersama orang Bunian –kalau tidak karena orang Bunian, mereka tidak akan selamat dari kejaran inyiak.

Hidup sebagai orang tawanan memaksa Bara dan Maya berinteraksi dengan penduduk asli Bunian. Hal ini lantaran hukuman yang diberikan bukan berupa kurungan namun berdasarkan pada tatanan kehidupan orang Bunian itu sendiri.

Membaca Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban, seperti menyelami ganasnya alam Merapi yang telah banyak memakan korban para pendaki. Selain itu, novel dengan alur yang mengalir ini, kembali mengingatkan pembaca tentang cerita kanak-kanak mengenai orang Bunian; orang yang jahat, yang sakti, yang suka menculik orang biasa kemudian memberinya makan dengan sarang semut atau kotoran sapi, sedang minumannya adalah air kencing orang Bunian itu sendiri. Barangkali itulah penyebabnya kenapa orang yang telah diculik orang Bunian kehilanagn kewarasan, kurus dan tak tahu apa-apa. Atau cerita kanak-kanak lain yang mengisahkan orang Bunian yang berbelanja di pasar dengan menggunakan uang yang terbuat dari daun, dan itu baru disadari jika orang bunian tersebut emninggalkan pasar dengan barang belanjaannya.

Mengangkat tema lingkungan; penebangan hutan dan usaha-usaha pencegahan yang dilakukan oleh para karakternya, novel Bunian memberikan tawaran baru tentang sudut pandang yang berbeda dalam banyak hal. Mulai dari sudut pandang tentang arti alam, sudut pandang tentang kehidupan orang Bunian dan sudut pandang lain yang dinyatakan tersirat. Selain itu, Bunian juga memberikan sudut pandang lain tentang tambo minangkabau  yang diolah secara ilmiah yang apad akhirnya menjadi inti dari novel ini.

Dengan kepiawaian yang apik, Sutan Malaka menceritakan Bunian dengan cara mengalir begitu saja, menggambarkan dengan mudah dan memaparkan semua kejadian dan fenomena kegaiban orang Bunian secara logis. Apalagi, Bunian ditutup dengan ending yang tak terduga, hingga melibatkan senajata AK-47. Tak lupa, kisah percintaan juga mewarnai cerita ini.

 

M. Adioska: Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

Jejak Luka dan Kisah Lainnya

Standard
Jejak Luka dan Kisah Lainnya

Jejak Luka

Judul Buku      : Jejak Luka dan Kisah-kisah lainnya
Penulis             : Azwar Sutan Malaka
Penerbit           : Bandung, Mujahid Press dan Nusantara Institut
Tahun              : 2014, Cetakan Pertama
Halaman          : 141
Azwar Sutan Malaka lahir di bukittingi, 9 Agustus 1982. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Laki-laki berdarh Minang itu pada tahun 2001 memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana tahun 2006. Tahun 2010 melanjutkan studi pada Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan selesai pada tahun 2012.

Jejak Luka dan Kisah-kisah lainnya merupakan cerpen-cerpen tentang luka dipersembahkan kepada orang-orang yang pernah terluka, sedang terluka dan kepada yang akan membuat luka. Tentang cerpen-cerpen di dalam Jejak Luka dan Kisah-Kisah Lainnya ini, inilah suara perlawanan penulis atas kondisi sosial yang terjadi. Terlepas dari perdebatan bahwa karya sastra adalah imajinasi pengarang, yang pasti bagi pengarang, atau setidaknya bagi saya, untuk melahirkan karya sastra membutuhkan inspirasi. Berbagai kondisi yang terjadi ditengah masyarakatlah yang kemudian mendorong penulis untuk menghasilkan karya sastra itu.

Di dalam buku ini, terdapat berbagai macam cerita menarik untuk dibaca, mulai dari cerpen “Anak Cindaku Ditikam Rindu” yang mana penulis kisahkan sebagai perlawanan terhadap praktek sihir dan perdukunan yang menjadi budaya pada sebagaian masyarakat, tentang “Lubang Dalam Diri” yang mana penulis kisahkan sebagai perlawanan atas dominannya hawa nafsu didalam diri manusia, dan adapun tentang “Jejak Luka” yang mana penulis tulis sebagai pembelaan atas hak azazi manusia, perlawanan atas penindasan nama apapun yang dilakukan manusia, tentang “Mahaluka” pun ditulis atas perlawanan terhadap dominasi laki-laki atas perempuan atas nama cinta. Selain itu masih banyak lagi judul cerpen lainnya didalam buku ini seperti, “Jantung Batu”, “Luka Yang Indah”, “Saputangan Merah Berbunga”, “Penantian Nyiak Badat”, “Bulan, Luka, dan Senja”, Hari ke Sembilan Belas Puasa”, “Luka Kayla”, Lelaki Yang Membawa Luka di Dadanya”, dan “Sengketa Tanah”.

