Category Archives: Sastra dan Budaya

TERPIKAT MITOS

Standard
TERPIKAT MITOS

thumb-350-688916

Sumber gambar: https://wall.alphacoders.com

Catatan Atas Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka[1]

Oleh: Muhammad Mihradi[2]

NOVEL CINDAKU, karya Azwar Sutan Malaka, berkisah tentang si tokoh “Salim” dalam menjalani lorong kehidupannya dengan segala “asam” getirnya. Salim, anak Celek, orang sakti dizamannya. Celek  saat itu dinilai “jahat”: tukang pelet dan tukang santet. Sebenarnya, kata jahat itu sendiri harus diletakkan dalam tanda petik. Karena Celek, panggilan dari Sutan Said, berlaku demikian diproduksi oleh lingkungan. Celek produk dendam. Ibunya meninggal terbunuh dan adiknya dinodai oleh pasukan pusat—yang tengah mengatasi pemberontakan pasukan lokal[3] di depan matanya. Read the rest of this entry

Lomba Menulis Esay FLP 2016

Standard
Lomba Menulis Esay FLP 2016

Forum Lingkar Pena (FLP) sebuah organisasi penulis terbesar di dunia yang berdiri sejak tahun 1997 tahun ini kembali mengadakan Lomba Menulis Essay yang bertema “Aku dan FLP”. Lomba ini diperuntukkan untuk anggota FLP, simpatisan, dan para pembaca karya-karya anggota FLP. Lomba ini dimaksudkan untuk mengabadikan kenangan masyarakat ketika berinteraksi dengan FLP.

Read the rest of this entry

Kelas Kritik Sastra DKJ 2016

Standard
Kelas Kritik Sastra DKJ 2016

Kelas Kritik Sastra DKJ 2016
Bersama AS Laksana dan Martin Suryajaya

Komite Sastra – DKJ menyelenggarakan Kelas Kritik Sastra 2016. Program ini merupakan upaya untuk menjawab minimnya penulis kritik sastra Indonesia yang berkualitas saat ini. Peserta akan diajak untuk mendalami teori, sejarah dan metode kritik sastra, lalu mempraktikkan kritik sastra itu sendiri. Melalui kelas ini diharapkan lahir kritikus-kritikus sastra di masa mendatang.

Read the rest of this entry

2015 in review

Standard

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 12.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 4 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

A.A. Navis Award 2016

Standard
A.A. Navis Award 2016

Azwar Sutan Malaka

Mesin Tik
Program Bahasa dan Kajian Indonesia, Deakin University, Melbourne, Australia; Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang (UNP); dan Penerbit Angkasa Bandung bersama-sama melaksanakan Lomba Menulis Cerpen dan Novel 2016. Kerjasama ini unik karena melibatkan sebuah universitas internasional di Australia, sebuah universitas dan satu penerbit (anggota IKAPI) di Indonesia. Karenanya, ketiga lembaga ini menawarkan kesempatan yang unik pula. Salah satu keunikan tersebut adalah, selain memberikan hadiah uang dan sertifikat kepada pemenang, pemenang utama juga akan menerima Piagam Penghargaan Cerpen dan Novel Terbaik A.A. Navis (A.A. Navis Award). Selain itu, kumpulan cerpen (cerpen terbaik dan cerpen terpilih) dan novel terbaik akan diterbitkan oleh Penerbit Angkasa Bandung. Juga, karya yang tidak memenangkan hadaiah apa-apa mungkin ada yang dianggap layak untuk ditrebitkan. Dalam hal ini, penulis akan dihubungi oleh Penerbit Angkasa Bandung. Dari waktu ke waktu, pelaksana lomba dapat menerjemahkan dan menerbitkan sebuah karya dalam bahasa Inggeris.