Keunggulan buku ini adalah yang pertama, dari segi cover/sampul buku yang terlihat elegan dan berkesan tidak terlalu mewah dan norak, warna cover/sampul buku yang kalem dan tidak terlalu mencolok. Kedua, ceritanya yang sangat menarik sehingga pembaca seakan-akan merasakannya isi dalam cerita tersebut. Namun Kumpulan cerpen ini masih memiliki kekurangan yaitu terdapat kesalahan dalam ketikan/typo sehingga pembaca agak sulit membaca satu kalimat yang rancu tersebut. Selain itu dalam isi ceritanya masih banyak kata-kata yang belum dimengerti sehingga penulis harus sibuk mencari makna dari kata-kata itu sendiri. Tanpa bermaksud mendikte pembaca untuk menangkap pesan-pesan dari penulis, tetapi saya sengaja mengungkapkan hal di atas untuk memberikan perspektif terhadap cerita yang telah menjadi milik pembaca, selanjutnya terserah pembaca, apapun yang hadir dalam pikiran pembaca setelah membaca karya-karya ini itu adalah hak pembaca seutuhnya. Tak ada satupun yang bisa memastikan makna sebuah cerita. Selamat menikmati.

Ditulis Oleh: Arnol Rinaldi, sumber (https://rinaldiarnol.wordpress.com/2015/04/14/contoh-resensi-kumpulan-cerpen-jejak-luka/)

BUNIAN, Musnahnya Sebuah Peradaban

Standard

BUNIAN, Musnahnya Sebuah Peradaban

Penulis                      : Sutan Malaka

Jumlah Halaman    : 238 halaman

Penerbit                   : Masmedia Buana Pustaka

Tahun Terbit          : 2010

Di masyarakat Sumatra Barat berkembang mitos tentang perkampungan mahluk halus yang berdiam di hutan-hutan. Mahluk halus ini dipercaya sangat mirip dengan manusia, dan sudah banyak legenda yang menceritakan tentang manusia yang menghilang ke kampung Bunian. Konon manusia yang hilang itu telah menjadi bagian dari mereka.

Legenda Bunian terus hidup sampai sekarang. Dan novel ini membahas tentang kehidupan masyarakat bunian. Awalnya saya pikir ini akan bergenre horor, tapi diluar dugaan Bunian yang digambarkan di novel ini jauh berbeda dengan pendapat yang telah berkembang. Mereka (Bunian) bukan mahluk halus, tetapi adalah suku minang yang hidup terisolasi di rimba gunung marapi. Mereka masih mempertahankan adat istiadat minang kuno dengan bahasa minang lama pula.

Plot diawali dengan sekelompok pendaki yang tersesat. Ketika mencari jalan, sepasang kekasih dari kelompok pendaki melakukan perbuatan mesum. Maya, Bara dan Sam yang sebal dengan kedua temannya itu akhirnya memilih memisahkan diri. Maka tim ini pun terpecah menjadi dua bagian.

Kesialan mereka ternyata belum berhenti disitu, karena mereka malah bertemu dengan inyiak (harimau). Maya dan Bara menyaksikan sahabatnya Sam dilahap harimau itu. Maya dan Bara akhirnya selamat, mereka tersesat di perkampungan bunian. Namun, cerita sebenarnya baru saja dimulai. Maya dan Bara dijadikan tawanan. Mereka dituduh komplotan yang melakukan penebangan hutan luar di gunung merapi. Kaum Bunian yang hidup terisolasi itu telah menjadi penjaga hutan selama bertahun-tahun. DAn penebang liar akan mendapat hukuman yang berat. Maya dan Bara hanya memiliki waktu beberapa bulan sebelum eksekusi mereka, selama itu mereka hidup dan membaur disana. Mau tak mau mereka ikut terlibat dalam masalah yang terjadi di perkampunganm itu. Terlebih ada pengkhianat yang telah menjual kampung halamannya sendiri.

***

Sejak awal membaca novel ini kita sudah dibawa pada sebuah thriller yang cukup menakutkan. Penulis menggambarkan dengan realistis suasana gunung merapi yang mencekam. Berada di tengah, kita mulai dibawa pada konflik-konflik yang sedikit bersifat  politis. Saya benci kisah pengkhianatan sebenarnya, saya selalu emosional dengan hal ini. Namun entah mengapa saya mampu menyelesaikan novel ini dan memberi rating tiga bintang, mungkin saya terbius oleh penceritaanya.

Novel ini menciptakan mitos baru tentang mahluk bunian, kita akan menemukan banyak dialeg minangkabau kuno. Kalau ingin mengetahui bagaimana budaya minangkabau kuno, tentu novel ini wajib dibaca.

Sumber tulisan Blog Jurnal Si Bugot, Peresensi Gea Harovansi (Bugot)

 

Hidup Bersama Orang Bunian

Standard
Hidup Bersama Orang Bunian

Gambar

Hidup Bersama Orang Bunian

Judul             : Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban

Penulis         : Sutan Malaka

Penerbit      : Masmedia Buana Pustaka

Tebal            : 238 halaman

Sekelompok pendaki itu tersesat. Niat awal mereka untuk menyaksikan fajar pertama tahun itu pupus sudah. Hal ini disebabkan oleh cuaca yang sangat tidak bersahabat. Pendakian malam, ditambah gerimis yang kian lama kian menjelma hujan menyebabkan malam semakin pekat. Jalan setapak kian lanyah. Mereka terpaksa mencari jalan lain yang ternyata berujung entah dimana. Masih dalam gelap, dalam belantara gunung merapi. Dan, itulah awal dari segala yang menakutkan dan tak terduga. Menguji nyali dan menegakkan bulu roma.

Bara, Bayu, Adi, Sam, Maya dan anggie begitulah mereka dipanggil. Diawali dengan hilangnya arah dan tujuan, para pendaki tersebut memutuskan untuk beristirahat. Pembekalan yang kian menipis semakin memberi tekanan pada kelompok pendaki itu. Lalu akhirnya kelompok tersebut harus berpisah lantaran ulah Bayu dan Anggie yang melakukan sesuatu yang terlalu intim, meski pada kenyataannya mereka sedang tersesat dalam rimba lebat. Bara merah. Tim terpisah –sesuatu yang tak seharusnya terjadi dalam sebuah kelompok pendakian. Masing-masing harus mencari jalan pulang sendiri-sendiri.

Untuk mempertahankan hidup, Bara, Sam dan Maya yang tergabung dalam tim yang sama mulai berburu. Sayangnya, sudahlah buruan yang didapat sedikit dan bersusah payah pula, mereka juga harus menyaksikan inyiak (harimau) sedang menyantap teman mereka yang baru saja memisahkan diri. Tragis. Lalu pada saat istirahat, setelah berlari dari kejaran si inyiak, tanpa diduga, dibalik semak, muncul lagi inyiak  yang lain, atau,  inyiak yang baru saja mengejar mereka. Entahlah. Sam bergulat dengan si inyiak dengan perut yang telah terburai. Ia memerintahkan Bara dan Maya untuk lari. Ia melawan inyiak sendirian untuk menyelamatkan rekan-rekannya. Barangkali itulah gunanya teman. Sam tewas. Dan, cerita sebenarnya baru saja dimuali.

Orang-orang bunian memamng ada. Orang yang katanya hidup di dunia lain; dunia gaib. Namun katanya dan nyatanya, mereka memilki kehidupan yang sama dengan manusia kebanyakan. Mereka beranak-beristri, mempunyai kepala suku, mempunyai perkampungan bahkan hidup dengan berladang dan bersawah. Paling tidak, itulah yang dirasakan Bara dan Maya setelah mereka tinggal bersama orang Bunian –kalau tidak karena orang Bunian, mereka tidak akan selamat dari kejaran inyiak. Hidup sebagai orang tawanan memaksa Bara dan Maya berinteraksi dengan penduduk asli Bunian. Hal ini lantaran hukuman yang diberikan bukan berupa kurungan namun berdasarkan pada tatanan kehidupan orang Bunian itu sendiri.

Membaca Bunian; Musnahnya Sebuah Peradaban, seperti menyelami ganasnya alam Merapi yang telah banyak memakan korban para pendaki. Selain itu, novel dengan alur yang mengalir ini, kembali mengingatkan pembaca tentang cerita kanak-kanak mengenai orang Bunian; orang yang jahat, yang sakti, yang suka menculik orang biasa kemudian memberinya makan dengan sarang semut atau kotoran sapi, sedang minumannya adalah air kencing orang Bunian itu sendiri. Barangkali itulah penyebabnya kenapa orang yang telah diculik orang Bunian kehilanagn kewarasan, kurus dan tak tahu apa-apa. Atau cerita kanak-kanak lain yang mengisahkan orang Bunian yang berbelanja di pasar dengan menggunakan uang yang terbuat dari daun, dan itu baru disadari jika orang bunian tersebut emninggalkan pasar dengan barang belanjaannya.

Mengangkat tema lingkungan; penebangan hutan dan usaha-usaha pencegahan yang dilakukan oleh para karakternya, novel Bunian memberikan tawaran baru tentang sudut pandang yang berbeda dalam banyak hal. Mulai dari sudut pandang tentang arti alam, sudut pandang tentang kehidupan orang Bunian dan sudut pandang lain yang dinyatakan tersirat. Selain itu, Bunian juga memberikan sudut pandang lain tentang tambo minangkabau  yang diolah secara ilmiah yang apad akhirnya menjadi inti dari novel ini. Dengan kepiawaian yang apik, Sutan Malaka menceritakan Bunian dengan cara mengalir begitu saja, menggambarkan dengan mudah dan memaparkan semua kejadian dan fenomena kegaiban orang Bunian secara logis. Apalagi, Bunian ditutup dengan ending yang tak terduga, hingga melibatkan senajata AK-47. Tak lupa, kisah percintaan juga mewarnai cerita ini.

M. Adioska: Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

(Resensi ini pernah dimuat di Harian Singgalang)