PERSYARATAN
Cerpen
• Tema: Kehidupan modern, termasuk…

View original post 316 more words

Mengenal Korea dari Karya Sastra (2)

Standard

kumpulan-cerpen-korea

Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu

Sejauh ini pecinta sastra di Indonesia baru dikenalkan dengan Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu. Kumpulan cerita yang diterjemahkan oleh Koh Young Hun dan Tommy Christomy. Kumpulan Cerita yang ditulis oleh 12 orang penulis Korea itu diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2007. Walau pun sudah beberapa tahun diterbitkan akan tetapi karya sastra Korea itu belum popular di Indonesia.

Penulis-penulis cerpen Korea yang karyanya dibukukan dalam Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu itu adalah Ha Geun Chan, Kim Seung Ok, Hwang Sok Yong, Lee Moon Goo, Bang Hyun Suk, Kim Yeong Hyeon, Kimjk Nam Il, Shin Kyong Suk, Eun Hee Kyung, Kim In Suk, Park Min Gyun dan Jeon Sung Tae. Sementara itu Prof. Dr. Koh Young Hun sebagai penerjemah adalah staf pengajar di Deparftemen of Malay-Indonesian Studies di Hankuk University, Seoul, Korea Selatan. Sedangkan Tommy Christomy adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Maman S Mahayana, kritikus sastra dan juga Dosen di Universitas Indonesia dalam kata pengantar kumpulan cerpen itu menyampaikan bahwa setidaknya ada beberapa hal yang dapat ditangkap dari Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu itu, pertama secara tematis cerpen-cerpen Korea erat kaitannya dengan kondisi sosial zamannya. Cerpen-cerpen Korea (setidaknya yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Laut dan Kupu-Kupu) seperti merepresentasikan dinamika perubahan sosial masyarakat Korea. Sementara itu dari sisi gaya penulisannya maka perkembangannya tidak terlepas dari kemajuan yang dicapai Korea selama ini.

Kedua secara konseptual, cerpen-cerpen Korea menurut Maman S Mahayana agaknya makin menegaskan kepada pembaca Indonesia untuk mempertimbangkan kembali sejumlah konsep baku yang selama ini telah menjadi semacam paradigm dalam sistem pengajaran sastra di lembaga pendidikan terutama tentang pengertian cerpen dan hakikatnya. Kumpulan Cerpen Korea dengan judul Laut dan Kupu-Kupu ini mengajak pecinta sastra Indonesia untuk meninjau pengertian cerpen yang dilihat dari panjang-pendek sebuah cerita. Karena dalam kumpulan cerpen ini menghadirkan cerita-cerita yang cukup panjang dibandingkan cerpen yang dikenal di Indonesia selama ini.

Ketiga menurut Maman S Mahayana yang perlu dicermati dari sastra Korea adalah menyangkut tokoh dan penokohan. Tokoh sebagai pelaku cerita hadir dan mengembangkan ceritanya jika terjadi konflik dengan tokoh lain. Pokohan dilandasi oleh sejumlah sekuen dan motif yang mengelinding membangun tema cerita. Tetapi walau bagaimanapun juga jika cerita itu sekadar rangkaian peristiwa tanpa harus menciptakan konflik antar tokohnya. Dalam hal ini kehadiran tokoh dalam cerita-cerita Korea kerap tidak harus dilandasi motif tertentu. Di cerpen Korea tokoh bisa datang dan pergi begitu saja.

Korea3

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa sastra Korea memiliki cirri khas tertentu, disbanding sastra Indonesia. Hal ini bisa menjembatani karya sastra kedua Negara untuk saling bertukar gagasan tentang karya sastra. Hal ini sangat memungkinkan karena saat ini banyaknya mahasiswa Korea yang belajar bahasa Indonesia dan banyaknya dosen-dosen Indonesia yang mengikuti program pertukaran dosen ke Korea. Hal ini merupakan peluang bagi Korea untuk memasyarakatkan sastra Korea. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah upaya penerjemahan sastra Korea, tidak hanya kumpulan cerpen tetapi juga novel ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dalam rangka menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Korea tidak hanya memiliki drama dan music pop saja, tetapi Korea juga memiliki karya sastra yang bisa diperhitungkan di pentas sastra dunia.